Chapter 33 : Raihan ( Koran Untuk Raisya ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 05 Agustus 2020

Chapter 33 : Raihan ( Koran Untuk Raisya )




*Koran Untuk Raisya.*

🎮🎮🎮🎮

Tidak ada yang menyangka jika sekarang aku sudah menikah. Selain Allah yang mentakdirkan semua ini.. sisi lainnya semua teman-temanku disekolah tidak ada yang tahu terkecuali Anu dan Nua.

Akad nikah sudah terjadi beberapa jam yang lalu. Lebih tepatnya tadi pagi. Bertepatan di hari Jumat. Jadwal sekolah sedang libur karena hari ini adalah tanggal merah. Tidak banyak yang datang. Hanya segelintir tetangga sekitar rumah dan pihak keluarga ku dan keluarga Raisya.

"Loh kok kamu masih disini?"

Aku menoleh kebelakang. Yang Mulia Ratu Mami baru saja memasuki sebuah ruangan keluarga di lantai dua. Saat ini aku sedang berada di balkon.

"Kenapa memangnya?"

Mami terlihat menggelengkan kepalanya karena merasa heran kenapa sudah menikah tapi aku masih saja berada disini. Seharusnya aku berada disebelah. Dirumah Raisya. Mami beralih mendekatiku.

"Kamu suka sama Raisya?"

"Ha?"

Mami tersenyum. Lalu menatap ke arah depan mata, sebuah atap tetangga kami yang terlihat menggelap karena sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 malam setelah sholat isya.

"Raisya itu tidak sempurna dalam sifat. Kamu juga sama. Kalian memiliki banyak kekurangan terutama soal sikap."

Aku terdiam mendengar omongan mami. Aku melirik kesamping. Sesekali mami mengelus perutnya yang tidak kutahu usia kandungannya sekarang berapa bulan.
"Jika kalian belum sempurna dalam ibadah, keputusan menikah dari saran Papi dan Om Devian adalah hal yang tepat nak. Menikah adalah ibadah terlama dijalan Allah sampai maut memisahkan."

"Kamu sudah dewasa. Kamu seorang pria. Jangan sampai terjerumus kepergaulan bebas. Wanita itu sumber fitnah. Kamu lagi duduk bersebelahan dengan wanita yang bukan mahram saja sudah menimbulkan fitnah."

Mami memang begitu. Watak mami adalah pendiam. Irit bicara. Tapi kalau sudah memberiku nasihat, maka kata pendiam itu tidak ada. Mami memang selalu memberiku banyak nasihat.

"Jangan sampai kamu seperti pria playboy. Mami gak suka sama pria begitu. Gonta-ganti pasangan tidak jelas. Jangan nambah dosa. Ajal seseorang tidak ada yang tahu. Kalau meninggal dalam keadaan berzinah atau berbuat maksiat gimana?"

"Aku tahu mam."

"Apalagi bikin wanita yang suka sama pria tersebut dilema. Memilih mendekati atau tidak. Apalagi kalau sudah jatuh cinta. Jangan jadi pria playboy."

Aku mengerutkan dahi. Ini pertama kalinya mami menceritakan pengalaman tentang cinta.

"Memangnya Mami pernah mengalaminya?"

Mami terdiam sejenak. Mungkin sedikit terkejut dengan pertanyaanku.

"Pernah. Waktu kuliah. Mami suka sama seorang dosen. Dulu dia Playboy." senyum mami tipis.

Aku mulai tertarik mengetahui kisah masa muda Mami. "Oh ya? Siapa?"

"Ada. Pria itu tampan. Dulu mami mencintai dia dalam diam. Ah kok jadi bahas mami sih? Ini sudah malam saatnya istirahat. Mami juga mau tidur. Ngantuk."

Ntah perasaanku saja. Kenapa mami tiba-tiba salah tingkah? Ah sudahlah. Itu urusan masalalu mami.

"Kamu jangan tidur sini. Sana kesebelah."

"Ha? Kesebelah?"

"Iya."

Mami kembali masuk kedalam ruangan. Suara pintu balkon tertutup. Aku menghela napas panjang. Sepertinya mulai detik ini sampai besok dan seterusnya akan menjadi hari yang menyebalkan.

Suara notifikasi dari Grup Tiga Perjaka Sejati pun berbunyi. Aku membukanya sejenak sampai akhirnya aku tercengang.

"Anu mengganti Grup Tiga Perjaka Sejati menjadi Grup Dua Perjaka Sejati."

Apa? Aku menggeram kesal. Kurang ajar rupanya si Anu!

🎮🎮🎮🎮

Dengan canggung aku memasuki rumah Raisya. Beberapa anggota keluarga Raisya baru saja pulang meskipun aku sempat berbasa-basi sejenak.

Ah sudah aku bilang. Ini adalah hal yang paling menyebalkan dalam hidupku. Membenci dengan hal-hal penuh keramaian di balik diriku yang suka menyendiri.

"Raihan."

Suara Om Devian memanggilku selang beberapa menit kemudian. Dia pun mengajakku duduk di sofa ruang tamu. Ck. Basa-basi lagi. Kapan sih ini semua segera berakhir? Aku sudah lelah mau istirahat.

