Chapter 35 : Raihan ( Si Tampan Yang Kepedean ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 05 Agustus 2020

Chapter 35 : Raihan ( Si Tampan Yang Kepedean )




" Si Tampan Yang Kepedeaan"

🎮🎮🎮🎮

Mengingat soal Raisya yang marah-marah tadi. Dia bilang katanya dia bukan mayat di pinggir jalan yang di tutupin pakai koran. Aku bilang bukan. Dia nanya balik apa. Ya aku bilang dia istriku.

Aku benar kan?

Setelah aku mengatakan hal itu aku memilih meninggalkannya yang diam mematung tanpa berkata apa-apa lagi. Ntah hal apa yang dipikirkannya. Hanya Allah dan dia yang tahu.

Aku melangkah menuju kelasku. Sampai akhirnya Anu dan Nua yang sedang menjalani jadwal piket dikelas pun menatapku dengan tatapan mengejek.

"Suit suit!"

"Ceilehhhh.. lepas bujang."

"Wah-wah. Pagi-pagi yang rambutnya masih basah."

"Bikin ngiri ya. Apa lah kita ini yang tadi pagi cuma mandi biasa. Bukan mandi junub."

"Perlu aku telpon petugas rumah sakit jiwa sekarang dan bilang pasiennya kabur?" sindirku tajam.

"Hahahaha."

"Haahaaaaa."

Aku memilih diam mengabaikan mereka yang sedang bahagia. Aku Mempersiapkan beberapa buku karena sebentar lagi aku akan keruang khusus pembekalan olimpiade Matematika yang akan di adakan lusa.

Aku juga mengabaikan Anu dan Nua yang gila. Biarkan saja mereka berkicau. Anjing menggonggong kafilah berlalu.

"Asalamualaikum Raihan?"

Suara seorang cewek membuatku beralih menatapnya. Oh rupanya Kak Fatimah.

"Wa'alaikumussalam ya kak?"

"Kamu apa kabar Rai?"

"Alhamdulillah baik."

"Oh gitu." Aku melihat Kak Fatimah. 

Seorang kakak kelas 11 yang memang cantik. Dia membuka tas ranselnya. Mencari sesuatu lalu memberikannya padaku. Sebuah kotak berisikan sesuatu.

"Ini buat Raihan. Maaf ya selama dua Minggu aku tidak ada kabar. Em.. soalnya lagi umroh."

"Alhamdulillah."

"Ini ada oleh-oleh isinya kurma. Air zam-zam dan lainnya. Dimakan ya Rai."
Aku mengangguk. Namanya rezeki yaudah terima aja. Lagian dia pergi tanpa kabar pun aku tidak pernah mencarinya.

"Oooooh jadi Raihan aja nih kak yang di kasih? kami gak?"

"Semoga pagi ini Allah memberiku Rezeki."

Fatimah tertawa kecil. Setelah mendengar ocehan Nua dan doa dari Anu. Astaga mereka itu. Yang dikasih siapa yang minta siapa.

"Ada kok. Nih."

Kak Fatimah pun akhirnya memberikan oleh-oleh yang sama ke Anu dan Nua. Aku memilih pamit dari mereka semua karena harus menuju ruang khusus pembekalan olimpiade Matematika.

"Maaf saya permisi dulu."

"Em anu kamu mau kemana Rai?" tanya Anu lagi.

"Keruang pembekalan."

"Oh.

"Kalau ketemu Lala suruh dia balas chat Abang ya? Katakan padanya Abang kangen adek Lala." songong Nua.

"Aku sibuk."

"Raihan mau ke ruang pembekalan ya? Kebetulan kita satu arah. Di lantai dua."

"Iya."

Akhirnya aku berjalan keluar kelas. Diikuti Kak Fatimah yang kini menyamakan langkahku. Sepanjang lorong koridor menuju tangga lantai dua dia terus bercerita tentang perjalannya selama di Mekkah dan Madinah.

"Raihan!"

Lagi-lagi aku mendengar suara cewek memanggilku. Dan suara itu berasal dari Lala yang baru saja memasuki kelas bersama Lili dan Raisya. Kedua mataku dan Raisya saling bertatapan sejenak hingga akhirnya aku memutuskan pandangan terhadapnya.

"Apa?"

"Kata Kak Jannah lusa olimpiade matematika ya?"

"Iya."

"Di Balikpapan?"

"Iya."

"Kalau gitu pas banget!" Aku melihat Lala begitu girang. "Kebetulan Lusa nanti aku pulang kampung. Kerumah Tante aku. Bisa dong ya aku datangin kamu di lokasi sana?"

"Tidak."

"Kok gitu- Raihan!"

Aku melenggang pergi. Mengabaikan Lala yang suka mengejarku. Kalau bukan Kak Fatimah, ya si Lala. Atau kalau mereka tidak ada. Bisa jadi Kak Jannah. Aisyah. Dan Raisya. Ah. Resiko orang tampan ya gini.
Takdir.
🎮🎮🎮🎮

"Jadi apakah kalian siap untuk mengikuti olimpiade matematika lusa nanti?"

"Insya Allah siap pak."

"Iya pak. Insya Allah siap."

Aku memilih diam. Dalam hati cuma bisa berdoa dan berusaha. Olimpiade matematika yang di selenggarakan di kota Balikpapan nanti akan di ikuti oleh tiga orang. Salah satunya aku yang berasal dari kelas 10. Lalu ada Kak Jannah dari kelas 11 IPA dan Kak Aisyah dari 11 Bahasa.

Seperti yang aku bilang. Orang tampan macam diriku ini memang tidak jauh-jauh dari wanita cantik. Contohnya saat ini. Untuk mengikuti olimpiade matematika saja harus bersama Jannah dan Aisyah meskipun aku sendiri tidak menyangka bahwa kedua kakak kelas itu selain cantik, otak mereka memang cerdas sehingga pihak sekolah mempercayai keduanya untuk mengikuti olimpiade matematika tingkat provinsi sebagai perwakilan sekolah Madrasah Aliyah Darrul Ilmi.

Aku mendengar berbagai macam instruksi dari Pak Syarif dalam membimbing kami dengan segala persiapan lusa nanti. Aku memperhatikan jam di pergelangan tanganku. Sebentar lagi jam istrirahat akan tiba.

Lalu aku terdiam sejenak menatap kearah jendela luar ruangan. Sampai akhirnya Jannah dan Aisyah pun menatapku.

"Raihan kamu baik-baik aja kan?"

"Iya. Kok kamu melamun sih?"

"Lamunin apa?"

Aku memaksakan senyumku. Kedua wanita cantik dan manis itu menatapku dengan tatapan perhatiannya. Ntah itu benar atau tidak. Aku bisa merasakannya.

"Aku tidak apa-apa."

Jannah tersenyum kearahku. "Raihan jangan melamun ya. Gak baik."

"Iya Raihan. Bener." kini Aisyah pun melayangkan senyumannya padaku. "Perbanyak dzikir biar pikiran gak kosong."

"Em. Iya kak."

"Raihan sudah makan?"

"Raihan sudah makan?"

Aku terdiam begitu Jannah dan Aisyah bertanya padaku secara bersamaan. Keduanya saling bertatapan dan terlihat salah tingkah.

Jam istirahat pun berbunyi. Aku bernapas lega. Terlepas dari situasi tidak mengenakan ini bersama dua wanita cantik yang sejak tadi begitu perhatian denganku.

"Baik anak-anak. Karena jam istirahat sudah tiba. Kalian boleh keluar kelas. Jangan lupa semua instruksi dan pesan-pesan dari saya ya."

"Baik Pak." ucap kami serempak.

"Kalian juga harus lebih giat lagi dalam belajar sebelum mengikuti olimpiade."

"Baik Pak."

Pak Syarif pun hanya mengangguk. Mengucapkan salam sebelum akhirnya pergi keluar kelas.

"Wah jam istirahat. Ayo Raihan kita kekantin." ajak Jannah kepadaku.

"Maaf saya tidak ke kantin kak."

"Ah bagaimana kalau kita ke perpustakaan saja Rai? Sekalian sih belajar buat lusa." sela Aisyah tak mau kalah.

"Maaf saya ingin ke kelas."

"Ayo."

Ayo."

Aku terdiam lagi. Sedikit terkejut ketika Jannah dan Aisyah sama-sama berdiri dari duduknya. Aku berdeham. Mencoba mengabaikan mereka sampai akhirnya Aisyah mengambil alih semua buku-bukuku.

"Sini Raihan biar aku bantu."

Aku panik. "Ti-tidak perlu kak-"

"Jangan begitu." Aisyah tersenyum manis kearahku. "Sesama manusia harus saling membantu kan?"

"Raihan kamu berpeluh. Nih tisu buat kamu. Wah AC disini emang gak di nyalain ya dari tadi?"

Lagi-lagi aku tidak bisa berbuat apapun ketika di hadapankan dengan situasi dua wanita yang begini denganku.

"Ini tisu buat kamu Rai. Dahi kamu berpeluh."

Aku hanya tersenyum kikuk menerimanya hingga kedua mataku tanpa sengaja melihat Raisya berada didepan pintu dengan raut wajahnya yang sedih kemudian kembali pergi.

Apakah dia tadi melihat semuanya? Sudah aku bilang. Resiko orang tampan ya gini. Banyak yang cemburu bila cowok seperti diriku di sukai dan didekati banyak cewek.

Aku bisa menebak bila Raisya tadi cemburu. Kelihatan kok dari raut wajahnya. Akhirnya aku melengang pergi di ikuti dengan Aisyah yang berada di sampingku sambil membawa semua buku-bukuku.

Ponsel yang berada di saku celana kainku bergetar. Aku mengeceknya yang ternyata ada sebuah pesan singkat. Dari Raisya.

"Aku tadi ke ruang pembekalan olimpiade Matematika datangi kamu." 😟

Aku melihat tanda emot sedih. sudah kuduga kalau dia itu cemburu bila diriku yang tampan ini di kerubungi dua cewek cantik. Ah bentar. Apakah dia mulai suka sama aku setelah di campakkan oleh si Bejo itu?

"Aku nungguin kamu lama banget Rai. Kesel!" 😭

"Aku tahu."

"Tapi kamu malah asik ngobrol sama Kak Aisyah dan Kak Jannah! Aku marah lihatnya." 😑

Sudah aku bilang? Dia cemburu kan. Ck

"Aku tahu aku memang tampan."

"Aku kesel sama kamu Ray! Kesel!" 😤😤

"Terus?"

"Tolong belikan aku pembalut ya. Aku haid nih. Aku lupa bawa pembalut. Sudah cukup aku nungguin kamu didepan pintu ruangan tadi sampai kesel. Makanya sekarang aku marah sama kamu! Cepet!"

"Pembalut yang pakai sayap!"

"Cari di warung depan sekolah!"

"Cepet ya."

"GAK PAKAI LAMA!!!!!!!!!!!"

Aku menghentikan langkahku. Aku menatap layar ponselku dengan tatapan tidak percaya. Jadi dia marah bukan karena cemburu melihatku di dekatin dua cewek cantik?

Dan sekarang si nyai rombeng itu malah menyuruhku membelikan pembalut untuknya? Pantas saja tadi pagi dia marah-marah gak jelas setelah kejadian semalam dengan drama korannya. Kukira dia cemburu.

Sial.

🎮🎮🎮🎮

Raihan kepedean duluan 🤣🤣🤣

Makasih sudah baca.
Jangan lupa share cerita ini ke teman-teman kalian ya. Sehat selalu juga buat kalian.

With Love💋
LiaRezaVahlefi

Instagram
lia_rezaa_vahlefii

___




Tidak ada komentar:

Posting Komentar