Chapter 29 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 18 November 2020

Chapter 29 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz




"Nafisah, kamu yakin kamu sedang baik-baik saja?"


"Iya, aku baik kok, ini lagi dijalan mau kesana."


"Tapi, ini sudah jam 8 malam-"


"Percayalah, Insya Allah aku baik-baik saja, Alina. Lagian, Andara cuma minta di temani ke acara pernikahan sepupunya kok di hotel. Nanti kalau ada apa-apa, aku hubungi kamu, ya."


"Em, baiklah."


"Kalau ngantuk, tidur gih, kan nanti aku masih bisa sms kamu kalau sudah dirumah."


"Aku nggak bisa tidur. Lagi sibuk ngerjain tugas kelompok."


"Oke deh. Semangat ya. Baiklah, aku tutup dulu panggilan ini, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Nafisah pun segera memutuskan panggilannya dengan Alina. Ia sudah tiba di tujuan. Tak lama kemudian, Andara, gadis cantik yang menjadi teman kelasnya itu berdiri dengan penampilan yang sangat cantik.


"Assalamualaikum, Andara, apakah kamu sudah lama menunggu?"


"Wa'alaikumussalam. Nggak juga. Ah ayo kita masuk sekarang."


Nafisah pun mengangguk. Keduanya sudah memasuki lobby hotel dan menuju lift. Kotak besi itu bergerak ke lantai 5.


"Em, Nafisah?"


"Ya?"


"Kayaknya kita ke kamar aku dulu deh."


"Kamu nginap disini?"


"Iya, semua keluarga aku datang dari luar kota. Aku mau ke kamar dulu, aku merasa pakai baju ini gerah banget. Kamu mau kan, temani aku ke sana sebentar?"


"Iya, boleh."


Setelahnya Andara hanya diam dan mengangguk. Tidak ada yang mengetahui niat sebenarnya sampai akhirnya mereka pun tiba di salah satu kamar kemudian memasukinya.


Nafisah memperhatikan sekitarnya, melihat-lihat keselililingnya yang memang luas dan besar bahkan memiliki fasilitas ruang tamu. Sembari menunggu, tanpa sadar diam-diam dengan langkah pelan, seorang pria tak di kenal berdiri di belakang Nafisah. Ia menatap Nafisah yang memang cantik. Dalam sekali gerak, ia pun langsung menutup mulut Nafisah yang masih terpasang sarung tangan hitam agar teriakannya terbungkam.


Nafisah panik. Detik berikutnya, hanya perlawanan dan pemberontak yang di lakukan oleh Nafisah hingga membuat Andara hanya tersenyum puas dan segera keluar dari kamar hotelnya.


"Ku harap kamu menyukai gadis pilihanku malam ini buatmu, Randi."


****



Malam harinya, pukul 21.00 malam


Danish masih tak percaya setelah apa yang ia dengar tadi sore. Tak hanya itu, ia juga syok sekaligus tidak habis pikir, bagaimana Nafisah bisa serendah itu didepan pria lain yang bukan mahramnya?


"Assalamualaikum, Mas?"


Danish tak menoleh kebelakang, meskipun sadar kalau Nafisah memasuki kamarnya. Nafisah pun berdiri tepat di sampingnya. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam.


"Wa'alaikumussalam."


"Apakah semuanya baik-baik saja, Mas? Kenapa sejak sore tadi, Mas terlihat banyak diam? Apakah.. ada masalah?"


Danish tetap diam. Raut wajahnya terlihat datar, berusaha menahan amarah, kecewa, sekaligus ilfeel dengan Nafisah.


"Mas?"


"Jadi, apakah kamu sudah mengenal Randi selama ini?"


DEG! Seketika jantung Nafisah berdegup kencang. Perasaan gugup, khawatir, gelisah, dan takut mencul di saat bersamaan. Darimana Danish mengenal Randi? Kenapa tiba-tiba suaminya itu membahas Randi?Berusaha untuk tenang, Nafisah pun mulai bersikap hati-hati.


"M.. maksud, Mas?"


"Apakah kamu butuh penjelasan? Justru kamu yang mengetahui dan menyimpannya selama ini."


"Aku, aku, ti..tidak mengerti maksud, Mas."


Danish menoleh ke samping, sorotan matanya seolah-olah sedang menatap Nafisah secara rendah.


"Jangan berpura-pura tidak mengerti, Nafisah. Bukankah wanita penipu sepertimu pandai berbohong?"


"Kenapa Mas mengataiku penipu?" setetes air mata mengalir di pipi Nafisah tanpa bisa di cegah. Ucapan Danish barusan menyakiti hatinya.


"Karena kamu sudah bertopeng selama ini. Topeng yang kamu gunakan begitu sempurna sehingga orang-orang yang di sekitar mengagapmu wanita yang baik-baik. Padahal sebenarnya.."


"Mas.." Dengan perlahan, Nafisah memegang lengan Danish, namun sayang, Danish malah menghindar. Seolah-olah enggan untuk di sentuh Nafisah. "Aku, aku, sebenarnya aku-"


"Aku adalah wanita malam yang pernah tidur dengan pria hidung belang bernama Randi Wijaya." potong Danish cepat dengan sindiran yang telak.


Nafisah terkejut. Pipinya sudah basah oleh air mata. Ia menatap Danish yang terlihat kecewa.


"Maafkan, aku, aku-"


"Tidak ada yang perlu di maafkan. Nasi sudah menjadi bubur. Ketika Ibu sambung untuk seorang Diyah yang sebelumnya di kenal baik, tapi siapa sangka dia adalah wanita pekerja hiburan malam yang sangat rendah bahkan.."


Danish memundurkan langkahnya, raut wajahnya, hatinya terluka dan marah.


"Bahkan bekas pria lain."


Detik berikutnya, Danish pergi, meninggalkan Nafisah yang sekarang sudah meluruh terduduk di lantai yang dingin. Apa yang ia takutkan, aib yang ia jaga selama ini dalam hidupnya, kini terkuak lah sudah. Terkuak kepada seorang suami yang telah membuatnya jatuh cinta secara perlahan.


"Ya Allah, izinkan kami bersama hingga maut memisahkan." isak Nafisah pelan, sebuah harapan yang ia minta pada Allah, ketika ketakutan kehilangan menghampirinya.


****


Alhamdulillah aku sudah up, ya, walaupun di part ini.. :)


Akhirnya semua sudah terungkap, membuat kita semua yg baca ikutan sedih, nggak nyangka, nyesek. :(


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu yaa... ^^


Tetap sabar menanti aku Insya Allah, kembali up.
~~
WithLove LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii


____



3 komentar: