Chapter 23 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Minggu, 06 September 2020

Chapter 23 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz



Flashback beberapa tahun silam..

Seorang gadis tengah menatap ponselnya dalam diam. Dia adalah teman sekolah menengah atas Nafisah dan Alina. Dalam diamnya, ia melihat sederet postingan pakaian dan aksesoris branded yang membuatnya terkesima.

Selang beberapa menit kemudian, Nafisah datang dari arah kantin. Wajahnya yang polos dengan memakai jilbab putih senada warna seragam sekolahnya itu memang membuat Nafisah terlihat manis bagi siapapun yang melihatnya.

"Nafisah?"

"Ya?"

"Kemari.."

Maka Nafisah pun mendekati teman kelasnya. Ia tersenyum tipis.
"Ada apa?"

"PR dari Ibu Ramlah sudah di kerjain? Hari ini di kumpul." tanya gadis itu hanya untuk sekedar basa-basi.

"Alhamdulillah sudah. Kamu?"

"Sudah juga kok. Oh iya, siang ini, kamu sibuk?"

Nafisah menggeleng. "Nggak sih. Kenapa?"
"Temenin aku ke cafe yuk."

"Ke cafe?" Nafisah mengerutkan keningnya. 
Tumben sekali temannya itu mengajaknya ke cafe.

"Em gini.." seperti bisa membaca pikiran Nafisah, gadis itu pun segera memberi penjelasan. "Kakak aku lagi opening cafe baru. Kebetulan aku belum pernah kesana. Kamu bisa kan, temanin aku kesana? Nggak usah khawatir, nanti aku traktir deh."

"Apakah aku boleh membawa Alina?"

"Tentu." Gadis itu pun tersenyum ceria. 

"Siapa tahu cafe Kakakku nanti cocok buat rekomendasi tongkrongan kalian suatu saat. Oke deh, setelah jam pulang sekolah ya."

"Baiklah, em, aku masuk ke kelas duluan. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Gadis itu pun menatap kepergian Nafisah dari belakang. Tanpa siapapun sadari, seulas senyuman licik pun akhirnya menghiasi bibirnya.

****

Seperti menjadi rutinitasnya, Nafisah mulai memasak di pagi hari untuk membuat sarapan. Tak hanya itu, ia juga mempersiapkan bekal kotak makanan untuk Diyah karena putrinya itu akan masuk ke sekolah TK tepat hari ini.

Seketika Nafisah menoleh kebelakang, Danish baru saja tiba setelah olahraga pagi di sekitarnya halaman kawasan apartemen. Pria itu memakai kaos berwarna abu dan celana training yang melekat di tubuhnya.

Nafisah terdiam lagi, setelah kejadian tadi malam, sesungguhnya ia takut jika sampai suaminya itu menanyakan semuanya secara detail. Hanya masalalu yang buruk, dan itu adalah aib yang harus ia simpan rapat-rapat. Hanya Allah dan  almarhumah Alina saja yang mengetahuinya.

"Apakah sarapan sudah siap?" tanya Danish, sekarang pria itu berdiri disebelahnya. Nafisah sedikit memberi jarak, ntah kenapa tiba-tiba ia merasa tidak nyaman hati akibat semalam.

"Sudah, Mas." Nafisah membawa dua piring nasi goreng ke atas meja. Di ikuti dengan Danish yang ikut duduk di kursi meja makan.

"Terima kasih."

"Sama-sama, Mas."

Rutinitas sarapan pun berlangsung. Nafisah merasa ntah kenapa sejak tadi Danish menatapnya tidak biasa. Seperti ada banyak pertanyaan yang siap di lontarkan untuknya.

"Nafisah, bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Tanya.. apa ya Mas?"

"Semalam-"

"Mama, Diyah sudah siap. Apakah bekal kotak makan Diyah juga sudah ada?"

Dengan cepat Nafisah berdiri, merasa terselamatkan oleh situasi. Diyah keluar dari kamar memakai seragam TK disaat yang tepat. Ia pun segera menghampiri putrinya.

"Sudah sayang." Nafisah merapikan hijab yang terpasang di kepala Diyah. "Alhamdulillah, Putri Mama sangat cantik. Sebentar lagi akan sekolah dan punya banyak teman baru deh."

"Yey! Rasanya Diyah nggak sabar mau ke sekolah! Apakah disana ada taman bermain?"

"Tentu saja ada. Kan Diyah sekolah TK."

Danish menatap interaksi keduanya tanpa berkedip. Seharusnya pemandangan ini adalah suatu momen yang ia impikan di masalalu bersama Alina.
Hari ini adalah pertama kalinya Diyah pergi ke sekolah TK sebagai murid tahun ajaran baru. Bahkan saat dimasalalu pun Alina pernah berkata bahwa ia tak sabar menantikan Diyah untuk sekolah TK.

****

D'media Corp. Pukul 11.00 siang. Jakarta Utara.

Danish memasuki lift untuk menuju lantai atas. Tempat dimana ia akan memasuki ruang ganti pakaian sebelum membawakan acara berita kriminal di siang hari seperti biasanya.

Hanya selang beberapa detik, dua orang pria berstelan formal pun masuk. Kedua nya sempat menyunggingkan senyuman sebagai sapaan di lingkungan perusahaan pada Danish.

Danish membalas senyuman tersebut, lalu kedua pria itu berdiri tepat di depannya saling mengobrol. Dari ujung kaki hingga kepala, terlihat sekali kalau keduanya adalah dua orang pria pengusaha kaya yang kemungkinan besar rekan dari CEO nya yang bernama Fikri Azka.

"Kamu ingat gadis ini?" tanya salah satu dari mereka pada rekan di sebelahnya sambil memegang ponsel.

"Ah, tentu saja aku ingat. Si gadis cantik yang membuatmu tidak bisa melupakannya hingga sekarang. Memangnya ada apa?"

"Terkadang aku bertanya-tanya dalam hati, sekarang dia tinggal dimana dan bagaimana kabarnya setelah aku meninggalkannya di malam itu."

"Jangan bilang kamu mulai jatuh cinta dengannya."

Pria itu tertawa kecil. "Ntahlah. Aku hanya tidak pernah bisa melupakannya, itu saja."

"Memangnya saat kamu bertemu dengannya, waktu itu lagi dimana?"

"Saat itu aku sedang ada urusan bisnis di luar kota, di kota Bontang. Aku meninggalkannya tepat di salah satu kamar hotel."

Seketika Danish terdiam. Awalnya ia tidak terlalu menanggapi obrolan keduanya. Tapi kenapa tiba-tiba obrolan tersebut menjadi hal yang ingin di dengar olehnya? Apakah karena dia menyebut kota Bontang sehingga membuat Danish penasaran?

"Apakah kamu tahu siapa namanya?"

"Dia adalah-"

Ting! Suara lift terbuka pun terdengar. Keduanya keluar dari lift dengan langkah santai. Danish menatap keduanya, ntah kenapa perasaannya menjadi berkecamuk setelah mendengar semuanya.


****

Alhamdulillah, Jodoh Dari Lauhul Mahfudz Chapter 24 sudah up, Ya😊
Bagaimana perasaan kalian di chapter ini? Karena sejak kemarin author mah, suka kasih part penuh teka-teki 😁
Ditunggu part selanjutnya ya. 

JazzakallahKhairan sudah baca. Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga😘

With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

3 komentar: