Chapter 43 : Raihan ( Si Adek Yang Lelah ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 05 Agustus 2020

Chapter 43 : Raihan ( Si Adek Yang Lelah )



*Si Adek Yang Lelah*

๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ

BUG!

Aku meninju dinding kamarku dengan emosi tidak terkendali. Ntahlah. Setelah keluar dari kamar Raisya tadi aku marah. Aku marah karena Raisya mengusirku. Lalu aku marah mengingat kejadian malam itu saat melihatnya bersama Faisal.
Sial.

Jika aku marah. Maka aku memilih duduk samhil beristighfar. Jika duduk masih saja marah, maka aku memilih berbaring. Dadaku terasa sesak. Seperti seseorang melempar batu besar kearahku.

Aku menatap punggung tanganku yang sudah memerah setelah aku melampiaskan kemarahanku dengan meninju dinding. Mungkin ini terdengar bodoh. Tapi aku tidak perduli.

Rasa emosi masih bersarang didiriku sehingga pada akhirnya aku memilih bangun. Lalu beralih mengambil air wudhu. Berharap rasa emosi akan segera hilang dengan sendirinya.

Dari Athiyyah as-Sa’di Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah bersabda:
"Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu."

๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ

Keesokan harinya.

Aku menunggu didalam mobil dalam diam. Hari ini Papi tidak bekerja karena tidak enak badan. Alhasil aku yang akan memakai mobilnya. Dalam diam lagi-lagi kejadian semalam kembali memasuki pikiranku.

Aku membuka ponselku. Tidak ada tanda-tanda Raisya menghubungiku apalagi mengirimkan pesan singkat. Aku berusaha mengabaikannya. Semuanya akan baik-baik saja. Sama seperti sebelumnya. Kalau aku memang cuek terhadap disekitarku.

Aku mematikan ponselku. Lalu mengecek jam di pergelangan tanganku. Sebentar lagi berangkat sekolah. Tapi dia tidak memunculkan batang hidungnya. Astaga. Ini tidak bisa di biarkan. Dengan terpaksa akhirnya aku menghubunginya dan ternyata tidak aktip.

Aku berniat keluar mobil untuk mendatanginya. Tapi aku kembali terdiam. Sebuah senyuman sinis kembali aku lakukan.

"Ck. Untuk apa? Bukankah semalam aku di usir?"

Akhirnya dengan masa bodohnya aku berangkat sekolah sendirian. Biarkan saja dia. Toh dia bisa berangkat sendiri.

๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ

2 hari kemudian.

Dua hari sudah berlalu. Semuanya berjalan dengan baik. Dan selama 2 hari itulah aku tidak berkomunikasi dengan Raisya. Aku mencoba menghindarinya. Bahkan akupun sengaja izin sama Papi dan Mami untuk tidur di rumah Nua dengan alasan ada tugas kelompok banyak yang harus kami kerjakan hingga larut.

Jika aku tidak begitu. Maka Papi dan Mami akan memarahiku kenapa aku tidak bersama Raisya selama 2 hari ini. Aku menatap layar ponselku. Lagi-lagi Raisya tidak ada memberi kabar. Sudah 2 hari berlalu. Apakah dia baik-baik saja? Ah untuk apa memikirkannya? Hanya membuang-buang waktu 1 detik yang begitu berharga.

"Raihan."

Aku menoleh kebelakang. Nua memanggilku. Lalu ia pun duduk di sebelahku. Saat ini kami masih di dalam kelas sambil menunggu jam belajar akan di mulai sebentar lagi.

"Apa?"

"Tumben Raisya gak kelihatan? Sudah 2 hari. Aku cuma melihat Lala dan Lili doang selama ini. Kan biasanya mereka bertiga tuh."

"Terus?"

"Ya nanya aja. Situ kan suaminya."

"Tanya aja sendiri sama dia."

Nua terkekeh geli. "Santai aja ngomongnya bro. Lagi ada masalah? Gak usah bohong. Itu muka kelihatan kusut kayak cucian belum di setrika."

"Perasaanmu saja."

"Iyakah? Kamu kira aku gak tahu kalau selama 2 hari ini kamu gak bisa tidur?  Uring-uringan macam orang gak jelas?"

"Sudah 2 hari Rai. Kamu tidur dirumahku terus. Pakai hindarin Raisya segala. LILI!"

Aku melihat Nua memanggil Lili yang kebetulan melewati kelas kami. Lili pun berhenti lalu dengan ragu ia memasuki kelas kami.

"Iya Malik ada apa?"

"Ada lihat Raisya gak?"

"Raisya gak sekolah."

"Oh ya? Kenapa? Kepo ah."

"Raisya habis kecelakaan."

"Ha?! Kok bisa?"

