Chapter 37 : Raihan ( Lelah Hayati ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 05 Agustus 2020

Chapter 37 : Raihan ( Lelah Hayati )




*Lelah Hayati*

🎮🎮🎮🎮


"Raihan!"

"Raihan!!!!!!"

"Raihan!!!"

"Ihhhh bangun-bangun bangunnnnnnnnnnnnnnnnnnn!!!"

Aku merasa tubuhku berat. Astaga. Seekor sapi menindih tubuhku. Benarkah sapi? Apalagi-

"Raihanaaaannn!!"

Aku meringis kesakitan. Dengan kesal aku berusaha untuk bangun hingga sesuatu yang berat tadi terpelanting ke lantai. Aku berusaha untuk mengumpulkan kesadaran. Setelah itu menoleh ke samping. Kukira tadi sapi. Ternyata kerbau.

"Raihan!!! Aaaaaaaaaaaaaa ya ampun. Pinggulku yang seksi ini sakit sekali."

Aku menatap kerbau itu dengan datar. Ah lebih tepatnya Raisya. Lalu melirik kearah jam dinding. Jam masih menunjukkan pukul 03.00 pagi. Waktu sepertiga malam.

"Raihan."

"Apa?"

"Aku lagi jatuh nih. Bantuin kek."

"Berdiri aja sendiri."

Aku pun akhirnya menjauh dari tempat tidurku. Bersiap mengambil air wudhu untuk melakukan sholat tahajjud. Tapi sebelum itu. Aku menghentikan langkahku. Lalu menoleh kearah Raisya yang sudah berdiri.

"Semalam kamu nginap di sini?"

Raisya menatapku sesaat. Terdiam. Lalu mendengus kesal sambil bersedekap.

"Iya! Kenapa?"

"Kok bisa?"

"Ya bisalah! Aku kan istrimu!"

"Oh."

Aku menghedikan bahu tidak perduli lalu kembali berniat mengambil air wudhu.

"Kok kamu gitu sih!" tiba-tiba Raisya menghadang jalanku. Wajahnya terlihat kesal. Bibirnya manyun dan sialnya dia tetap cantik.

"Apa lagi?"

"Gak nanya gitu semalam aku tidur dimana?"

"Gak."

"Iishhhhh raihaaaaannn!!! Kamu itu ya!"

"Apanya?"

"Tanya coba! Jadi cowok itu kalem dikit kek. Perhatian kek. Baik dikit gitu nah."

"Semalam aku disuruh mama kerumah sini. Terus aku ke kamarmu. Tapi di kunci. Kesel banget. Masa iya semalaman aku tidur di sofa luar?" kesal Raisya penuh drama.

"Terus kenapa sekarang bisa masuk sini?"

"Lewat jendela." tunjuk Raisya kearah jendelaku. "Ikutin jejak Papi Arvino. Pakai tangga. Untung aja pintu balkon gak kamu kunci."

"Aku lupa."

"Dasar ngeselin!"

Dengan santai aku menyentil dahi Raisya hingga ia pun meringis.

"Kok dahiku disentil sih?! Jahat banget!"

Aku tersenyum sinis kearahnya. "Kalau iya kenapa?"

"Nyebelin! Dasar jahat."

"Jangan berharap aku bisa perhatian sama kamu."

"Kenapa?"

"Kalau aku perhatian kamu bisa meleleh karenaku."

Setelah itu Raisya terdiam seribu bahasa. Ini sudah kesekian kalinya aku membuatnya terbungkam. Sebenarnya itu hal yang biasa aja sih bagiku. Tapi kenapa dia tidak mampu berkata lagi? Apakah semua cewek begitu? Sungguh membingungkan kaum hawa ini.
Tapi satu hal yang membuatku bertanya-tanya. Kenapa setelah itu dia terlihat bersemu merah di pipinya?

🎮🎮🎮🎮

Pagi hari pun tiba. Sesuai jadwal. Hari ini adalah jadwal menuju kota Balikpapan. Saat ini aku sudah berada di dalam mobil. Disebelahku ada Pak Syarif. Didepan kami ada seorang supir dari pihak sekolah yang akan mengantarkan kami hingga sampai ketujuan. Lalu di belakangku ada Kak Aisyah dan Kak Jannah.

Sebuah notip pesan singkat pun masuk ke ponselku. Aku membukanya. Ck. Lagi-lagi Raisya.

"Sudah sampai?"

Aku mulai mengetik balasannya. "Belum."

"Nginap di hotel mana nanti?"

"Gak tahu."

"Kok gak tahu?" 😑

"Tanya Pak Syarif aja."

"Issssshh. Raihan serius nah 😤😤😤. Kamu ini gimana sih? Kalau ditanya gak pernah kasih jawaban yang tepat!!"

"Kamu minta jawaban apa?"

"Tahu ah malas!"

"Oke."

"Raihaaaaaaaaaa!"

Aku mengabaikannya. Ternyata berisik itu sudah mendarah daging pada dirinya. Ah. Sayang sekali. Kenapa aku ditakdirkan bersama Raisya si nyai rombeng itu?
Berulang kali ponselku bergetar karena notifikasi pesan. Aku enggan membukanya. Paling juga tidak penting. Akhirnya aku memilih memejamkan kedua mataku. Tidur sejenak.
🎮🎮🎮🎮

Akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama dua jam kami tiba disebuah hotel tempat kami beristirahat untuk melakukan olimpiade matematika yang akan di adakan esok hari.

"Raihan lelah?"

Aku menoleh kearah Kak Aisyah yang tersenyum penuh perhatian kearahku.

"Iya kak."

"Ini minuman buat Raihan biar gak dehidrasi." tawar Aisyah kearahku.

"Eh Raihan! Ini nih. Makanan buat kamu. Sebelum perjalanan kesini aku ada buat kue untukmu. Di terima ya." lagi-lagi Kak Jannah menawarkan sekotak mika berisi kue ke arahku.

Sekarang aku bisa apa? Akhirnya aku mengalah menerima kue buatan Kak Jannah dan juga air mineral pemberian Kak Aisyah supaya mereka tidak saling iri.

Aku menatap Pak Syarif tengah berbicara dengan petugas hotel lalu mendatangi kami. Aku bernapas lega karena terhindar dari jeratan kedua wanita ini yang sejak tadi menarik perhatianku.

"Ini kartu akses kamar kalian."

Pak Syarif membagikan tiga kartu akses kamar hotel. Masing-masing untuk kami dengan berbeda kamar.

"Besok pagi jangan lupa. Besok adalah jadwal olimpiade matematika. Kalian harus banyak belajar malam ini dan jaga kesehatan. Oke?"

"Baik Pak."

"Baik Pak."

Aku mengangguk. Lalu segera menuju kamarku. Rasanya hari ini aku begitu lelah. Bahkan sesampainya di dalam kamar aku segera melaksanakan sholat Zuhur, makan siang dan tidur sejenak. Merehatkan otot-otot tubuhku.

🎮🎮🎮🎮

Malam hari pun tiba. Setelah latihan menyelesaikan beberapa soal-soal Aljabar, Geometri, Teori Bilangan dan Kombinatorika akhirnya aku menutup semua lembaran soal-soalku.

Hari yang begitu melelahkan sekaligus bersemangat menanti hari esok. Aku berniat memejamkan kedua mataku namun tidak jadi karena teringat ponsel yang sudah aku abaikan selama beberapa jam.

Aku mencoba menyalakan ponselku tapi tidak bisa karena baterainya benar-benar mati total sehingga membuatku men-chargenya terlebih dahulu.

Beberapa jam kemudian aku kembali menghidupkan ponselku sampai akhirnya 30 panggilan tak terjawab pun muncul di notif aplikasi chating WhatsApp.

Aku mengerutkan dahi. Dua diantaranya dari Mami. Tiga panggilan tak terjawab lagi dari Papi. Aku mencoba menghubungi Papi dan Mami dulu namun tiba-tiba Raisya menghubungiku lebih dahulu.

Aku menghela napas. Pasti sebentar lagi dia akan marah-marah lihat saja nanti.

"Halo Asalamualaikum?"

"Wa'alaikumussalam ? Raihan? Ini Raihan?"

"Iya."

"Ah Alhamdullilah. Kukira kamu sudah KO. Ternyata masih hidup."

"Iya."

"Yaudah deh. Oh iya. Uang jajanku habis nih. Kirimin kek."

"Ha?"

Aku terdiam. Astaga. Kukira dia mengkhawatirkanku. Rupanya minta uang. Ck. Dasar cewek. Sepertinya aku harus membuang rasa tingkat percaya diri ini mulai sekarang.

"Uang jajanku Raihan uang jajan."

"Oh."

"Kok oh sih? Kirimin ya Rai."

"Sudah."

"Kapan gak ada tuh?"

"ATM yang aku kasih waktu itu."

"Aduhhh Raihaaaaaaaaaa.. kamu tu aneh! Aku mau uang tunai. Aku gak tahu kode Pin ATM kamu. Oke?"

"Oh."

"Kok oh lagi sihhhhhhhhh!!! Raihaaannnnnnn!!!!!!"


"Apa?"

"Kamu itu ngeselin ya! Seharian gak bisa di hubungin. Ponsel gak aktip. Chat gak dibalas. Bilang aja kan kamu sok-sokan gak mau di ganggu?!"

"Benar sekali.."

"Pokoknya aku gak mau tahu! Kasih tahu PIN ATM mu sekarang.

"Oke."

"Gitu aja? Gak minta maaf?"

"Untuk apa?"

"Raihaaannnnnnnn."

Aku menghela napas. Memijit keningku yang tiba-tiba pening. Raisya benar-benar si nyai rombeng yang menyebalkan. Astaghfirullah. Maunya dia itu apa sih?

"Apa lagi sih sya? Aku lelah."

"Jadi kamu lelah sama aku?"

"Bukan."

"Terus? Lelah apa?"

"Aku mau tidur."

"Minta maaf dulu kenapa sih sama aku? Ngeselin banget jadi cowok!"

"Gak mau."

"Kenapa lagi? Oh jadi gitu ya?! Sok gengsi-"

"Mau langsung ketemu aja nanti."

Lalu kami terdiam sesaat. Mungkin karena sedikit terkejut.

"Ma-maksudmu?"

"Aku akan segera pulang setelah olimpiade selesai. Minta maaf sama kamu. Secara langsung. Supaya kamu gak marah lagi. Sama aku."
🎮🎮🎮🎮

Hampir aja kepala Raihan mau mendidih tadi.

🤣🤣🤣

Akhirnya Raihan bisa bobo cantik setelah itu ❤️

Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian.

With Love 💋
LiaRezaVahlefi

Instagram
lia_rezaa_vahlefii

__ 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar