Chapter 41 : Raihan ( Satu Menit Untuk Raisya ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 05 Agustus 2020

Chapter 41 : Raihan ( Satu Menit Untuk Raisya )




*1 Menit Untuk Raisya*

🎮🎮🎮🎮

Aku beralih ke sofa malam ini. Seharian tadi benar-benar membuatku lelah. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 2 jam dari Balikpapan menuju kota Samarinda.

Aku menyempatkan diri ke warnet bersama Anu dan Nua. Apalagi yang aku lakukan kalau bukan bermain game? Anggap aja hiburan setelah melepaskan kepenatan hingga menjelang magrib.

Sesampainya dirumah Mami memarahiku karena sebelumnya tidak pulang kerumah dulu hingga menyebabkan Mami khawatir. Tapi marahnya Mami tidak lama karena pada akhirnya Mami harus melakukan periksa kehamilan bersama Papi kerumah sakit.

Lalu aku teringat amanah Mami untuk mendatangi Raisya karena sudah tiga hari tidak saling bertemu. Sebenarnya aku malas. Untuk apa? Toh kalau ketemu hanya uang jajan saja yang dia harapkan padaku.
Tapi begitu aku kerumahnya. 

Tiba-tiba listrik padam. Bahkan tanpa sengaja aku mendengar suara percakapan antara cewek dan cowok yang begitu familiar. Lalu aku melihat Faisal. Kakak kelas yang memang satu angkatan dengan Bejo dan Fika.

Aku mendengar semua percakapan mereka sampai akhirnya aku merasakan sesuatu yang teramat tidak enak di hatiku untuk pertama kalinya. Aku sendiri tidak mengerti dengan perasaanku ini.

Ini pertama kalinya aku merasakan hatiku sesak. Kalau boleh jujur. Aku paling jarang merasakan yang namanya sakit hati karena aku pun paling tidak suka terlibat dalam masalah atau hal-hal rumit lainnya.
Sudah cukup Raisya si biang masalah. Jangan sampai nambah-nambahin masalah lainnya.

Aku menghela napas. Berusaha memejamkan kedua mataku dan menutup sebagian wajah menggunakan lenganku.

Aku Mengabaikan pintu kamar yang sebenarnya ingin aku buka dan menerobos masuk hanya untuk melihat keadaan Raisya. Terlalu lama bergerumul dengan pikiran akhirnya hawa ngantuk pun melanda dan aku tertidur.

🎮🎮🎮🎮

Pagi menjelang. Seperti biasa, aktivitas berangkat sekolah pun sudah pasti harus di lakukan. Saat ini aku mengemudikan mobil Raisya. Ini adalah pertama kalinya kami saling duduk bersebelahan sebagai pasangan yang sudah menikah.

Aku berusaha untuk fokus menatap kedepan, menatap jalanan yang belum terlalu macet. Suasana begitu hening. Tidak ada suara cerewet dan berisik dari seorang nyai rombeng seperti sebelumnya. Tidak ada lagi suara komentar panjang kali lebar hanya untuk memilih lagu-lagu kesayangannya yang serba galau di dashboard mobil.

Tapi aku bisa melihat saat tanpa sengaja menatapnya dalam keadaan wajahnya yang sembab. Mungkin semalaman dia habis menangis meskipun aku menemukan banyaknya tisu-tisu yang berhamburan di kamarku.

"Giliran kamu yang nyupir." ucapku pada Raisya setelah keheningan terjadi diantara kami.

"Kenapa?"

Aku melepas safety beltku. "Aku turun disini."

"Kita satu sekolah. Kenapa tidak sama-sama?"

Aku menatap kedua mata Raisya yang sedih. "Seperti yang kamu bilang. Tidak ingin satu sekolah tahu kalau kita sudah menikah."

"Tapi-"

"Aku pergi."

Dan aku mengabaikan Raisya. Lalu keluar dari mobil dan menutup pintunya. Dengan santai aku berjalan sambil memasukan kedua tanganku kedalam saku celana lalu memakai headset.

Aku berusaha mengabaikan lagi perasaan tidak enak ini. Sebenarnya aku ini kenapa? Semenjak kejadian semalam kalau boleh jujur aku tidak bisa tidur. Ck.. kenapa bila bersama Raisya semua terasa rumit dan ribet?

"Raihan!"

Aku menoleh kebelakang. Astaga. Kembaran Raisya lagi-lagi datang. Siapa lagi kalau bukan Lala. Aku terus melangkah hingga akhirnya tiba di halaman sekolah bertepatan saat mobil Raisya baru saja memasuki halaman parkiran sekolah.

"Ya elah. Jangan jutek gitu kenapa sih? Ntar tambah ganteng. Kalau aku tambah suka gimana? Syukur di sukai balik. Kalau gak?"

"Derita Lo."

"Raihan! Ish.. kok gitu sih?"

Aku tetap mengabaikannya sampai akhirnya Lala menarik tas ku hingga aku temundur kebelakang.

"Apa sih?!!"

"Ayo foto bareng. Kan kamu baru aja menang jadi juara olimpiade! Aku akan menempelkan hasil foto kita di mading."

"Jangan gila."

"Aku gak gila. Aku masih waras. Buktinya aku menyukaimu sejak dulu. EH RAISYA!"

Aku menatap Lala yang memanggil Raisya. Gadis itu baru saja keluar dari mobilnya. Tatapan ku dan Raisya bertemu hingga beberapa detik. Lalu aku memutuskan tatapan kami. Berusaha mengabaikannya.

"Iya La ada apa?"

"Fotoin aku bareng Raihan dong!!!"

"Ha?"

"Iya fotoin! Mumpung masih pagi. Percaya deh kalau gak foto sekarang beberapa jam lagi Raihan sudah kayak seleb sekolah di kerubungi cewek-cewek."

Lala kembali tersenyum riang. "Ayo sya. Fotoin ya. Cuma orang bodoh dan gila aja yang gak suka sama Raihan.."

"Eh tunggu!"

"Ikut dong!"

"Bagi-bagi ya foto barengnya. Aku juga mau kelesss."

Ck. Aku semakin besar kepala. Lihat saja. Saking tampannya diriku beberapa cewek yang gak terlalu aku kenal berada di sekitarku meskipun aku masih menjaga jarak dengan mereka.

Lala memberikan ponselnya pada Raisya. Tapi aku kembali terdiam. Aku memperhatikannya dengan seksama bagaimana kedua tangan Raisya yang sedikit bergetar kecil. Raisya memilih diam. Menatapku sejenak lalu mulai mengambil beberapa foto dan menyerahkan kembali ponselnya pada Lala.

"Em La. Aku duluan ya ke kelas."

"Iya Sya. Makasih ya!"

"Eh Sya tunggu!"

Aku melihat Lala kembali mencegah kepergian Raisya setelah beberapa cewek sudah pergi disekitarku.

"Kamu menangis?"

"Ha? E-enggak kok. Ini-"

"Terus air mata di pipi ini buktinya apa? Kamu baik-baik aja kan?"

"Aku.." Raisya terlihat berdeham. "Aku baik-baik aja Lo. Cuma lagi sakit hati."

"Sama siapa?"

"Cowok."

"Kak Bejo lagi? Kok bisa? Kamu begitu kayak orang cemburu di sinetron-sinetron yang sering kita tonton tahu!?"

"Bukan. Dia sudah sama Lili. Ini Orang baru."

"Siapa?"

"Orang gila. Sudah ya."

Dan Raisya pergi. Astaga. Dasar aneh dia. Ah mana mungkin yang di maksud itu aku. Kan sudah jelas. Dia gak suka sama aku. So untuk apa aku mencari tahu?

🎮🎮🎮🎮

"Woi jangan melamun!"

Aku terkejut begitu seseorang datang sambil menepuk pundakku. Aku menoleh kebelakang. Ternyata di Nua.

"Kenapa? Lagi ada masalah sama bini?"

"Tidak."

"Terus kenapa melamun? Tumben banget seorang Raihan duduk di pinggir danau."

"Memangnya gak boleh? Aku juga normal seperti manusia pada umumnya."

Nua tertawa geli. "Kira-kira situ normal gak? Kalau normal pasti saat ini sudah ada rasa sama Raisya  dan mulai galau. Suami istri lagi ngambekan itu biasa."

"Gak usah sok tahu!"

"Lah emang iya? Emak sama bapakku aja sampai bergulat dirumah."

Aku merasa jengah sehingga pada akhirnya aku memilih diam.

"Kalau suka ungkapin aja Rai. Jangan di sembunyikan tanpa suara macam kentut."

"Dasar gak jelas."

"Kamu bilangin aku gak jelas?" Nua tertawa geli. "Justru kamu yang gak jelas. Bohongin diri sendiri."

"Gak biasanya kamu terlihat diam gini Rai. Ya emang sih kamu pendiam. Gak banyak omong. Suka menyendiri. Tapi plis deh. Kita sahabatan udah lama. Dari kecil. Aku bisa bedain wajah kamu yang lagi gak mikirin apa-apa sampai dengan mikirin sesuatu yang mengganggu pikiranmu."

"Gak usah sotoy!"

"Aku bukannya sotoy." Tanpa diduga Nua menyentuh bagian dadaku. "Noh tanyakan sama hatimu yang paling terdalam ini. Mau seberapa pun kamu bilang gak, tapi hati tidak akan pernah bisa berbohong. Orang bijak macam aku mah bebas mau nyaranin apa aja!"

"Astaga rupanya kalian disini! Aku mencari kalian kemana-mana."

Tiba-tiba Anu datang sambil berlarian tergopoh-gopoh. Nafasnya tersengal-sengal. Raut wajahnya panik.

"Sabar bray sabar!! Memangnya ada apa?" tanya Nua.

"Itu.. itu.. i-itu."

Nua memasang raut wajah penuh dramatisnya. "Itu apa? Itumu kenapa?"

"Bukan kupret! Bukan!"

"Terus kenapa sih?"

"Anu Si.. si Raisya.. dia..dia.."

Nua berusaha menenangkan sahabat sejatinya. " Santai Anu.. santai.. tarik napassssss.. hembuskan.. tarikk napassssss lagi.. eh bentar. Ponselku berdering."

Nua menerima sebuah panggilan dari ponselnya. Tapi dengan bodohnya Anu menahan napas sampai wajahnya membiru dan pingsan ditempat. Astaga.

Aku semakin jengah dan tambah gila bila berada disini. Tapi ada apa dengan Raisya? Akhirnya aku memilih beranjak dari tempat. Berniat kembali ke kelas. Apalagi berniat mencari tahu tentang Raisya. Malas banget. Sudah aku bilang. Aku paling tidak suka dengan hal-hal rumit.

Tapi..

Niatku ingin kembali ke kelas batal. Dari jauh aku melihat Raisya berdiri dengan raut wajahnya yang syok. Kedua matanya memancarkan tatapan sedih. Seragamnya sudah basah kuyub.

Aku terdiam. Tapi tidak dengan Raisya yang tiba-tiba tanpa ragu berlari kearahku hingga akhirnya memelukku dengan erat. Seketika aku diam mematung.

"Raihan hikzz.."

"R-Raihan.."

Raisya terus mengucapkan namaku dalam lirihnya lalu menangis sambil memelukku dengan erat. Aku memastikan disekitarku agar tidak ada siapapun apalagi teman-teman yang melihat terkecuali Nua yang ikut terdiam.

"Antar aku pulang."

"Kenapa?"

"Antar aku pulang."

Raisya semakin erat memelukku. Menumpahkan rasa sedihnya di dada bidangku. Aku masih diam tanpa berbuat apapun apalagi membalas pelukannya.

"To-tolong tenangkan aku."

"Kakak kelas melabrakku. Aku tidak mengenalnya. Lalu dia menamparku. Dia memarahiku. Katanya aku wanita pelacur. Merebut cowoknya."

Aku terkejut dan Raisya kembali menangis. Aku bingung harus berbuat apa saat ini dan sialnya jantungku berdetak kencang saat pertama kalinya kami di posisi seperti ini.

"Pulang aja sendiri." ucapku akhirnya.

"Rai-"

"Seperti yang kamu bilang. Kamu tidak ingin diketahui siapapun tentang kita di sekolah ini. Jadi pulang aja sendiri."

Aku berusaha melepaskan pelukan Raisya. Dia terlihat enggan.

"Kalau kamu gak bisa antar aku pulang. Aku tidak apa-apa. Beri aku waktu 1 menit untuk menenangkan diri sejenak. Aku butuh kamu sebagai sandaranku. Tolong balas pelukanku."

Dan Raisya kembali menangis. Dari suaranya dia benar-benar terpukul. Sebenarnya hal apa yang terjadi? Kenapa dia dikatain pelacur? Apalagi seragamnya saat ini basah kuyub semua.

Ntah dorongan dari mana.. dengan perlahan aku membalas pelukannya. Memeluknya sangat erat. Kami terdiam beberapa saat. Sampai akhirnya dia merasa tenang.

Raisya masih seengukan. Wajahnya tertunduk lesu. Menyembunyikan kesedihannya.

"Terimakasih untuk 1 menitnya. Maaf."

Lalu Raisya pergi hingga tanpa ia sadari membuat hati dan perasaanku jadi tidak menentu. Seperti kehilangan. Sesak.

🎮🎮🎮🎮

Elus dada kalian dengan sabar kalau nyesek.
😥😥

Terima kasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian.

With Love💋
LiaRezaVahlefi

Instagram
lia_rezaa_vahlefii

__ 

Next Chapter 42. Langsung klik link dibawah ini ya :

https://www.liarezavahlefi.com/2020/08/chapter-42-raisya-cemburu.html




Tidak ada komentar:

Posting Komentar