Chapter 22 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 02 September 2020

Chapter 22 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz



Beberapa jam kemudian...

Diyah sibuk melihat-lihat isi belanjaannya malam ini. Terlihat sekali ia begitu antusias untuk mengeluarkan semua isi godybag yang berisi mainan baru dan boneka.

Dari jarak beberapa meter, Danish menatap putrinya. Sesekali ia tersenyum dan tertawa kecil melihat putrinya yang sekarang malah berbicara sendiri dengan boneka lucu seolah-olah boneka tersebut adalah teman baru untuknya. Namun tidak dengan hatinya saat ini, sesungguhnya ia sedang canggung hanya untuk memasuki kamar yang di dalam sana sedang ada Nafisah.

"Papa, Diyah ngantuk. Mau bobo sekarang."
Seketika Danish tersadar, ia pun tersenyum tipis dan beranjak dari duduknya untuk mendatangi putrinya.

"Ayo Papa antar ke kamar sekarang." ajak Danish sambil memegang pergelangan tangan putrinya. Setelah itu mereka menuju kamar.

"Mama mana, Pa? Kok nggak keluar kamar? Apakah Mama sudah tidur?"

"Hm, mungkin sudah tidur."

"Terus Papa nggak tidur sama Mama? Ini kan sudah waktunya jam tidur."

Seketika Danish terdiam. Diyah benar. Tapi putrinya itu tidak akan mengerti bahwa Papa dan Mama barunya sedang secanggung itu. Danish pun tersenyum tipis.

"Kebetulan Papa juga mau tidur. Makanya Diyah cepat tidur ya.."

"Iya, Papa."

Diyah pun merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Kemudian Danish menyelimuti tubuh putrinya sebatas perut. Tak lupa menuntun Diyah untuk membaca doa sebelum tidur sampai akhirnya putrinya itu benar-benar terlelap.
Diyah sudah tertidur pulas. 

Dengan perlahan Danish beranjak dari pinggiran tempat tidur putrinya. Tak lupa menghidupkan lampu tidur yang menyala remang dengan pantulan cahaya bintang yang mengelilingi suasana kamar dimalam hari.
***

Sudah setengah jam berlalu. Saat ini jam menunjukkan pukul 22.00 malam. Setelah kedatangan Diyah dari jalan-jalan bersama pamannya, Nafisah memilih berbincang sekedarnya dengan Abangnya kemudian segera menuju kamar dengan alasan sudah mengantuk. Padahal sebenarnya tidak.

Ini pertama kalinya ia akan tidur seranjang dengan Danish. Apakah malam ini Danish akan meminta hak padanya?

Dengan memainkan jari-jari tangan sembari gugup, Nafisah berjalan mondar-mandir. Pakaian tipis berwarna seputih gading sudah melekat di tubuhnya.

Tiba-tiba pintu terbuka. Danish masuk dengan pelan dan membuat Nafisah pun segera menatap ke lain. Dengan canggung Nafisah memilih berbaring diatas tempat tidur terlebih dahulu.

Danish tak banyak bicara. Pria itu juga naik keatas tidur dan berbaring tepat di sampingnya sambil terlentang. Dengan perlahan Nafisah menoleh ke samping.

"Mas?"

"Hm.."

"Mas mau tidur sekarang?"

"Aku, masih memikirkannya mau tidur sekarang atau.."

Seketika Danish terdiam. Sejujurnya ia belum terbiasa dengan adanya seorang istri yang baru saja di nikahinya setelah Alina. Apalagi belum siap untuk menyentuhnya.

"Atau nanti." ucap Danish akhirnya.

"Em, iya, Mas."

Di dalam Al Qur'an sudah disebutkan kewajiban seorang suami. Antara lain memberi mas kawin dan nafkah. Dalam Al Qur'an Surat An-Nisa ayat 4 Allah SWT berfirman:

"Berikanlah maskawin kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan." [QS. An-Nisa: 4].

Adapun kewajiban suami memberi nafkah kepada istri diterangkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 233 yang artinya:

"Dan kewajiban bapak memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya...."

Menggauli Istri Secara Baik dan Adil. Kewajiban suami dalam Islam salah satunya adalah menggauli (bersenggama) dengan istrinya secara baik dan adil. Karena ini termasuk inti dari pernikahan sehingga istri dapat memperoleh kenikmatan bersenggama dengan suaminya, begitu juga suami dapat memperoleh kenikmatan dari istrinya.

Dalam Surat An-Nisa ayat 19 Allah SWT berfirman yang artinya

"Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."

Dan lagi, salah satu penggalan ayat Al Qur'an kembali membuat Danish terdiam. Tentu saja ia akan berdosa apabila tidak memberi nafkah batin untuk Nafisah. Akhirnya ia pun membuka kedua matanya.

"Nafisah?"

"I..iya, Mas?"

