Chapter 44 : Raisya ( Moment Yang Tak Terlupakan ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 05 Agustus 2020

Chapter 44 : Raisya ( Moment Yang Tak Terlupakan )





Flashback : 
 
Dua jam sebelum kakek meninggal.
"Ah cucuku. Kemarilah." 

Aku menatap kakek sendu. Masih dalam seengukan habis menangis aku berjalan secara pelan-pelan. Dibalik gamis ku yang panjang ini ada luka lecet yang barusan terjadi. Kakek mengerutkan dahi bingung menatapku di balik raut wajahnya yang pucat karena penyakit.

"Loh, ada apa Sya? Kaki kamu sakit?"

Aku mengangguk. "Aku habis jatuh."

"Sini.. kemarilah. Kamu juga habis nangis. Ada apa?"
Aku duduk di pinggiran ranjang. Sedangkan kakek masih dengan posisi bersandar di bead head tempat tidur. Kakek menatapku penuh perhatian.

"Jatuh dimana? Sudah di obatin?"
Aku menggeleng pelan. Saat ini kakek terlihat sangat khawatir apalagi banyak bertanya padaku semenjak aku memasuki kamarnya.

 "Aku jatuh di jalan kek. Gara-gara ngebut terus ada lubang besar di tengah jalan. Aku tidak memperhatikannya lalu terjatuh begitu aja. Terseret sampai di pinggir jalan."

"Ya Allah. Bersyukur Allah melindungimu nak. Untung saja tidak ada kendaraan apapun yang melintas. Kalau ada gimana? Kamu naik motor?"

"Iya kek. Maafin aku."

"Kenapa naik motor? Kan ada mobil sya.."

"Lagi pengen hirup udara aja sambil jalan-jalan."
Dan aku menunduk. Hatiku bertambah sedih. Sedih akibat kejadian 2 hari yang lalu karena Raihan dan sedih akibat rasa sakit karena luka di salah satu kaki tanganku.

"Sudah tidak apa-apa." ucap Kakek lagi.  "Kamu berniat kesini aja kakek sudah seneng. Sudah lama sekali kamu gak kesini semenjak masuk sekolah ajaran baru. Bagaimana sekolahmu?"

"Alhamdulillah baik kek."

"Ini lagi libur sekolah ya? Setahu kakek sekarang belum liburan semester tuh."

"Aku memang libur. Aku Izin tidak turun sekolah karena sakit demam."

"Kalau sakit kenapa kesini? Kamu sama Raihan? Mana dia. Kakek mau ketemu sama cucu kesayangan kakek itu. Ah dua bulan yang lalu waktu ketemu sama dia statusnya masih tetangga kamu. Sekarang ketemu lagi statusnya sudah menjadi suami dari cucuku yang cantik ini."

Aku terdiam. Kakek mencari Raihan. Begitupun denganku. Kalau boleh jujur aku memang bertanya-tanya dalam hati kenapa dia tidak memiliki kabar hingga sekarang? Aku memang tidak menonaktifkan ponselku selama satu harian penuh. Surat izin sakit saja aku titipkan sama Lili.

Tapi hatiku lagi-lagi kecewa. Begitu aku mengaktifkan ponselku ternyata Raihan tidak memghubungiku sama sekali. Dengan kesal aku sempat membanting ponselku di atas tempat tidur. Lalu aku nekat ke sini. Ketempat kakek di kota Tenggarong yang memakan waktu selama 30 menit.

"Raisya?"

"Ah. I-iya kek. Maaf."

"Kamu banyak melamun? Lagi ada masalah? Jangan bilang kamu kesini sendirian?"
Akhirnya aku menghela napas panjang. Lalu mengangguk. Aku menundukan wajahku dengan lesu.

"Itulah akibatnya kenapa kamu kecelakaan. Itu peringatan buat kamu."

"Maksud kakek?" Aku kembali menatap kakek. Kakek hanya tersenyum tipis kearahku. 

"Kamu kesini sendirian. Jarak Samarinda ke Tenggarong lumayan jauh. Seharusnya kalau bepergian kesini wajib membawa mahram kamu nak. Apalagi kalau kamu gak minta izin sama dia. Kamu sudah menikah. Alangkah baiknya izin terlebih dahulu kalau mau ninggalin Raihan."

"Untuk apa minta izin? Dia aja sudah mengecewakan aku kek."


"Tenyata benar dugaan kakek." Kakek menatapku dengan santai.  "Kalau kamu kesini pasti ada masalah. Ntah ngambek sama mama atau papa kamu, kakek gak tahu. Yang jelas kalau kabur pasti kesini."

"Ya habisnya cuma kakek yang ngertiin aku. Yang bisa kasih saran aku. Mama sama papa yang ada ngomel mulu."

Kakek terkekeh geli sambil menggelengkan kepalanya. Kakek memang sudah berusia senja. Kakek memang sudah sakit-sakitan karena jantung koronernya. Tapi aku bersyukur kakek adalah sosok yang paling bisa ngertiin aku dan manjaain aku sejak kecil. Apalagi aku adalah cucu pertama kakek satu-satunya mengingat anak kakek hanyalah mama.

"Kalau sikap kamu begini mengingatkan kakek sama mama kamu dulu. Dulu mama kamu itu keras kepala. Gak mau nikah sama papa kamu. Akhirnya kakek paksa. Alhasil mereka menikah dan ujung-ujungnya lahir lah cucu kakek yang cantik ini dan mungkin sebentar lagi akan membuat suaminya jatuh cinta."

"Ih kakek apaa'an sih."

"Tu kan. Pipi kamu merah-merah gitu. Kakek pernah muda. Jadi jangan di ragukan lagi masalah cinta." 

"Kakeeeeeekk."

Dan kakek tertawa sambil terbatuk-batuk hingga akhirnya aku meraih segelas air putih untuk membantu kakek meminumkannya. Kakek meminum air putih itu dengan tangan gemetar saat memegang gelasnya. 

Tanpa sadar kedua mataku berkaca-kaca. Aku bersyukur bila kakek membuatku terhibur kali ini meskipun sempat membuatku bersemu merah karena mendengar nama Raihan.

❣️❣️❣️❣️

Aku menatap kakek yang kini sudah selesai di kafani dan tertutup oleh kain berwarna coklat batik. Disekitarku sudah banyak orang-orang yang berdatangan untuk berbelasungkawa lalu membacakan Surah Yasin. 

Aku tidak menyangka bila kedatanganku tadi pagi benar-benar menjadi terakhir pertemuanku dengan kakek. Setelah obrolan singkat kami tadi, aku meninggalkan kakek dengan alasan ingin istrirahat dan tidur. Ntah kenapa selama istirahat perasaanku tidak tenang. Akhirnya aku memilih bangun kembali setelah 30 menit kemudian. Aku menuju kamar kakek dan menemukannya dalam keadaan sudah tidak bernyawa dalam pelukan Tante ku yang menangis.

Sekarang ada Mama menangis di sampingku sambil memegang punggung tanganku. Dan Mama yang paling tersedih saat ini karena tidak sempat melihat dan bertemu kakek.
Waktu terus berjalan. Akhirnya jenazah kakek akan di kebumikan sebentar lagi. Mobil ambulance sudah terparkir didepan rumah kakek. 

Lalu aku keluar rumah dan tidak menyangka kalau Raihan dan Papi Arvino ada disini sambil menyalami tamu. Aku melihat ada Tante Aiza yang kini sedang bersama Mama.
Aku menatap Raihan dalam diam. Terbesit rasa kerinduan yang tiba-tiba hadir begitu saja tanpa aku sadari. Tapi aku bisa apa? Seperti yang dia bilang kalau aku adalah si biang masalah. Akhirnya aku memilih tidak bisa berbuat apapun selain memendam rasa ini. Menanggung rasa pedih dan terpuruk dalam air mata kesedihan tanpa ada yang tahu sebenarnya terkecuali Allah. 

❣️❣️❣️❣️

Aku terdiam beberapa jam kemudian setelah berakhirnya tahlilan malam ini, Aku memilih ke kamar kakek. Aku memperhatikan suasana kamar kakek yang sejak dulu tetap rapi.
Aku menatap tempat tidur. Tempat yang menjadi diriku mengobrol dengan kakek untuk terakhir kalinya. Air mata kembali menetes. Aroma minyak wangi yang biasa kakek pakai untuk sholat masih begitu terasa di kamar ini. 

Kakek baru saja meninggal. Tapi secepat itu aku kembali merindukannya. Hatiku sesak. Sampai akhirnya aku memilih pergi dari kamar ini karena tidak tahan dalam kesedihan jika aku terus berlama-lama disini
.
Aku memilih keluar kamar kakek lalu menuju kamarku sendiri. Kamar yang memang disediakan untuk ku sejak kecil karena aku sering menginap disini.
Sekarang kakek sudah meninggal. Bila suatu saat aku sedang sedih aku harus curhat kesiapa lagi? Sekalipun ada Mama dan Papa, Lala dan Lili, Ntah kenapa rasanya begitu beda. Kakek tidak pernah sedikitpun memarahiku sejak dulu.

Aku memilih duduk di pinggiran ranjang. Lalu meraih sebuah boneka panda yang terlihat usang karena termakan usia. Boneka pertama yang diberi oleh kakek saat ulang tahunku yang ke 5 tahun. 

Aku menumpahkan rasa sedihku. Aku melampiaskannya dengan memeluk boneka itu. Aku butuh seseorang yang ingin menjadi tempat aku bersandar dan mengeluarkan segara curahan isi hatiku. 

Aku mengecek layar ponselku. Lagi-lagi Raihan tidak ada menghubungiku. Kenapa rasanya seperti ini? Apakah benar aku mulai ada rasa sama dia?
Lalu aku tersenyum miris. Berusaha mengabaikannya. Karena semua percuma saja hingga akhirnya aku meringis. Aku lupa kalau aku ada jatuh pagi tadi sehingga pada akhirnya aku memilih mengganti perban pada kakiku yang terluka.

Aku berjalan kearah lemari kotak obat dengan langkah tertatih. Aku meraih obat merah, kapas, dan perban lalu membalikan badan dan terkejut ada sosok Raihan menatapku.
Sejak kapan dia masuk ke kamarku tanpa menimbulkan suara? Mungkin aku terlalu berkecamuk dengan kesedihan sehingga aku tidak menyadari semuanya.
Tanpa ragu Raihan melangkah kearahku. Raut wajahnya begitu tenang. Lalu ia meraih obat-obatan yang aku pegang sejak tadi berserta pergelangan tanganku untuk duduk diatas tempat tidur. 

Raihan mengambil alih semuanya tanpa ragu sedikitpun. Aku dilanda kebingungan meskipun sebenarnya jantungku saat ini berdebar sangat kencang. 

"Sebelah mana yang terluka?" 

"Ha?" 

"Aku ingin mengobatinya."

"Ti-tidak perlu. " Tiba-tiba aku gugup. Gugup karena aku malu bila Raihan akan menyingkap sedikit saja gamis yang aku pakai untuk mengobati bagian kakiku yang terluka.
"Aku.. aku bisa sendiri." 

"Izinkan aku mengobatinya." 

Lalu kami sama-sama terdiam. Kedua mata Raihan menatapku lembut. Sampai akhirnya aku menyerah dan memberikannya. Dengan perlahan Raihan menyingkap gamisku. Dia mengobati luka di kakiku yang lecet karena terjatuh di aspal jalanan.

"Sakit?" 

Aku mengangguk dalam diam. Aku menatap Raihan yang begitu pelan-pelan mengobati kakiku. Sesekali aku meringis menahan sakit. Lalu aku tertegun. Dia meniup-niup lukaku dengan tiupan yang sangat pelan dan lembut. Seolah-olah tidak mau sampai aku kesakitan.
Seketika hatiku terhenyuk. Kedua mataku berkaca-kaca. Lalu air mata mengalir di pipiku. Akumenghapusnya dengan cepat agar Raihan tidak melihatnya. 

Aku beralih menundukan wajahku. Tidak memperdulikan lagi posisi Raihan saat ini yang begitu telaten mengobati luka di kakiku sampai akhirnya semuanya sudah selesai.
"Sebelum kakek meninggal. Kakek sempat mencarimu." 

Raihan terdiam setelah membereskan semua obat-obatan sambil menatapku sejenak lalu kembali meletakkannya di atas meja samping diriku. Aku masih menundukan wajahku dengan bersandar di bead head tempat tidur. 

Air mata kembali menetes di pipiku. Bahkan aku terkejut saat Raihan mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipiku. Seketika aku malu. Malu karena posisi Raihan saat ini begitu dengan denganku. 

Tanpa diduga Raihan menangkup kedua pipiku hingga akhirnya tatapan kami bertemu. Saling menatap dalam diam secara intens untuk pertama kalinya.
"Maafkan aku." bisik Raihan. Lalu Raihan mencium keningku dengan lembut. Aku tak menyangka Raihan bisa melakukan hal ini kepadaku.

"Aku turut bersedih atas kepergian kakek. Tapi itu semua sudah menjadi takdir Allah."
Air mata ku masih mengalir di pipi. Ntah kenapa hatiku merasa tenang dengan perlakuan Raihan saat ini. Lalu Raihan mencium kedua mataku.

"Jangan sedih. Aku gak suka. Dari kemarin aku gak suka lihat air mata ini mengalir." 

Aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku. Perasaan sedih, jantung yang berdebar-debar, wajah bersemu merah serta tatapan sama-sama saling merindu begitu terasa.
Raihan mengelus pipiku. Kami sama-sama terdiam. Tatapan Raihan begitu lekat denganku dengan posisi wajahnya yang semakin dekat. Aku malu. Ntah dorongan dari mana aku memejamkan kedua mataku sampai akhirnya sesuatu menyentuh keningku.
 
Aku terkejut. Ya Allah... 

Rasanya aku mau menangis saat ini. Aku tidak menyangka Raihan mencium keningku dengan lembut. Sebuah moment romantis yang tak pernah aku lupakan.
Tidak ada emosi dan amarah seperti sebelumnya. Saat ini hanya rasa rindu dan perasaan tak ingin kehilangan yang begitu melekat dihati. 

Aku masih memejamkan mataku sampai akhirnya Raihan saling menemoelkan dahi padaku. Sebuah ciuman kening yang sangat membuat hatiku luluh. 

Aku membuka kedua mataku secara perlahan. Raihan masih menatapku dengan jarak wajah kami yang hanya seinci. Wajahku merona merah. Kedua mataku kembali berkaca-kaca. Bukan karena kesedihan. Tapi perasaan suka yang kini mulai muncul di hatiku. 

"Jangan bersedih. Aku minta maaf sama kamu." bisik Raihan tepat didepan wajahku lalu mencium ujung hidungku.

"Dan ada aku disini. Untuk kamu. Janji." 

❣️❣️❣️❣️

Cieee yang kesemsem bacanya 😏
Coba pang kalian berkaca. Itu pipi kalian lagi bersemu merah gak?
🤣🤣🤣🤣🤣

Makasih sudah baca. Makasih sudah sabar ikutin chapter ini hingga sekarang.
Sehat selalu buat kalian ya. 

With Love 💋
LiaRezaVahlefi
 
Instagram
lia_rezaa_vahlefii


___

Next, Chapter Info selanjutnya. Langsung klik aja ya 

https://www.liarezavahlefi.com/2020/08/info-proses-penerbitan-raihan-raisya.html?m=1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar