Chapter 30 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Rabu, 25 November 2020

Chapter 30 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz


Flashback..


Nafisah terduduk dengan lemas di atas tempat tidur. Apa yang terjadi bukanlah keinginannya. Apa yang terjadi, jugalah bukan kemauannya. Apa salahnya selama ini sampai-sampai ia tidak bisa menghindar dari sebuah perbuatan dosa?


Kehormatan yang ia jaga selama ini kini telah di renggut oleh pria yang tak bertanggung jawab. Ntah itu siapa, Nafisah sendiri tidak terpikir untuk mencari tahu. Pakaian sudah terpakai kembali tubuhnya. Dalam keterlukaan hatinya, ia juga tidak menyangka mengapa Andara setega itu meninggalkan dirinya di sebuah kamar hotel bahkan menjualnya dengan pria hidung belang yang masih berusia muda.


Tiba-tiba pintu kamar kembali terbuka, seorang pria paruh baya yang tidak pernah dilihat Nafisah datang memasuki kamarnya. Dengan cepat Nafisah memeluk selimut dan ketakutan.


"Siapa kamu?!"


"Siapa saya?" Pria berperut buncit itu pun tertawa mengejek. "Aku adalah orang yang akan memakai jasamu. Oh ayolah, aku sudah membayarmu secara full melalui perantara Andara."


Dengan cepat Nafisah meraih vas bunga yang ada di sampingnya kemudian melemparkan ke arah pria paruh baya didepan matanya. Pria tersebut terkejut dan sempat menghindar. Merasa kesal, ia melepaskan ikat pinggang yang terpasang di celana jeansnya, bersiap untuk mengikat Nafisah atau mungkin menyakiti wanita itu.


"Kamu berani melawan saya, HAH?! saya-"


Pintu kembali terbuka lagi. Seorang wanita paruh baya masuk dengan raut wajah marah.


"Jadi ini yang Papi lakukan selama ini?"


Pria paruh baya tersebut terkejut. Ia tidak menyangka kalau istrinya itu membuntutinya. Sudah bisa di pastikan, semua rencananya malam ini akan gagal.


"Mami.. mami tahu dari mana? Papi-"


"Nggak perlu banyak alasan! Sudah Mami duga kalau selama ini Papi mengkhianati Mami! Apakah Papi tidak kasihan dengan nasib anak-anak dirumah? Bagaimana jika Irsyad mengetahui kalau Papinya berselingkuh?!"


"Maaf," sela Nafisah tiba-tiba dengan buliran air mata. "Saya tidak mengenali suami anda. Saya-"


"Memangnya ada pelakor yang mau mengaku, HAH?!" Dengan cepat Ibu paruh baya tadi mendekati Nafisah.


Plak! Satu tamparan keras mengenai pipi Nafisah. Nafisah merasa pipinya nyeri bahkan memerah.


"Demi Allah, saya tidak mengenali suami anda!"


"Nggak perlu sok suci kamu, ya! Bawa-bawa nama Allah. Dasar pelacur! Apakah kamu kekurangan uang selama ini sampai-sampai mendekati suami saya?! Masih banyak pekerjaan yang halal untuk anak gadis sepertimu!"


Dengan amarah yang sudah meledak-ledak, wanita itu melemparkan uang beberapa lembar ratusan ribu kearah Nafisah.


"Ambil uang saya! Tapi jangan ambil suami saya! Dasar wanita kotor!"


Nafisah bergidik ketakutan. Hatinya sakit di hina seperti itu. Wajahnya sudah memerah oleh tangis air mata. Sudah jatuh, ketimpa tangga, itu lah yang Nafisah alami saat ini.


"Mami mau, saat ini kita cerai! Mami akan ajukan gugatan di pengadilan besok pagi, dan jangan harap anak-anak bisa tinggal bersama seorang Ayah yang pengkhianat. Sekalipun Irsyad sendiri!" bentak wanita itu, kemudian pergi meninggalkan suaminya. Ia sudah tidak sudi lagi bersama suaminya yang tega mengkhianatinya berkali-kali dengan wanita yang berbeda.


****

Jakarta, pukul 20.30 malam.


"Mama, ada apa? Kok Mama terlihat sedih?"


Nafisah menoleh ke arah Diyah yang tiba-tiba datang menghampirinya di dapur, buru-buru Nafisah menghapus air mata di pipinya.


"Sedih? Mama nggak lagi sedih kok."


"Tapi mata Mama, bengkak. Mama sakit mata?"


"Cuma kelilipan. Mama juga habis membuat sambel masak. Jadi, bawaannya pengen ngeluarin air mata."


Diyah menatap Mamanya dengan seksama. Namun ia tetaplah anak kecil yang belum bisa berpikir secara luas, tentang adanya kebohongannya atau tidak.


"Sayang, ayo kita makan." tegur Nafisah lagi, ia membawa sepiring lauk menuju meja makan.


"Tapi tunggu Papa, kan?"


Seketika Nafisah terdiam. Sudah seminggu berlalu, namun Danish selalu saja memiliki banyak alasan untuk kesibukkan diluar sana semata-mata hanya untuk menghindarinya. Apalagi untuk makan malam bersama.


"Sayang, Papa kan, lagi sibuk? Bagaimana kalau kita makan duluan?"


"Masa Papa sibuk terus? Kan, Papa nggak kerja jadi peliput berita koran lagi. Ini sudah malam, Ma, bukankah Papa pulang kerja paling lambat sore?"


Ting! Bunyi bel apartemen berbunyi, belum sempat Nafisah menjawab pertanyaan Diyah, gadis kecil itu sudah berlari menuju ruang tamu.


"Itu pasti Papa!"


"Diyah, sayang, tapi-"


"Assalamualaikum, Papa?!"


"Wa'alaikumussalam, sayang."


Danish berjongkok untuk menyambut pelukan hangat dari putrinya. Setelah rutinitas dan aktivitas diluar apartemen, rasa lelahnya pun sirna ketika melihat Diyah.


"Papa, Diyah lapar. Ayo kita makan."


"Papa juga lapar, ayo kita-"


Ucapan Danish terhenti. Ia menatap Nafisah berapa didepan matanya yang masih memakai celemek di tubuhnya. Tanpa menunggu waktu, Nafisah mendekatinya.


"Assalamualaikum, Mas."


"Wa'alaikumussalam."


Saat itu juga, raut wajah Danish berubah menjadi muram. Bahkan dengan terpaksa menyerahkan jaket miliknya kearah Nafisah. Ia sadar, saat ini ada Diyah, ia tidak ingin masalah yang sedang terjadi di ketahui oleh putrinya yang masih anak-anak.


Danish tak banyak berkata, ia pun segera berlalu menuju dapur dan tak lupa menurunkan Diyah untuk mencuci tangan di westafel. Setelah itu, Danish memilih duduk di sebelah Diyah, enggan duduk di sebelah Nafisah.


"Ayo kita baca doa, dulu." ajak Nafisah dengan raut wajah senyuman ramah, meskipun kedua matanya yang sembab masih terlihat jelas.


Diyah pun langsung memimpin doa sebelum makan. Setelah itu, dengan lahapnya, ia memakan menu makan malamnya tanpa menyadari situasi yang sedang terjadi meskipun tetap bercerita banyak hal tentang sekolah barunya di Taman Kanak-kanak.


"Mama, Diyah sudah selesai makan. Apalah Diyah boleh menonton televisi sebentar sebelum tidur?"


"Tentu." Nafisah tersenyum tipis. "Tapi setelah itu, jangan lupa sikat gigi sebelum tidur."


"Siap, laksanakan Mama cantik!"


Diyah pun pergi berlalu menuju ruang tamu. Jam masih menunjukkan pukul 20.30 malam. Suasana yang tadinya tenang karena adanya Diyah, kini bagaikan hening seperti perang dingin. Nafisah memperhatikan Danish, ia pun memberanikan diri pindah duduk disamping suamiku.


"Mas-"


Namun siapa sangka, Danish malah berdiri. Pria itu bungkam seribu bahasa, enggan didekati oleh Nafisah. Lagi-lagi air mata menetes di pipi Nafisah.


"Apakah, Mas jijik kepadaku?" tanya Nafisah tiba-tiba.


Danish menghentikan langkahnya tanpa menoleh kebelakang. Raut wajahnya tetap datar seperti hari-hari sebelumnya setelah mengetahui kenyataan pahit waktu itu.


"Hanya tidak menyangka, wanita sepertimu memiliki masalalu yang buruk dan-" 

Danish terdiam, tidak sanggup mengatakan bahwa Nafisah adalah wanita rendahan.

"Dan apa?"


"Tidak apa. Aku mau tidur."


"Ada yang ingin aku katakan. Sebentar saja."


Danish terdiam, tiba-tiba tanpa diduga Nafisah memeluknya dari belakang sangat erat. Seperti takut kehilangan.


"Aku lelah. Tolong lepaskan aku." Danish berusaha melepaskan diri, namun Nafisah menolak.


"Hanya sebentar."


"Lepas-"


"Aku jatuh cinta padamu." lirih Nafisah pelan. "Aku mencintaimu, Mas Danish."



****


Alhamdulillah sudah up ya. Nggak kerasa chapter 30 meskipun dalam tahap slow hehe 😁

Tetap sabar ikutin alur kedepannya meskipun membuat hati teririsπŸ™

Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu yaπŸ€—

With Love πŸ’‹ LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii


___


Next Chapter 31. Langsung aja klik link dibawah ini :


https://www.liarezavahlefi.com/2020/12/chapter-31-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html

 

5 komentar:

  1. Ya Allah kasihan nafisah... 😭😭😭 jadi irsyad anak om2 yg mau perkosa nafisah...

    BalasHapus
  2. Iya mbak, kan yg bejat bapaknya irsyad, tapi irsyad mikir nafisah yg jahat

    BalasHapus
  3. Author lia, nanti kasih karma ke andara yak wkwk

    BalasHapus
  4. Kesel sendiri m andara kasih karma dia tuh,apalgi maen2 dengan kehormatan salah danisha apa sih ma dia sampai2 dia segituy....

    BalasHapus