Chapter 26 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Selasa, 06 Oktober 2020

Chapter 26 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz



Jakarta, Pukul 08.00 pagi.

Seperti sudah menjadi rutinitas terbarunya saat off bekerja, Danish menyempatkan diri untuk olahraga di salah satu tempat fasilitas gym dekat apartemennya. Jam sudah  menunjukkan pukul 08.00 pagi, Danish pun beralih berlari dengan kecepatan sedang di atas treadmill.

"Danish?"

Danish menoleh ke samping, seorang pria yang ia kenal sejak dulu tiba-tiba menegurnya. Di lihatnya dia juga baru saja hendak olahraga di atas treadmill yang ada di sebelahnya.

"Bayu?"

"Alhamdulillah, kita bertemu lagi." Bayu tersenyum tipis. Akhirnya ia pun turun sejenak dan berjabatan tangan dengan Danish.

"Sejak tadi aku menduga-duga kalau kamu itu Danish, ternyata benar."

Danish tersenyum lebar. "Kamu ngapain di kota ini? Liburan atau bekerja?"

"Aku baru saja di terima sebagai reporter D'Media Corp. Oh iya, selamat ya, atas jabatanmu."

Danish menggaruk tengkuk lehernya seperti salah tingkah setelah di puji oleh Bayu, rekan semasa reporter koran harian saat di kota Balikpapan kemudian bertemu kembali di kota ini.

"Masya Allah, Alhamdulillah. Terima kasih. Setelah ini kamu sibuk?"

"Tidak. Kebetulan santai. Kamu ingin mentraktirku minum ya?"

Danish tertawa geli kemudian mengangguk. "Dasar, dari dulu nggak berubah. Oke lah kalau begitu, yang penting kita olahraga dulu."

****

Nafisah merasa gembira, ketika Diyah sudah mulai menghapal huruf-huruf aljabar, menghitung angka 1-50, bahkan mulai lancar membaca meskipun harus di bantu mengeja secara perlahan.

"Mama, setelah ini apakah aku boleh membeli es krim?"

"Tentu. Tapi janji ya, jangan lebih dari dua, atau Papa akan marah dan Diyah bisa sakit gigi karena kebanyakan makan yang manis-manis."

"Diyah janji! Hore, akhirnya, hari libur yang Diyah tunggu untuk membeli es krim sama Mama tercapai. Dulu Diyah juga seperti ini sama Mama sebelum Mama pergi di panggil Allah."

Seketika raut wajah Diyah berubah sedih. Nafisah pun menggenggam punggung tangan putrinya.

"Mama sudah bahagia disana bersama Allah. Kalau Diyah kangen Mama, kita bisa mengirimkan doa ke Mama setelah sholat. Semua sudah menjadi takdir Allah, sayang."

"Alhamdulillah Diyah sering kirim doa kok untuk Mama."

"Alhamdulillah." Nafisah mengusap kepala Diyah penuh kasih sayang. Setelah itu keduanya kembali sibuk dengan pekerjaan sebelumnya.

Hingga 30 menit kemudian, Nafisah dan Diyah akhirnya pergi menuju minimarket terdekat apartemen. Diyah sibuk memilih menu varian es cream yang hendak ia beli bersama Nafisah, namun tanpa keduanya sadari, seorang pria memperhatikan keduanya dari belakang.

"Aku tidak menyangka kalau kamu sudah berkeluarga."

Pria tersebut menatap Nafisah dengan pandangan tidak suka. Sedikit rasa cemburu menghampirinya. Ia memilih menyembunyikan dirinya di balik rak Snack agar tidak terlihat.

"Mama, Diyah mau bayar sekarang. Apakah boleh?"

"Tidak ada tambahan lagi?"

"Tidak. Memangnya Mama nggak beli sesuatu?"

"Em.." Nafisah terlihat berpikir. "Ah, Mama mau beli keperluan mandi dulu. Mama antar ke kasir ya."

Diyah pun mengangguk. Nafisah mengantarkan putrinya untuk antri sejenak kemudian ia pun pergi ke rak bagian keperluan kebutuhan mandi.

"Masih ingat denganku?"

Dengan cepat Nafisah menoleh kebelakang. Niatnya ingin meraih sabun cair pun batal. Seketika tubuhnya melemas, jantungnya berpacu cepat, ia juga syok.

"Kamu.. ka.. kamu siapa?"

Pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri, dengan santai ia mendekati Nafisah walaupun masih berjarak bahkan berbisik.

"Bukankah aku seorang pria yang pernah bersamamu dimalam hari? Malam terindah yang tidak pernah aku lupakan bahkan-"

Dengan cepat Nafisah mendorong pundak pria itu secara kasar. Secepat itu, Nafisah segera membayar es krim milik Diyah lalu menggendong tubuh putrinya.

"Mama, kenapa Mama lari? Apakah semua belanjaan Mama sudah selesai?"

Nafisah tak banyak berkata hingga tiba di parkiran. Dengan hati-hati ia mendudukkan Diyah di bangku boncengan lalu tak lupa memakaikan helm untuk putrinya.

"Sayang, pegangan yang kuat sama pinggang Mama, ya. Kita harus cepat-cepat pulang." ucap Nafisah panik, sembari memakai helm. Setelah itu, Nafisah pun segera pergi mengendarai motornya dengan cepat.

Dari jarak beberapa meter, pria tadi tersenyum sinis. Sampai akhirnya tanpa sengaja ia melihat Danish yang baru saja turun dari motor matik bersama rekannya.

"Aku ingin membeli air mineral saja. Kamu mau kopi atau minuman kemasan?" tanya Danish sembari memasuki minimarket tersebut.

"Aku mau kopi panas saja." tunjuk Bayu ke arah mesin minuman yang otomatis bisa membuat minuman panas dan dingin.

"Danish?"

Sontak Danish dan Bayu menoleh kearah seorang pria yang menyapa mereka. Dia adalah Randi.

"Oh, Pak Randi. Apa kabar?"

"Saya baik. Bagaimana denganmu?"

"Saya juga baik. Ini, perkenalkan, teman saya, namanya Bayu."

Bayu dan Randi pun saling berjabat tangan. Setelah berbasa-basi pun akhirnya Randi pergi. Bayu menatap kepergian Randi dengan heran.

"Aku seperti pernah melihatnya dimasalalu."

"Dimana?" tanya Danish heran.

"Di kota Bontang. Dia mirip seseorang yang sempat terlibat dalam kasus penangkapan pasangan muda-mudi yang tercyduk di kamar hotel saat aku meliput berita."

Seketika Danish terdiam. Baru saja beberapa hari yang lalu ia bertemu Randi dan merasa penasaran tentang pria itu yang katanya pernah ke kota Bontang dan menginap disalah satu hotel disana.

Lalu saat ini, Bayu malah membahas kalau Randi sangat mirip dengan seseorang di masalalu saat ia menjalankan tugasnya sebagai reporter koran harian.

"Yu?"

"Ya, Danish?"

"Kamu, masih simpan semua data-data informasi mengenai berita tadi?"

"Tentu. Semuanya ada di laptopku. Itu merupakan berita lama, memangnya kenapa?"

"Bolehkah aku melihatnya dan membacakan?"

"Kalau begitu kamu harus kerumahku."

"Kapan kamu ada waktu?"

"Malam ini bisa."

"Baiklah. Kirim alamat kamu melalui WhatsApp ya, Insya Allah malam ini aku kerumah."

****

Malam harinya, pukul 20.00 malam


Nafisah membenarkan hijab berwajah tosca yang terpasang rapi di kepala Diyah. Malam ini, putrinya itu akan berjalan-jalan bersama Neneknya yang tiba dari kota Bontang.

"Alhamdulillah, ya, Nak, apartemen kamu lumayan luas."

"Alhamdulillah, Ma," Nafisah tersenyum tipis. "Kebetulan kemarin Mas Danish menyewa apartment ini di lokasi yang tepat dengan harga terjangkau."

"Berarti dekat sama tempat kerja?"

"Hm, iya, cuma kurang lebih 10 menit dari sini."

"Alhamdulillah, setidaknya bisa berjalan kaki supaya terbebas dari macet."

Nafisah tersenyum tipis. Kedatangan Mama dan Papanya berlibur ke Jakarta membuat Nafisah bahagia. Tentu saja ia merindukan kedua orang tuanya.

"Nenek, Diyah sudah siap, ayo kita jalan."

"Ayo, Nenek sudah siap juga, dan Nenek kangen sama kamu, sayang." jawab Lestari, Mama Nafisah."

"Assalamualaikum, Mama." ucap Diyah antusias didepan pintu luar apartemen.

"Wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan ya, jangan nakal sama Nenek."

Diyah hanya mengangguk dan melambaikan tangannya kearah Nafisah. Jam masih menunjukkan pukul 8 malam. Nafisah segera menutup pintu apartemennya kemudian segera menuju ruang tamu. Saat ini ia tengah sendirian karena Danish pergi ke rumah temannya yang bernama Bayu.

