Chapter 17 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Sabtu, 11 Juli 2020

Chapter 17 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz



Jakarta, D'Media Corp Indonesia. Pukul 09.00 pagi.

Danish sudah tiba di Jakarta kemarin pagi. Ini adalah hari kedua ia di kota metropolitan untuk bertemu dengan seorang Presdir yang menjadi pemilik perusahaan media penyiaran tempat ia tuju.

Danish sudah duduk di sofa, menunggu seorang pria paruh baya yang kini sedang menuju tempatnya setelah mengadakan rapat di lantai 5. Tidak menunggu waktu yang lama, pintu terbuka lebar, masuklah sosok pria yang Danish kenal bernama Pak Amrah, bersama satu lagi pria muda kisaran 30 tahun bername tag Fikri Azka. Danish segera berdiri.

"Assalamualaikum, Pak Amran.."

"Wa'alaikumussalam. Apakah sudah lama menunggu?"

"Em, tidak juga."

"Ayo, silahkan duduk."

Danish pun duduk, berhadapan dengan Pak Amran dan Fikri Azka. Pak Amran pun memanggil seorang pria, menyuruhnya membuat secangkir teh untuknya beserta tamu di hadapannya.

"Jadi, bagaimana kondisi putrimu sekarang?"

"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar. Namun sampai sekarang saya belum mendapatkan kabar apakah putri saya sudah siuman atau tidak."

"Saya turut bersedih mendengar kabar darimu, nak, Danish. Sebenarnya kamu tidak perlu mengembalikan semua biaya yang saya pinjamkan waktu itu."

Seketika Danish terkejut, ia yakin tidak salah dengar. Raut wajah Pak Amran terlihat santai, ia hanya tersenyum tipis.

"Tidak perlu terkejut, santai saja, saya akan mengikhlaskannya. Tidak apa-apa."

"Tapi, Pak," Danish merasa tidak enak hati. 

"Uang yang saya pinjam sangatlah banyak. Bagaimana mungkin Bapak mengikhlaskannya?"

Sekali lagi, Pak Amran tertawa kecil. Seorang pria muda pun masuk keruang tersebut sambil membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat.

"Ayo, diminum dulu.."

Danish hanya mengangguk, meskipun rasa hangat teh manis itu memasuki tenggorokannya, tetap saja ia masih merasa tidak percaya. Bayangkan saja, biaya operasi bedah saraf di kepala Diyah yang tidak termasuk dalam jaminan kesehatan saja sudah memakan biaya 50 juta lebih, dan Pak Amran berkata akan mengikhlaskannya? Setelah menyeruput teh hangatnya, Danish kembali menatap Pak Amran.

"Maaf, Pak, saya merasa tidak mungkin kalau tidak menggantinya"

"Santai saja, Danish. Sesungguhnya saya ikhlas membantu dirimu. Bagi saya, uang segitu bukanlah apa-apa. Kejadian yang menimpa putrimu, mengingatkan saya dengan kejadian yang menimpa putri saya juga. Namun sayangnya, dia sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Pria di sebelah saya ini adalah calon suaminya yang akan menikahinya yang sudah saya anggap seperti putra saya sendiri. Ah, dia juga CEO di perusahaan ini karena setelah ini saya akan kembali pulang untuk istirahat, maklumlah, kondisi kesehatan saya akhir-akhir ini sering kambuh sehingga membuat saya harus mempercayai semua pekerjaan disini dengan tangan kanan saya. Beliau bernama Pak Fikri Azka."

Danish pun menatap Pak Fikri Azka lalu tersenyum sopan, mengetahui bahwa pria itu akan menjadi atasannya sebentar lagi.

"Dan untuk profesi pembawa berita di stasiun siaran saya, itu terserah kamu. Kalau mau berkarir disini, silahkan. Tapi kalau merasa jauh dari keluargamu, saya tidak memaksanya."

Tentu saja Danish tidak ingin membuang kesempatannya dengan karir yang baru di perusahaan ternama milik Pak Amran. Ia memang mengenal Pak Amran sejak dulu, jaman dimana ia masih menjadi seorang reporter koran harian dan sering bertemu dengannya di lokasi pekerjaan kota Balikpapan. 

Apalagi pria sukses itu tinggal di pulau yang sama dengannya meskipun hanya berbeda kota. Disisilain, ia memang butuh tambahan gaji mengingat harus menafkahi Nafisah dan kebutuhan lainnya.

"Tentu saja saya menerimanya, Pak. Kebetulan saya baru menikah, jadi saya memerlukan pekerjaan ini."

"Kalau begitu selamat atas pernikahan barumu. Kenapa dadakan sekali? Saya jadi tidak bisa datang."

Danish pun tersenyum tipis, lalu obrolan ringan pun mengalir begitu saja. Mulai besok, Danish resmi menjadi bawahan Pak Amran dan akan siap membawakan acara berita harian di televisi nasional.

****

Rumah Sakit Kota Bontang, pukul 13.00 siang.

Diyah belum juga sadar hingga sekarang, sudah terhitung 24 jam, nyatanya kedua mata Diyah masih terpejam rapat. Operasi yang berhubungan dengan bagian saraf kepala memang membutuhkan kesabaran terhadap respon dan kondisi pasien setelahnya. Danish sudah berangkat ke Jakarta kemarin pagi, pria itu berpesan agar selalu mengabari keadaan putri mereka pada Nafisah.

Nafisah menatap sedih kearah Diyah. Sungguh ia begitu merindukan putri kecilnya. Pintu terbuka pelan, Lestari masuk sambil membawa sebuah tas canvas yang berisi sesuatu disana.

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini

"Assalamualaikum,"

"Wa'alaikumussalam, Ma."

"Kamu sudah sholat Zuhur dan makan siang?"

"Aku sudah sholat. Tapi makan siang belum. Rencana mau delivery saja."

"Jangan sering beli makanan diluar, nggak sehat. Ini Mama bawakan kamu makan siang."

Lestari pun duduk di sofa ruangan rawat inap. Ia mulai mengeluarkan kotak-kotak wadah makanan yang sudah di siapkan dari rumah. Ada nasi, ayam, tahu tempe, timun, kol, serta sambel kemangi. Menu siang ini adalah menu lalapan ayam goreng kesukaan Nafisah.

"Mama makan saja duluan, kebetulan aku masih kenyang habis minum jus."

"Tapi janji ya, nanti makan."

"Iya, Ma, iya."

Sebelum menyantap makan siangnya, tiba-tiba Lestari memindah channel pada siaran Lcd di depan matanya dengan sinteron FTV. Nafisah sampai menghela napasnya.

"Ih, Ma, kayak nggak ada film lain saja. Bosen deh sinetron mulu."

"Ini namanya hiburan para emak-emak. Gini-gini rame loh."

"Tapi ceritanya gitu-gitu terus. Ntar ujung-ujungnya ada pelakor, kalau nggak cerai, istri tersakiti atau suami tersakiti atau ya, gitu deh."

Lestari pun hanya tertawa geli dan melanjutkan makan siangnya. Nafisah hanya diam menurut, tak berkomentar lagi. Sinteron FTV memang hiburan emak-emak dasteran seperti Mamanya sejak dulu.

Setelah menyelesaikan makan, Lestari memilih mencuci tangannya yang berminyak di westafel. Disaat yang sama, Nafisah malah dengan santainya mengganti channel siaran FTV yang kebetulan sedang iklan namun terhenti di satu siaran ketika tanpa sengaja ia melihat Danish sedang duduk membawa berita kriminalitas harian yang di tayangkan secara live.

"Perampok diduga berjumlah lima orang dan nekat mencuri sejumlah uang puluhan juta serta perhiasan di dalam rumah mewah tersebut."

Nafisah terdiam, menatap Danish dengan penampilan yang sangat berbeda. Rambut pria itu sudah di cukur dan di bentuk style dengan rapi, memakai stelan jas formal serta dasi yang ntah kenapa pakaian tersebut melekat sempurna di tubuh Danish. Danish juga terlihat tampan dan tubuhnya juga terlihat tegap berbidang, seperti yang di ketahui, Danish bukanlah pria sispack meskipun memiliki tubuh tinggi dan ideal.

"Kejadian bermula saat semua anggota keluarga dirumah tersebut sedang bepergian keluar rumah. Menurut saksi mata, lima orang perampok yang berpakaian serba hitam, terlihat keluar rumah dengan cepat setelah menjalankan aksinya. Korban diduga mengalami kerugian sejumlah ratusan juta rupiah."

Dari jarak beberapa meter, tanpa Nafisah sadari, Lestari melihat semuanya. Ia menatap putrinya dan layar lcd secara bergantian. Ia pun tersenyum tipis.

"Menantu Mama, Alhamdulillah ganteng banget, ya."

"Ha?" buru-buru Nafisah menatap Mamanya dengan cepat, lalu ia pun berdiri menuju kamar mandi. Gesture tubuhnya seperti terlihat salah tingkah. Padahal tayangan berita tadi belum selesai.

"Mau kemana?"

"Em, Nafisah mau cuci tangan di wetafel. Tiba-tiba laper."

Lestari hanya diam. Sementara Nafisah sendiri ntah kenapa merasa kagum dengan Danish ditambah godaan Mamanya yang membuatnya deg-degan.

Ada apa dengan hatinya? Tidak mungkin kan, rasa suka secepat itu?


****

Alhamdulillah, Chapter 17 sudah up 😘

Mari kita lihat, siapa yang duluan kebaperan nantinya? Nafisah atau Danish? πŸ˜†

Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu buat kalian dirumah ya,
With Love πŸ’‹ LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

__

Selanjutnya, Chapter 18. Langsung klik link dibawah ini. 

https://www.liarezavahlefi.com/2020/07/chapter-18-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html?m=1

____


8 komentar:

  1. Kak itu fikri azka novel ana uhibbukafillah kan??

    BalasHapus
  2. Udahh mulaii suka nih nafisah ama daniss

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah update,biasanya sih cewe yg gmpang BAPER.skrg aj Nafisah udah mulai terpesona sma penampilan Danish d TV.tp semoga Danish dluan yg BAPER.

    BalasHapus
  4. Oh iya Thor bner ya Fikri Azka calon suami almarhum devika ini ya?kjdian ini stlh nikah Ama afrah blom sih aku lupa?

    BalasHapus
  5. Kejadian ini lebih tepatnya 3 tahun setelah kecelakaan Devika hhe.

    BalasHapus
  6. Iya kan fikri belom kenal sama afrah....wah singkat banget Thor chapter 17 nya... semangat terus ya Kaka....sehat selaluπŸ€—

    BalasHapus
  7. Semangat ya kk lanjutinnya☺️

    BalasHapus
  8. Semoga danish dulu yg baper

    BalasHapus