Chapter 16 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 06 Juli 2020

Chapter 16 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz



Kota Bontang, Pukul 10.00 pagi.

Nafisah menatap Danish dalam diam ketika saat ini ia memilih menunggu didalam mobil keluarga. Ia duduk di bagian kursi belakang, kaca mobil berwarna hitam membuat Nafisah dengan puas menatap seorang pria yang kini sudah sah dan halal untuknya.

Sesekali Danish terlihat tersenyum. Ini pertama kalinya Nafisah menatapinya tanpa berkedip. Dulu, sebelum ia menikah, melihatnya saja tidak berani karena sadar kalau Danish bukanlah mahramnya.

Hanya menatapnya seperti itu, tidak ada satupun rasa gugup, jantung berdebar, apalagi malu. Jangankan hal tersebut, perasaan suka saja tidak ada.

Nafisah menatap sebuah cincin yang sudah tersemat di jari manisnya. Cincin pernikahan yang terpasang di sana sejak 30 menit yang lalu oleh Danish. Seharusnya seorang pria yang ia cintailah yang menyematkannya. Tetapi kenapa malah pria lain yang tidak di cintainya? Sungguh, tidak ada yang bisa mengetahui bahwa jodoh memang rahasia Allah dan sudah tercatat di Lauhul Mahfudz. Dan ini sudah pilihan hidup yang ia lakukan.

Nafisah menghela napasnya. Ia memilih diam, menunggu kedatangan Danish yang sedang mengobrol sejak tadi dengan Irsyad di luar sana. Sampai sekarang, ia masih tidak mengerti, mengapa Irsyad mengabaikannya? Mengapa Irsyad mendiamkannya bahkan dingin kepadanya? Tatapan pria itu di penuhi dengan amarah dan dendam. Sebenarnya, apa yang terjadi? Apakah ia memiliki kesalahan dimasalalu dengan pria itu? 

Seperti yang ia ingat, padahal ia baru pertama kalinya bertemu Irsyad empat bulan yang lalu ketika mengajar les privat dirumah Rara.

Pintu mobil terbuka pelan, dengan refleks Nafisah menggeser sedikit posisinya mendekati pintu mobil. Tadi dia santai, mengapa sekarang rasa grogi menyapanya begitu Danish duduk di sebelahnya? Apakah ini yang di namakan perasaan canggung?

Mobil sudah berjalan pelan, tujuan kali ini adalah kembali kerumah sakit untuk mendatangi Diyah. Semalam, Diyah sudah di operasi dan semuanya berjalan dengan lancar. Sekarang, gadis kecil itu sedang mengalami masa pemulihan meskipun belum siuman.

Aroma wewangian bunga melati sebagai penghias di hijab Nafisah dan ada juga yang mengalung di leher Danish pun, menguar di penciuman Nafisah. Padahal ia sudah bersama Danish, suaminya itu dekat dengannya. Mengapa sudah beberapa menit berlalu tidak ada satupun pembicaraan atau sekedar basa basi yang terjadi diantara mereka?

Apakah Danish sama sungkannya dengan dirinya? Dengan memberanikan diri, Nafisah melirik kearah Danish yang sibuk menatap jendela kaca mobil sampingnya. Lalu tatapannya beralih ke jari manis Danish yang terpasang cincin pernikahan mereka disana.

Nafisah dan Danish, sama-sama melakukannya demi kebaikan Diyah. Apakah benar, saling suka akan menyapa keduanya?

"Bismillah, mungkin aku harus belajar menegurnya duluan nanti setelah tiba dirumah sakit. Ya Allah, bantulah hamba, setidaknya semoga hubungan kami akan di dasari rasa nyaman terlebih dahulu antara hamba dan Mas Danish nantinya, Aamiin."

๐Ÿ’˜๐Ÿ’˜๐Ÿ’˜๐Ÿ’˜

Rumah Sakit Kota Bontang, pukul 13.00 siang.

"Ya Allah, terima kasih, atas karunia nikmat, rezeki, serta kesehatan dan umur yang panjang untuk kami semua."

"Ya Allah, berikanlah kesembuhan untuk putri hamba. Hanya Allah lah, yang bisa menyembuhkannya atas doa dan ikhtiar yang kami lakukan."

"Ya Allah, terima kasih, telah menjadikan Nafisah hadir diantara kami, semoga hamba bisa mencintainya suatu saat dan menghargai amanah Allah untuk hamba. Aamiin."

