Chapter 40 : Raisya ( Pedih ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 05 Agustus 2020

Chapter 40 : Raisya ( Pedih )




*Pedih*

❣️❣️❣️❣️

"Yakin nih gak ikut?"

Aku menoleh kearah mama. Mama sudah rapi dengan balutan dress syar'i couple bersama Papa. Lalu aku kembali menatap layar lcd didepan mataku setelah beberapa menit yang lalu aku baru saja pulang dari jalan bersama Lala dan Lili. Bahkan saat ini pakaianku belum berganti.

"Kemana sih?" tanyaku dengan malas sama mama sambil menggonta-ganti channel siaran Lcd menggunakan remote.

"Lah masa lupa?"

"Ke hotel ya?" tanyaku lagi.

"Iya. Ikut atau gak?"

"Males Ma. Aku mau dirumah saja."

"Ini acara tetangga kita loh sya. Anaknya nikahan di hotel. Makanannya enak-enak. Di jamin bakal kenyang.." suara Papa tiba-tiba terdengar.

Aku menoleh lagi kearah Papa yang sudah rapi dan tampan.

"Gak Pa. Lagi males keluar rumah."
"Kamu kenapa sih? Sensitif banget." tanya mama dengan heran.

"Sensitif dari mananya? Gak tuh biasa aja."
"Biarlah lah Dil. Mungkin dia lagi ada masalah sama Raihan. Marahan saat nikah muda tu wajar. Masih sama-sama mempertahankan ego masing-masing."

Aku terkekeh sinis. "Untuk apa bermasalah apalagi marahan sama dia Pa? Gak penting banget."

"Bener gak penting? Hati-hati ntar kamu suka sama dia. Raihan itu tampan loh. Tapi lebih tampan papa sih."

Aku mendengus kesal. Kenapa hidupku di kelilingi orang-orang kepedean tingkat akut?

"Kalau sikap kamu begitu secara tidak langsung mengingatkan Papa pada seseorang dimasalalu."

Sebenarnya aku cukup tertarik mendengar kelanjutan cerita Papa. Ya penasaran aja sih. Tapi karena mood ku sedang tidak baik. Aku memilih diam sampai akhirnya sofa di sampingku melesak dan ternyata ada Papa duduk di sampingku.

"Dulu mama kamu juga gitu. Cuek. Sok jual mahal. Apa-apa bilangnya biasa aja."
Aku tertegun. Tidak menyangka mama begitu. Aku melihat beberapa detik yang lalu mama kembali memasuki kamarnya. Mungkin mengambil sesuatu.

"Tapi Papa gak pantang menyerah buat deketin Mama sampai akhirnya Mama jatuh cinta sama Papa. Awalnya juga tidak ada cinta diantara kami. Mama menerima lamaran Papa karena amanah dari Kakekmu yang sakit-sakitan."

Papa kembali berdiri. Bersiap untuk berangkat begitu mama sudah keluar lagi dari kamar.

"Tujuan Papa sama Papi mertuamu menikahkan kamu dengan Raihan itu cuma satu. Supaya kalian bisa saling menerima dan menyadari sebelum kehilangan."

"Ayo mas. Aku sudah siap."

"Oke."

Setelah itu Papa tidak mengatakan apapun dan pergi keluar rumah bersama Mama. Dalam diam aku berusaha mencerna omongan Papa. Benarkah aku dan Raihan bisa saling menerima?

Tapi bagaimana dengan sikapnya yang keras hati dan tidak mau memaafkan semua kesalahanku waktu itu?

❣️❣️❣️❣️

Waktu terus berjalan. Jam sudah menunjukan pukul 21.00 malam. Aku meraih ponselku. Mengecek semua sosmed. Ck. Saat ini grup sekolah sedang ramai-ramainya membicarakan Raihan yang menang.

Sudah bisa di pastikan bila sebentar lagi Raihan akan semakin besar kepala menjadi selebriti sok ketampanan di sekolah.

Aku mendengus kesal. Merasa bosan. Lalu aku teringat Raihan. Pria itu tidak ada kabarnya sejak beberapa jam yang lalu setelah tadi pagi aku mengirimkan  sebuah foto bayi yang sangat lucu. Foto yang aku ambil setelah menemani Mama menjenguk temannya yang habis lahiran.

Rasa haus pun begitu terasa. Aku memilih beranjak dari duduk menuju dapur lalu-

Astaga. Aku terkejut. Listrik tiba-tiba padam. Kedua mataku sudah berkaca-kaca karena aku takut terhadap gelap. Aku mencoba berjalan perlahan. Kedua tanganku berusaha menggapai sesuatu ketika berada didekat ruang tamu. Aku mencari ponselku untuk menyalakan senter sebagai penerangan dalam kegelapan.

Air mata mengalir di pipiku. Aku benar-benar ketakutan. Sekarang aku menyesal kenapa tidak ikut Mama dan Papa.

Tiba-tiba sesuatu membekapku dari belakang. Aku meronta dan berusaha melepaskan diri.

"Siapa kamu. LEPASKAN AKU!!!!"

Aku berusaha melepaskan diri. Bekapan itu semakin erat sampai akhirnya aku meronta. Aku menangis ketakutan.

"Lepaskan aku!!!"

"Ssshhhh. Ini aku."

Bulu kudukku merinding. Suara tersebut adalah seorang pria yang kini membisik di telingaku.

"Ka-kamu siapa? Jangan macam-macam denganku atau aku akan berteriak."

"Teriak saja. Aku tidak takut."

"Tapi- aaaaargh.. LEPASKAN AKU!"

Tanpa diduga pria itu menarik tubuhku hingga akhirnya aku terjatuh terduduk di sofa. Dengan beraninya pria itu mengukungku. Pria bertopeng dan berpakaian serba hitam. Aku merasa familiar dari kedua matanya.

"Apa yang kamu lakukan disini!" tanpa ragu aku menarik paksa topeng itu dan kedua mataku terbelalak.

"Kak Faisal?"

Faisal tersenyum sinis. Lalu ia mengukungku lagi dengan kedua lengannya di sofa. Sementara aku semakin tersudut.

"Kenapa? Kaget?"

"Apa yang kamu lakukan disini kak?! Cepat pergi!"

"Kalau aku tidak mau bagaimana? Aku ingin berduaan denganmu disini."

"PERGI!"

Aku berusaha mendorong dirinya agar menjauh. Tapi Faisal terlihat enggan. Dengan lancangnya dia mencegahnya sambil memegang kedua pergelangan tanganku.

"Lepaskan aku! Jangan pernah menyentuhku! Kamu bukan mahramku!!!"

"Benarkah? Kenapa? Apakah kamu takut bila Raihan melihatnya?"

"Lepas!"

Faisal terkekeh sinis. "Aku tidak mau. Aku mau mencari tahu dulu apakah kamu takut karena dia marah atau tidak. Ah bukankah kalian tidak saling mencintai?"

Aku menatap benci kearah Faisal. Dia sudah benar-benar keterlaluan. Meskipun saat ini listrik sedang padam, tapi aku masih bisa melihat samar-samar raut wajahnya melalui sorotan cahaya jendela luar yang menerobos masuk kedalam ruangan.

"Kenapa? Apakah kamu takut? Ck!"

"Aku tidak takut karena aku memang tidak pernah menyukainya! Sekarang lepaskan aku!"

Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuh kekarnya dan Faisal terjatuh ke lantai. Nafasku tersengal-sengal. Aku berusaha untuk pergi dari sana lalu membalikkan badan hingga hatiku tertohok seketika. Kedua mataku terbelalak lebar karena sejak tadi ada Raihan melihatku didalam kegelapan dari jarak beberapa meter.

"R-Raihan?"

"Maaf sudah ganggu."

Aku panik. "Raihan A-aku bisa jelasin ini semua. Aku.. aku tidak seperti yang kamu pikirkan."

Raihan menatapku dengan raut wajah datar. Ekspresinya tidak bisa ditebak. Sementara Faisal sudah berdiri dibelakangku setelah tubuhnya sempat aku dorong ke lantai.

"Wow. Kepergok suami ya? Maaf deh."
Dengan sinis Faisal mengangkat kedua tangannya didepan dada. Faisal sudah berjalan kearah pintu tanpa merasa bersalah atau apapun. Lalu dia berbalik menghadapku.

"Makasih ya Raisya atas waktunya. 10 menit yang berharga untuk waktu berduaan." Faisal memperhatikan sekitar rumahku lagi. "Sepertinya aku harus mengucapkan terima kasih pada PLN yang sudah membuat suasana menjadi gelap. Bukankah berduaan di gelap-gelapan itu asyik?"

Faisal tersenyum smirk. Aku mengepalkan kedua tanganku sampai akhirnya pintu tertutup setelah dia pergi.

Raihan berjalan kearahku dalam kegelapan. Lalu ia menyalakan senter di ponselnya sebagai penerang diantara kami.
 
Aku tergagap. "Em. R-Rai.. a-aku."

"Aku kesini hanya untuk meminta maaf sesuai janjiku waktu di Balikpapan."

"Rai-"

"Maaf. Maafin aku."

Lalu Raihan menyerahkan sebuah goddy bag buatku. Aku membukanya dan menatap sebuah boneka. Boneka princess.

"Mami pernah bilang kalau aku adalah pangeran sejak kecil. Kalau aku sudah menikah berarti aku mempunyai seorang princess."

Air mata menetes di pipiku. Raihan tetap menatapku tanpa ekspresi.

"Hadiah pernikahan. Maaf kalau tidak sesuai. Aku pergi. Sorry sudah ganggu waktu kamu dengan Faisal. Asalamualaikum."

Lalu aku meluruh di lantai. Aku menangis dalam keheningan dan kegelapan malam. Aku berharap Raihan akan marah pada Faisal. Aku berharap Raihan akan tidak suka melihat kejadian tadi. Nyatanya dia tetap bersikap santai tanpa berbuat apapun. Tapi ntah kenapa hal itu semakin membuatku sesak.

❣️❣️❣️❣️

Jam sudah menunjukkan pukul 00:00 dini hari. Mungkin aku sedikit lancang karena mengetuk pintu rumah Papi Arvino yang sudah tidur.

Tapi itu semua tidak menjadi masalah. Akhirnya aku berhasil masuk dengan alasan ingin tidur dirumah Raihan.

Aku menaiki anak tangga dan menuju kamar Raihan. Aku membuka pintunya dan terkejut melihat Raihan sedang duduk di atas karpet berbulu tebal. Disampingnya ada celengan yang baru saja dia bongkar.

Dengan cekatan Raihan membereskan semuanya. Ia pun berdiri. Lalu melangkah kearah ku hingga saling berhadapan.

"Ini.."

Raihan menyodorkan sejumlah uang ratusan ribu kearahku. Aku terdiam.
Aku beralih menatapnya dengan sendu.

"Aku.. aku kesini-"

"Ini uang jajanmu. Sesuai janjiku waktu di Balikpapan. Kamu terus menagihnya."

Aku menggeleng. "Aku tidak ingin membahas itu. Aku.. aku.. aku hanya.." dan akhirnya aku menunduk. "Maafkan aku. Tolong jangan salah paham soal tadi."

"Untuk apa meminta maaf."

"Aku takut kamu kecewa denganku."

Hening sesaat. Kami tidak ada saling berbicara. Saling sibuk dengan pikiran masing-masing sementara yang aku pikirkan sejak tadi adalah rasa bersalah dan kekhawatiran.

"Tidak perlu meminta maaf."

Aku mendongakkan wajahku menatapnya. "Kenapa?"

"Kita tidak saling memiliki. Jadi untuk apa aku marah?"

"Ini uangmu. Kamu tidak mungkin menyukaiku karena kamu lebih menyukai uangku."

Aku menerima uang itu. Tapi meletakan diatas meja dekat kami.

"Aku gak butuh uang. Aku.. aku-"

"Kemarikan tanganmu."

Seketika aku terdiam. Mencoba mencari tahu ekspresi wajah Raihan yang tetap tenang. Dengan perlahan aku memberikan tanganku kerahnya sampai akhirnya ia menarik sebuah cincin yang tersemat di jari manisku di ikuti dengan dirinya yang melepas cincin pernikahan di jari manisnya.

Air mata menetes di pipiku. "Raihan.."

"Ini kan yang kamu mau?" Raihan tersenyum miris. "Kamu takut pernikahan ini ketahuan oleh teman-teman disekolah kan?"

Raihan mengabaikanku. Ia beralih membuka laci. Meletakan cincin kami disebuah kotak beledu berwarna merah. Seketika hatiku pedih. Ntah kenapa melihat Raihan melepaskan cincin pernikahan kami hatiku begitu sakit. Seperti kehilangan.

Raihan menepuk bahuku. "Tidur aja disini. Aku akan tidur diluar."

"Raihan.. kenapa kamu melepasnya? A-aku-"

"Maaf sudah lancang karena telah menganggap pernikahan ini nyata. Sekarang kamu gak perlu malu lagi dengan teman-teman disekolah."

❣️❣️❣️❣️

Ikutin aja alurnya. Ini genre teenfiction. Tokoh nya masih berusia belasan tahun jadi ya.. paham aja lah kalau sifat egois antara Raihan Raisya dkk itu masih tinggi banget.

Contohnya scene nyesek alur chapter ini 😥😭

Moga tetap sabar author Baperin...

Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian ya

With Love 💋
LiaRezaVahlefi

Instagram
lia_rezaa_vahlefii

__ 

Next Chapter 41. Langsung klik link dibawah ini ya : 

https://www.liarezavahlefi.com/2020/08/chapter-41-raihan-satu-menit-untuk.html?m=1



Tidak ada komentar:

Posting Komentar