Baru saja Nafisah hendak duduk, tiba-tiba listrik padam. Nafisah terkejut, dengan berjalan cepat ia menuju kamar. Ntah kenapa tiba-tiba ia terpikir kalau kamar adalah tempat yang aman baginya.

Prank!

"Astaghfirullah,"

Tanpa sengaja Nafisah menyenggol Vas bunga hingga terjatuh ke lantai. Nafisah meringis, ia juga tanpa sengaja menginjak pecahan vas tersebut.

Dengan tertatih Nafisah berjalan ke kamar, lukanya begitu perih pada telapak kakinya. Darah berceceran di lantai menuju lantai.

"Ya Allah, aku.. aku takut."

Detik berikutnya Nafisah menangis, ia terduduk di sudut ruangan sebelum tiba di kamarnya sendiri. Sampai akhirnya pintu terbuka lebar, Danish masuk di saat yang tepat. Dengan cepat Danish menelusuri ruangan apartemennya.

Suasana begitu gelap gulita. Tidak ada satupun penerangan. Danish pun akhirnya merogoh saku untuk mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senter.
Danish terkejut, pecahan vas bunga tercecer bersamaan dengan bercak darah. Ia pun mengikutinya sampai akhirnya suara isakan Nafisah terdengar.

"Nafisah?!" Danish merengkuh tubuh gemetar Nafisah.

"Pergi!"

"Menjauhlah!"

"Ini aku.."

Danish menahan pukulan tangan Nafisah pada tubuhnya. Dengan cepat ia langsung memeluk tubuh istrinya sampai akhirnya Nafisah pun menangis.

"Ayo, kita ke kamar.."

"Tapi, aku, aku.."

"Tenang, ada aku bersamamu."

Danish memilih menggendong tubuh istrinya menuju kamar. Sesampainya disana ia pun merebahkannya di atas tempat tidur. Danish pun berniat untuk mencari lilin sebagai penerang.

"Jangan pergi.." cegah Nafisah tiba-tiba pada lengan Danish.

"Aku janji hanya sebentar."

"Tapi aku takut, bagaimana kalau seseorang tak di kenal tiba-tiba datang, lalu--" Nafisah tak mampu meneruskan ucapannya, yang ada ia malah menangis. Akhirnya Danish mengalah, ia pun memeluk tubuh Nafisah.

"Baiklah, aku akan membuka tirai korden saja. Kebetulan malam ini sedang terang oleh rembulan."

Nafisah hanya diam, sementara Danish pun segera menyibak tirai kamar. Setelah itu ia kembali duduk di samping Nafisah, mengobati telapak kaki Nafisah yang terluka. 

Setelah selesai, dengan perlahan Danish menyelipkan helaian rambut Nafisah ke belakang telinganya. Terlihat jelas pipi Nafisah basah oleh air mata.

"Sejak kapan listrik padam?"

"Baru... Baru saja. Tidak lama setelah Diyah pergi sama Mama. Aku.. aku, minta maaf atas ketakutanku karena gelap."

"Tidak apa-apa," Danish pun mencoba memahami. Ntah kenapa tatapan Danish barusan secara tidak langsung membuat degup jantung Nafisah berdebar sangat kencang untuk pertama kalinya.

Dengan gemetar Nafisah memegang punggung tangan Danish. Ia masih merasa takut meskipun sedikit berkurang karena Danish berada bersamanya.

"Tolong jangan.. jangan tinggalkan aku, malam ini."

"Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu." ucap Danish pelan, ntah kenapa tanpa ia sadari, posisinya semakin dekat dengan Nafisah.

Danish menyentuh pipi Nafisah. Memandang wajah istrinya yang manis di tambah cahaya rembulan dari balik jendela. Keduanya saling berpandangan satu sama lain, sampai akhirnya, Danish pun menyelipkan tangannya pada pinggul Nafisah, lalu mendekatkan wajahnya pada Nafisah hingga akhirnya, membuat keduanya pun saling memejamkan mata.

"Kita harus membuat malam ini menjadi malam terindah, agar ketakutanmu perlahan sirna." bisik Danish pelan, membuat Nafisah merasa tenang, di iringi dengan ciuman lembut pada kening 
istrinya.



****

Alhamdulillah, Jodoh Dari Lauhul Mahfudz chapter 26 sudah up ya 😊
JazzakallahKhairan ukhti sudah pada baca. Nggak kerasa chapter 26, maka semakin dekat pula dengan kejutan-kejutan yang akan kalian baca nanti hhe 😁

Sehat selalu ya, with Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

___

Next Chapter 27, langsung klik link dibawah ini : 


1 komentar: