Chapter 20 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Kamis, 13 Agustus 2020

Chapter 20 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz





Kota bontang pukul 11.00 siang.


Dengan ragu Nafisah berdiri di depan pintu besar ruangan ballroom salah satu hotel berkelas. Jika saja Danish tidak memintanya untuk datang, maka ia pun tidak akan kemari.

Beberapa tamu undangan terlihat antri hanya untuk mengisi buku tamu beserta memperoleh souvernir pernikahan. Tanpa sengaja tatapan Nafisah juga melihat bingkai foto nikah berukuran 16R  terpajang di sana. Wajah Irsyad sangat tampan, istrinya juga cantik.

Dalam hati Nafisah membatin, secepat itukah, Irsyad mendapatkan seorang istri setelah pria itu tidak memberinya kabar dengan jelas untuk datang kerumahnya atau tidak?

"Nafisah?"

Nafisah menoleh kebelakang, teman  yang pernah satu kerjaan dengannya di lembaga bimbingan belajar sebelum resign pun menegurnya.

"Humaira?"

"Kamu apa kabar? Lama nggak ketemu setelah kamu resign, makin cantik saja setelah menikah."

"Masya Allah Alhamdulillah, kamu bisa saja. Oh iya, aku baik. Kabar kamu gimana?"

"Baik juga. Kamu sendirian? Kemana suami kamu?"

"Mas Danish lagi di Jakarta. Kerja disana, alhasil aku sendirian kemari."

"Aku juga turut bersedih atas musibah yang menimpa putrimu, Fisah. Bundanya Rara menceritakan semuanya padaku."

Nafisah pun tersenyum. Sejak tadi ia berpikir, kalau sudah seperti ini, apakah sanggup ia menghindar dan pergi saja? Tentu saja tidak. Humaira itu adalah adik kandung Irsyad. Tidak mungkin kan, sekarang ia menghindari situasi?

"Ayo masuk, kamu makan di ruang area Vip khusus keluargaku saja, ya."

"Apa?" Nafisah terkejut. Ia pun tidak setuju. "Em, terima kasih, tapi-"

"Ayolah jangan sungkan, biar bagaimanapun aku sudah menganggapmu keluarga kok. Lagian bangku-bangku didalam sana sudah penuh di tempati oleh tamu undangan. Nggak mungkin kan, kamu makan duduk di lantai?"

Tidak ada yang bisa Nafisah lakukan selain diam dan menurut saja. Apalagi Humaira sudah menarik pergelangan tangannya masuk kedalam. Tak hanya itu, dengan santainya Humaira juga meminta souvernir khusus untuk Nafisah tanpa harus antri menunggu.

"Kamu salaman gih, sama Kakak iparku. Dia cantik kan, di atas pelaminan sana?"

Nafisah menoleh kearah istri Irsyad yang memang cantik. Sudah begitu keturunan Arab pula. Terlihat jelas sekali bagaimana keluarga baru Humaira itu memiliki hidung yang mancung dan wajah ras mereka yang bukan keturunan orang Indonesia.

Nafisah ingin menolak, namun lagi-lagi Humaira sudah pergi ntah kemana. Dengan ragu Nafisah mulai menaiki tiga anak tangga panggung pelaminan. 

Suasana sekitar ramai, alunan musik gambus dan juga wajah-wajah bahagia begitu terlihat.

Nafisah menangkupkan kedua tangannya didepan dada begitu berada didepan pria paruh baya yang sudah jelas pria tersebut adalah Ayah mertua Irsyad, kemudian menyalami Ibu mertua Irsyad, istrinya, sampai akhirnya tatapan Irsyad pun terkejut melihat Nafisah didepan matanya.

Nafisah merasa situasi yang sangat tidak mengenakan, apalagi mau tidak mau ia menyalami Ibu kandung Irsyad. Seorang ibu paruh baya yang kini menerima uluran tangannya.

"Kalau saja bukan acara seperti ini, aku tidak sudi bersalaman dengan pelacur sepertimu."

DEG!

Bisikan dingin dan tajam dari Ibu Irsyad barusan benar-benar menghantam hati Nafisah. Tanpa banyak kata ia pun turun dengan tubuh lemas, sementara para tamu undangan kembali bergantian menyalami mempelai pengantin dan para orang tua.

Dengan cepat Nafisah mengambil langkah lebar, tak perduli ketika bahunya menabrak para tamu undangan tanpa sengaja.

"Loh, Nafisah, kamu mau kemana? Lebih baik makan-"

Humaira terbungkam setelah melihat Nafisah dan sempat mencegahnya, ia terkejut.

