Chapter 39 : Raihan ( Apakah Itu Sebuah Kode?) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 05 Agustus 2020

Chapter 39 : Raihan ( Apakah Itu Sebuah Kode?)





*Apakah Itu Sebuah Kode?*

🎮🎮🎮🎮

Saat ini aku sedang gugup. Sebentar lagi olimpiade matematika akan segera dimulai. Sekolah kami sudah menempati masing-masing dan tentunya di kanan kiriku sudah ada Kak Jannah dan Kak Aisyah.

Ck. Resiko cowok tampan ya gini. Tapi hal itu biasa aja bagiku. Anggap saja aku lollipop manis yang di hinggapi semut.

"Baiklah sebelum Olimpiade Matematika dimulai kita berdoa dulu menurut keyakinan masing-masing. Berdoa di mulai."

Kami pun mulai khusyuk dalam berdoa. Berharap agar semuanya di beri kelancaran dan bisa melewatinya hingga akhir. Setelah berdoa selesai. Kami mulai mengikuti olimpiade matematika sesuai instruksi dari panitia.

Kota Balikpapan menjadi tuan rumah
Olimpiade kali ini yang di ikuti oleh ratusan siswa dan siswi. Dan semua itu akan akan menjadi saingan kami.

Sekarang di meja kami sudah ada tes matematika yang harus di kerjakan. Kertas tes nya ada 6 problema. Masing-masing problema bernilai 7 angka. Jadi total nilainya 42.

Panita memberi waktu sebanyak 190 menit untuk pemecahan geometri, teori bilangan, aljabar dan Kombinatorika. Tes pun dimulai. Kami saling membagi soal dan mengerjakan dalam serius. Ada 50 soal pilihan ganda. Kami membaginya aku 20 soal. Sedangkan Kak Jannah 15 soal dan Kak Aisyah 15 soal.

"Raihan."

"Ya?"

"Wajah mu berpeluh. Ini tisu buatmu."

Aku melihat Kak Aisyah menyodorkan tisu ke arahku. Aku hanya mengangguk singkat
.
"Terima kasih."

"Sama-sama. Sudah ngerjain berapa soal?"

"Empat."

"Oke Raihan."

"Raihan. Kalau ada yang gak bisa kerjakan, bilang aja ya. Nanti aku bantu."

Aku kembali melirik kearah Kak Jannah sejenak. Lalu memaksan senyum. Ah sudah aku bilang kan? Cowok tampan mah bebas.
Dengan serius aku mulai mengerjakannya. Aku tidak habis pikir. Disaat situasi seperti ini aku di kelilingi dua cewek cantik yang perhatian meskipun aku mengabaikan mereka.
🎮🎮🎮🎮

"Raihan kapan pulang?"

"Insya Allah besok besok Mi."

"Oh gitu ya."

"Iya. Ada apa?"

Aku melirik jam di dinding kamar hotel. Saat ini jam sudah menunjukan pukul 21.00 malam lalu mami meneleponku.

Setelah mendapat kabar bahwa peserta olimpiade matematika dari Madrasah Aliyah Darrul Ilmi lolos ke babak final. Maka akhirnya kami kembali mengikuti olimpiade tersebut. Lebih tepatnya besok pagi.

"Kamu lulus babak final?"

"Alhamdulillah iya mi."

"Wah selamat ya nak. Mami ikut senang."

"Em makasih."

"Mami doakan supaya besok kamu menang."

"Aamiin."

Aku mendengar mami yang begitu merindukanku. Haha. Anak tampan emang gini. Suka di rindukan. Ck. Raisya itu istri yang rugi tidak merindukanku yang tampan ini.

"Tapi jangan lupa ya titipan Mami. Oleh-oleh cemilan kismis rumput laut. Mami ngidam."

"Iya mi. Aku ingat."

Lalu kami sama-sama terdiam. Bingung harus bicara apa. Karena mami tak banyak omong begitupun juga diriku.

"Raihan?"

"Ya Mi?"

"Boleh mami tanya sama kamu? Mami harap kamu jujur."

"Soal apa?"

"Em.. bagaimana hubungan kamu dengan Raisya?"

Aku terdiam sejenak. Bagaimana hubunganku sama dia? Aku menghela napas.

"Kami baik-baik aja."

"Yakin?"

"Begitulah."

"Sudah mulai suka sama dia?"

Aku bergidik ngeri dan terkejut. "Tidak."

"Kok kamu begitu? Dia itu istri kamu loh Rai."

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Dia suka sama duit jajannya saja."

Mami terkekeh geli. Sedangkan aku menatap miris kehidupan ku yang tampan ini. Ck maklum aja lah. Orang tampan memang harus sabar.

"Jangan begitu sayang. Wajar saja Raisya meminta padamu. Semenjak menikah Papa mertua mu itu tidak memberi uang bulanan lagi sama Raisya kecuali sangu sekolahnya."

"Iya mi iya."

"Tabungan kamu juga banyak kan? Lagian selama ini kamu hemat. Asal kamu tahu. Perusahaan Real Estate Papi sekarang sudah berganti atas nama kamu. Jadi kamu gak perlu khawatir nanti. Oke?"

"Hm. Iya mi."

"Yang penting untuk sementara ini kamu fokus sekolah dulu."

"Iya."

"Yasudah. Mami tutup dulu telponnya ya. Jangan lupa makan. Istirahat yang cukup. Sholat. Berdzikir pagi dan sore."

"Iya mi."

"Asalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Aku memutuskan panggilan setelah Mami mengakhiri obrolan singkat kami. Lalu aku melihat notifikasi pesan singkat. Astaga.. lagi-lagi Raisya. Raisya dan Raisya.

"Raihan kapan pulang?"

"Lusa."

"Kangen :("

Aku menatap pesan dari Raisya. Apa katanya kangen? Haha. Cowok tampan emang mudah di kangenin sama cewek kan? Sampai capek aku ngomongnya dari tadi.

Aku tersenyum sinis. "Tumben."

"Emang gak boleh kangen sama suami sendiri?"

"Gak."

"Kenapa?"

"Paling kamu kangen duitku."

"100 BUATMU RAIHAN! BENAR SEKALI. CEPAT PULANG. AKU KANGEN DUIT JAJANKU. BEDAK HABIS NIH."

Dan aku tidak membalasnya lagi. Dasar istri. Untung cantik. Aku bersumpah semoga dia kelepek-kelepek sama ketampananku.

🎮🎮🎮🎮

Hari ini adalah babak akhir dalam olimpiade matematika. 10 esay sudah di bagikan. Kami mengerjakan tugas dengan serius. Aku mengerjakan 4 soal. Kak Jannah dan Aisyah masing-masing 3 soal.

Waktu terus berjalan dan akhirnya semuanya pun berakhir. Dengan penuh kegugupan dan harap-harap cemas kami menunggu pengumuman pemenangnya setelah sekolahku mengalahkan puluhan sekolah dari provinsi lain di babak awal kemarin.

"Baik.. setelah kami sebagai tim juri memeriksa semua jawaban yang diberikan oleh peserta, Kami akan mengumumkan pemenang olimpiade matematika tingkat provinsi tahun ini."

Aku menoleh kearah tim panitia yang sedang berada di atas panggung dengan pengeras suara.
"Sebelumnya terima kasih kepada pihak sekolah yang sudah mengikutkan siswa dan siswinya dalam olimpiade matematika ini. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Tidak akan kecurangan apapun dan kendala lainya."

"Langsung saja. Kami akan mengumumkan juara Olimpiade Matematika tingkat Provinsi di menangkan oleh... "

Aku semakin gugup. Aku melihat Jannah dan Aisyah saling berpegangan tangan saking cemasnya menanti siapa pemenangnya.

"Pemenangnya adalah... "

"Madrasah Aliyah Darrul Ilmi Samarinda!"

"Alhamdulillah kita menang horeeeee!!!!!"

"Yey!"

"Yey!"

Aku menarik kedua sudut bibirku membentuk senyuman kecil. Sedangkan Kak Jannah dan Aisyah terlihat riang gembira sambil berpelukan.

"Alhamdulillah." ucapku dalam hati.


🎮🎮🎮🎮

Akhirnya kami pun pulang kerumah masing-masing. Saat ini jam menunjukan pukul 11.00 siang dan kami sudah berada di dalam mobil menuju kota Samarinda membawa Piala besar Olimpiade Matematika tingkat provinsi.

Aku mengecek ponselku. Berbagai macam notifikasi pesan singkat dan ucapan-ucapannya dari para Fans ketampananku dan ucapan selamat dari Mami.

Fika : "Selamat ya Raihan 💋"

Lala : "Alhamdulillah Raihan menang 🖤"

Paduka raja Papi : "Selamat ya pangeran. Semoga lancar terus. Dari Papi mu yang paling tampan dari Raihan 😏"

Ratu Mami : "Alhamdulillah kamu menang nak. Cepat pulang. Mami kangen 🤗"

Kakek Tua : "Maaf kakek belum bisa mengunjungimu. Kakek lagi di rawat di rumah sakit. Jangan lupa belikan komik kalau menjenguk kakek. Oke cucuku? 
From ; Kakekmu yang paling tampan dari papimu dan kamu 😎"

Nua : "Cieee yang menang. Selamat ya. Peluk cium dariku 😘"

Anu : "Kapan pulang? Aku ngutang di warnet. Bayarkan ya. Kan kamu sudah janji. Jangan phpin adek ya sayang 🙄."

Astaga Apakah Anu dan Nua sudah kehabisan obat jiwanya?

Ah Kalau kalian tanya apakah Raisya beri ucapan atau tidak. Jawabnya tidak ada sama sekali. Ck. Dasar memang dia.

Otaknya hanya penuh dengan uang jajan saja. Menghubungiku hanya perlu uang uang dan uang.

Akhirnya aku memilih tidur namun lagi-lagi notifikasi kembali hadir. Aku membacanya. Dari Raisya? Tumben sekali. Ah paling juga minta uang. Aku pun mulai membuka isi pesan Raisya kemudian membaca.

Raisya : Aku lagi sama papa nih. Lagi jengukin teman mama
yang habis lahiran. lucu dedeknya. 😍

🎮🎮🎮🎮

Nah isi pesan dari Raisy diluar dugaan. Dikira tadi minta uang lagi

🤣🤣🤣🤣

Makasih sudah baca. Maaf kmrin gak udpate :( Soalnya mata author lagi iritasi kemasukan debu. Tapi Alhamdullilah sudah agak mendingan. Sehat selalu buat kalian ya.

With Love 💋
LiaRezaVahlefi

Instagram
lia_rezaa_vahlefii

___

Next Chapter 40. Langsung klik link dibawah ini ya :

https://www.liarezavahlefi.com/2020/08/chapter-40-raisya-pedih.html?m=1



Tidak ada komentar:

Posting Komentar