Chapter 28 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Kamis, 29 Oktober 2020

Chapter 28 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz

 


D'media Corp. Pukul 16.00 sore. Jakarta Utara.

Seperti kemauannya, Nafisah benar-benar menepati janjinya setelah ia menitipkan Diyah pada Mamanya yang masih berlibur di Jakarta hanya untuk jalan-jalan di sore hari bersama Danish.


Nafisah merasa begitu kasmaran untuk pertama kalinya dengan Danish, setelah akhir-akhir ini hubungan yang awalnya di dasari perjodohan tanpa cinta, perlahan membuahkan hasil.


Nafisah memasuki lobby perusahaan D'media Corp, berniat menemui Danish di lantai 4, tempat dimana suaminya itu bekerja disana. Setelah memasuki pintu lift, Nafisah menatap bayangan pantulan dirinya pada dinding lift yang di desain dominasi dengan kaca.


Pakaian syar'i yang ia kenakan sudah rapi beserta khimarnya. Nafisah tersenyum tipis, tiba-tiba rasa degup jantungnya semakin berdebar-debar sehingga membuat rasa ingin ke toilet pun menghampirinya.


"Sepertinya aku harus ke toilet dulu."


Ting! Pintu lift terbuka lebar. Dengan santai Nafisah melangkahkan kedua kakinya menuju koridor toilet. Dari belakang, tanpa sadar seorang pria memperhatikannya dengan raut wajah smirk. Akhirnya, apa yang ditunggu pria itu selama ini tercapai.


"Aku tidak sabar untuk melihat reaksi wajahmu, Nafisah."


Nafisah sudah memasuki toilet, setelah menuntaskan semuanya, tak lupa ia pun mencuci tangan di westafel sambil menatap wajahnya didepan cermin besar.


Nafisah tersenyum, lagi-lagi bayangan wajah Danish tiba-tiba menghampiri benaknya. Sepertinya, ia mulai jatuh cinta dengan suaminya itu. Ternyata, rasanya begitu indah ketika cinta yang halal tumbuh setelah menikah.


Drtt.. drt... Drt... Tiba-tiba ponsel Nafisah berdering dari dalam tas. Nama Danish terpampang jelas di layarnya. Senyuman di bibir Nafisah semakin mengembang.


"Halo, Assalamualaikum, iya Mas?"


"Wa'alaikumussalam. Sudah dimana?"


"Alhamdulillah sudah di perusahaan kok. Ini lagi ke toilet sebentar."


"Toilet di lantai 4?"


"Hm, iya."


"Tadi di perjalanan kesini bagaimana? Kena macet nggak? Terus kamu baik-baik saja?"


Nafisah menatap wajahnya pada pantulan cermin. Ia merasa kedua pipinya bersemu merah. Hanya ucapan Danish yang sederhana, namun secepat itu ia merasa bahwa Danish begitu perhatian dengannya.


"Alhamdulilah aku baik-baik saja, Mas, meskipun tadi sedikit terkena macet. Jalanan kota padat banget."


"Oh begitu, em tapi lain kali tunggu dirumah saja, Nafisah, aku hanya tidak ingin kamu merasa kelelahan dijalan apalagi merasa bosan bila terjebak macet."


"Aku nggak apa-apa kok, Mas, lagian-"


Ucapan Nafisah terhenti. Tiba-tiba seorang pria berdiri dibelakang sambil bersedekap. Merasa syok dan waktu seolah-olah berhenti, tanpa sadar Nafisah menjatuhkan ponselnya ke lantai.


"Akhirnya, kita bertemu lagi,"


"Ka.. kamu.. kamu-"


"Sssttt..." Dengan santai pria itu mendekati Nafisah, dan secepat itu Nafisah membalikkan badannya menghadap belakang hanya untuk menatap pria yang ntah kenapa tiba-tiba kembali hadir di hadapannya.


"Tenang, jangan takut, kalau kamu teriak, aku khawatir semuanya akan ketahuan. Kalau ketahuan, bukankah nanti semua masalalu kita akan terbongkar?"


Nafisah bisa melihat, pria didepannya ini begitu sombong. Nafisah juga merasa bibirnya kelu, dengan langkah pelan ia bergeser ke samping, memilih untuk keluar saja dari toilet saat ini juga sebelum terjadi kesalahpahaman oleh orang-orang.


"Sayang sekali, urusan kita belum selesai."


Nafisah menghentikan langkahnya, ia menatap pintu menuju luar toilet tertutup. Tapi ia tidak peduli, dengan cepat Nafisah menyentuh kenop pintu yang ternyata terkunci rapat. Nafisah berusaha membukanya meskipun sadar, hasilnya pasti nihil.


