Chapter 18 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Minggu, 19 Juli 2020

Chapter 18 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz




Kota Jakarta Barat. Pukul 16.30 sore.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya sebagai pembawa berita kriminal disiang hari dan melaksanakan sholat ashar, Danish memilih pulang kerumahnya yang baru.

Danish memilih tinggal di sebuah  apartemen setelah memutuskan menandatangani kontrak pekerjaan di stasiun televisi D'Media Corp yang jaraknya juga tidak terlalu jauh dari lokasi pekerjaan dan hanya memakan waktu kurang lebih 15 menit untuk tiba di tujuan.

Danish memasuki lobby apartemen dan segera menuju lift untuk naik ke lantai tiga. Sesampainya disana, ia segera membuka pintunya dan keheningan menyapa dirinya.
Suasana yang baru, tempat pekerjaan yang baru, dan tentu saja teman hidup yang baru yang nantinya akan tinggal bersamanya meskipun saat ini teman hidup tersebut masih bersama putri tercintanya di kota lain.

Danish memilih melepas lelahnya sambil duduk di sofa empuk ruang tamunya dan sedikit membuka dua kancing kemeja yang ia kenakan. Ia pun juga mengeluarkan ponselnya, lalu terdiam menatap layar ponselnya yang masih terpampang wajah Alina sebagai wallpapernya.

Ntah kenapa rasanya begitu berat hanya untuk mengganti foto wallpaper tersebut yang sudah terlihat sejak 5 tahun yang lalu setelah resmi menikahi almarhumah Alina.

"Alina, aku merindukanmu."

"Sekarang takdirku sudah berbeda. Ada Nafisah sebagai ibu sambung untuk Diyah, tetapi kenapa, rasa cintaku padamu tidak pernah hilang sampai sekarang?"

"Ya Allah, sungguh hamba begitu mencintainya. Biar bagaimanapun, dia tetap istri hamba."

Tiba-tiba ponsel Danish berdering, panggilan masuk dari nomor tak dikenal membuat Danish segera menerimanya.

"Halo, Assalamualaikum, Mas?"

"Wa'alaikumussalam, maaf ini siapa?"

Hening sejenak, tidak ada respon apapun. Danish menurunkan ponselnya, menatap layarnya yang masih tersambung panggilan.

"Halo?" jawab Danish lagi.

"Em, ini aku, Nafisah."

"Oh," Danish pun menegakkan punggungnya. "Maaf, aku tidak pernah menyimpan nomor ponselmu."

"Tidak apa-apa, Mas. Lagian aku baru mendapatkan nomor Mas dari Mama."

"Iya."

Hening sejenak. Tidak ada obrolan lagi, rasanya begitu canggung. Dan ntah kenapa Danish merasa tidak enak hati dan ingin segera mengakhiri panggilannya. Bukannya tidak suka, hanya saja ia merasa tidak nyaman dengan situasi yang awakward.

"Mas sudah makan?"

"Em, sudah tadi siang."

"Alhamdulillah, jangan lupa makan Mas."

"Bagaimana kabar tentang Diyah?"

"Masih belum ada perubahan hingga sekarang."

"Oke, em, aku.. mau mandi dulu. Baru pulang kerja."

"Baiklah, Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam."

****

Nafisah baru saja mengakhiri panggilannya dengan suaminya sendiri. Kenapa semuanya begitu datar? Tidak sedikitpun Danish menanyakan kabar tentang dirinya. Seperti apakah ia sudah makan atau belum, sedang sibuk apa dan hal lainnya?

Nafisah tersenyum masam. Ia berusaha berpikir positif, mungkin karena mereka baru menikah dalam hitungan hari. Jadi kecanggungan itu tentu saja masih terasa terlebih sedang menjalani hubungan jarak jauh.

Pintu terbuka pelan, Ibunda Rara yang bernama Daviana pun muncul dengan raut wajah dan senyuman cantiknya. Seketika Nafisah segera berdiri dari duduknya.