"Kamu, baik-baik saja?"

"Em, ya, aku baik."

"Aku merasa, kamu sedang gugup."

"Maaf.." ucap Nafisah pelan. Sesungguhnya ia juga tak habis pikir, kenapa tiba-tiba ia menjadi grogi?

"Apakah kamu siap sekarang?"

"Siap untuk.. apa?"

Dengan perlahan Danish membangunkan tubuhnya. Ia menghadap Nafisah. Sejenak ia menatap wajah istrinya yang memang manis. Meskipun hatinya belum memiliki rasa cinta untuk Nafisah, kewajiban tetaplah kewajiban seorang suami yang harus segera di laksanakan.

Nafisah meneguk ludahnya dengan gugup. Posisinya juga masih berbaring terlentang. Jantungnya sudah berdebar-debar tidak karuan.

"Siap untuk menjalankan ibadah suami istri malam ini. Aku akan meminta hakku padamu."

Nafisah terdiam. Ia menatap wajah Danish yang memang tampan. Sekelebat bayangan masalalu bahwa ia tidak menyangka akan berjodoh dengan suami almarhumah Alina dimasa depan membuatnya sadar, bahwa takdir adalah rahasia Allah.

"Apakah kamu siap, Nafisah?"

Akhirnya Nafisah pun mengangguk pelan dan canggung.

"Iya, Mas, Insya Allah aku siap."

Maka Danish pun merubah posisi mendekati Nafisah. Perasaan hatinya semakin tidak menentu lantaran belum sepenuhnya melupakan almarhumah Alina dan kini harus menyentuh pasangan hidup yang baru atas takdir yang di berikan oleh Allah.

Danish pun mencoba untuk fokus terhadap Nafisah. Dengan perlahan ia merunduk, mencium kening istrinya, dilanjutkan mencium kedua mata Nafisah yang terpejam malu sampai akhirnya berhenti tepat di atas bibir Nafisah meskipun masih berjarak.

"Bismillahirrahmanirrahim." bisik Danish pelan.

"Astaghfirullah.. Ya Allah..!!! "

Tiba-tiba lampu padam. Rasa panik dan ketakutan membuat Nafisah teriak bahkan tanpa sadar mendorong dada bidang  Danish hingga menjauh.

"Tidak!"

"Pergi! Menjauhlah!"

"Nafisah!" sela Danish kebingungan.

"Pergi!"

Danish berusaha menenangkan istrinya yang panik. Nafisah berteriak kencang sambil menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Tidak ada yang menyangka bahwa tiba-tiba listrik padam secara dadakan.

"Nafisah.. tenangkan dirimu.."

Nafisah malah memukul-mukul apapun di sekitarnya. Berusaha menjauhkan apapun yang membuatnya takut, menderita, sakit, dan trauma yang di sebabkan oleh masalalu.

Danish pun berusaha merengkuh istrinya, memeluknya se erat mungkin. Sampai akhirnya ia sadar, kalau Nafisah takut pada suasana gelap. Dengan cepat Danish pun turun dari tempat tidur, meraih ponsel untuk menyalakan senter kemudian menuju dapur hanya untuk mencari lilin.

Setibanya dari dapur, suasana berubah hening. Tidak ada lagi suara isakan dan kepanikan dari Nafisah, sampai akhirnya Danish terkejut.

"Astaghfirullah, Nafisah!"

Dengan cepat Danish meletakkan lilin yang ia bawa ke atas meja. Ia syok mendapati Nafisah pingsan di lantai. Danish segera menggendong Nafisah keatas tempat tidur, mencari minyak kayu putih untuk diarahkan ke bagian hidung Nafisah, berharap istrinya segera sadar.

"Nafisah, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu takut gelap?"

Danish menarik napasnya, lalu menghembuskan secara perlahan. Ia mengelap peluh yang membasahi kening istrinya.

"Apakah ada sesuatu yang buruk telah menimpamu dimasalalu sehingga membuatmu trauma seperti ini?"

****


Alhamdulillah, Jodoh Dari Lauhul Mahfudz chapter 22 sudah up ya🖤

Btw, Nafisah kenapa ya segitunya terhadap suasana gelap bahkan takut? Tetap Stay di cerita ini dan tunggu kelanjutannya 😘

JazzakallahKhairan ukhti sudah pada baca. Sehat selalu dan tetap jaga kesehatan ya😊

With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

___

Next Chapter 23. Langsung aja klik link dibawah ini : 

https://www.liarezavahlefi.com/2020/09/chapter-23-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html?m=1

4 komentar:

  1. Aaa... makin penasaran... mungkin trauma itu yg sllu disindir Irsyad ya

    BalasHapus
  2. Penasaran banget sama kelanjutannya

    BalasHapus
  3. Ditunggu part selanjutnya yaa kakak...

    BalasHapus