Chapter 13 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 17 Juni 2020

Chapter 13 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz




Kota Bontang. Pukul 09.00 pagi.

"Kemarin siang Danish kesini katanya mau lamar kamu. Apakah mau menerima lamarannya? Dia disini sampai seminggu loh, cepat atau lambat kamu harus kasih jawaban."

"Kenapa dadakan sekali?"

"Mama juga nggak tahu. Katanya dia sudah memikirkan hal ini matang-matang. Bahkan sudah sholat istikharah. Kalau kamu keberatan, jangan memaksakan diri untuk menerimanya. "

"Jadi jawaban sholat istikharah dia adalah aku?"

"Kalau bukan, ngapain dia jauh-jauh kemari, nak. Lagian dia juga pria yang baik. Kita juga kenal keluarga dia, bagaimana orang-orangnya dan yang terpenting dia seiman sama kita. Selebihnya keputusan ada dikamu, Fisah. Kalau bimbang, minta petunjuk sama Allah yang terbaik. Allah satu-satunya penolong kita."

Nafisah terdiam mendengar percakapan Mamanya dua hari yang lalu. Ia tidak menyangka Danish melamarnya. Lalu bagaimana dengan Irsyad yang malah bersikap dingin kepadanya kemarin siang saat dirumah Rara? Apakah ia ada salah dengan pria itu? Atau..

Tok... Tok.. Tok.. pintu kamarnya terketuk pelan. Nafisah segera berdiri dan membuka pintunya. Lestari berdiri di hadapannya.

"Ada Diyah diluar sama Neneknya."

"Diyah kemari?"

"Hm, kebetulan Mama sama Neneknya Diyah itu mau kerumah Bu RT. Sebentar lagi ada pengajian mingguan disana."
Nafisah hanya mengangguk dan segera keluar kamar. Rupanya Neneknya Diyah yang memang Mama dari almarhumah Alina itupun sudah rapi berpakaian syar'i berwarna putih dan senada dengan pakaian Lestari.

"Nafisah, sejak tadi Diyah ingin kemari. Apakah tidak masalah kalau saya menitipkan Diyah?"

Nafisah tersenyum tipis. Tentu saja ia tidak masalah sama sekali.

"Jangan sungkan Tante, tentu saja saya tidak keberatan."

"Mama Nafisah! Ayo kita main, Diyah punya puzzle baru. Tadi Tante Ela kerumah Nenek bawa mainan ini buat Diyah."

"Ela? Anak kuliahan yang rumahnya dekat dengan Diyah di Balikpapan? Ngapain dia jauh-jauh sampai kemari dan kerumah Alina?" sela Nafisah dengan bingung.

"Lalu kenapa Diyah juga memanggilku dengan sebutan Mama?"

"Mama! Ayoooooo..." rengek Diyah.

"Eh? A..ayo, kita ke ruang tengah."

"Kami berangkat dulu Fisah. Assalamualaikum." sela Lestari tiba-tiba.

"Wa'alaikumussalam, Ma.."

Dan Lestari pun pergi bersama Neneknya Diyah keluar rumah. Sementara ia dan Diyah sudah berada diruang tengah dalam keadaan bingung sekaligus bertanya-tanya.

*****

Danish tak menyangka kalau Ela datang mengunjunginya. Saat ini, ia duduk di ruang tamu. Sementara Ela berada di hadapannya. Sambil berpura-pura fokus menatap layar Lcd, Danish memang sengaja melakukannya agar bisa menghindari tatapan langsung dengan Ela.

"Mas Danish, Diyah mana ya? Kok nggak ada?"

"Diyah sedang bersama Nafisah." jawab Danish sembari menatap Ela beberapa detik.

"Nafisah? Siapa? Keluarga Mas atau-"

"Hanya seorang sahabat almarhumah Alina."

"Oh gitu.." Ela manggut-manggut. Dalam hati ia bernapas lega. Ia pikir Nafisah adalah calon pesaing dirinya untuk mendekati Danish.

"Sampai jam berapa Diyah disana? Saya benar-benar merindukan dia."

"Saya nggak tahu, La."

"Kebetulan saya ada tugas kuliah di kota ini. Jadi, saya sempatin ketemu Diyah. Ntah kenapa saya begitu sayang sama Diyah seperti adik kandung saya sendiri, Mas." ucap Ela dengan raut wajah berbinar, semata-mata ingin menarik perhatian Danish.

Danish hanya tersenyum tipis. Lalu beralih menatap layar Lcd yang sedang menayangkan berita. Sejak tadi ia berpikir, darimana Ela tahu bahwa ia dan Diyah berada di kota ini?

"Oh iya, sebelumnya saya menghubungi Tante Aminah. Cuma mau tanya, apakah Tante Aminah mau saya bawain oleh-oleh berupa terasi Bontang? Beliau bilang kebetulan Mas Danish sedang berada di kota ini dan sudah menitipkan oleh-oleh itu sama Mas. Jadinya ya.. sekalian deh saya tanya posisi Mas dimana. Ternyata dekat kok sama rumah Dosen saya."

"Alhamdulillah, semoga tugas kuliahnya berjalan lancar. Oh iya, saya ada kesibukan. Mau nunggu dulu?"

"Lama ya?"

"Lumayan.."

Dan Danish berharap kalau Ela lekas pulang saat ini juga. Rasanya ia sudah tidak tahan bersikap baik-baik saja didepan Ela padahal sebenarnya ia merasa terganggu.
"Em kalau begitu saya balik saja deh ke kost teman. Besok lagi saya kemari."

"Oke." lalu Danish pun berdiri, tanda bahwa ia memang sudah tidak sabar berlama-lama disana. "Hati-hati dijalan."

"Iya, Mas. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam..."

Dan Danish pun bernapas lega. Setidaknya dengan alasan tadi Ela pun akhirnya bisa pulang. Ntah kenapa ia merasa risih saat Ela mendekatinya.

****

Keesokan harinya, Pukul 16.00 sore. Kota Bontang..

Rupanya Ela memang tidak pantang menyerah. Rencananya untuk bertemu Diyah pun berhasil setelah ia kembali kerumah mertua Danish bertepatan saat Nafisah juga disana.

Nafisah memang tak banyak berkata-kata, hanya sebuah senyuman kesopanan lalu akhirnya memilih pulang kerumahnya sendiri. Sedangkan Ela, tentu saja ia merasa puas karena secara tidak langsung sudah menyingkirkan Nafisah di hadapan Danish.

"Tante, kita mau kemana?" tanya Diyah ketika ia sudah jalan kaki menuju depan gang sekedar jalan-jalan sore.

"Memangnya Diyah mau kemana?"

"Em sebentar.. Diyah pikir-pikir dulu.."

Ela mengangguk. Ia menatap Diyah yang tengah berpikir. Sementara hawa terik panasnya matahari begitu menyengat kulit putihnya dam membuat Ela merasa jengah. Jika saja bukan karena Danish, maka ia pun tak sudi berpanas-panasan seperti saat ini.

"Tante, Diyah mau minum jus buah disana.." tunjuk Diyah kearah warung pedagang kaki lima di seberang jalan.

Ela pun mengangguk dan segera menuju penjual jus tersebut sambil menggandeng tangan Diyah. Sesampainya disana, Ela segera memesan Jus alpukat untuknya sementara Jus melon untuk Diyah.

Ela pun sibuk menonton film streaming di ponselnya dengan serius sambil menikmati segelas Jus. Lalu tiba-tiba kedua mata Diyah nampak berbinar melihat pedagang kecil yang menjual balon udara berbentuk boneka kucing.

"Tante.. Tante.. Diyah mau beli balon itu!"

"Hm, sebentar ya.."

"Sekarang Tante, sekarang. Nanti penjualnya pergi jauh."

Ela mendengkus kesal dan merasa terganggu akibat rengekan Diyah.

"Diyah beli sendiri ya.."

"Tapi Diyah takut."

Ela tak menggubris bahkan menoleh kearah Diyah maupun kearah penjual balon. Tanpa mengabaikan ponselnya, Ela segera merogoh tasnya dan mengeluarkan selembar uang Rp.10.000

"Diyah harus berani beli sendiri. Kan nggak jauh, Tante tunggu sini ya."

"Tapi-"

"Nanti keburu penjual balonnya pergi loh.."

Diyah pun hanya bisa diam kemudian segera menurut dengan lagaknya yang polos. Ia pun mulai berdiri di pinggir jalan, merasa bingung bagaimana cara menyebrangi jalan yang penuh kendaraan lalu lalang tanpa henti.

Diyah memundurkan langkahnya, takut tidak bisa. Lalu tatapannya terfokus pada penjual balon tersebut yang tadinya berhenti kini kembali jalan.

"Tunggu.. Diyah mau beli balonnya!"

Bahkan suara Diyah tidak terlalu terdengar bersamaan dengan bunyian klakson pengendara lain yang menyamarkan suaranya. Ela masih saja sibuk dengan ponselnya. Tidak menyadari apa yang ada disekitarnya seolah-olah streaming yang ia lakukan lebih penting dari segalanya.

Brak!

Detik berikutnya beberapa orang pun berlarian kearah lokasi. Seorang gadis berumur 5 tahun tertabrak motor yang sedang melaju kencang tanpa bisa mengerem dengan cepat.

"Astaghfirullah!"

"Ya Allah! Ada kecelakaan.."

"Tolong hubungi ambulans..!"

"Astaga, anak kecil yang tertabrak. Tahan kunci motor orang itu! Jangan sampai kabur!"

DEG! Seketika Ela menghentikan aktivitas menontonnya, hanya mendengar kata anak kecil saat itu juga Ela segera berdiri dan menghampiri kerumuman orang-orang.

Ela menutup mulutnya, syok dengan apa yang ia lihat. Diyah yang ia abaikan sejak tadi menjadi korban kecelakaan.

****

Ela keterlaluan banget 😣
Bagaimana reaksi Danish nantinya? 😩😭

Tetap Stay di cerita Jodoh Dari Lauhul Mahfudz ya. Alhamdulillah sudah Chapter 13🤗

Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga. Jazzakallah Khairan sudah baca💕

With Love 💋 LiaRezaVahlefi
Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

___

Next Chapter 14. Langsung klik link dibawah ini :

https://www.liarezavahlefi.com/2020/06/chapter-14-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html?m=1


5 komentar:

  1. Betul² ya si Ela.. geram aku dibuatnya

    BalasHapus
  2. Kok sdh selesai padahal blum puas baca...

    BalasHapus
  3. Hadeehhh ela.. ������ dah gini tambah danish benci deh.. Gak tulus sie jadinya gitu��

    BalasHapus
  4. Semoga aj Danish beri prngtan tegas k Ela buat ga dketin klrga nya lg..jgn sampe dech si Ela ngelak klo udah ngabaikan diyah...semoga diyah ngasih tau yg sbnarnya klo Ela udah nyuruh diyah bli sndri balonnya...

    BalasHapus
  5. Sepertinya Ela calon ibu tiri yg hanya mencintai ayahnya az ya...

    BalasHapus