"Sudah sekian tahun lamanya, aku pikir setelah kejadian di malam itu, semuanya akan menjadi angin lalu. Tapi, bagiku malah meninggalkan kenangan."


Pria itu memajukan langkahnya, masih memberi jarak berada di belakang Nafisah. Kedua matanya menelusuri dari ujung kepala hingga ke ujung kaki tubuh Nafisah. Penampilan wanita itu memang tidak berubah sejak dulu.


"Aku tidak suka di abaikan." ucap pria itu lagi dengan nada kesal.


Air mata mulai meluruh di pipi Nafisah. Rasa takut kembali datang menghampirinya, rasa takut yang sama dan pernah ia rasakan beberapa tahun silam didepan pria itu.


"Jika kamu tidak mendengarkanku, aku bisa saja kembali berbuat hal yang sama seperti di masalalu, di sini, di tempat ini, sekarang juga!"


DEG! Seketika Nafisah terdiam. Dengan terkulai lemas Nafisah melepaskan pegangannya pada kenop pintu. Air mata mengalir deras di pipinya.


"Apa.. a..apa yang kamu inginkan dariku? Semua sudah berlalu. Bukankah kamu sudah.." tenggorokan Nafisah serasa tercekat. Luka yang di torehan pria itu semakin melebar di hatinya. "Sudah pernah mendapatkan semuanya di masalalu? Aku.. aku sudah berkeluarga. Sebaiknya-"


"Sayang sekali, padahal aku ingin bertanggung jawab dan memilikimu seutuhnya." potong pria itu cepat, rasa cemburu menyentuh hatinya.
Namun, rasa gengsi membuatnya tidak ingin di kalahkan oleh Nafisah.


"Tapi, biar bagaimanapun, bukankah aku pria pertama yang sudah menyentuh dan mengambil kehormatanmu?"


Seketika Danish terbelalak dari balik pintu luar. Ia sudah mendengar semuanya sejak tadi. Padahal sebenarnya ia berniat menunggu Nafisah diluar toilet. Namun ntah kenapa pintu keluar toilet terlihat tertutup. Keinginannya ingin mengetuk pintu toilet wanita karena tidak bisa masuk pun terhenti, begitu mendengar suara seorang pria yang begitu familiar baginya.


"Lupakan saja! Aku tidak menginginkannya. Itu hanya masalalu dan aib yang harus aku buang jauh-jauh dari pikiranku. Cepat buka pintunya!"


Nafisah meluruh di lantai. Ia menangis. Sementara pria itu hanya tertawa geli bahkan terkesan mengejek. Merasa kasihan, akhirnya ia pun melangkah kedua kakinya dan memasukkan kunci untuk membuka pintu luar toilet yang diam-diam ia minta pada salah satu OB perusahaan.


"Tangisanmu saat ini, lagi-lagi mengingatkanku dengan masalalu kita. Aku penasaran, siapa sosok pria yang mau menerimamu. Ah atau jangan-jangan, dia tidak menyadari bahwa dia bukan yang pertama kalinya untukmu."


Dengan santai pria itu membuka pintunya dan keluar begitu saja. Langkah kedua kakinya begitu santai dengan suara pijakan pentofel mahal di lantai. Pria itu tersenyum sinis sambil memasukkan salah satu tangannya pada saku celana kainnya.


Tapi, tanpa ia sadari, Danish bersembunyi di balik dinding. Apa yang ia dengar sungguh diluar dugaannya selama ini. Begitupun dengan sosok pria itu, sosok pria yang mentraktirnya secangkir kopi di sore hari beberapa hari yang lalu.


Dialah Randi Wijaya. Siapa sangka pria itu yang merenggut kehormatan Nafisah di masalalu. Sekarang ia tahu, aib yang di sembunyikan Nafisah sekaligus apa yang di takutkan wanita itu selama ini. Detik berikutnya, hanya rasa sakit hati menyapa hati Danish.


****


Alhamdulillah, sudah up ya. Maaf kemaleman. Biasalah, sibuk banget seharian dengan keluarga dirumah 😁

Sudah tahu kan, apa masalalu Nafisah? 😢

Bagaimana reaksi Danish setelah ini? Tetap stay ya, di chapter selanjutnya..

Semoga memaklumi, ya, Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu buat kalian..


With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii


___


Next, Chapter 29. Langsung aja klik link dibawah ini : 

https://www.liarezavahlefi.com/2020/11/chapter-29-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar