Chapter 12 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 08 Juni 2020

Chapter 12 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz



"Mas?"

"Ya?"

"Kita buru-buru nggak sih?"

"Tidak. Memangnya kamu mau cari apa lagi?"

"Aku mau kesana. Ke aksesoris wanita."

"Oke."

"Oh iya, kalau Mas bosen, Mas boleh nunggu diluar kok."

"Nggak, aku mau temani kamu."

"Kalau begitu, bantu aku pilih. Bagus yang mana ya, bros hijabnya?"

"Bukankah kamu sudah punya dirumah?"

"Ini aku beliin buat Nafisah. Besok dia ulang tahun. Bagus yang motif bunga atau boneka?"

"Ini bagus. Bentuk bunga dengan hiasan mutiara."

"Memangnya kalau yang boneka nggak bagus ya?"

"Kalian sudah dewasa, Bros seperti itu terlihat seperti anak-anak. Aku akan membelikan yang bentuk boneka untuk calon putri kita nanti setelah dia lahir."

"Masih satu bulan lagi Mas."

"Tapi bisa disimpan, kan? Tentu saja dia akan cantik ketika memakai hijab saat usianya 2 tahun."

Danish terdiam. Percakapannya dengan Alina di masalalu kembali terbayang setelah tanpa sengaja ia menatap sebuah Bros yang Nafisah kenakakan di hijabnya.

Tanpa sadar, justru ialah yang memilih motif dan model tersebut diantara pilihan bunga ataupun boneka. Dan sekarang, Bros itu membuatnya teringat Alina yang ia rindukan dalam diam saat ini.

"Alhamdulillah, Tante senang akhirnya Diyah bisa kemari. Oh iya, bagaimana keadaan Ibu Aminah sekarang?"

Danish menatap Mama Nafisah yang kini menuangkan teh hangat ke dalam cangkir didepannya. Papa Nafisah pun hanya tersenyum tipis sambil meminum secangkir teh pemberian istrinya. Sementara Nafisah memilih berada di ruang tengah bersama Diyah saling melepas rindu dan mengobrol banyak hal.

"Alhamdulillah, Mama sehat. Seminggu yang lalu beliau sakit sehingga membuat saya mengurungkan niat untuk membawa Mama kemari."

"Alhamdulillah kalau begitu. Sudah lama sekali kami tidak bertemu. Maaf belum sempat ke Balikpapan untuk menjenguk Papa dan Mama kamu."

"Iya Tante, tidak apa-apa. Kami mengerti."

Danish menyeruput secangkir teh hangat dan rasa manis yang melegakan memasuki tenggorokannya. Setidaknya mengurangi sedikit rasa gugupnya.

"Oh iya, nak Danish kemari, apakah ada urusan pekerjaan atau sedang berkunjung ke rumah mertua kamu? Baru saja tadi pagi Tante bertemu dengan Mamanya Alina di pasar, kami mengobrol sejenak."

Danish tersenyum. "Kebetulan saya memang ingin membawa Diyah untuk bertemu dengan neneknya di kota ini. Sekaligus bertemu dengan.."

Danish terdiam, bingung hendak melanjutkan ucapannya. Lebih tepatnya mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan tujuan yang sebenarnya.

"Bertemu dengan Nafisah?"

Danish terkejut, tidak menyangka kalau Lestari mengetahui apa yang ingin ia ucapkan. Lestari sadar, Danish terlihat gugup. Ia pun tersenyum tipis.

"Waktu di masalalu, Tante dan Mama kamu memang berniat menjodohkan kalian. Namun kami tidak bisa berbuat apapun ketika kamu memiliki wanita pilihan lain yang kamu cintai, nak Danish. Tante tentu tahu bagaimana keinginan itu masih tersimpan di dalam hati Aminah hingga sekarang. Sebagai orang tua, kami serahkan semuanya kepada Allah dan kalian. Kamu dan Nafisah lah yang memiliki keputusan tersebut. Tante mengerti, tidak mudah bagimu untuk memulai hidup baru dengan seseorang yang tidak pernah pikiran selama ini. Sebagai orang tua, kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk semuanya."

Rasa takut dan gugup pun perlahan sirna. Lestari memang seorang Mama yang pengertian sebagai orang tua. Suara tawa riang dan canda terdengar dari dalam. Bukti bahwa keceriaan Diyah kembali terukir di wajahnya.

Seketika Danish merasa hatinya tenang. Kebahagiaan Diyah adalah kebahagiaannya juga. Keceriaan Diyah adalah rasa syukur yang ia rasakan sebagai sosok Papa. Namun kesedihan dan ketakutan Diyah adalah luka baginya.

"Terima kasih sudah mengerti dengan apa yang saya rasakan saat ini Tante. Saya.."

"Ya?"

Danish merasa dahinya berpeluh. Jantungnya berdebar-debar. Bukan karena gugup, namun berusaha bersiap diri dan meyakini diri kalau ini adalah keputusan yang tidak salah. Tatapan Danish pun beralih ke arah Papa Nafisah

"Saya ingin melamar Nafisah, Om. Saya ingin menikahinya."

Papa Nafisah pun terdiam, raut wajahnya sulit di tebak. Apapun yang terjadi, semua Danish serahkan pada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatunya, termasuk takdirnya, kisah hidupnya, bahkan bahtera rumah tangganya yang akan terjadi lagi atau tidak.

"Atas dasar apa kamu ingin menikahi putri saya? Karena Diyah?"

"Karena Allah. Allah memberi saya petunjuk melalui sholat istikharah saya yang kesekian kalinya untuk menikahi Nafisah."

Papa Nafisah memperhatikan Danish yang berusia 30 tahun dan terlahir dari keluarga yang baik-baik. Memiliki pekerjaan yang tetap bahkan tidak diragukan lagi soal memberi nafkah untuk istrinya suatu saat.

Pria paruh baya itu juga tahu kalau Danish adalah sosok Papa yang bertanggung jawab serta rajin beribadah, semua terlihat ketika dimasalalu Lestari sering menceritakan bagaimana bahagianya Aminah memiliki seorang putra yang aktif dalam kegiatan perkumpulan remaja di Mesjid.

"Terima kasih sudah berniat melamar putri saya." sela Papa Nafisah. "Ketika kamu berucap dengan alasan semua karena Allah, saya yakin, kamu tidak main-main. Namun semua itu di kembalikan lagi kepada Nafisah. Sebagai orang tua, kami hanya bisa mendoakan yang terbaik. 
Serahkan saja semuanya pada Allah, jika Nafisah jodoh nak Danish, pernikahan itu pasti akan terjadi dan sudah tercatat di Lauhul Mahfudz."

Danish mengangguk. "Apapun keputusan Nafisah, saya akan menerimanya dengan ikhlas. Saya akan menunggu keputusan tersebut."

"Oh iya, nak Danish di sini berapa lama?" sela Lestari tiba-tiba.

"Insya Allah seminggu, Tante."

"Baiklah kalau begitu. Kami akan menyampaikan hal ini pada Nafisah. Nanti Tante akan hubungi kamu ya.. "

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 

Lalu Danish pun tersenyum ramah. Ia pun bersiap-siap untuk pamit pulang karena tidak ingin berlama-lama, barang kali Nafisah ataupun keluarga tersebut sedang memiliki kesibukan lainnya.

Lestari membawa Danish ke ruang tengah. Danish menatap Diyah yang kini berbaring berbantalan paha Nafisah. Apa yang ia lihat barusan lagi-lagi membuatnya terbayang di masalalu ketika Alina sering melakukan hal tersebut pada Diyah.

"Sayang, ayo kita pulang."

Diyah menoleh kearah Papanya. Dengan kecewa ia pun membangunkan dirinya.

"Kenapa cepat sekali? Diyah masih ingin bersama Tante Nafisah."

