Chapter 32 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 21 Desember 2020

Chapter 32 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz



Jakarta, Seminggu Kemudian..


Nafisah mengusap air mata di pipinya. Sudah banyak air mata yang mengalir di pipinya selama semingguan ini. Tidak ada satupun keluarga yang mengetahuinya, terkecuali Allah, ia dan Danish.


Permasalahan di masalalu itu, adalah aib yang kini terkuak. Dan Danish, pria itu ternyata tidak menerima kenyataan tersebut.


"Aku, harus kuat." ucap Nafisah dengan sendirinya. Ia pun segera membasuh wajahnya di air westafel kemudian meraih handuk kecil yang bersih.


Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Hari ini adalah hari Minggu. Hari libur untuk sekolah Diyah sekaligus hari off bekerja untuk Danish.


"Aku harus masak. Mungkin masakan kesukaan Mas Danish. Aku nggak akan menyerah untuk kembali meraih hatinya."


Nafisah segera menuju ke dapur. Ia mulai sibuk memasak masakan kesukaan Danish. Masakan kesukaan Danish adalah oseng-oseng mandai goreng. Mandai goreng adalah salah satu menu masakan tradisional yang berasal dari Kalimantan. Lebih tepatnya masakan khas suku banjar. Mandai berasal dari kulit cempedak yang di goreng. Meskipun Danish berasal dari suku Kutai, namun masakan Mandai adalah salah satu masakan favoritnya.


Butuh waktu kurang lebih 15 menit akhirnya Nafisah sudah selesai dalam membuat oseng Mandai goreng. Ia pun menyajikannya ke piring dan segera meletakkannya di atas meja makan.


"Saatnya membangunkan Mas Danish." Dengan hati yang tidak tenang karena takut, namun ekspresi wajah yang tetap tersenyum lebar, Nafisah menuju kamar. Sesampainya disana, ia menarik napas sejenak dan menghembuskan secara perlahan. Nafisah duduk di pinggir tempat tidur.


"Mas?" panggil Nafisah pelan, tepat di samping tubuh Danish.


"Mas, em, sarapan sudah siap."


Danish tak merespon. Tapi beberapa detik kemudian, Danish malah menggenggam tangannya dan membawanya ke arah pipi kanan. Seketika jantung Nafisah berdebar sangat kencang. Seulas senyuman kecil terukir di bibirnya..


"Mas, ayo bangun-"


"Alina, aku merindukanmu."


Detik berikutnya, senyuman di bibir Nafisah memudar. Hanya kesedihan dan rasa cemburu yang ia rasakan. Ia tidak menyangka kalau Danish akan meracau dengan menyebut nama Alina.


Dengan perlahan, Nafisah menarik tangannya dari genggaman tangan Danish. Ia memilih pergi dari sana, membawa rasa kesedihan yang ia alami dengan sendirinya.


****

Seorang wanita memasuki lift dan segera menuju ke lantai atas tempat dimana yang akan ia tuju. Dia adalah Ela, seorang wanita muda berusia 22 tahun yang berasal dari kota Balikpapan.


Pintu lift sudah tiba di lantai 5. Ela pun segera keluar dan berjalan ke arah pintu nomor 8. Sesampainya disana, ia menarik napas sejenak lalu menghembuskannya secara perlahan kemudian memencet bel apartemen.


Pintu apartemen terbuka, Danish terkejut dengan kedatangan Ela. Seketika raut wajahnya berubah datar.


"Assalamualaikum, Mas, Danish?"


"Wa'alaikumussalam. Ada apa kemari?"


"Maaf menganggu." Ela meneguk ludahnya. 


"Em, aku kemari hanya ingin meminta maaf soal kejadian waktu itu."


"Lalu?"


"Aku tahu aku salah. Aku sudah hampir membuat Diyah nyaris kehilangan nyawa. Saat itu, aku terlalu takut dan-"


"Ya, aku memaafkanmu. Kamu boleh pergi dari sini."


Detik berikutnya, Tanpa banyak kata Danish langsung menutup pintunya. Ia sudah enggan bertatap wajah lagi dengan Ela. Jangankan hal itu, menanyakan lebih lanjut darimana wanita itu tahu tempat tinggalnya saja, rasanya tidak sudi lagi.


"Siapa Mas?"


Danish menoleh ke belakang setelah menutup pintunya. Nafisah berdiri dengan rasa penasaran.


"Bukan siapa-siapa."


"Nggak disuruh masuk?"


Danish menatap Nafisah dengan tatapan tidak suka. Secepat itu, Nafisah langsung sadar dan menundukkan wajahnya.


"Maaf."


Danish pun segera pergi berlalu. Namun kepergiannya tertunda saat Nafisah memegang lengannya.


"Apa lagi?" tanya Danish ketus.


"Apakah Mas masih marah denganku?"


"Mau marah atau tidak. Rasanya percuma saja."


"Kalau begitu, kenapa Mas menghindariku akhir-akhir ini?"


Danish tak menjawab, ia hanya terfokus pada wajah Nafisah yang tiba-tiba pucat bahkan berpeluh. Ia merasa kalau Nafisah sedang tidak baik-baik saja.


"Lebih baik kamu istirahat."


"Tapi-"


Danish pun pergi. Nafisah hendak mengejar, namun kepalanya tiba-tiba terasa pusing. Tak hanya itu, sesuatu yang hangat tiba-tiba mengalir dari lubang hidungnya. Nafisah terkejut, kenapa tiba-tiba ia mimisan? Disaat yang sama, ia juga ingat kalau beberapa menit yang lalu ia membuat cemilan brownies.


Dengan cepat Nafisah segera ke westafel, ia membersihkan hidungnya, memastikan darah mimisan tidak keluar lagi. Setelah semua beres, ia pun mendatangi Danish dengan membawa sepiring brownies.


"Mas?"


"Aku sibuk." Danish terlihat sibuk didepan laptopnya.


"Aku, membuatkan Mas Brownies. Ini.."


"Aku sedang tidak ingin memakan kue brownies. Kamu simpan saja buat Diyah di kulkas."


Ntah kenapa, Nafisah merasa hatinya terluka. Namun ia sadar, ia sudah salah di masalalu. Mungkin ini hanya masalah waktu karena Danish belum bisa menerima kenyataan aib nya..


Rasa pusing kembali mendera. Dengan menguatkan diri, Nafisah berjalan ke arah Danish dan duduk di sampingnya.


"Mas, maafkan aku. Aku janji, hanya beberapa menit."


Danish ingin menyela, namun siapa sangka, Nafisah sudah berbaring di pahanya. Danish ingin protes, namun Nafisah mencegahnya dengan menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.


"Iya, aku tahu, Mas akan protes." Nafisah tersenyum sendu. "Aku janji, hanya sebentar."


Danish terdiam. Detik berikutnya, Nafisah memejamkan matanya secara perlahan. Tak hanya itu, ia juga meraih tangan Danish untuk ia genggam di atas perutnya.


"Izinkan aku, berada didekatmu. Walau hanya beberapa menit. Karena kita tidak pernah tahu, kapan akan pergi untuk selama-lamanya." ucap Nafisah dalam hati..


****

Alhamdulillah sudah up ya. Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca ๐Ÿ–ค

Tetap stay dengan cerita ini dan part selanjutnya.. ๐Ÿ˜˜

With Love ๐Ÿ’‹ LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

___

Next Chapter 33. Langsung aja klik link dibawah ini : 





 

6 komentar: