Chapter 31 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 11 Desember 2020

Chapter 31 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz

 



"Assalamualaikum, Mi?"


"Wa'alaikumussalam, Irsyad? Tumben kamu pulang cepat. Pekerjaanmu sudah selesai?"


"Hm, Alhamdulillah sudah. Apakah Mami sibuk?"


"Tidak juga. Apakah ada hal penting yang ingin kamu bicarakan, nak?"


"Ada. Ini..." Irsyad terlihat salah tingkah. Ia sedikit menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Ini soal, wanita."


"Calon istrimu, ya?"


Irsyad pun tersenyum kecil. Tidak bisa di pungkiri ia terlihat malu sampai-sampai Mami Irsyad tertawa.


"Perasaan, kemarin kamu kecil banget. Sekarang, nggak kerasa sudah dewasa. Bahkan, sudah punya calon. Waktu memang begitu cepat berlalu. Kalau begitu, siapa calon menantu Mami? Mami penasaran. Sepertinya kamu benar-benar terlihat jatuh cinta."


"Aku, ingin mengajaknya kemari. Tapi aku malu. Dan.." Irsyad mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. "Aku bisa melihatkan fotonya pada Mami. Kebetulan aku berteman dengannya di sosial media."


"Benarkah? Sini Mami mau lihat. Lagian, kenapa harus malu? Kamu itu pria dewasa, harus berani bawa dia kemari apalagi untuk mengajak ke jenjang serius dan memperkenalkannya pada keluarga kita."


"Belum lihat fotonya, Mami seantusias itu." Irsyad pun duduk kemudian merangkul lengan Maminya. "Rencananya Minggu depan Irsyad mau kerumahnya sekalian bersama Mami dan keluarga kita yang lain."


"Maksud kamu lamaran? Hm, Mami sih setuju saja. Bukankah lebih cepat lebih baik?"


Lagi-lagi Irsyad tersenyum lebar. Ntah kenapa saat ini ia sedang kasmaran dengan calon istrinya itu. Irsyad segera membuka akun sosial media miliknya kemudian memperlihatkan foto calon istrinya pada Maminya.


Seulas senyum yang sejak tadi terlihat, perlahan memudar di bibir Mami Irsyad. Tanpa diduga Ibu paruh baya itu berdiri dengan pandangan datar. Irsyad sampai di buat heran.


"Em, Mam, apakah semuanya baik-baik saja?"


Mami Irsyad belum menjawab. Ia bersedekap. Kedua matanya berkaca-kaca. Irsyad merasa penasaran dan segera berdiri mendekati Maminya.


"Mami.."


"Lupakan saja niatmu yang ingin melamarnya apalagi menikahinya."


"Tapi, Mam-"


"Dia wanita yang menjadi penyebab kehancuran rumah tangga Mami dan Papi."


Irsyad terbungkam. Merasa percaya dan tidak percaya. Pikirannya mendadak bingung sekaligus syok. Nafisah, wanita yang ia sukai itu, apakah benar-benar sudah menghancurkan keutuhan keluarga tercintanya?


"Mami.. Mami nggak sedang bercanda, kan?"


"Apakah air mata Mata Mami ini bisa di anggap bercanda?"


Detik berikutnya, Irsyad terdiam seribu bahasa. Tanpa banyak bicara lagi, ia langsung memeluk Maminya yang menangis terisak. Luka lama itu, kembali hadir dan teringat di benak sang Mami.


"Sudah sekian lama, Mami menutup aib ini. Penyebab perceraian Papi dan Mami memang sengaja Mami rahasiakan agar putra Mami tidak sibuk mencari tahu penyebabnya. Sudah cukup, dengan masalah itu, tidak sampai melibatkan putra Mami."


"Jika Mami menceritakan semuanya, tentu saja aku tidak akan tinggal diam. Tapi apa  mau dikata, ketika takdir sudah membuat Papi meninggal dunia setahun yang lalu."


"Papimu memang telah tiada, tapi luka itu tidak akan pernah hilang sampai kapanpun." sela Mami Irsyad lagi.


Irsyad mengusap pelan punggung Maminya. "Bagaimana wanita itu bisa merusak hubungan Mami dan Papi?"


Mami Irsyad tak langsung menjawab. Ibu paruh baya itu hanya terisak dan terlihat lemah. Tanpa menunggu waktu, Irsyad segera mengajak Maminya untuk beristirahat di kamar.


"Setelah Mami mendingan, tolong ceritakan semuanya. Sudah cukup Mami menyimpan luka lama itu sendirian."


"Mami akan bercerita, setelah kondisi Mami membaik. Tiba-tiba kepala Mami pusing."


Irsyad pun menyelimuti tubuh Maminya sebatas perut. "Mami harus istirahat, kalau butuh sesuatu, Irsyad ada diluar."


"Terima kasih, sayang. Kamu memang putra Mami yang baik. Pria sebaik kamu, sampai kapanpun, Mami nggak akan setuju kalau kamu menikahi wanita itu. Berjanjilah sama Mami untuk membatalkan niatmu melamarnya. Secantik apapun dia, kalau dia wanita yang tidak baik, tetap saja Mami tidak merestuinya. Masih banyak wanita diluar sana yang lebih baik dari dia. Sungguh, wanita malam itu sudah menyakiti hati Mami."


Dengan lemah dan sedikit bergetar, Mami Irsyad mencoba mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Irsyad. Irsyad pun akhirnya menggenggam punggung tangan Maminya dengan perasaan tidak menentu. Antara sedih dengan kenyataan bahwa ia tidak jadi menikahi Nafisah sekaligus syok, bahwa Nafisah pernah hadir menjadi orang ketiga diantara Mami dan Papinya.


****


"Aku, di jebak sama teman kelasku. Apakah penjelasan itu tidak cukup?"


"Jika saja semua kejahatan di akui, penjara pasti penuh."


"Jadi Mas tidak percaya dengan ucapanku?"


Danish terdiam. Pikirannya menerawang kemana-mana. Perselisihan yang terjadi satu jam yang lalu membuatnya tidak bisa tidur.


Danish menoleh kebelakang, tempat tidur masih kosong. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dinihari. Hawa semilir angin malam berhembus dan begitu terasa di pori-pori kulitnya yang saat ini sedang berdiri di balkon apartemen. Nafisah mungkin masih menyendiri di ruang tamu.


Danish menatap ponselnya. Sebuah pesan chat WhatsApp yang masuk pada pukul 19.00 malam tadi berasal dari Randi. Sebuah pesan singkat yang hanya berisi kabar bahwa pria itu baik-baik saja.


Sekelebat rasa bingung, dilema, bahkan rasa penasaran yang mengguncang membuat Danish akhirnya membalas isi chat tersebut.


Danish : Ah iya, soal hotel yang ada di kota Bontang. Bukankah kamu pernah kesana? √√


Pesan terkirim, sebuah centang dua terlihat jelas. Tapi siapa sangka, beberapa menit kemudian pesan tersebut terbalaskan. Menandakan bahwa Randi belum tidur.


Randi : "Ya, aku pernah kesana. Memangnya kenapa?" √√


Danish segera mengetik..


Danish : "Rencana aku ingin liburan kesana. Bersama keluarga. Apakah disana banyak destinasi wisata? Aku ingin membawa orang-orang tercintaku kesana dalam momen liburan akhir tahun. Barang kali, kamu pernah kesana dengan orang spesial sehingga bisa menjadi rekomendasi buatku." √√


Danish berusaha memancing Randi agar berterus terang.


Randi : "Ah begitu. Disana banyak tempat wisata. Tentu saja aku pernah kesana dengan orang spesial, tepatnya pada malam hari. Kebetulan aku menjalin kasih dengannya. Dia benar-benar wanitaku yang tidak pernah aku lupakan hingga sekarang."


Tanpa sadar, Danish menjatuhkan sendiri ponselnya setelah membaca isi pesan chat tersebut. Tentu saja ia marah, kata-kata tidak pernah aku lupakan hingga sekarang secara tidak langsung membuat hatinya panas.


Namun tidak untuk Randi sendiri. Disisi lain, ia tersenyum licik. Di sebelahnya ada seorang pria yang menjadi tangan kanannya dan berpakaian serba hitam.


"Kerja yang bagus, Rey." ucap Randi pelan. "Kamu boleh pergi."


Rey pun pergi setelah mengangguk. Kepergian Rey barusan, membuat Randi tertawa puas.


"Kamu pikir aku bodoh Tuan Danish terhormat? Ah, aku tidak menyangka, wanita malamku di masalalu itu ternyata istrimu selama ini."


"Dan aku tidak akan pernah berhenti untuk meraihmu kembali, Nafisah."


*****


Alhamdulillah sudah up ya.  🙂


Randi benar-benar terniat mau jadi pembinor 😣

Perebut bini orang 😐


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca.. sehat selalu yaa.. 💋


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii


___


Next, chapter 32. Langsung aja klik link dibawah ini


https://www.liarezavahlefi.com/2020/12/chapter-32-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html


1 komentar:

  1. Sekalipun rumah tangga nafisya rusak jangan mau sama laki macam randi...

    BalasHapus