Chaper 34 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Sabtu, 02 Januari 2021

Chaper 34 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz

 


Jakarta, pukul 14.00 siang


Ela terdiam, memikirkan kejadian tadi pagi dengan rasa penasaran. Padahal tentang Danish dan Nafisah, bukanlah urusannya. Tapi ntah kenapa, hatinya tertuntun untuk mencari tahu lebih dalam.


Nafisah datang sambil membawa nampan berisi 2 teh cangkir untuknya dan untuk Ela yang baru saja bertamu beberapa menit yang lalu.


"Terima kasih, Mbak Nafisah. Sebenarnya Mbak nggak perlu repot-repot."


"Nggak masalah, Mbak. Cuma teh saja kok." senyum Nafisah ramah. "Oh iya, jadi, Mbak dulunya tetangga Mas Danish, ya, di Balikpapan?"


Ela mengangguk. "Hm, iya Mbak. Malahan saya dulu sering bermain dengan Diyah."


"Ah begitu. Kalau boleh tahu, ada perlu apa ya, Mbak kemari? Mau bertemu dengan Mas Danish?"


"Bukan, cuma pengen ketemu Diyah. Lama banget nggak lihat dia."


"Diyah lagi tidur siang. Sebentar, saya ke kamar dulu ya, siapa tahu dia sudah bangun."


Ela hanya mengangguk. Nafisah pun akhirnya pergi ke kamar Diyah. Selagi menunggu, Ela memperhatikan suasana apartemen pasangan Danish dan Nafisah yang terlihat minimalis. Bagi Ela, selera Nafisah dalam menata ruangan juga sangat bagus dan rapi dengan bertemakan vintage apalagi di beberapa bagian sudut tertentu terdapat pajangan hiasan dinding berbahan rotan dan bunga hias berukuran sedang jenis tanaman kaktus.


Tanpa sengaja, Ela menatap sebuah botol kecil berwarna putih di meja sudut ruangan. Ela menyipitkan kedua matanya, ia membantin kalau tidak salah lihat, benda tersebut adalah obat. Merasa penasaran, Ela mendekatinya.


"Ela?"


Ela tersentak, ia menoleh ke belakang ketika Danish datang di saat yang tidak tepat dan tiba-tiba memanggilnya. Ela meneguk ludahnya dengan gugup sembari memperhatikan Danish yang sepertinya baru pulang dari suatu tempat, tak hanya itu, ada sedikit luka lebam di punggung tangan Danish.


"M.. Mas Danish?"


"Ada perlu apa kemari?" tanya Danish langsung tanpa basa-basi.


"Em, saya-"


"Mas?"


Danish menoleh ke arah Nafisah yang tiba-tiba datang sambil menggandeng Diyah yang baru saja bangun dari tidur siang. Sadar dengan posisinya, Ela pun segera berpindah tempat dan sedikit memberi jarak untuk Nafisah.


"Assalamualaikum, Mas?"


"Wa'alaikumussalam."


"Habis dari mana? Sejak tadi aku menghubungi Mas."


Ela tidak mendengar jawaban dari Danish. Tanpa sengaja matanya terfokus menatap tangan kiri Nafisah yang tiba-tiba beralih ke bagian belakangnya.


"Aku ke kamar dulu." ucap Danish pelan tanpa menunggu respon selanjutnya dari Nafisah.


Ela menatap kepergian Danish yang sepertinya sangat enggan berkomunikasi dengannya. Ela sadar akan hal itu, ia pun segera beralih menatap Diyah.


"Hai, sayang, Assalamualaikum?"


"Wa'alaikumussalam. Tante Ela? Apa kabar? Kok Tante ada di sini? Kan rumah Tante jauh, dekat rumah Nenek nya Diyah."


Ela tersenyum tipis. Merasa bersyukur kalau ternyata Diyah tidak membencinya akibat kejadian sebulan yang lalu. Di saat yang sama, ia juga merasa bersalah pernah membuat gadis itu kecelakaan bahkan nyaris kehilangan nyawanya.


"Alhamdulillah Tante sudah pindah disini. Tante kerja di kota ini, sayang. Lebih tepatnya satu kantor sama Ayah Diyah."


"Benarkah?"


"Hm, Iya,"


"Yey! Berarti kita bisa makan es cream lagi kayak dulu dong!" tanya Diyah antusias.


"Sayang disini dulu, ya, sama Tante Ela. Mama mau ke toilet dulu."


"Iya, Ma."


Nafisah beralih menatap Ela. "Mbak, saya tinggal sebentar ya."


"Silahkan Mbak Nafisah."


Nafisah pun pamit pergi menuju toilet. Setelah kepergiannya, Ela menatap ke arah meja yang ia lihat sebelumnya. Obat tersebut sudah tidak ada.


Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa setiap ia berusaha untuk tidak ikut campur urusan orang lain, tiba-tiba tanpa sengaja kejadian tak terduga terjadi begitu saja didepan matanya? Seperti teka-teki buatnya..


Apakah ini salah satu pertanda bahwa ia memang harus benar-benar mencari tahu?


****


"Kamu yakin, dengan cara itu berhasil?"


"Tentu saja. Aku yakin se yakin-yakinya."


"Tapi-"


"Ikuti saja rencanaku. Kalau dia menolak, maka foto istrinya itu yang akan bekerja."


"Hentikan saja niatmu, apakah kamu lupa kalau secara tidak langsung kamu akan mendapatkan dosa jariyah bila masih menyimpan foto tidak pantas itu?"


Randi tersenyum licik. Ia tidak menghiraukan ucapan teman yang menjadi orang kepercayaannya selama ini. Apapun yang ia inginkan, tidak ada seorangpun yang bisa mencegahnya.


Termasuk meraih Nafisah kembali. Nafisah miliknya, sekali miliknya, tetaplah miliknya.


****


Alhamdulillah aku kembali up. Maaf ya tadi malam ngaret dan akhirnya ketiduran hhe.


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca.
Tetap Stay dengan chapter selanjutnya bagaimana kelicikan Irsyad nantinya. Apakah berhasil?


Oh iya, sehat selalu buat kalian semua beserta keluarga ya.


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii


Next chapter 35. Langsung klik link dibawah ini

https://www.liarezavahlefi.com/2021/01/chapter-35-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html






10 komentar:

  1. Kok Irsyad kak ? Ini yg mau buat rencana jahat Irsyad apa Rendi kak ?

    BalasHapus
  2. Ini yg maksud jahat Irsyad apa Rendi kak?

    BalasHapus
  3. Aku juga bingung padahal yg mau ngerebut nafisa kan Rendi kenapa jadi Irsyad yah🤔🤔🤔

    BalasHapus
  4. Iya, Randi.. aduh typo wkwkwk. Nanti author revisi.

    BalasHapus
  5. Kok pendek bgtt thor ceritanya,bikin penasaran ajhaaa

    BalasHapus
  6. Irsyad kenapa licik gitu? Padahal awalnya dia ga mau sama nafisah-.-

    BalasHapus
  7. Next ka, kirakira kira kapan update chapter 35 ka??

    BalasHapus
  8. Kapan update Ka katanya mlm ini(d sg kka)

    BalasHapus