"Ibu Davi?"

"Assalamualaikum, Nafisah."

"Wa'alaikumussalam, Bu."

Nafisah berdiri dan menyambut kedatangannya. Tak lupa berjabat tangan lalu saling cipika-cipiki. Ia pun menerima satu keranjang yang di kemas rapi dan berisi berbagai macam buah-buahan dari Ibu Daviana.

"Ayo, Bu, silahkan duduk."

"Terima kasih." Daviana duduk sambil memperhatikan Diyah yang belum siuman sejak kemarin.

"Maaf ya, baru bisa menjenguk Diyah. Pekerjaan saya benar-benar membuat saya sibuk."

"Tidak apa-apa, Bu. Saya ngerti kok. Oh iya, Ibu kesini sendirian?"

"Tidak, sama keponakan saya. Kebetulan dia lagi di kantin rumah sakit. Katanya sih lagi ngantuk sewaktu mengemudikan mobil. Jadinya ngopi deh."

Nafisah pun terdiam. Apakah keponakan yang di maksud Ibunda Rara itu adalah Irsyad?

"Oh iya, bagaimana kondisi putrimu sekarang?"

Nafisah berusaha menghalau rasa penasarannya. Ia pun tersenyum.

"Seperti yang Ibu lihat, belum ada perubahan hingga sekarang."

"Ya Allah, semoga kamu dan sekeluarga di beri kesabaran ya. Hati saya jadi sedih melihatnya seperti itu. Apakah usianya sama seperti Rara?"

"Em, iya Bu. Karena masih kecil, justru kecelakaan yang menimpa bagian kepalanya waktu itu benar-benar menjadi resiko terbesar terhadap benturan."

"Kita sebagai orang tua memang wajib mengawasi anak-anak seusia mereka. Hm, suami kamu mana? Saya dengar dari Irsyad, kalian baru menikah dua hari yang lalu?"

Nafisah tersenyum tipis. "Alhamdulillah iya, Bu."

"Saya tahunya sih dari Irsyad. Duh, lagi-lagi saya minta maaf ya, nggak bisa datang ke akad nikah kamu. Kebetulan dua hari yang lalu saya keluar kota. Oh iya, gara-gara menyebut nama Irsyad, hampir saja saya lupa."

Daviana merogoh sesuatu didalam tas branded yang ia bawa. Lalu mengeluarkan sebuah undangan pernikahan hard cover yang terlihat mahal.

"Ini undangan pernikahan keponakan saya, si Irsyad. Jangan lupa datang ya. Insya Allah Minggu ini."

Nafisah menerima undangan tersebut dengan perasaan tak menentu. Bukannya tidak suka, malahan saat ini benaknya di penuhi berbagai macam pertanyaan sejak kemarin.

"Em, maaf Bu, mau tanya. Setahu saya, pamannya Rara ini tidak memiliki calon sebelumnya."

"Ah iya, betul. Kata adik saya, Irsyad itu di jodohkan sama wanita lain. Alhamdulillah Irsyad sih, sreg saja sama calon istrinya."

Dan obrolan ringan pun mengalir begitu saja. Meskipun perasaan Nafisah semakin tidak menentu, ntah kenapa sepertinya sejak dua Minggu yang lalu, pria itu seperti menyimpan amarah terhadapnya. Semua begitu jelas dari tatapannya yang sebelumnya ramah menjadi benci.

Daviana tak ingin membuang waktu, ia pun akhirnya pamit pulang namun sebelum menuju parkiran, Ibu paruh baya tersebut malah menyempatkan pergi ke toilet sehingga menjadi kesempatan untuk Nafisah curi-curi waktu mencari keberadaan Irsyad di kantin selagi seorang suster tengah sibuk mengecek dan mengganti botol impus milik Diyah.

"Assalamualaikum, Mas Irsyad?"

