Chapter 21 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Minggu, 23 Agustus 2020

Chapter 21 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz




Apartemen Metro Residence, Jakarta Utara. Pukul 14.00 siang.

Danish memasuki apartemennya setelah membuka pintunya. Di belakangnya tentu saja ada Nafisah bersama Diyah. Keduanya nampak diam sambil melihat-lihat seisi ruangan yang di desain minimalis setelah mengucapkan salam sebelum memasuki apartemen.

"Apakah Papa sudah lama tinggal disini?"

"Belum terlalu lama, sayang."

"Pasti Papa merasa bosan dan kesepian."

Danish tertawa kecil. Ia pun menggenggam pergelangan tangan putrinya.

"Putri kesayangan Papa mau lihat kamar barunya?"

"Mau, Pa! Apakah disana banyak boneka seperti dirumah nenek?"

"Boneka-boneka itu insya Allah akan menyusul secara perlahan. Doakan Papa banyak rezeki supaya bisa membelikanmu banyak boneka."

"Aamiin ya Allah.. Terima kasih, Papa. Diyah sayang Papa."

"Papa juga menyayangimu." Danish pun berjongkok, menyamakan posisinya dengan putrinya.

"Diyah juga sayang sama Mama Nafisah. Papa juga sayang sama Mama Nafisah, kan?"

Seketika Danish terdiam. Suasana menjadi canggung. Apalagi ia tidak berani hanya untuk menatap Nafisah yang ada di belakang Diyah.

"Em, Katanya Diyah lelah? Ayo Mama antar ke kamar." sela Nafisah cepat, sadar bahwa situasi sedang canggung. Yang tentunya gadis kecil seusia Diyah belum mengerti semuanya.

"Iya, Ma, Diyah ngantuk. Diyah mau bobo siang. Bukankah Mama sudah janji mau bobo sama Diyah?"

"Iya sayang, ayo.." Nafisah segera memegang pergelangan tangan Diyah, sambil menundukkan wajahnya, ia pun berhenti sejenak.

"Em, aku, izin ke kamar Diyah dulu, Mas. Permisi,"

Danish hanya mengangguk. "Iya, silahkan.."

Danish menatap kepergian Nafisah yang berlalu menuju kamar. Sebagai pria, tentu saja ia mengetahui gerak-gerik seorang istri yang sedang gugup dan canggung. Danish berusaha untuk memakluminya apalagi sebelumnya tidak pernah saling mengenal satu sama lain.

****

Malam harinya, Pukul 20.00 WIB

"Hati-hati dijalan, ya, sayang.." Nafisah mencium pipi Diyah, tak lupa Diyah pun mencium punggung tangan Nafisah sebelum pamit pergi keluar.

"Iya, Mama. Asyik, sebentar lagi Diyah dan Om Akbar akan berjalan-jalan ke mall beli boneka baru!"

Nafisah pun tersenyum tipis. Di sebelahnya ada Danish yang juga berdiri menatap putrinya.

"Tapi Diyah janji, Diyah jangan nakal sama Om Akbar, oke?" sela Danish tiba-tiba.

"Insya Allah, iya Papa."

"Saya pergi dulu Danish, dek Nafisah. Insya Allah kami tidak akan sampai larut malam kok." ucap Akbar, yang sedang menyalami Nafisah dan Danish secara bergantian.

Nafisah tersenyum. "Iya, Kak. Hati-hati dijalan."

"Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam." jawab Danish dan Nafisah bersamaan.

Keduanya pun menatap kepergian Diyah dan Akbar bersama istri anaknya untuk pergi berjalan-jalan apalagi malam ini adalah malam Minggu. Setelah kepergian mereka, Danish menggaruk tengkuk lehernya dan seperti bingung harus berbuat apa ketika di apartemennya kali ini hanya menyisakan ia dan Nafisah saja.

Tak ada yang bisa Danish lakukan selain diam dan memasuki apartemen terlebih dahulu. Nafisah pun menatap Danish yang malah duduk di sofa ruang tamu, memegang remote lcd dan mulai menggonta-ganti siaran.

"Mungkin dengan secangkir teh hangat dan cemilan ringan buat Mas Danish akan menghilangkan kecanggungan ini.." sela Nafisah dalam hati.

****
30 menit kemudian..

Dengan perlahan Nafisah membawa nampan berisi dua cangkir teh dan sepiring pisang goreng yang ia olah di dapur. Nafisah pun segera menyajikannya didepan suaminya.

"Em, ini, Mas, Teh nya."

Danish menoleh kearah Nafisah. Ia hanya mengangguk singkat. "Terima kasih."

"Sama-sama."

Nafisah pun duduk di sofa. Danish ada di sebelahnya, namun jarak masih ada diantara mereka. Tayangan televisi sekarang sudah berganti siaran sebuah film action terbaru yang sebelumnya sudah tayang di bioskop setahun yang lalu.

Danish meraih secangkir teh miliknya. Sesekali Nafisah melirik ke samping, melihat ekspresi suaminya apakah ada perubahan saat meminumnya. Berharap tidak kemanisan, dan juga tidak kekurangan gula.

Nafisah bernapas lega. Tidak terjadi reaksi apapun dan Danish terlihat baik-baik saja. Setelah itu, Danish meraih sepotong pisang goreng yang memiliki banyak kriuk. Dan lagi, Nafisah curi-curi pandang melirik ke samping, berharap semoga saja rasanya enak.

Setelah gigitan pertama, Nafisah bernapas lega, ternyata Danish malah menghabiskan satu potong pisang goreng dengan lahap. Tiba-tiba, tenggorokan Nafisah terasa kering. Ia pun meraih secangkir teh hangat miliknya.

"Aku akan meminum teh mu, bolehkan?" sela Danish tiba-tiba.

Nafisah mengerutkan dahinya. "Bukankah punya Mas masih ada?"

"Aku akan menghabiskan teh ku, lalu meminum punyamu."

Danish menggeser posisinya lebih dekat dengan Nafisah, lalu meraih secangkir teh milik istrinya dan meminumnya hingga habis. Tanpa diduga Danish juga berdiri.

"Aku akan membuatkan yang baru untukmu."

"Tapi, Mas-"

Danish pun berlalu begitu saja dalam diam. Nafisah jadi merasa heran, sekelebat pikiran memenuhi isi benaknya.

"Sebenarnya, Mas Danish nggak perlu repot-repot sih. Tapi kenapa ya?"

Akhirnya Nafisah menyusul suaminya ke dapur. Sesampai Nafisah terdiam, ia melihat Danish dari belakang sedang membuka kemasan gula pasir yang baru saja ia ambil dari dalam lemari. Seketika Nafisah tersadar akan suatu hal, ia menepuk jidatnya.

"Ya Allah, kenapa bisa-bisanya tanpa sadar tadi aku memasukkan garam kedalam teh bahkan tidak mencicipi rasanya terlebih dahulu? Ini akibat kebanyakan melamun, ya ampun Mas, maafkan aku."

Dan Nafisah pun akhirnya merasa bersalah. Pantas saja Danish tidak boleh meminum teh nya. Rupanya pria itu tidak ingin membuatnya merasa bersalah.

Nafisah juga merasa malu, akhirnya ia pun memilih menuju ruang tamu, menunggu Danish datang dan berniat meminta maaf nantinya. Disaat yang sama, ponsel Danish menyala diatas meja. Sebuah tanda dari notifikasi pesan chat baru saja masuk.

Nafisah berniat meraih ponsel tersebut namun ia tertegun, foto wallpaper wajah almarhumah Alina terlihat jelas menyala terang di layar ponsel Danish. 

Nafisah hanya mampu terdiam, dan ntah kenapa ia merasa tidak suka melihat semua itu..



****

Apakah barusan yg terjadi, di namakan cemburu?
😁

Alhamdulillah, Chapter 22 sudah up ya 💕

Jazzakallah Khairan sudah membaca chapter ini. Sehat selalu buat kalian dan keluarga dirumah 😊

With Love 💋 LiaRezaVahlefi
Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

__

Next Chapter 22. Langsung aja klik link dibawah ini : 

https://www.liarezavahlefi.com/2020/09/chapter-22-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html?m=1


Tidak ada komentar:

Posting Komentar