Aku mendengar Nua terkejut. Begitupun denganku. Tapi aku tidak mau memperlihatkannya. Aku berusaha tenang meskipun sebenarnya rasa kekhawatiran mulai menerjang.

"Jadi Raisya sekarang gimana? Dia baik-baik aja?"

"Alhamdulillah Raisya baik-baik aja kok. Dia jatuh sendiri sewaktu di perjalanan gara-gara ban motornya gak sengaja masuk di jalanan berlubang waktu mengendarai motornya dengan laju. Tapi ya gitu. Kakinya lecet. Luka."

"Kamu tahu darimana? Ah ngibul nih."

"Ya tahu lah! Aku kan sahabatnya. Lagian Raisya tadi ngirimin foto kakinya yang sudah di perban sama Papanya di grup WhatsApp kami."

"Oh.." Nua terlihat manggut-manggut. "Yaudah sana pergi hush! Hush! Hush!"

Mungkin saat ini Lili mendengus kesal kearah Nua. Aku tidak memperhatikannya karena saat ini pikiranku terpusat sama Raisya sampai akhirnya Nua menepuk pundaku bertepatan saat bel masukan kelas berbunyi. Semua siswa mulai memasuki kelasku satu per satu.

"Jangan dzolim sama istri Rai. Kasihan Raisya."

"Gak usah sok tahu."

"Aku gak sok tahu. Aku tahu semua dari Lala."

Aku menoleh lagi kearah Nua. Sedikit terkejut. "Lala?"

"Kami Ta'aruf."

"What?"

Nua terkekeh geli. "Ah gimana ya?" Nua terlihat salah tingkah.. "Sebenarnya aku gak mau bongkar rahasia ini. Tapi.. ah yaudah lah. Sebenarnya selama ini Lala sudah bohong."

"Oh."

Aku mencoba bersikap biasa saja. Oke aku memang terkejut karena tidak menyangka kalau sahabatku itu Ta'aruf dengan Lala. Aku pun mulai membuka tasku untuk mengeluarkan buku pelajaran. Mengabaikan ocehan Nua dan segenap berbagai macam pikiran tentang Raisya.

"Kok oh aja sih?! Ya Allah. Semoga Allah menyadarkanmu Rai! Susah banget sih di kasih tahu! Itu hati apa batu?"

"Hati."

"Yaudah kalau hati nih dengerin baik-baik ya!"

"Aku gak mau dengar."

"Gak usah sok deh. Sebenarnya kamu lagi kahwatir sama Raisya kan saat ini? Ngaku aja deh."

"Biasa aja."

"Tenyata bener ya kata Lala." Aku mendengar Nua yang saat ini kesal denganku. "Kata Lala Raisya itu sering cemburu. Lala sengaja dekatin kamu terus. Ngejar-ngejar kamu. Apalagi waktu itu dia upload foto sama kamu di snapgramnya. Dia mau ngetes Raisya. Kira-kira sampai dimana dia mempertahanin ego nya sendiri kalau sebenarnya kalian itu saling suka. Tapi sok gak peka! Sok gak perduli!"

"Sudah ngomongnya?"

Nua menatapku tajam. Lalu mengangkat kedua tangannya dan menyerah.

"Aku menyerah. Adek lelah. Adek lelah hayati bang."

Aku mengabaikan Nua yang gila itu. Tapi tidak dengan pikiran ku yang semakin teringat oleh Raisya saat ini bertepatan ponsel di saku ku bergetar. Sebuah pesan singkat yang tenyata dari Mami. Aku membacanya.

Mami : "Sepulang sekolah langsung ke Tenggarong ya. Kakeknya Raisya meninggal. 10 menit yang lalu."

๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ

Mungkin kalau kalian jadi Nua. Kalian bukan lelah lagi. Tapi pengen tampol si Raihan

๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

Makasih sudah baca. maaf kemarin author gak update seharian. Karena sibuk urus cerita ini supaya bisa terbit lagi. Insya Allah.  Ngomong-ngomong author lama ya gak nerbitin novel setelah Better With You kmrin ๐Ÿคฃ

Doakan saja semoga lancar๐Ÿ™๐Ÿ™

Sehat selalu buat kalian.
Jangan lupa mulai nabung saat ini.
With Love ๐Ÿ’‹
LiaRezaVahlefi

Tabahkan hati kalian sama Raihan ya. Tahan diri buat gak ambil kayu dan teplon dapur ๐Ÿคฃ

Instagram
lia_rezaa_vahlefii

___

Next Chapter 44. Langsung klik link nya di bawah ini ya 

https://www.liarezavahlefi.com/2020/08/chapter-45-pov-raihan-malu-dan-canggung.html?m=1




Tidak ada komentar:

Posting Komentar