Chapter 25 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 30 September 2020

Chapter 25 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz




Alina berjalan mondar-mandir. Pikirannya sedang tidak karuan. Sudah semingguan ini, Nafisah kerap kali jalan bersama gadis cantik yang kerap mentraktir mereka makan ataupun menikmati kopi di cafe milik seorang pria muda yang katanya milik Kakak gadis itu.

Ponsel berdering, Alina segera teralihkan untuk meraih ponselnya. Seketika ia terdiam, bukannya Nafisah, malah Danish yang menghubunginya.

"Halo, Assalamualaikum, Kak?"

"Wa'alaikumussalam Alina. Maaf apakah aku mengganggumu?"

"Em, tidak, Kak. Oh iya, ada apa?"

"Hanya bertanya kabarmu dan orang tuamu, itu saja."

"Alhamdulillah kami semua baik, Kak."

"Alhamdulillah."

Alina terdiam. Lagi-lagi pikirannya terfokuskan pada Nafisah. Ia menoleh ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. Namun seperti yang ia tanyakan sebelumnya pada Nafisah, sahabatnya itu masih dalam perjalanan menuju pulang kerumah. Memangnya sahabatnya itu dari mana pulang semalam ini?

"Alina? Kamu masih disana?"

"Ha?" Seketika Alina tersadar."Iya, Kak, Maaf.."

"Tidak apa-apa. Oh iya, kapan pengumuman kelulusan sekolah kamu?"

"Insya Allah sebentar lagi, Kak. Memangnya kenapa?"

"Hanya sekedar ingin tahu. Yaudah, saya tutup dulu ya panggilannya. 
Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Panggilan singkat pun berakhir. Danish memang seperti itu, bertany hanya seperlunya. Alina segera menghubungi Nafisah kembali. Padahal ia dan Nafisah hanya sekedar sahabat sejak kecil. Namun nyatanya ia merasa kalau Nafisah itu adalah adik kandungnya.

"Kenapa nomornya tidak aktip?"

Berbagai macam pikiran dan rasa khawatir, lagi-lagi menghampiri perasaan Alina.

****

akarta, pukul 17.00 sore
JSesuai janji dan kesepakatan bersama, akhirnya Danish tiba di sebuah cafe pinggir jalan dekat dengan alamat perusahaan D'media Corp. Sembari menunggu, lagi-lagi rasa penasaran pada Randi kembali menghampirinya.

Mungkin hal tersebut bukanlah hal yang penting, namun tidak ada salahnya bagi Danish sekedar mencari tahu.

"Apakah kamu sudah lama menunggu?"
Danish menoleh ke samping, Randi datang di saat yang tepat dengan pakaian lebih santai. Kemeja hitam dan celana jeans berwarna khaki. Randi memang tampan, Danish bisa menduga kalau Randi pasti seumuran dengannya.

"Tidak. Aku baru saja tiba 5 menit yang lalu."

"Syukurlah kalau begitu."

Randi pun duduk di hadapan Danish. Kemudian ia memanggil salah satu pelayan cafe untuk memesan secangkir kopi beserta pesanan Danish yang juga menginginkan menu yang sama.

"Sudah berapa lama bekerja di perusahaan Pak Fikri?"

"Alhamdulillah, kurang lebih baru seminggu."

"Oh begitu.." Randi pun manggut-manggut. 

"Asli kota sini?"

"Tidak. Saya hanya perantauan dari Kalimantan."

"Kalimantan? Wah, saya pernah kesana beberapa tahun yang lalu.

Tiba-tiba Danish merasa tertarik dengan ucapan Randi. Apalagi tanpa sengaja mendengar obrolan pria itu tadi siang di lift.

"Oh ya? Urusan pekerjaan?"

"Iya." Randi mengangguk. "Disana kaya akan alam dan disana juga banyak wisata. Bahkan aku merindukan salah satu oleh-oleh cemilan asal kota Bontang."

"Disana juga tersedia banyak tempat penginapan dengan harga terjangkau." ucap Danish lagi, mencoba memancing arah pembicaraan.

"Benar. Aku pernah menginap di salah satu hotel di kota Bontang."

"Oh, ya? Hotel apa?"

Ntah kenapa Danish semakin penasaran. Ia berharap semoga Randi bisa memberitahu nama dan alamat hotel tersebut. Mungkin ini adalah hal yang paling sepele. Tapi seolah-olah mendapatkan firasat tidak baik, tidak ada salahnya ia hanya sekedar ingin tahu.

"Aku lupa, lokasinya tidak jauh dari pantai yang ada disana."

Disaat yang sama, pelayan cafe pun datang menyajikan dua cangkir kopi pesanan Randi dan Danish. Danish menyeruput kopinya dengan perasaan tidak menentu. Bukankah hotel lokasi dekat pantai yang di maksud Randi adalah daerah tempat tinggal Nafisah dan almarhumah Alina di sana.
****

Malam harinya, pukul 20.00 malam.

Nafisah memperhatikan Danish yang 
tengah sibuk didepan laptopnya. Ia pun memegang secangkir teh hangat kemudian mengetuk pintu kamar.

"Assalamualaikum, Mas?"

"Wa'alaikumussalam." Danish menoleh ke belakang, dilihatnya Nafisah berdiri disana. "Masuklah."

Nafisah mengangguk dan segera mendekati Danish setelah meletakan secangkir teh hangat di samping laptop pria itu.

"Em, ini teh nya, Mas."

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Nafisah memperhatikan suaminya yang terlihat fokus. Ia merasa penasaran dengan apa yang di kerjakan Danish. Dengan memberanikan diri ia melirik sedikit ke arah layar laptopnya.

"Hotel dan penginapan dekat pantai kota Bontang?" ucap Nafisah dalam hati. "Kenapa tiba-tiba Mas Danish mencari tahu tentang hotel dan penginapan disana?"

"Mas?"

"Ya?"

"Apakah Mas mau pergi ke luar kota?"

"Tidak. Memangnya kenapa?"

Danish menatap Nafisah. Raut wajah Nafisah terlihat tidak biasa. Seperti khawatir akan suatu hal.

"Em, tidak." Tiba-tiba Nafisah berdiri. "Oh iya, em, aku izin keluar kamar. Mau siapin makan malam buat kita."

Nafisah tak menunggu respon dari Danish. Ia langsung pergi begitu saja. Tiba-tiba sebuah cekalan tangan di lengannya membuat Nafisah berhenti. Ia menoleh ke belakang.

"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Danish serius.

"Soal.. apa Mas?"

"Kenapa kamu takut gelap?"

DEG. Jantung Nafisah berpacu cepat. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Bibirnya pun sangat kelu hanya untuk berbicara. Danish memperhatikan Nafisah yang terlihat pucat. Tetapi, disaat yang sama, aura kecantikan wajah Nafisah secara tidak langsung menghipnotis Danish.

Danish mempersempit jarak diantara mereka. Nafisah merasa kebingungan, takut, degup jantung yang deg-degan.

Tok! Tok! Tok!

"Mama, Diyah lapar..."

Dengan cepat Nafisah menjaga jarak pada Danish. Ia pun segera memegang kenop pintu kemudian membukanya.

"Diyah?"

"Mama, Diyah lapar."

"Baiklah. Ayo kita makan.."

"Diyah tunggu di dapur, ya, Ma."

"Iya, sayang."

Diyah pergi berlalu menuju dapur. Dengan canggung Nafisah menoleh ke belakang, Danish sudah sibuk didepan layar laptopnya. Nafisah memegang dadanya dengan pelan. Degup jantungnya masih begitu terasa cepat.

"Ya Allah, berilah hamba ketenangan." lirih Nafisah dalam hati. Detik berikutnya rasa takut cemas pun lagi-lagi menghampirinya.

*****

Alhamdulillah, Jodoh Dari Lauhul Mahfudz chapter 25 sudah up ya.

JazzakallahKhairan sudah baca. Tetap stay dengan semua teka-teki ini 😁

Siapkan hati kalian buat kedepannya ya... 😆

Sehat selalu buat kita semua. With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram lia_rezaa_vahlefii

___

Next Chapter 26. Langsung klik link dibawah ini : 



2 komentar:

  1. gak sabar pingin baca kelanjutannya

    BalasHapus
  2. Terimakasih.....kirimannya... Smg sehat selalu jasmani rohani ekonomi berinspirasi mengolah kata

    BalasHapus