"Kamu menangis? Apakah semuanya baik-baik saja?"

"Em, Humaira, maafkan aku, aku harus pergi."

"Tapi-"

Dengan terpaksa Nafisah melepaskan cekalan tangan Humaira di lengannya. Humaira menatap kepergian Nafisah dalam diam.

"Apa yang terjadi dengan Nafisah?"

****
Jakarta, seminggu kemudian..

Danish baru saja keluar dari salah satu mobil taksi online. Rasanya ia sudah tidak sabaran untuk bertemu Diyah. Tepat hari ini, akhirnya ia bisa kembali bertemu Diyah setelah sempat terpisahkan hampir 1 bulan.

Danish memasuki area bandara internasional Soekarno Hatta, mengecek jam yang di melingkar di pergelangan tangannya, memastikan kalau ia belum terlambat untuk menjemput Diyah dan Nafisah.

"Papa!"

Suara teriakan gadis kecil membuat Danish menoleh, ia tersenyum lebar, hatinya bahagia. Dengan cepat ia merunduk dan merentangkan kedua tangannya untuk menerima sambutan pelukan dari putri tercintanya.

"Assalamualaikum, gadis cantik Papa?"

"Wa'alaikumussalam. Diyah kangen Papa."
Dengan erat Danish memeluk putrinya. Ia mengusap-usap punggungnya, tak hanya itu, kini Danish pun menyentuh kedua pipi Diyah yang terlihat chubby.

"Putri Papa kok gendutan ya?"

"Masa sih Diyah gendut?" tanya Diyah tak percaya. "Tapi semenjak ada Mama, Diyah memang suka makan masakan Mama. Masakan Mama enak loh, Pah."

Danish tertawa kecil. Bersyukur karena putrinya jauh lebih baik dan terawat dari sebelumnya. Apalagi pulih dengan sehat setelah sembuh pasca kecelakaan beberapa waktu yang lalu.

"Assalamualaikum, Mas."

Danish menatap ke arah Nafisah. Sapaannya barusan membuatnya segera berdiri. Tak lupa ia pun mengulurkan tangannya ketika Nafisah mencium punggung tangannya.

"Wa'alaikumussalam. Bagaimana perjalanan tadi?"

"Alhamdulillah, lancar Mas."

Disaat yang sama, Abang Nafisah yang ikut menemani Nafisah bepergian ke kota Jakarta bersama sang istri pun datang sambil menarik koper miliknya. Selain pergi cuti berlibur, sebagai Abang, ia juga harus mengetahui tempat tinggal yang baru untuk Nafisah dan adik iparnya. 

Merekas pun saling menyapa dan bersalaman, lalu menuju luar bandara hingga akhirnya berpisah ketika salah satu mobil taksi online menghampiri mereka.
Abang Nafisah sepakat menginap di hotel bersama istri dan putranya. Sementara Nafisah dan Danish, tentu saja balik kerumah apartemen tempat peristirahatan mereka.

Sejak tadi Danish sibuk melepas rindu dengan Diyah, tapi tanpa siapapun sadari, ntah kenapa perasaan Nafisah sejak tadi bertambah gugup karena sebentar lagi, ia akan menjalani kewajiban yang sesungguhnya dengan Danish.

"Apakah kamu baik-baik saja?" tegur Danish tiba-tiba.

Nafisah tersentak, merasa malu karena tertangkap basah menatap Danish sejak tadi.

"Em, ya, aku baik Mas."

Danish hanya mengangguk. Sesungguhnya sejak tadi ia juga berusaha untuk tenang, mencoba mengalihkan diri sambil berbincang banyak hal sama Diyah, semata-mata karena ia merasa belum terbiasa dengan kehadiran Nafisah dalam hidupnya.

"Aku nggak nyangka, kalau malam ini bakal satu kamar untuk pertama kali dengannya." ucap Danish dalam hati

*****
Alhamdulillah, akhirnya Jodoh Dari Lauhul Mahfudz chapter 21 sudah up.
Oh iya, lega banget bisa update lagi menghibur kalian hhe. Maaf ya, selain sibuk, mood bumil emang kadang nggak terkondisikan πŸ˜‚

Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga. Jazzakallah Khairan sudah baca 😘

With Love πŸ’‹ LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

____

2 komentar:

  1. Sehat terus bumil
    Semangat😘

    BalasHapus
  2. Ceritanya yang kakak buat bagus bagus. Semoga selalu diberi kesehatan dan perlindungan kak 😊

    BalasHapus