Chapter 33 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Selasa, 29 Desember 2020

Chapter 33 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz


D'media Corp. Pukul 06:30 pagi. Jakarta


 Tempat tinggal baru dan tempat kerja baru tentu saja menjadi suasana yang baru untuk Ela. Jam menunjukkan pukul 06.30 pagi. Hari ini sudah menjadi hari kedua bagi Ela untuk bekerja sebagai wardrobe officer. Salah satu profesi yang sedang di lakukan Ela untuk bertanggung jawab dalam pemilihan kostum yang di pakai dalam sebuah acara. 


Ela pun memutuskan ke toilet terlebih dahulu sebelum tiba pada ruangannya sendiri di lantai atas.


"Berhenti mengganggu saya atau saya akan berteriak."


"Berteriak? Ck, silahkan saja. Mau bagaimanapun, masalalu tidak akan pernah terulang lagi, Nafisah."


"Apa maumu?!"


"Kembalilah padaku. Kamu milikku Nafisah. Apakah kamu lupa, aku adalah seorang pria yang sudah menyentuhmu dan mengambil kehormatanmu?"


Seketika Ela menghentikan langkahnya sebelum benar-benar memasuki toilet. Ela terdiam, ia ingin pergi dari sana. Namun ntah kenapa langkah kakinya seolah-olah menahannya untuk tidak pergi dari sana.


"Suara siapa itu?" ucap Ela dalam hati.


Ingin rasanya Ela mengintip, tapi ia terlalu takut. Tiba-tiba ponselnya terasa bergetar dari dalam tas. Tanpa menunda waktu, akhirnya Ela pergi dari sana dan memilih untuk menerima panggilan tersebut.


Setelah kurang lebih 1 menit Ela berkomunikasi, panggilan tersebut berakhir. Seketika ia teringat seseorang yang ada di toilet tadi. Dengan cepat Ela kembali kesana, bertepatan saat seorang pria tampan yang baru saja keluar dari koridor toilet. Dalam beberapa detik, Ela memperhatikan wajah pria itu ketika berpapasan. Ela memasuki toilet, ia melihat seorang wanita berdiri didepan wastafel sambil membasuh wajahnya. Tangannya terlihat bergetar kecil bahkan wajahnya pun sembab.


"Bukankah itu Mbak Nafisah? Istrinya Mas Danish yang baru?" ucap Ela lagi dalam hati.


Tiba-tiba Nafisah menoleh ke arahnya. Ia pun hanya tersenyum ramah meskipun terlihat terpaksa. Setelah itu, dengan canggung Nafisah pergi begitu saja berlalu. Setelah kepergian Nafisah, Ela mengerutkan dahinya.


"Apakah tadi aku tidak salah dengar? Berarti Mbak Nafisah-"


"Kamu kenapa, La?"


Seorang wanita masuk. Ela mengenalinya. Dia adalah teman barunya di perusahaan D'media Corp. Ela pun hanya tersenyum.


"Em, nggak apa-apa."


"Jangan ngomong sendiri di toilet. Nanti kalau ada hantu yang nyahut gimana?"


"Ih, apa'an sih? Ngaco. Udah ah, bagaimana kalau kita order kopi di Abang ojol? Sesuai janjiku, hari ini kamu kutraktir!"


"Ah iya, hampir saja aku lupa."


Ela pun bernapas lega. Setidaknya ia sudah mengalihkan perhatian temannya itu. Berbeda dengan Nafisah sendiri yang kini berada di lift. Sedari tadi ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Aku merasa familiar dengan wanita di toilet tadi. Dia siapa ya? Seperti pernah ketemu."


Ting! Pintu lift terbuka. Nafisah segera melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Danish berada. Kali ini suaminya itu sedang berada di ruang make up. Seorang pria yang bertugas menyisir rambut Danish sebelum on air berita pagi pun, menoleh ke arah pintu.


"Bang, ada istrinya tuh datang."


Danish menoleh kearah pintu. Ia terlihat tak berminat menanggapi Nafisah. Namun demi menjaga etika, maka Danish pun bersikap seolah tidak terjadi apapun.


"Bagaimana rambutku? Apakah sudah selesai?"


"Sudah. Oke, saya tinggal dulu ya."


"Iya, terima kasih,"


"Sama-sama Mas Danish."


Pria tersebut pergi berlalu. Setelah kepergiannya, Nafisah pun akhirnya mendekati Danish sambil membawa tas canvas berisi kotak wadah makanan.


"Assalamualaikum, Mas?"


"Wa'alaikumussalam."


Danish terlihat sok sibuk. Ia pun memilih memegang ponselnya. Nafisah memperhatikan Danish yang terlihat tampan. Stelan formal dengan jas hitam pun sudah terpasang sempurna di tubuh Danish.


"Masya Allah, Mas sangat tampan."


Danish tetap diam. Meskipun hati Nafisah sakit, Nafisah tetap berupaya untuk sabar.

"Em, Mas, ini aku bawakan sarapan buat Mas."


"Aku tidak lapar."


"Bukankah tadi Mas nggak sarapan? Aku tahu Mas menghindariku, tapi setidaknya-"


"Aku sudah kenyang. Jadi simpan saja sarapannya." potong Danish cepat. Tiba-tiba ia pun berdiri dan berlalu menuju pintu luar. Nafisah terdiam. Ia mencoba menahan kekesalan sekaligus air mata yang sebentar lagi akan jatuh di pipinya. Di abaikan seperti ini memang menyakitkan.


"Mas sebentar.."


"Aku buru-buru, sebentar lagi on air-"


Ucapan Danish tertunda begitu Nafisah berdiri didepannya. Dengan senyuman tipis, Nafisah membenarkan dasi suaminya.


"Dasinya berantakan. Aku harus merapikannya."


Danish terdiam. Ia enggan menatap Nafisah. Tanpa diduga Nafisah mengalungkan kedua lengannya pada leher Danish.


"Apa yang kamu lakukan?" ketus Danish dingin.


"Mas..."


"Aku buru-buru."


"Hanya 60 detik. Aku janji."


Danish menghela napasnya. Akhirnya ia pun pasrah. Selagi detik berjalan, Nafisah menatap lekat wajah suaminya yang ia cintai setelah sah.


"Aku tahu, mungkin Mas merasa jijik padaku. Atau, belum bisa menerima kenyataan masalaluku. Maafkan aku, aku memang memiliki banyak kekurangan."


Nafisah pun beralih memeluk Danish. "Peluk aku, walaupun hanya tinggal beberapa detik lagi."


Wajah Danish terlihat datar. Ia pun hanya diam sambil memeluk Nafisah. Nafisah pun merasa bahagia, ia tersenyum, bahkan merasa nyaman hanya untuk mencium aroma wewangian parfum yang di gunakan Danish pada tubuhnya. Sampai akhirnya, 60 detik pun tiba.


"Sudah 60 detik, kan?"


"Iya sudah." Dengan berat hati, akhirnya Nafisah pun melepaskan pelukannya pada Danish.


"Aku akan meminta pelukan ini setiap hari selama 60 detik."


"Terserah.."


"Tidak masalah walaupun sebentar. Daripada tidak sama sekali? Aku mengerti bagaimana Mas tidak sudi berada didekatku."


Danish tak menjawab lagi, ia hanya pergi berlalu. Setelah kepergiannya, Nafisah menoleh ke belakang. Air mata pun akhirnya mengalir di pipinya. Seketika ia teringat secarik kertas yang berisi hasil pemeriksaan kondisinya beberapa hari yang lalu.


"Sudah stadium 3. Ku harap, sebelum aku pergi, Mas bisa menerimaku."


****

Stadium 3? Ku harap kalian yg baca, kuat ya, sampai chapter-chapter berikutnya.. 🙁

Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu ya.. ♥️

With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii


___


Next chapter 34,  langsung klik link dibawah ini :


https://www.liarezavahlefi.com/2021/01/chaper-34-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html

4 komentar:

  1. gak sabar nunggu kelanjutannya 😭

    BalasHapus
  2. Hiks😭😭😭kok jadi sedih gini kasihan nafisha

    BalasHapus
  3. Emg nafisah sakit apa yaaa??
    Ga sabar nunggu kelanjutaltannya

    BalasHapus
  4. Chapter selanjutnya mana ukh??

    BalasHapus