Irsyad menoleh kebelakang. Niatnya sejak dari rumah ingin menghindari Nafisah, malahan wanita itu mencarinya.  Irsyad pun merasa tak sudi, ia malah memunggungi Nafisah sembari menyeruput secangkir kopinya.

"Wa'alaikumussalam."

"Maaf, Mas, aku ingin-"

"Jika ingin bertanya sesuatu, maka lupakan saja. Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu."

Nafisah tertegun. Sebuah jawaban yang begitu ketus, dingin, dan nada suara yang tidak enak didengar. Nafisah sadar, Irsyad benar-benar menghindarinya.

"Jika saja sikap Mas Irsyad baik, maka aku tidak akan repot-repot kemari hanya untuk menemui Mas. Maaf, sebenarnya saya juga merasa tidak enak hati. Tapi saya hanya ingin tahu, kenapa Mas Irsyad terlihat membenci saya? Apakah saya ada-"

"Kalau kamu ingin bertanya apakah ada salah atau tidak, tentu saja ada. Sebuah kesalahan yang fatal dan tidak mudah di maafkan."

Nafisah terkejut, ia syok, bibirnya menjadi terbungkam rapat. Ia ada salah? Salah apa? Tanpa diduga Irsyad berdiri dan berhadapan dengannya sambil bersedekap.
 
"Apakah kamu lupa, kejadian 5 tahun yang lalu Nafisah?" tanya Irsyad dengan tatapannya yang  menghakiminya.

"Ke... Kejadian apa?"

Irsyad pun mendekatinya, dengan satu langkah mundur, Nafisah pun merasa takut. Meskipun berjarak, dengan santai Irsyad pun mengucapkan sesuatu di dekat telinga Nafisah berupa bisikan sampai akhirnya Nafisah syok. Ia sedikit limbung kalau saja tidak berpegangan dengan kursi kantin yang ada di belakangnya.

"I..itu, itu tidak mungkin."

"Benarkah? Ck.. " Irsyad tersenyum sinis. "Kamu seorang wanita yang masih memiliki keberuntungan berjodoh dengan pria sebaik Danish. Bagaimana jika suatu saat, suami sebaik dia mengetahui semuanya?"

"Itu.. itu.." Nafisah tak banyak berkata lagi. Dengan cepat ia membalikkan badannya, jika saja ia tahu bahwa semua itu adalah alasan Irsyad membencinya, maka ia tidak akan pernah menanyakan hal tersebut pada pria itu. Air mata menetes di pipi Nafisah. Hatinya serasa sakit dan terluka. Jiwanya seolah-olah rapuh.

"Itu.. itu.. itu hanyalah sebuah aib yang harus aku lupakan. Cukup Allah dan aku yang tahu. Tidak dengan siapapun. Apalagi Mas Danish.."

"Tidak.. tidak.. sungguh aku tidak akan pernah siap sampai kapanpun jika Mas Danish mengetahuinya."



****

Alhamdulillah, Jodoh Dari Lauhul Mahfudz chapter 18 sudah up 😘

Aku tahu, selain baper sama Danish yang masih kaku, kalian pasti penasaran kan sama apa yang terjadi barusan? 😁

Yuks, kedepannya siapkan tisu sembari main teka-teki. Wkwkwkw
😆😆😆😆

Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca.
 Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga ya🤗

With Love 💋 LiaRezaVahlefi
Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii



5 komentar:

  1. Duuuh bkin pnasaran...kjdian apa 5th lalu?apa dlu nafisah pernah salah pergaulan?kok Irsyad bs tau ya?

    BalasHapus
  2. Kenapa si Irsyad kudu pake sinis-sinisan segala ieu teh? Meuni ku geuleuh da ku si Irsyad.

    BalasHapus
  3. Duh...jadi penasaran sama masa lalu nafisah

    BalasHapus
  4. Irsyart kok gtu sih sma nafisah, sabarnafisah iya

    BalasHapus