Chapter 36 : Raisya ( Mulai Menerka-nerka ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 05 Agustus 2020

Chapter 36 : Raisya ( Mulai Menerka-nerka )




* Mulai Menerka-nerka *

❣️❣️❣️❣️

Aku terdiam didalam toilet yang sempit ini. Ah mestinya aku ingat kalau hari ini adalah tamu bulanan ku akan datang supaya aku membawa persediaan pembalut didalam tasku.

Aku mengecek jam di pergelangan tanganku. Menunggu si Raihan membeli sebuah pembalut untukku. Rasa risih ketika belum memakai pembalut ini memang begitu menyiksa.

"Raisya?"

Aku mendengar suara familiar yang memanggilku.
Tok. Tok. Tok. "Raisya?"

"Ya? Aku didalam sini. Lili?"

"Em iya ini aku. Kata Raihan kamu sedang haid?"

Akhirnya aku membuka sedikit pintu toilet. Lalu menyembulkan kepalaku.

"Iya. Kok tahu?"

"Ini pembalutmu."

Aku mengerutkan dahiku. Kenapa Lili bisa tahu aku sedang haid ya?

"Tadi aku ketemu Raihan. Katanya kamu haid. Butuh pembalut."

"Oh. Em makasih ya. Eh tunggu aku diluar. Oke?"

Lili hanya mengangguk. Aku segera menutup pintu toliet sambil menggerutu. Ck. Bisa-bisanya dia menyuruh Lili kemari membawakan pembalut untukku. Ya bukannya apa sih. Kalian mesti tahu kalau aku paling tidak bisa memakai pembalut tanpa sayap sedangkan Lili bisa.

Disisilain aku juga tidak ingin Lili mencurigai hubunganku dengan Raihan saat ini juga. Dasar memang Raihan itu. Cari masalah aja dia.

Aku membuka kemasan pembalut tersebut dan ternyata benar kalau pembalut milik Lili ini tanpa sayap.
Ah biarlah. Yang penting makai daripada gak makai.

Selang beberapa menit kemudian semuanya sudah selesai. Aku segera keluar dari toilet bersama Lili yang sejak tadi senyum-senyum tidak jelas sambil memegang ponselnya. Tentu saja hal itu diakibatkan dari si kak Bejo yang membuatku patah hati.

Tapi aku harus melupakan hal itu. Karena yang harus aku lakukan saat ini adalah mengeluarkan ponselku dan menghubungi Raihan. Tapi nihil. Malah di riject sama dia. Kan Kesel

"Sya ada apa?"

"Aku tidak apa-apa."

"Lagi ada masalah? Kelihatannya sedang kesal."

"Lagi pms."

Tiba-tiba Lala datang. Dia terlihat menghentakkan kedua kakinya dengan kesal. Dibelakangnya ada Nua yang mengikuti nya.

"Yaelah dek. Gitu aja marah. Kan saling berbagi itu lebih baik." ucap Nua pada Lala.
Aku melihat Lala mengentikan langkahnya lalu berbalik menatap Nua.

"Tapi kamu benar-benar keterlaluan tahu gak Malik?! Aku kasih makanan itu ke Raihan! Bukan ke kamu! Kenapa jadi kamu yang makan?!"

"Tapi Raihan gak mau. Daripada mubazir kan?"

Astaga mereka ini. Akhirnya aku berusaha melerai mereka dan berdiri diantara Nua dan Lala.

"Sudah-sudah kalian ini kenapa sih?" tanyaku pada mereka.

"Ini loh sya. Aku tuh bikin kue bakpia untuk Raihan. Terus aku letakin bekalnya ke laci meja dia. Aku tanya deh sama Raihan dia ada makan atau gak. Katanya malah di makan sama si Malik. Kan kesel!!!"

"Kok salah aku sih? Salahin dia dong yang katanya gak mau."

"Tapi-"

"Ya Allah kalian ini." sela ku kemudian. 

"Mungkin Raihan kenyang kali La. Yaudah lah sabar aja."

"Nah bener banget tuh." Nua terkekeh santai. "Atau mungkin Raihan sudah bosan makan bakpia. Ya kali aja sih sekarang sudah ada yang masakin dia dirumah."
Tanpa diduga Nua memasang raut wajah smirk lalu beralih menatapku. Apa-apaan tuh dia! Mau cari masalah rupanya! 
Seketika aku gugup. Aku berusaha untuk tenang agar Lala dan Lili tidak mengetahui yang sebenarnya.

"Udahlah dek Lala. Percuma kalau adek sering bikinin Raihan makanan. Gak di makan. Lihat aja nanti. Mending adek bikin makanan buat Abang. Kan Abang suka lapar. Lapar cinta dari adek."

Dengan santai Nua menyugar rambutnya kebelakang. Dan tersenyum manis semanis gula kiloan di pasar.

"Bodo amat! Dasar Malik menyebalkan!"

Lala terlihat pergi mengentakkan kedua kakinya dengan kasar menuju kelas. Diikuti Lili bertepatan saat bel jam istrirahat berakhir.

Setelah kedua sahabatku itu masuk kelas. Nua beralih menatapku dengan santai tanpa beban.

"Apa lihat-lihat?!" tanyaku dengan jutek padanya.

Nua terkekeh geli. "Itu. Sahabatmu. Sering bikinin makanan ke Raihan loh."

"Terus?"

"Gak cemburu?"

Aku menatap Nua dengan aneh. "Biasa aja. Untuk apa?"

Nua menatapku dengan menyelidik. "Yakin?"

"Iya. Kenapa sih? Aneh!"

Nua bersedekap. "Sisi baiknya selain aku menyukai Lala setidaknya aku membantu hubungan kalian. Tidak baik ada orang ketiga. Apalagi sahabat sendiri."

"Terus?" Aku ikut bersedekap. "Gak usah sok ngurusin hubunganku sama Raihan. Mau Lala kasih makanan kek. Mau enggak kek. Itu urusan dia. Toh aku juga yakin kalau Raihan gak akan PERNAH peduli dengan hal itu. Raihan itu pendiam. Mana mungkin dia meladeni Lala."

Sekali lagi Nua tertawa sinis. Dari jarak kejauhan salah satu guru sudah terlihat untuk memasuki kelasku.

"Apanya yang tidak mungkin? Mungkin aja. Cowok juga butuh perhatian dari pasangannya. Kalian sudah menikah. Sediam apapun Raihan. Dia tetap manusia biasa yang  punya hati dan perasaan. Mungkin kamu memang belum tahu banyak hal tentangnya."

Aku tertawa santai. Dia pikir aku takut?

"Lalu? Untuk apa?" Dia aja gak pernah meaafkanku meskipun aku sering meminta maaf padanya. Dari sikapnya saja sudah terlihat bahwa Raihan memiliki hati yang keras untuk kehidupan disekitarnya. Bagaimana dengan urusan cinta?"

"Kami menikah bukan karena cinta. Tapi di jodohkan. Oke?"

"Kalau gitu simpel." Nua memajukan langkahnya. Sedikit berbisik kearahku.
"Mulai besok aku akan membiarkan Lala mendekati Raihan."

Aku membulatkan kedua mataku dengan lebar. Tak menyangka dengan semua ucapan Nua.

"Kenapa kamu lakukan itu?"

"Ya suka-suka aku. Kan Raihan itu sahabatku yang pendiam. Dingin. Cuek. Berhati keras. Jadi ya.. gak mungkinkan dia suka sama Lala?"

Setelah mengatakan itu. Nua melenggang pergi. Meninggalkanku dengan perasaan tidak menentu.

Benarkah sedingin apapun Raihan bila ada seorang cewek yang perhatian dengannya dia tidak akan jatuh kedalam perasaan cewek itu?

❣️❣️❣️❣️

Eaaaaaa Raisya mulai menerka-nerka.

Eh jangan-jangan kalian juga nih 🙄

🤣🤣🤣🤣

Makasih sudah baca. Makasih selalu siapkan hati dan perasaan setiap baca setiap partnya.

Sehat selalu buat kalian
With Love💋
LiaRezaVahlefi

Instagram
lia_rezaa_vahlefii

___

Next Chapter 37. Langsung klik link dibawah ini ya :

https://www.liarezavahlefi.com/2020/08/chapter-37-raihan-lelah-hayati.html?m=1





Tidak ada komentar:

Posting Komentar