Chapter 38 : Raisya ( Sebuah Kekhawatiran ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 05 Agustus 2020

Chapter 38 : Raisya ( Sebuah Kekhawatiran )




*Sebuah Kekhawatiran*

❣️❣️❣️❣️

Aku terdiam setelah memutuskan panggilan dengan Raihan beberapa menit yang lalu. Dengan erat aku memegang ponselku. Berulang kali aku memejamkan kedua mataku namun sungguh sulit aku lakukan.

Yang sekarang bisa aku lakukan hanyalah menatap langit-langit plafon kamarku. Berbagai macam pikiran dan perasaan tidak menentu mulai berdatangan silih berganti.

Ini sudah kesekian kalinya Raihan membuatku terbungkam karena omongannya yang singkat tapi ngena di hati atau bisa di bilang bikin perasaanku dag dig dug.

Sebenarnya Raihan itu baik. Tapi diam dan cueknya itulah yang menyebalkan karena selalu memberi  jawaban yang kurang memuaskan. Aku kenal dia sudah lama. Dari kecil. Dari dia belum sekolah sampai kami sekolah bersama-sama.

Raihan memang suka menyendiri. Dia suka menyibukkan diri apalagi anti sosial sama orang-orang disekitarnya. Raihan lebih suka bermain game dikamar selama berjam-jam daripada pergi keluar rumah.

Semenjak Papi Arvino menyita semua perlengkapan gamenya. Raihan terlihat tidak bersemangat. Meskipun dia diam tapi aku bisa melihat dari raut wajahnya itu.
Aku berganti posisi dengan memiringkan tubuh sambil memeluk erat gulingku. Aku kembali membuka layar ponselku. 
Membuka isi pesan singkat dari Raihan lalu mulai membacanya dari awal. 

Aku menghentikan aktivitasku. Lalu menghela napas panjang. Ya ampun.. kenapa tiba-tiba aku memikirkan Raihan sih? Astaga.. belum tentu juga disana dia memikirkan aku.

Ish, sadar Raisya sadar! Aku harus ingat jangan sampai mudah tertipu oleh semua kebaikan Raihan. Dia aja gak mudah memaafkan diriku apalagi jika dia mudah menyukaiku? Ah. Daripada aku sudah terbang tinggi lalu jatuh sakit mending aku abaikan saja.

Akhirnya aku mematikan ponselku. Tapi sebuah notifikasi pesan singkat membuatku tidak jadi mematikan ponselku begitu pesan tersebut berasal dari Raihan.

"Tolong bangunin aku besok pagi. Aku takut telat kesiangan."

Aku menatap layar ponselku dengan sinis. Lalu membalasnya.

"Bangun sendiri manja banget 😪"

"Sulit."

"Kamu sudah besar. Bangun sendiri lah. Jangan kayak anak kecil.

"Aku tahu."

"Atau kamu pasang alarm kek!"

"Aku gak butuh alarm. Aku butuh kamu."

Aku terdiam. Jantungku berdebar-debar. Kenapa sih dia selalu berhasil membuatku terbungkam kayak gini? Akhirnya aku kembali membalasnya dengan santai.

"Butuh aku? Haha. Maaf aku bukan alarm."

Aku menunggu balasan dari Raihan. Tapi tidak ada. Akhirnya aku bernapas lega. Baguslah kalau dia nyadar. Semenjak dia tidak mau memaafkanku aku merasa sensi banget sama dia. Notifikasi kembali berbunyi. Aku membacanya dan seketika aku terdiam tanpa bisa membalas apapun.

"Maaf sudah lancang karena minta tolong sama kamu."

❣️❣️❣️❣️

Brak!

Aku terkejut. Suara gebrakan dari meja membuatku menoleh. Astaga. Aku melirik tajam kearah Kak Faisal. Ia tersenyum jenaka kearahku.

"Tumben sendiri. Mana suami?"

Dengan kesal aku menekan garpu bekas makananku yang sudah habis ke punggung tangannya. Dia meringis.

"Bisa jaga ucapan gak?!"

Faisal tertawa santai. "Sayang sekali ya aku terlambat. Kata Ayah Fikri katanya kamu menikah sama Raihan?"

"Kak Faisal?!"

"Kenapa?" tiba-tiba Faisal mendekat ke arahku. Aku merasa risih. "Kamu takut ketahuan sama anak-anak di sekolah ini ya?"

Aku mengepalkan kedua tanganku. Berusaha menahan amarah dan tidak berbuat onar lagi disekolah hanya karena ingin menampar Kak Faisal.

"Aku bisa menjaga semua rahasia mu itu." ucap Faisal dengan dingin. Tapi tidak dengan raut wajahnya yang penuh kemenangan.

"Sangat mudah. Minta cerai saja sama Raihan lalu beralih dekat denganku supaya semua gosip yang sudah-sudah antara kamu dan Raihan itu tidak benar."

"Kak! Aku-"

"Kenapa?" Faisal menatapku remeh.  "Apakah kamu mulai suka sama Raihan dan gosip yang di toilet waktu itu adalah benar?"

"Itu-"

"Apa? Akui saja Raisya."

"Aku tidak suka sama dia! Oke? Kami menikah karena terpaksa dan di jodohkan!"

"Untuk menutupi gosip basi dari kalian itu? Ah.. bagaimana ya bila satu sekolahan tahu waktu kejadian kamu dan Raihan kepergok warga lalu di giring satpol PP?"

"Atau bagaimana dengan Fika misal tahu? Bukankah Fika juga suka sama Raihan? Aku dengar dia tidak akan segan-segan untuk-"

"Sudah aku katakan sekali lagi Kak Faisal kami tidak ada apa-apa! Pernikahan kami terpaksa dan aku tidak akan pernah bisa menyukainya apalagi mencintainya!"

Setelah puas mengatakan itu aku memilih pergi dari kantin dengan perasaan muak! Aku memilih ke taman belakang sekolah. Lalu duduk di pinggir danau. Aku mencoba mencari udara segar untuk mengisi rongga dadaku yang begitu sesak.

Aku membuka ponselku. Mencoba menghubungi Lala dan Lili untuk memberi tahu mereka bahwa aku sedang menunggu di taman belakang sekolah.

Sambil menunggu akupun membuka akun Instagramku. Lalu aku melihat postingan snapgram dari Aisyah. Sebuah obrolan singkat yang dia screenshot dengan emot love. Lalu aku membacanya.

Aisyah : Alhamdullilah Raihan sudah bangun 😃

Raihan : Iya. Alhamdulillah.

Aisyah : Dari jam 03.00 pagi aku iseng telpon Raihan walaupun sampai 10 kali 😟

Raihan ; Maaf.

Aisyah : Besok masih ada satu hari untuk tes kecerdasan Olimpiade Matematika. Boleh aku bangunin Raihan lagi lewat panggilan telepon?

"Boleh. Terima kasih."

"Alhamdulillah sama-sama Raihan."

Ya Allah seneng banget. 🖤🖤🖤🖤

Aku mendengus kesal. Cih. Apa yang di banggakan hanya untuk membangunkan seseorang lalu di umbar ke sosial media?

"HUAAAAAAAAAA!!!!!"

Aku menoleh kearah belakang. Rupanya Lala dan Lili sudah datang. Lala memasang raut wajah sedih dan lebaynya.

"Ada apa?" tanyaku pada Lala yang kini duduk disebelahku.

"Kesel banget liat snapgramnya Kak Aisyah! Kok dia bisa sih chat bangunin Raihan? Aku loh chat Raihan malah gak pernah di balas. Sudah dua hari nih!"

"Sabar La. Mungkin dia sibuk." Aku melihat Lili mencoba menenangkan kesabaran Lala.

"Itu wajah kenapa ikutan kesal gitu?"
Tiba-tiba Lala beralih menatapku. Aku berdeham.

"Cuma lagi bosan aja."

"Kenapa? Tumben?"

"Namanya juga manusiawi. Ya wajarlah."

"Iya juga sih." Lala berdiri dan berkacak pinggang. Aku bisa melihat bagaimana dia terlihat cemburu hanya untuk sebuah snapgram dari Aisyah.

"Pokoknya aku harus cari cara supaya bisa mendekati Raihan! Kalau perlu menyingkirkan Kak Aisyah, Kak Fatimah, Kak Jannah, Kak Fika atau yang lainnya."

Lili merasa tidak setuju. "La. Ya Allah istighfar.. jangan sampai kamu berbuat yang tidak-tidak. Ingat dosa La."

"Pokoknya sampai kapanpun aku akan benci sama cewek yang deket-deket sama Raihan Li! Dia itu hanya pantas untukku. Dan aku TIDAK akan pernah memaafkan siapapun cewek-cewek yang sudah merebut Raihan dariku!!!!"

Hanya untuk sebuah snapgram saja Lala sudah cemburu yang bagiku sudah mengerikan. Lala juga berniat tidak baik untuk menyingkirkan semua cewek-cewek yang dekat sama Raihan.

Bagaimana jika aku yang sudah menjadi istrinya selama ini?

❣️❣️❣️❣️

Nah. Kekhawatiran Raisya mulai terasa. Tapi ego nya besar banget buat gak ngaku😥

Makasih sudah baca. Maaf ya kemarin gak udpate seharian. Mau rehatkan otak sejenak hhe.

Sehat selalu buat kalian.
With Love💋
LiaRezaVahlefi

Instagram
lia_rezaa_vahlefii

___

Next Chapter 39. Langsung klik link dibawah ini ya :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar