Chapter 42 : Raisya ( Cemburu ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 05 Agustus 2020

Chapter 42 : Raisya ( Cemburu )




*Cemburu*

❣️❣️❣️❣️

Flashback :

"Brak!"

Pintu terbuka lebar. Suara gebrakan itu benar-benar membuatku terkejut. Aku berusaha mengabaikannya. Suara derap langkah kaki semakin nyaring terdengar memasuki ruangan toilet. Tepatnya didepan pintu toilet yang aku pakai saat ini.

Perasaan cemas semakin menyeruak di hatiku. Aku berusaha untuk tenang apalagi tidak ada suara pintu kanan kiri toilet yang terbuka. Apakah suara langkah kaki itu hanya memiliki keperluan didepan westafel saja?

Aku berusaha untuk tenang setelah menuntaskan buang air kecilku. Lalu aku membuka pintu dan aku terkejut bukan main.

Tiga orang siswa bertubuh tinggi dan juga cantik. Mereka bersedekap dan menatapku sinis.

"Kamu yang namanya Raisya?"

Aku mengangguk ragu. "I-iya. Ada apa?"

Dia tidak menjawab. Dengan lancang dia menarik pergelangan tanganku lalu mendorong tubuhku hingga aku terhempas di lantai yang dingin. Pinggulku begitu nyeri saat menyentuh lantai. Aku ingin terbangun tapi kakinya menahan dadaku.

Aku meringis. "Kalian siapa?! Berani-beraninya berbuat kasar padaku! Lepas!"

Aku berusaha menyingkirkan kaki jenjang wanita itu. Tapi dia tetap mempertahannya sambil menatapku picik.

"Kenal Faisal!?"

"Iya aku kenal! Ada apa?!"

Dia merunduk. Menarik hijabku sampai akhirnya tubuhku tertarik kembali berdiri lalu dengan kasarnya gadis itu menubruk tubuhku di dinding.

Plak!

Kedua mataku memanas. Bersiap bila air mataku akan turun kapan saja. Pipiku terasa kebas.

"Dasar pelacur! Jadi benar ya apa dikatakan Faisal kalau kamu godain dia malam-malam?"

Aku membulatkan kedua mataku tak percaya. "A-apa?

"Ck." Gadis itu menatapku sinis. "Aku calonnya Faisal. Kami akan menikah setelah lulus tahun ini! Jadi jangan coba-coba mendekatinya di belakangku!"

"Dasar cewek murahan! Gak cukup ya Raihan aja? Ngapain aja tuh di toilet berduaan sama Raihan?!"

"I-itu tidak seperti yang kamu pikirkan!"

"Oh ya? Kamu pikir aku gak tahu kalau kalian pernah kepergok di kampung orang malam-malam sama Raihan?"

Aku terdiam. Bibirku Kelu. Aku tidak menyangka kalau dia mengetahuinya. Perasaanku sakit karena dia terus mencecar diriku.

"Apa? Sekarang kamu lagi mikir aku tahu dari mana?" Gadis itu tersenyum sinis. Lalu dengan kuatnya dia mencengkram daguku. Menatapku dengan tajam.

"Aku juga tahu dari Faisal! Katanya kamu ketangkapan Satpol PP saat malam itu."

"Jauhi Faisal atau aku akan membongkar semua aib mu bersama Raihan!"

Tanpa diduga dua gadis yang merupakan temannya itu menyiramkan seember air yang berada didalam toilet keatas kepalaku.

Aku syok. Tiga lawan satu. Tentu saja aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis saat kepergiannya. Aku meluruh di lantai. Mencoba untuk tenang. Beberapa siswa yang baru saja masuk dalam keadaan bercanda pun terkejut melihat keadaanku.

Aku malu. Hatiku sedang pedih. Lalu aku teringat Raihan. Aku butuh dia. Tidak perduli seberapa cueknya dia.
Dan aku memilih keluar toilet untuk mendatanginya. Tapi ntah kenapa begitu bertemu dengannya.. aku berharap dia akan peduli denganku meskipun kenyataannya tidak.

Mestinya aku sadar. Aku sudah lancang karena menganggap dia akan perduli denganku

Sakit.

❣️❣️❣️❣️

Aku termenung dengan menyenderkan dahiku di setir kemudi. Aku pulang lebih awal dengan alasan sakit. Mungkin saat ini aku sedang menjadi gosip satu sekolah.

Aku terisak dalam tangis diamku didalam mobil setelah menepikannya dengan berbagai macam perasaan sesak. Aku beralih meraih ponselku dan aku mengabaikan puluhan panggilan tak terjawab dari Lala dan Lili.

Lagi-lagi aku terdiam. Tidak ada satupun pesan singkat atau panggilan dari Raihan. Aku tersenyum miris. Mestinya aku harus tahu hal ini dari awal. Aku si biang masalah. Tentu saja dia tidak ingin repot-repot perduli denganku.

Akhirnya aku kembali mengemudikan mobilku setelah perasaanku sudah agak mendingan dan menuju rumah dengan air mata yang terus mengalir sejak tadi.

❣️❣️❣️❣️

"Papa?"

"Ya?"

"Bisa minta tolong?"

Tanpa diduga Papa mendekatiku. Papa menangkup kedua pipiku dan menatapku dengan seksama.

"Kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu? Kenapa wajah kamu sembab? Habis nangis?"

Aku menurunkan kedua tangan papa dokter di pipiku. Aku memaksakan senyumku. "Aku baik-baik saja Papa dokter. Hanya tidak enak badan dan bersin-bersin."

Papa memegang dahiku. "Coba buka mulut kamu dan katakan aaaaaaa."

"Aaaaaaaaaa."

Papa menatap rongga mulutku dengan jeli. "Kamu gak demam. Gak panas dalam. Kamu baik-baik aja kok."

Aku tertunduk lesu. "Aku minta tolong buatkan surat izin selama 4 hari."

"Sebanyak itu?"

Aku mengangguk. "Aku izin ke kamar dulu Papa Dokter. Aku lelah."

❣️❣️❣️❣️

Nyatanya niatku yang ingin izin tidak turun sekolah selama 4 hari benar-benar menjadi kenyataan. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Saat ini aku benar-benar sedang demam.

Akhirnya aku kembali memegang ponselku setelah terabaikan berjam-jam lamanya. Aku membuka Instagram. Lalu melihat sebuah postingan snapgram Lala.

Aku terdiam. Perasaan tidak nyaman tiba-tiba kembali hadir. Aku melihat Lala mengupload foto bersama Raihan. Sebuah foto yang kebetulan saat itu aku sendiri yang mengambilnya setelah Lala meminta tolong denganku di pagi hari.

Lala memangkas foto siswi yang ada di sebelahnya hingga menyisakan dirinya dengan Raihan berdua. Tanpa sadar air mata menetes mengenai layar ponselku.

Aku merasa kesal melihatnya. Tiba-tiba pintu terbuka. Dan aku menoleh ke ambang pintu begitu melihat Raihan yang akhirnya memunculkan batang hidungnya setelah seharian tidak ada tanda-tanda menghubungiku.

"Kata Mama kamu sakit. Aku disuruh kesini."

Aku menatap Raihan dengan tatapan amarah. Aku memilih duduk di pinggiran ranjang dan memunggunginya.

"Tidak perlu."

"Kenapa?"

"Lebih baik kamu pulang."

"Jadi aku di usir?"

"Iya. Ah atau lebih baik kamu berduaan saja dengan Lala." sindirku dengan sok tegas. Padahal sebenarnya hatiku rapuh. Air mata kembali menetes di pipiku.

"Untuk apa? Hanya membuang-buang waktu. Bahkan kesini saja aku membuang waktuku."

Suara langkah kaki terdengar. Aku tahu Raihan kini mendekatiku. Masa bodoh jika saat ini dia melihatku menangis.

"Ah.. akui saja jika saat ini kamu cemburu Raisya."

Aku menatap balik Raihan. Lalu berdiri. "Untuk apa cemburu dengan Lala? Bukankah kalian serasi? Sama-sama lebay!"

"Lalu bagaimana denganmu bersama Faisal? Berdua dimalam hari disaat Mama dan Papa tidak dirumah?" sindir Raihan balik. "Kalian juga cocok. Sama-sama biang masalah."

"Lebih baik kamu pergi sekarang!"

"Kamu mengusirku?!"

"Iya!"

"Oke."

Dan Raihan pergi meninggalkanku diiringi suara dentuman pintu yang begitu nyaring. Aku meluruh. Tangis ku pecah sambil memeluk diriku sendiri.

"Maaf. Maafin aku. Sesungguhnya aku begitu menginginkanmu berada disampingku saat ini. Aku.. aku.. maafkan aku.. aku hanya tidak suka melihatmu bersama Lala atau siapapun. Itu saja."

❣️❣️❣️❣️

😥😥😥 Kenapa ngomongnya pas Raihan keluar sih? Auto gemes dan nyesek sama Raisya sekaligus kesel sama Raihan 😅

Campur aduk menjadi satu.

Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian ya. Ikutin aja alurnya. Author emang suka bikin alur nyesek  😂

With Love 💋
LiaRezaVahlefi

Instagram
lia_rezaa_vahlefii

___





Tidak ada komentar:

Posting Komentar