Danish baru saja mengucapkan doa setelah menyelesaikan sholat Zuhur berjamaah di mushola rumah sakit. Setelah itu, Danish segera menuju ruang rawat inap Diyah dan setiap kesana, berharap kalau putrinya itu sudah siuman pasca operasi.

Danish menarik napas sejenak dan menghembuskan secara perlahan, tangannya sudah memegang kenop pintu. Sebentar lagi, mau tidak mau ia akan berinteraksi dengan Nafisah untuk pertama kalinya.

"Bismillah, ya Allah, hamba minta tolong agar segera di hilangkan rasa kecanggungan ini.."

Detik berikutnya Danish membuka pintunya dan terkejut karena Nafisah sudah berada didepan matanya. Istrinya itu terlihat memegang selembar resep obat dan sepertinya mau ke bagian farmasi.

Sejenak, Danish menatap lekat Nafisah untuk pertama kalinya. Padahal wanita itu sudah ada sejak almarhumah Alina belum tiada dan kewajibannya sebagai seorang suami yang menundukkan pandangannya itulah membuatnya tidak pernah melihat wajah Nafisah seintens ini.

Wajah Nafisah ternyata manis dan sedang di tumbuhi satu jerawat di pipinya yang putih mulus. Kedua alis mata yang terbentuk sempurna meskipun tidak terlalu tebal. Kedua matanya yang beriris coklat serta bibir ranum yang tipis.

"A.. Asalamualaikum, Mas.."

Seketika Danish tersadar, ia pun berdeham, "Wa'alaikumussalam."

Nafisah terlihat tersenyum kecil meskipun kedua sudut bibirnya terasa kaku. Danish pun memilih posisi kekanan bertepatan saat Nafisah juga kekanan. Ia kekiri namun Nafisah juga malah kekiri. Akhirnya Danish menghentikan langkahnya, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu memundurkan langkahnya agar bisa memberi jarak pada istrinya. Danish pun bernapas lega, akhirnya Nafisah berhasil melalui dirinya.

"Mas, a.. aku, aku.. ingin meminta izin, ke bagian farmasi untuk menebus obat."

Danish mendengar suara permintaan izin Nafisah yang terbata-bata. Ia pun mengangguk, menoleh ke arah Nafisah yang tanpa sengaja kedua pipinya terlihat bersemu merah.

"Iya, hati-hati."

Lalu Nafisah pun pergi dengan mempercepat langkahnya. Danish menoleh lagi kearah Nafisah, melihat kepergian istrinya. Khimar panjangnya melambai-lambai bergerak sesuai pergerakan tubuhnya.

Danish terdiam, ntah kenapa ia belum bisa menerima Nafisah kedalam hidupnya kalau saja bukan karena jawaban sholat istikharahnya serta situasi Diyah. Terkadang, apa yang kita tidak sukai bisa jadi yang terbaik untuk kita begitupun sebaliknya.

Danish merasa, berdekatan dengan seseorang yang baru apalagi berstatus istri masih terasa asing baginya memang tidaklah mudah.

****

Malam harinya, Pukul 20.00 malam.

Dalam diamnya sambil menatap Diyah, Nafisah berharap kalau putrinya itu segera sadar. Nafisah menggenggam punggung tangan Diyah.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 

"Sayang, cepat sadar, ya. Sungguh Mama begitu merindukanmu."

Tak lupa Nafisah mencium kening Diyah sebelum berlalu ke toilet. Setelah itu, Nafisah pergi ke bagian westafel toilet untuk mencuci wajahnya menggunakan facial wash.

Nafisah mulai melepas khimarnya beserta dalaman hijabnya. Ia mengikat rambutnya berbentuk cepolan lalu menggulung lengan panjang gamisnya hingga setengah siku. Ia pun menatap wajahnya sejenak, ntah kenapa sudah beberapa hari ini pipinya yang mulus tiba-tiba berjerawat dan itu sangat menyakitkan.

Seketika Nafisah teringat sebuah doa dan amalan dari Nabi Muhammad SAW untuk mengobati jerawat. Disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ู…َุง ุฃَู†ْุฒَู„َ ุงู„ู„ู‡ُ ุฏَุงุกً ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุฒَู„َ ู„َู‡ُ ุดِูَุงุกً


Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Bukhari).


Maka Nafisah pun segera berdoa. "Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma muthfi’al kabir wa mukbira shaghiri athfi’ha anni."

"Ya Allah dzat yang memudarkan yang besar dan membesarkan yang kecil, maka pudarkanlah (hilangkan) bisul atau jerawat itu dariku." (HR An Nasa’i)

Nafisah mulai membasuh wajahnya dengan air keran wastafel, mencuci bersih wajahnya dengan facial wash, setelah semuanya beres, baru saja Nafisah hendak meraih handuk kecil yang ia bawa kemanapun khusus wajahnya, seketika lampu di toilet tiba-tiba padam.

Semua gelap gulita. Tubuh Nafisah bergetar kecil, tenggorokannya terasa tercekat. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Nafisah pun kehilangan arah sampai akhirnya ia panik hingga teriak histeris ketakutan.

Pintu terbuka cepat. Disaat yang sama, lengan kokoh menahan pinggulnya ketika Nafisah hampir saja terpeleset dan terjatuh ke lantai. Nafisah memejamkan kedua matanya sangat rapat. Memukul-mukul dada bidang seorang pria yang ternyata adalah Danish.

"Pergi! Menjauhlah! Kumohon!"

"Nafisah, tenanglah.."

"Tidak! Kamu.. ka..kamu membuatku terperangkap. Pergi!"

Dengan kuat Nafisah memukul-mukul Dada bidang Danish. Danish sampai kewalahan lalu akhirnya ia pun mencari saklar didinding dan ternyata memang listrik di toilet sedang bermasalah.

"Nafisah.."

"Pergi! Pergi!"

Dengan sekuat tenaga Danish memegang kedua tangan Nafisah. Napas Nafisah sampai tersengal-sengal. Air mata sudah meluruh di pipinya. Seketika Nafisah limbung, dengan tanggap Danish segera menggendong tubuh Nafisah secara bride style.

Nafisah sangat ketakutan. Ia syok, bahkan sudah tidak memikirkan lagi kecanggungan yang ada setelah Danish menggendongnya menuju sofa dan mendudukkan secara perlahan.

Nafisah menundukkan wajahnya, merasa malu karena Danish melihatnya dalam keadaan seperti tadi. Ia tidak mampu mencegah air matanya sendiri. Sebuah usapan pelan yang berasal dari jari Danish di pipinya membuat Nafisah lagi-lagi tidak bisa berbuat apapun.

"Apa yang terjadi?"

"Tidak, apa-apa."

"Kalau tidak apa-apa kenapa kamu panik seperti tadi?"

Nafisah bungkam. Merasa gagal untuk kesekian kalinya mengendalikan diri saat berada ditempat gelap. Danish merasa bingung, apa yang harus ia lakukan. Tetapi karena Nafisah sekarang adalah istrinya, maka tak ada cara lain selain membawanya kedalam pelukan.

Sebuah pelukan yang sudah lama sekali tidak pernah ia lakukan kepada wanita selain mendiang istrinya dimasalalu. Nafisah masih seenggukan, memeluk tubuhnya semakin erat.

"Aku, trauma dalam kegelapan." lirih Nafisah pelan.

"Aku akan laporkan hal ini ke bagian petugas rumah sakit untuk mengecek listrik didalam toilet." Danish hendak berdiri, namun Nafisah mencegahnya. Tatapan Nafisah seolah-olah memohonnya agar tidak pergi sekarang juga.

"Aku, masih takut."

"Baiklah, aku akan menemanimu."

Lalu Nafisah pun mengangguk pelan. Ntah kenapa dengan cara memeluk Danish seperti ini, hatinya merasa tenang. Nafisah memperhatikan tangannya, dengan baiknya Danish menggenggam telapak tangannya dan keduanya saling bertautan jari.

****

Sumber : bincangsyariah.com


Perasaan kalian sama chapter ini?
๐Ÿ˜Š

Alhamdulillah sudah chapter 16. Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca ya๐Ÿค—

Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga.
WithLove ๐Ÿ’•
LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii


8 komentar:

  1. Alhamdulillah up ya Allah seneng bgt..bab ini uwuw bgt..trus pnasaran jg kayanya Nafisah prnh punya kjdian kelam d masa lalu ya,apa hal ini jg yg bkin Irsyad benci Nafisah?tp dia tau dr mn?

    BalasHapus
  2. Seneng banget๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    BalasHapus
  3. Uwuuu danish ......Kira"ap yang buat nafisah takut gelap yah?

    BalasHapus
  4. Masya allah..
    Ditunggu part selanjutnya❤❤❤

    BalasHapus
  5. Masya allah..
    Ditunggu part selanjutnya❤❤❤

    BalasHapus