"Ya Om?"

"Kok Om sih? Papa dong. Kan saya sudah menjadi ayah mertua mu."

Aku memaksakan senyumku. Sebuah senyum penuh kepalsuan.

"Em. I-iya. Maaf."

"Raisya ada di lantai atas. Di kamarnya. Kamu tidur sini?"

Aku mengangguk meskipun sedikit canggung. Itu wajar. Tidur didalam satu kamar yang sama dengan Raisya? Astaga bisa dipastikan kalau lingkaran hitam bagaikan mata panda akan bermunculan mulai besok.

"Mungkin kamu sangat terkejut dengan keputusan saya dan Papi kamu dua Minggu yang lalu dengan menikahkan kalian."

"Papi kamu sama papa ini sudah sahabatan sejak kecil. Raisya itu memang cerewet. Tapi anaknya baik kok. Manis. Rajin. Suka kebersihan."

"Selain itu. Kamu kan blasteran. Ada darah Amerika." Om Devian menyugar rambutnya sambil terkekeh santai. "Bisa jadi cucu Papa akan blasteran juga."
Aku tersenyum kaku. Astaga. Om Devian sudah berpikiran yang diseperti itu? Ck. Tiba-tiba Om Devian berdiri dari duduknya.

"Papa mau istirahat dulu ya. Raisya ada dikamarnya."

Aku hanya mengangguk. Tapi selang beberapa menit kemudian Om Devian kembali menoleh kearahku.

"Oh iya. Gini-gini Papa itu kembar loh. Kali aja dapat cucu kembar juga." Om Devian mengedipkan salah satu matanya kearahku hingga aku bergidik ngeri.
Astaga.
🎮🎮🎮🎮

Jadi ini yang dinamakan Raisya itu Rajin dan Suka kebersihan? Ck. Wacana aja itu. Lihat sekarang. Ini pertama kalinya aku memasuki kamar seorang gadis. Kamar yang sangat berantakan, baju, celana, sandal, sepatu, alat makeup, buku, novel dll benar-benar tercecer dimana-mana. Wah, ini sih namanya kelewat indah.

Aku tidak melihat dimana Raisya saat. Ini. Kamarnya memang berukuran sedang. Lalu pintu terbuka yang berasal dari arah kamar mandi dan.. Aku tertegun.

Raisya keluar dari kamar mandi dalam keadaan memakai handuk putih yang melilit di tubuhnya. Jantungku berdegup sangat kencang. Dia masih tidak sadar dengan kehadiranku yang baru berada di ambang pintu.

Aku memperhatikan tubuh Raisya dari ujung kaki hingga kebagian dada-

"HUAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!"

"NGAPAIN KAMU DISINI!"

Raisya melayangkan berbagai macam benda-benda kearahku. Aku mencoba menghindar.

"PERGI!"

"PERGI!"

"PERGI!"

"PERGI!"

"DASAR GAK TAHU DIRI!"

"COWOK MESUM!"

"TUKANG CABUL!"

"INI PELECAHAN MATA! PERG- AAAAAAA TIDAK!

Bruk!

Aku terkejut. Tanpa diduga Raisya terpeleset dilantai karena kakinya yang licin setelah keluar dari kamar mandi. Berbagai macam benda mengarah padaku. Dimulai dari sepatu. Tas. Sandal jepit dan lain-lain.

"Ya Allah. Ke-kepalaku."

Raisya terlihat meringis kesakitan. Hingga akhirnya aku melihatnya tak sadarkan diri. Pingsan. Aku menatapnya datar.

Dengan ragu aku mendekatinya. Memastikan dia masih hidup atau tidak. Tapi baru beberapa langkah aku memilih berhenti. Paha nya yang putih mulus itu tersingkap. Naluriku sebagai pria dewasa bergejolak hingga aku meragu.

Ntahlah. Mendadak perasaanku tidak menentu meskipun aku bisa merasakan bahwa sebenarnya aku ini malu. Sebuah koran teronggok didekat kakiku.

Aku meraihnya. Lalu membentangkannya selebar mungkin untuk menutupi tubuh Raisya secara keseluruhan sebelum akhirnya aku memilih keluar kamar. Tidur di sofa.

Anggap saja agar dia tidak di gigit nyamuk semalaman. Kurang baik apa coba aku ini. Iyakan?

"Ck. Menyusahkan saja. Itu lebih baik meskipun terlihat mirip jenazah."

🎮🎮🎮🎮

Dikiranya Raisya macam mayat kah di tutupin koran 😂😂
Gak nyangka kenapa anaknya Aiza dan Arvino begitu 🤣🤣

Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian.

Ini hari Jum'at Jangan Lupa Baca Surah Al Khafi 😊

With Love💋
LiaRezaVahlefi

Instagram
lia_rezaa_vahlefii

___

Next Chapter 34. Langsung klik link dibawah ini ya :

https://www.liarezavahlefi.com/2020/08/chapter-34-raisya-lagi-sensitif.html?m=1


Tidak ada komentar:

Posting Komentar