Chapter 19 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 27 Juli 2020

Chapter 19 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz



D'Media Corp, Pukul 11.00 siang. Jakarta Utara.

Danish menatap layar ponselnya, sejak pagi tidak ada kabar apapun dari Nafisah mengenai Diyah. Ia juga menghubungi istrinya itu, tapi ntah kenapa tidak di respon.

Danish menatap salah satu tim wardrobe yang bertugas menyiapkan stelan pakaian formal untuknya sebelum menjalankan aktivitasnya sebagai pembawa berita siang di layar televisi.

"Mas Danish, ini ya pakaiannya. Hari ini kemeja warna maroon dan jas formal hitam serasi dengan celana kain."

"Iya, Mbak, terima kasih."

"Sama-sama. Yaudah, saya keluar dulu ya."

Danish pun mengangguk. Disaat yang sama, ponselnya berdering. Nama Nafisah tertera di layarnya. Dengan cepat Danish menerima panggilan tersebut.

"Assalamualaikum, Ya?"

"Wa'alaikumussalam, Mas Danish."

"Apakah semuanya baik-baik saja?"

Suara seenggukan Nafisah terdengar. Danish terdiam.

"Mas, Alhamdulillah.."

"Ada apa Nafisah?"

"Alhamdulillah, Diyah sudah sadar."

Seketika Danish tidak bisa menahan rasa rindunya dengan Diyah. Tanpa bisa ia cegah, air mata menggenang di kedua matanya. Danish sampai mengusap kedua matanya.

"Alhamdulillah, bagaimana kondisinya sekarang?"

"Alhamdulillah membaik. Mau aku video call?

"Tentu, aku sangat ingin melihatnya."
Tidak menunggu waktu yang lama, akhirnya panggilan video call pun tersambung. Danish menatap Diyah yang di periksa oleh Dokter yang sedang visit di waktu sekarang. Wajah Diyah masih terlihat pucat.

"Alhamdulillah Diyah sudah ada perkembangan secara perlahan. Kalau tidak ada keluhan, Diyah bisa pulang 4 hari lagi."

Suara ucapan Dokter itu pun terdengar. Setelah itu wajah Nafisah pun muncul di layar ponselnya.

"Em, Mas, aku mau bicara dulu sama Dokter. Nanti kita sambung lagi. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Panggilan pun berakhir. Rasa bahagianya membuat Danish beralih menghadap kiblat dan melakukan sujud syukur.

"Ya Allah, Alhamdulillah, Engkau telah mengabulkan doa dan harapan kami selama ini. Semoga senantiasa Allah memberikan kesehatan untuk Diyah dan kami sekeluarga."
****

Rumah Sakit Kota Bontang, pukul 14.00 siang.

Dengan perlahan, Nafisah menyuapkan sesendok bubur untuk Diyah. Diyah sendiri masih tak percaya kalau sekarang Nafisah menjadi Mamanya.

"Apakah benar, Mama Nafisah adalah Mama Diyah?"

"Hm, iya sayang."

"Apakah Mama akan meninggalkan Diyah seperti Mama Alina?"

"Selama Mama diberi umur yang panjang oleh Allah, Mama akan selalu berada di dekat Diyah."

"Diyah sayang Mama."

Diyah pun memeluk Nafisah. Nafisah mencium kening Diyah dengan sayang. Sungguh, ia benar-benar menyayangi Diyah dan sekarang gadis cantik itu adalah putrinya.

"Mama, kapan kita ketemu Papa? Apakah Papa masih lama disana?"

"Nanti Mama akan coba menghubungi Papa ya. Tapi Diyah makan dulu, terus minum obat."

"Mama lihat! Ada Papa masuk televisi."

Nafisah pun menoleh kearah LCd TV. Lagi-lagi ia terdiam menatap Danish. Padahal tayangan tersebut hanyalah iklan sebuah berita kriminal harian di siang hari yang sudah tayang satu jam yang lalu.

"Mama, mama,"

"Ya?"

"Papa tampan kan, Ma?"

"Ha?" Nafisah menyentuh leher belakangnya dan terlihat salah tingkah. 

"Em, ya, Papa tampan kok."

"Diyah nggak sabar bisa tidur sama-sama Papa dan Mama nantinya."

Nafisah hanya tersenyum tipis. Tiba-tiba ponselnya bergetar, sebuah tanda notip pesan chat WhatsApp dari Danish.

Mas Danish : "Bagaimana kabarnya Diyah?"

Nafisah pun membalasnya..

Nafisah : "Alhamdulillah dia baru aja makan."

Danish : "Oh, iya."

Seketika Nafisah terdiam lagi. Sejak Danish di Jakarta, mengapa suaminya itu tidak pernah menanyakan kabar dirinya? Padahal ia adalah istrinya. Hanya harapan yang spele dan mungkin sebenarnya tidak terlalu penting namun sangat berharga bagi Nafisah sebagai seorang istri. Danish sudah tidak membalas lagi. Maka ia pun berinisiatif membalasnya.

Nafisah : "Mas sudah makan?"

Danish : "Sudah, barusan aja."

Nafisah : "Kabar Mas disana bagaimana?"

Danish : "Alhamdulillah, baik."

Apa lagi yang harus ia tanyakan? Nafisah menggelengkan kepalanya dengan lemah. Ia menghela napasnya.

Danish : "Kemarin Irsyad mengirimkan foto undangan pernikahan padaku. Tolong kamu datang ke acara resepsinya ya, sebagai perwakilan dariku, aku nggak enak bila tidak datang. Dia teman dekatku. Aku sudah memberi tahu Mama untuk menjaga Diyah sementara dirumah sakit."

Detik berikutnya Nafisah terbungkam. Rasa takut menggelayutinya. Datang ke acara pernikahan Irsyad? Bertemu dengan keluarga mereka? Apakah ia sanggup?

Danish : "Ini amanah dariku, tolong di jalankan.."

"Mama, Mama, kenapa wajah Mama pucat?"

Nafisah terkejut, tanpa sengaja ia menjatuhkan ponselnya di lantai. Nafisah pun merunduk untuk meraih ponselnya, bertepatan saat sebulir air mata mengalir di pipinya dan menetes mengenai punggung tangan.

Terlalu menyakitkan untuk mengingat masalalu sekaligus rasa malu yang tidak akan terlupakan sampai kapanpun.

"Mas Irsyad, kumohon maafkan aku."



****

Alhamdulillah, Jodoh Dari Lauhul Mahfudz Chapter19 sudah up 😊

Jazzakallah Khairan, yang sudah baca, yang dengan senang hati menanti cerita ini up, dan yang dengan sabarnya masih menaruh rasa penasaran ada apa dengan Nafisah dan Irsyad dimasalalu, hhe 😜

Sabar ya, ikutin aja alurnya seperti biasanya 😘

With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

___

2 komentar:

  1. Sering"up yah kak hehe gasabarr

    BalasHapus
  2. Gak sbar banget nunggu up selanjutnya... Penasaran ada apa sebenernya nafisah sama irsyad dimasa lalu

    BalasHapus