Chapter 14 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 22 Juni 2020

Chapter 14 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz





60 menit kemudian. RS kota Bontang. Kalimantan Timur.

Dengan rasa penyesalan, Ela menangis tersedu-sedu di samping brankar pasien yang saat ini berada di wilayah UGD. Ela merasa bersalah, namun takut untuk mengakui hal yang sebenarnya.

"Ya Allah, cucuku.. "

Suara Mama mertua Danish juga terdengar lirih. Diyah belum sadarkan diri sejak tadi. Sementara pelaku kendaraan bermotor yang sudah menabrak Diyah pun pergi ntah kemana tanpa bertanggung jawab. Menurut saksi mata, pengendara tersebut ternyata masih anak remaja di bawah umur kisaran usia sekolah menengah atas yang mengebut saat mengendarai motornya.

"Kok kamu bisa lalai sih menjaga cucu saya?!" kesal Fatimah, Mama mertua Danish sambil menatap Ela.

Ela menunduk ketakutan. "Saya sudah berusaha melarang Diyah, Tante. Tetapi Diyah bersikeras ingin membeli balon di seberang jalan. Diyah tidak sabaran sehingga membuatnya nekat menyebrang jalan tanpa menunggu saya."

Danish menatap Ela tidak suka. Bahkan merasa benci. Ia sangat tahu bagaimana sikap putrinya, jika di larang, maka Diyah tidak bisa membantah apapun apalagi berbuat nekat.

"Silahkan pergi. Jangan pernah dekati Diyah lagi." sela Danish tiba-tiba, suaranya begitu dingin. "Apalagi berniat mencari perhatian dengan saya."

Ela menatap Danish dan merasa syok. Harapannya ingin mendekati Danish pun sirna lah sudah. Ia pun hanya menunduk seperti semula. Bahkan ia juga tidak menyangka kalau Danish sangatlah peka terhadap kedekatan dirinya selama ini pada Diyah semata-mata untuk menarik perhatian Papanya.

Seorang Dokter pria bersama perawat asisten pun datang menghampiri mereka. Pembicara serius sepertinya akan dilakukan sebentar lagi. Danish dan Fatimah pun mengabaikan Ela yang akhirnya memilih menjauh dari sana.

"Benturan dikepalanya cukup keras, seperti terkena trotoar di pinggir jalan begitu petugas ambulans yang membawa putri anda kemari setelah menjemputnya di lokasi." ucap Dokter Ahmad, menatap Danish dengan serius.

"Kami harus melakukan CT scan terlebih dahulu untuk memastikan separah apa benturan tersebut."

"Baiklah, kami akan menunggu hasilnya. Tolong selamatkan putri saya, Dok." ucap Danish harap-harap cemas.

"Kita akan berusaha semaksimal mungkin dan berdoa kepada Allah Subhana wa taala agar semuanya baik-baik saja."

Tak ada yang bisa dilakukan Danish selain mengangguk dan menyerahkan semuanya pada Allah. Berharap dan terus berdoa demi kebaikan dan keselamatan Diyah.

Fatimah menatap cucu semata wayangnya yang kini baru saja selesai di perban pada bagian kepala, di dekat pipinya terdapat luka memar dan rasanya Fatimah sudah tak sanggup untuk menatap gadis sekecil Diyah yang harus merasakan kesakitan bersama alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya.
****

Keesokan harinya, Rs Kota Bontang. Pukul 10.00 pagi.

Danish menatap Diyah dengan sendu. Sejak kemarin, putrinya itu belum sadarkan diri. Benar saja apa kata Dokter Ahmad, Diyah mengalami cedera kepala berat yang disebabkan oleh benturan keras. Hal itu umum terjadi pada anak usia baru lahir hingga usia seperti Diyah yang rawan dan beresiko tinggi.

Sentuhan pelan di pundak Danish membuatnya menoleh kesamping, Aminah menatapnya penuh kasihan. Semalam, Mamanya tiba di kota Bontang setelah seharian berada di rumah sakit kota Balikpapan lantaran Papanya juga di rawat di rumah sakit.

"Tadi pagi Dokter Ahmad visit. Beliau berkata kalau Diyah harus segera di operasi. Jika terlambat, sangat beresiko bagi kondisi Diyah."

"Sudah kamu setujui?"

Danish menggeleng lemah. "Belum Ma. Sayangnya untuk operasi bedah saraf otak tidak ditanggung jaminan kesehatan terkecuali pengobatan dan perawatan lainnya."

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 

"Benarkah?"

"Iya. Aku akan mengusahakan dananya. Tabunganku tentu saja tidak akan cukup."

"Mama akan menjual semua perhiasan Mama."

"Jangan," sela Danish. "Itu bisa di simpan buat keperluan lain kedepannya, Ma. Sebenarnya Danish punya teman, katanya dia bisa membantu Danish meminjamkan uangnya."

"Lalu?"

"Tetapi dia membutuhkan tenaga kerja bagian penyiar stasiun televisi di Jakarta. Jika Danish menerimanya, dia bisa membantu meminjamkan dana tersebut sebagai tambahan imbalannya."

"Kenapa harus kamu yang di pilihnya sebagai penyiar berita televisi disana?"

"Danish juga tidak tahu. Danish berprasangka baik bahwa Allah sedang mempermudah urusan kita."

"Kalau begitu silahkan setujui permintaan teman kamu."

"Masalahnya.. siapa yang akan menjaga Diyah selama aku di Jakarta? Papa sedang butuh Mama di rumah sakit, Mama Fatimah dan Papa adalah karyawan swasta. Pekerjaan mereka tidak bisa di hentikan begitu saja." ucap Danish lesu, mulai bingung setelah mendapatkan solusi masalah dana dan biaya untuk operasi Diyah.

"Assalamualaikum.."

Suara seorang wanita membuat Aminah menoleh ke belakang. Ia pun tersenyum tipis. Nafisah datang menjenguk dengan raut wajah cemas terhadap Diyah.

"Wa'alaikumussalam.. Nafisah, terima kasih sudah kemari. Lama tidak bertemu, semalam Tante baru tiba di kota ini. Bagaimana kabarmu?"

"Alhamdulillah saya dan keluarga baik, Tan.. Bagaimana dengan Diyah?"

"Masih seperti kemarin, belum sadarkan diri."

"Nafisah.. ingin membantu Tante dan Papanya Diyah." ucap Nafisah begitu saja, hingga diam-diam membuat Danish terkejut dalam hati.

"Apakah nak Fisah punya saran?"

Nafisah mengangguk. "Iya.. saya.. insya Allah saya bisa membantu. Saya harap ini keputusan yang tepat saat ini."

"Alhamdulillah, dengan senang hati kami menerimanya. Memangnya, Nafisah ingin memberi saran apa?"

"Saya.." Nafisah merasa telapak tangannya dingin, keringat mulai bercucuran di dahinya dekat dalaman hijabnya. Ia pun menarik napas sejenak kemudian menghembuskan secara perlahan.

"Saya, akan menerima Papanya Diyah menjadi suami saya."

DEG!

Detik berikutnya Danish syok. Lontaran Nafisah barusan membuatnya tanpa sadar menoleh kearah Nafisah.

Wajah yang manis.

Tiga kata itu yang Danish lihat dari wajah Nafisah. Hanya seperkian detik saja setelah itu Danish menatap ke lain, lebih tepatnya kearah Diyah.

"Saya harap kamu tidak menerima keputusan saya hanya karena situasi sekarang." ucap Danish datar.

"Apakah, Mas meragukan saya?"

Danish mengangguk. "Ini bukan perkara yang mudah. Terlebih kamu menerima saya bukan karena yakin, tetapi karena Diyah."

"Setidaknya kita berusaha menyelamatkan nyawanya. Saya akan membantu menjaga Diyah selama Mas di Jakarta. Maaf, tanpa sengaja tadi saya mendengar ucapan Mas dan Tante Aminah. Hati saya tergerak untuk berada di sisi Diyah. Saya yakin, Diyah sedang membutuhkan kita."

"Apakah kamu yakin, nak Fisah?" sela Aminah tiba-tiba, mencoba mencari tahu apakah ada keraguan di balik ucapan Nafisah. Namun sayangnya, Aminah tidak menemukan hal itu sama sekali. Raut wajah Nafisah terlihat yakin dan tidak main-main.

"Tadi pagi, Diyah mengucapkan sesuatu sama saya. Ucapan polosnya membuat hati saya terketuk untuk terus bersamanya." lirih Nafisah pelan, sebulir air mata mengalir di pipinya.

"Apa yang Diyah ucapkan?"

"Mama Nafisah, setiap hari Diyah berdoa sama Allah, semoga Mama Nafisah selalu berada didekat Diyah. Diyah nggak bisa jauh-jauh dari Mama Nafisah. Kalau suatu saat Mama Nafisah menikah dengan orang lain, Diyah harap Mama Nafisah tidak akan pernah menjauhi Diyah. Diyah sayang Mama Nafisah seperti Mama Alina." lirih Nafisah pelan setelah mengucapkan apa yang di katakan Diyah kemarin pagi, satu jam sebelum Ela menjemputnya.

Kedua mata Danish sampai berkaca-kaca. Tidak menyangka kalau ucapan polos Diyah ternyata sesayang itu dengan Nafisah. Dan sejak beberapa bulan yang lalu Danish juga sadar, kalau Nafisah terlihat tulus menyayangi Diyah tanpa sandiwara.

"Baiklah.." ucap Danish akhirnya. "Saya akan menikahi kamu sebelum berangkat ke Jakarta."

Aminah pun tersentuh. Sementara Nafisah mulai gelisah, takut, dan gugup. Tetapi mengesampingkan semua itu demi Diyah.
Aminah tidak menyangka bahwa seperti ini lah jalan takdir putranya. Tidak ada yang menyangka kalau akhirnya putranya itu akan menikah lagi dan Diyah akan bersama Nafisah yang mencintainya sama seperti almarhumah menantunya.

Danish merogoh ponselnya yang terasa bergetar di dalam saku celananya. Sebuah pesan singkat dari temannya di Jakarta yang memberi kabar bahwa uang tersebut sudah di transfer beserta bukti transaksi M-banking yang sukses.

Degup jantung Danish berdebar, perasaannya menjadi tidak menentu. Tanda bahwa sebentar lagi ada Nafisah diantara dirinya dan Diyah, sosok baru yang tentunya belum ia ketahui apakah ada rasa cinta atau tidak nantinya.

"Ma, Danish pamit untuk pergi ke bagian administrasi untuk menyetujuinya operasi Diyah malam ini."

"Baiklah, semoga lancar."

Danish hanya mengangguk sopan kemudian pergi berlalu dengan langkah yang sangat berat, bayangan Alina lagi-lagi terbesit dibenaknya. Ntah kenapa, kedua mata Danish berkaca-kaca.

"Alina, sebentar lagi sahabatmu hadir diantara kita. Dia yang tak pernah aku lihat, dia yang tak pernah aku pikirkan, tiba-tiba Allah mendatangkannya sebagai sosok yang benar-benar tulus menyayangi putri kita. Kuharap aku tidak melukainya suatu saat. Hatiku, sudah terukir namamu. Apakah aku sanggup bila namamu terhapuskan dan tergantikan dengan dia? Ya Allah, kuatkan hamba. Alina, jujur, aku tidak sanggup."

****

Alhamdulillah, chapter 14 sudah up ๐Ÿ’›

Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Tetap stay di part berikutnya๐Ÿ’•.

Apakah kalian mulai deg-degan sekarang? Hhe ๐Ÿ˜๐Ÿ˜†

Jgn lupa beri komentarnya ya di bagian bawah ๐Ÿ˜‰ ku pengen tahu respon tanggapan kalian sama chapter kali ini ๐Ÿค—

With Love ๐Ÿ’‹ LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

__

Next Chapter 15. Langsung aja klik link dibawah ini : 

https://www.liarezavahlefi.com/2020/06/chapter-15-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html?m=1


6 komentar:

  1. Masya allah akhirnyaa๐Ÿ˜

    BalasHapus
  2. Sedikit tapi surprise.. ������

    BalasHapus
  3. Yeay...Alhamdulillah Nafisah bersedia Nerima lamaran danish.ga sabar rasanya nunggu up selnjutnya...pas ga sngja liat notif d WP klo crt ini up langsung cuss ksni...semngat Thor,semoga sehat dan lancar idenya biar bs cpt up nya...

    BalasHapus
  4. MaSyaa Allah...akhirnya...smoga lancar ya operasinya Diyah & smoga Danish n Nafisah bahagia

    BalasHapus
  5. Masyaallah Alhamdulillah

    BalasHapus
  6. Masya Allah, mungkin Nafisah dan Danish sudah jodoh

    BalasHapus