"Bukankah Nenek juga sedang menunggumu di rumahnya? Nenek pasti kangen sama Diyah."

Diyah terdiam. Ia beralih menatap Nafisah. Kedua matanya berkaca-kaca, seolah-olah enggan untuk pergi dari sana. Ia merasa kalau Nafisah seperti Mama baginya.

Nafisah menyadari tatapan Diyah. Lalu sebulir air mata menetes di pipi Diyah, Nafisah tak kuasa langsung memeluknya.

"Papa benar. Diyah harus bertemu Nenek dirumah. Mereka pasti merindukan Diyah yang disayangi."

"Diyah juga merindukan Tante. Apakah besok Diyah boleh kemari? Diyah ingin bobo sama Tante." lirih Diyah sambil sesenggukan.

Semua yang ada disitu pun menatap Diyah dengan iba. Danish menundukkan wajahnya, berusaha tidak menatap wajah Nafisah sejak tadi karena harus menundukan pandangannya.

"Iya sayang, besok Diyah boleh bobo sama Tante kok. Apakah Diyah mau Tante jemput dirumah Nenek?"

Diyah mengangguk cepat. Ntah kenapa rasa sedihnya langsung hilang.

"Mau.. Diyah mau."

"Kalau begitu Diyah harus jadi anak yang penurut dan mau pulang agar bisa ketemu sama Nenek."

"Iya Tante. Diyah akan pulang. Diyah juga nggak mau buat Papa lelah. Papa mau istirahat dirumah nenek."

"Masya Allah, Diyah anak pengertian."
Detik berikutnya Nafisah pun memeluk Diyah, tak lupa ia mengecup pipi Diyah lalu segera berdiri. Danish tersenyum ketika Diyah menghampirinya meskipun pergelangan tangannya di genggaman oleh Nafisah.

"Ayo sayang kita pulang. Pamit dulu sama Kakek, Nenek, dan Tante Nafisah."

Diyah pun menurut, mencium punggung tangan mereka satu per satu lalu membalikkan badannya untuk keluar ruangan. Nafisah menatap punggung lebar Danish dengan perasaan tidak menentu.

Dalam hati Nafisah bertanya-tanya, sebenarnya hal apa yang sedang di bicarakan oleh Danish dan kedua orang tuanya di ruang tamu?

Terbesit kata lamaran tiba-tiba terlintas begitu saja. Dengan cepat Nafisah menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Danish melamarnya. Bukankah pria itu kemari hanya bersilahturahmi sambil membawa Diyah?

Seharusnya kata lamaran itu ia harapkan dari Irsyad yang tidak kunjung datang hingga sekarang, meskipun ia tidak menyangka kalau semua hidangan dan makanan yang di siapkan orang tuanya sejak tadi pagi pada akhirnya menjadi rezeki untuk Danish dan Diyah. Bukan untuk keluarga Irsyad.

****

15 menit kemudian..

"Papa?"

"Ya, nak?"

Diyah menoleh kearah Papanya yang sibuk menyetir mobil miliknya. Danish tersenyum.

"Diyah mau bercerita apa?"

"Diyah mau minta izin sama Papa. Tapi Diyah takut."

"Memangnya Diyah mau ngomong apa?" senyum Danish, ia pun menyentuh pipi putrinya dengan pelan.

"Nanti Papa marah.."

"Tidak, Papa janji.."

"Kalau begitu, Diyah minta izin. Bolehkah Diyah memanggil Tante Nafisah itu Mama?"

Seketika Danish terdiam. Ia mencengkram kuat kemudinya. Bukan ia marah atau kesal, melainkan menyalurkan perasaan tidak menentu ketika Diyah berniat memanggil Nafisah dengan sebutan Mama.

Danish sadar, itu adalah salah satu kebahagiaan Diyah. Maka ia pun menyampingkan perasaan tidak nyaman dan asing dalam dirinya tentang sosok Nafisah.

"Iya, Diyah boleh memanggilnya Mama."

Diyah tersenyum. Dengan cepat ia sedikit menyamping dan mencium pipi Danish.

"Terimakasih Papa. Diyah sayang Papa dan Mama Alina juga Mama Nafisah."

Danish mengangguk. Ia pun kembali fokus mengemudikan mobilnya.

"Ya Allah, hamba sadar, Nafisah memang sosok yang tepat untuk berada di sisi Diyah. Hamba mohon, berikan rasa cinta hamba kepada Nafisah jika suatu saat kami berjodoh. Semua hamba serahkan pada Allah meskipun mencintai seseorang yang asing itu memanglah sulit."

"Alina, semoga suatu saat aku tidak melukai hati dan perasaan sahabatmu."

Lalu hati Danish pun hampa. Rongga dadanya terasa sesak dan berusaha untuk mempersiapkan semuanya dimasa mendatang.

Hanya Allah Yang Maha Tahu apakah ia kembali berumah tangga atau tidak.

****

Keesokan harinya, pukul 11.00 siang.

Nafisah baru saja mematikan mesin motornya begitu tiba didepan rumah Rara. Hari ini ia memiliki jadwal mengajar les privat dirumah Rara.

Sebuah mobil juga baru saja terparkir didepan pintu pagar rumah Rara. Nafisah menoleh kebelakang, bukankah itu mobil Irsyad? Ternyata benar, beberapa detik kemudian Irsyad keluar dari mobilnya.
Nafisah segera melepas helm yang ia kenakan lalu menghadap kearah Irsyad yang sudah memasuki halaman rumah setelah menutup pintu pagar.

"Assalamualaikum, Mas?"

"Wa'alaikumussalam."

Nafisah ingin menyapa lagi, namun Irsyad sudah pergi begitu saja melalui tubuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi? Wajahnya terlihat dingin bahkan enggan menatapnya lagi. Mengapa Irsyad mengabaikannya? Nafisah bertanya-tanya, apakah Irsyad juga lupa atas janji nya kemarin malam yang ingin berkunjung kerumahnya?

Irsyad sudah memasuki rumah bibinya, berusaha secepat mungkin menghindari Nafisah. Ia begitu benci dengan Nafisah.

Sangat benci..


****

Irsyad benci kenapa ya? Apa yang sebenarnya terjadi? 😕😐

Tetap stay sama cerita ini ya. Aku tahu kalian penasaran hhe.

Alhamdulillah sudah chapter 12 😍

Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca..
Sehat selalu buat kalian ya. Tetap jaga kesehatan 😊

With Love 💋 LiaRezaVahlefi
Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

___

Selanjutnya, Chapter 13, langsung klik link dibawah ini : 

https://www.liarezavahlefi.com/2020/06/chapter-13-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html?m=1

9 komentar:

  1. Loh... Kenapa itu kak...
    Mudah2an kakak slalu diberi kesehatan.. Agar update nya cepet.. Aamiin...

    BalasHapus
  2. Wow... konflik semakin rumit

    BalasHapus
  3. jangan2 pas Danish berkunjung itu Irshad juga dtg ke rumah Nafisah dan denger pembicaraan lamaran itu... terlambat deh..

    BalasHapus
  4. Aduhh knp tuh si irsyad, jd penasaran deh

    BalasHapus
  5. Irsyad kenapa ya? Kok deg degan gini

    BalasHapus
  6. Hehehe.. Danish ama irsyad kan temenan.. Mungkin danish sebelum kerumah nafisah curhat dulu sama irsyad bahwa mau ngelamar.. Kecewa deh irsyad.. Kurang gercep.. Bukan jodoh ya irsyad.. Cari lain aja pasti lebih baik koq.. ��

    BalasHapus
  7. Kayaknya Irsyad tahu klo Nafisah sudah dilamar Denis. Mungkin ketika Denis bicara, Irsyad dah tiba di rumah Nafisah

    BalasHapus