Chapter 35 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Kamis, 28 Januari 2021

Chapter 35 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz

 


Jakarta, pukul 20.00 malam


Diyah menatap Papanya didalam kamar. Danish terlihat sibuk dengan aktivitasnya. Aktivitasnya kali ini adalah berada didepan laptop. Diyah pun mendekati Papanya.


"Papa?"


"Hm?"


"Apakah Diyah boleh tanya sesuatu?"


Danish memutar kursinya yang memiliki roda dan menghadap ke belakang menatap putrinya.


"Memangnya Diyah mau tanya apa?"


"Kenapa Papa dan Mama jarang terlihat bersama?"


"Maksud Diyah?"


"Maksud Diyah, dulu, waktu Mama belum meninggal, Papa itu sering bersama Mama. Nonton film bareng, makan bareng, terus sering ngobrol. Kenapa sama Mama Nafisah tidak seperti Mama Alina? Apakah Papa tidak sayang sama Mama Nafisah?"


Seketika Danish terdiam. Terlalu banyak hal-hal yang tidak di sukai akhir-akhir ini terhadap Nafisah sampai akhirnya tanpa sengaja ia menjauhi istrinya. Tak hanya itu, Danish juga tidak menyangka kalau anak sekecil Diyah menyadarinya.


"Em, sayang.." Danish pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjongkok menyamakan posisinya dengan Diyah. "Maaf, akhir-akhir ini Papa sibuk."


"Tapi, Papa kan sudah nggak bekerja sebagai peliput berita koran harian lagi. Kok malah sibuk kayak dulu? Bagaimana kalau Mama sakit terus Papa nggak tahu? Atau jangan-jangan Papa nggak sayang sama Mama?"


"Papa.." tiba-tiba Danish terdiam, bingung hendak berucap seperti apa untuk mencari alasan yang tepat. Detik berikutnya, pintu terketuk pelan. Danish bernapas lega ketika Nafisah membuka pintunya dan berdiri disana. Setidaknya ia tidak melanjutkan ucapannya.


"Sayang, ayo makan malam sudah siap. Jangan sampai telat."


Diyah segera mengangguk dan berjalan menuju pintu. Pertanyaan yang ia lontarkan semuanya pada Papanya terabaikan begitu saja. Diyah sudah pergi menuju dapur, namun secepat itu Danish mencekal lengan Nafisah. Nafisah terdiam, ia menatap Danish tanpa berkedip dengan perasaan heran.


"Em, ada apa Mas?"


Bukannya menjawab, Danish menarik Nafisah ke dalam kamar. Danish memperhatikan arah belakang Nafisah, memastikan kalau Diyah tidak ada disekitar mereka.


"Apakah kamu berbicara sesuatu sama Diyah?" tanya Danish curiga.


Nafisah mengerutkan dahinya. "Maksud Mas?"


"Sebelum kamu kemari, Diyah bertanya padaku. Mengapa kita jarang terlihat bersama. Apakah kamu menceritakan apa yang terjadi diantara kita? Diyah masih anak-anak, apalagi-"


Nafisah membungkam ucapan Danish dengan menempelkan ujung jarinya pada bibir Danish. Ia menatap Danish dengan tenang.


"Aku tidak semudah itu menceritakan hal-hal yang pastinya belum di mengerti anak seusia Diyah. Sama seperti aib yang aku miliki di masalalu sampai akhirnya Mas mengetahui dengan sendirinya. Jadi, tidak ada yang perlu di khawatirkan."


Tanpa di duga, Danish memegang pergelangan tangan Nafisah, menjauhkan posisi tangannya agar menjauhi wajahnya. Danish menatap lekat Nafisah hingga membuat jantung Nafisah berdegup kencang.


"Benarkah?"


"I.. iya." ucap Nafisah terbata-bata. "Kejadian dimasa lalu, hanyalah aib yang harus aku tutupi dan lupakan. Lalu kenapa di masa sekarang, suamiku tidak menerima aku apa adanya?"


Bukannya menjawab, Danish malah mencium pipinya. Nafisah terkejut, merasa semua ini terlalu dadakan dan seperti mimpi. Kecupan di pipi yang barusan di lakukan oleh Danish membuat kakinya terasa lemas akibat grogi.


"Papa, Mama, ayo kita makan. Diyah nungguin dari tadi."


"Iya sayang," Danish tersenyum kearah Diyah. "Tadi Papa ngobrol sebentar sama Mama. Ternyata Mama merindukan Papa. Diyah tunggu di ruang makan. Kami akan kesana."


Diyah pun tersenyum ceria dan mengangguk, setelah itu ia kembali menuju dapur dengan perasaan riang setelah melihat kebersamaan Papa dan Mamanya.


"Kamu tahu Nafisah." bisik Danish pelan, tepat di samping telinga Nafisah setelah mencium pipinya. "Kalau kamu tidak menceritakan apapun pada Diyah, aku hanya tidak menyangka kalau anak sekecil dia bisa tahu kalau kita jarang bersama."


Nafisah meneguk ludahnya kesekian kalinya dengan gugup. "Jadi, apakah benar, Mas merindukanku?" tanya Nafisah ragu, meskipun hatinya penuh harap.


"Aku memang merindukan Mamanya Diyah. Tapi bukan dirimu. Tentu saja Mama nya yang bernama Alina."


Tidak ada yang bisa Nafisah ucapkan, selain memundurkan langkahnya kebelakang dengan perasaan sakit, namun, lagi-lagi Danish menahannya dengan melingkarkan lengannya pada seputaran pinggul Nafisah


"Dan aku melakukan semua kedekatan singkat ini hanya untuk Diyah, agar tidak melukai hatinya melihat kita jarang bersama."


"Tapi Mas melukai hatiku."


"Dan kamu mengecewakan diriku dengan wajah polosmu selama ini sehingga membuatku beranggapan bahwa kamu wanita baik-baik." timpal Danish dengan rasa tak peduli.


"Luka akan menimbulkan bekas, disini, tepatnya di hati." Nafisah meraih tangan Danish dan meletakkannya tepat di dadanya. "Luka itu akan terus ada, selama tidak di obati dengan saling memaafkan dan menerima. Tidakkah Mas ingin melakukannya?"


Danish hanya mampu terdiam. Dalam beberapa detik, Nafisah masih menatap Danish dengan seksama. Wajah yang ia rindukan. Wajah yang ia mulai cintai setelah menikah. Dan wajah yang tak ingin ia lupakan sampai kapanpun karena bagaimanapun, Danish adalah surganya.


"Atau, jangan sampai menunggu luka itu hilang selama-lamanya bersamaan dengan diriku. Aku tidak ingin Mas menyesal."


Detik berikutnya, Nafisah melepaskan diri dari rengkuhan Danish. Disaat yang sama, ntah kenapa genggaman tangan Nafisah terasa dingin dengan kulit yang tiba-tiba memucat?


****


Keesokan harinya, D'media Corp pukul 11.30 siang.


Ela mengerutkan dahinya. Dalam hati ia membatin, apakah hubungan Nafisah dan Danish baik-baik saja? Semoga saja iya. Apalagi saat ini ia melihat Nafisah sedang membawa godybag berisi sesuatu. Terlihat seperti kotak wadah makan siang.


"Antar makanan buat Mas Danish ya, Mbak?"


Nafisah menoleh ke samping. Lagi-lagi ia bertemu dengan Ela di perusahaan tempat Danish bekerja. Meskipun baru kenal, tetapi Ela adalah teman yang menyenangkan.


"Iya, nih." sahut Nafisah apa adanya.


"Setiap hari?"


Nafisah tersenyum tipis. "Em, tergantung sih. Lebih tepatnya inisiatif sendiri. Kan setelah on air, ada jam istirahat setelah sholat Zuhur. Jadi, aku terpikir buat antarin makan siang."


"Oh begitu." Ela manggut-manggut. "Ya bagus dong, Mbak. Biasanya, suami itu paling suka menu masakan dari istri."


Nafisah lagi-lagi hanya tersenyum. Ucapan Ela memang benar. Namun sayangnya, Danish malah sering menolaknya. Tiba-tiba rasa ingin ke toilet membuat Nafisah mempercepat langkahnya.


"Ela, aku duluan, ya. Tiba-tiba pengen ke toilet."


"Oke deh, mbak. Hati-hati ya."


Nafisah mengangguk dan segera berjalan menju arah yang berbeda. Setelah kepergian Nafisah, ntah kenapa perasaan Ela juga tidak enak. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi?


Perasaan semakin tidak tenang membuat Ela pada akhirnya mengalah. Ia pun memilih membalikan badannya menuju arah toilet.


"Astaghfirullah!"


Saat itu juga, Ela terkejut. Ia menemukan kotak wadah makanan yang keluar dari tempatnya, tas godybag juga nggak jauh dari wadah makanan tersebut tergeletak di lantai. Pikiran Ela sudah tidak-tidak sampai akhirnya, ia menemukan salah satu flatshoes milik seorang wanita yang teronggok di lantai.


"Bukankah ini milik Mbak Nafisah?"


Ela menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari-cari sosok Nafisah. Menelusuri tiap-tiap pintu toilet. Namun yang ia dapat, hanyalah kehampaan dan kesunyian.


"Mbak, Mbak Nafisah?"


"Mbak?"


"Kemana Mbak Nafisah?"
batin Ela dalam hati.


****


Masya Allah Alhamdulillah, sudah update chapter 35 πŸ€—


Maafkan author ya, sempat ketunda sebulanan ☹️


Jadi Penulis dan ibu rumah tangga dengan punya anak 2,5 tahun + bayi 2 bulan memang sesibuk itu bagi waktunya 😁


Tapi, ngomong-ngomong. Chapternya makin bikin penasaran ya, kira-kira kemana di Nafisah?
Ditunggu next Chapternya, ya, Jazzakallah Khairan sudah baca.. 😘


With Love πŸ’‹ LiaRezaVahlefi
Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii 


___


Next, Chapter 36. Langsung klik link dibawah ini : 

https://www.liarezavahlefi.com/2021/01/chapter-36-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html


6 komentar:

  1. Akhirnya update jugaπŸ™‚ku tunggu kelanjutannya ya KaπŸ˜‚

    BalasHapus
  2. Insya Allah. Jazzakallah Khairan ukhti πŸ€—

    BalasHapus
  3. Penasaran bgttt thorrrr
    Jgn lama² ya up nyaa😘

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah... akhirnya... 27 hari nunggu up...tiap hari ngecheck....ditunggu up secepatnya kak....

    BalasHapus
  5. Senangnya update lagi😘😘😘😘

    BalasHapus
  6. Kl aja udh ada bukunya lgsg aku order,ga sabar nunggu kelanjutannya

    BalasHapus