Chapter 37 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Sabtu, 06 Februari 2021

Chapter 37 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz

 


 "Kanker darah?"


"Benar. Saya pikir anda mengetahuinya selama ini."


"Istri saya tidak memberitahu apapun."


"Mungkin dia hanya ingin menjaga perasaan anda dan tidak membuat keluarga yang lain sedih karena pasien sudah stadium 3."


Danish terdiam. Menatap Nafisah yang terbaring lemah dengan kondisi wajah yang pucat. Keringat pun terlihat membasahi dahinya. Ucapan dokter yang merawat Nafisah beberapa menit yang lalu membuat Danish syok.


Tubuh Nafisah terlihat berkurus karena penurunan berat badan yang drastis. Sekarang Danish sadar, mengapa akhir-akhir ini Nafisah selalu memakai gamis sejenis home dress dan jilbab instan kalau dirumah. Mungkin sepele karena tidak pernah terpikirkan sebelumnya, namun siapa sangka kalau ternyata istrinya itu menutupi sesuatu di bagian-bagian kulit tubuhnya yang memar akibat sel kankernya yang berlanjut.


"Kamu mengingatkanku pada masalalu." ucap Danish pelan, teringat pada almarhumah Alina yang meninggal karena kanker. Danish memilih berdiri dan berjalan ke arah jendela untuk melihat suasana di luar sana.


Lagi-lagi Danish terdiam, merasa sedih karena memiliki istri yang mengidap kanker sejak dulu, namun berusaha sabar karena biar bagaimanapun semua itu sudah menjadi takdir Allah dan ujian kesabaran buatnya.


"Mas?"


Danish menoleh ke belakang. Ia menatap Nafisah yang baru saja terbangun dari pingsannya. Dengan cepat ia mendatangi istrinya.


"Aku akan memanggil Dokter."


Nafisah hanya diam, ia menatap Danish yang terlihat lega, namun di sisi lain juga terlihat khawatir. Tapi benarkah Danish mengkhawatirkannya? Bukankah selama ini pria itu mengabaikannya?


Dokter pun datang beberapa menit kemudian, memberi penjelasan tentang kondisi Nafisah yang saat ini sudah mengalami fase penyebaran kanker yang berat. Setelah kepergian Dokter tadi, tatapan Danish beralih ke Nafisah.


"Kenapa kamu tidak menceritakan semuanya padaku selama ini?"


"Untuk apa? Bukankah selama ini Mas tidak perduli denganku?" sela Nafisah dalam hati. Ia dan Danish, sama-sama saling menatap dalam diam hingga akhirnya Nafisah tersenyum sendu dengan pancaran wajahnya yang pucat.


"Aku hanya tidak ingin membuat Mas dan Diyah khawatir, itu saja."


"Dan pada akhirnya ketahuan, kan? Penyakitmu itu tidak bisa di abaikan dan-"


"Mas takut kehilangan diriku?" potong Nafisah cepat. Seketika Danish terdiam. Benarkah ia takut? Ntah kenapa semua itu benar. Danish tidak mampu melanjutkan ucapannya sampai akhirnya sebuah genggaman yang begitu dingin terasa di punggung tangannya.


"Umur seseorang adalah hak Allah. Kembali kepada Allah bukan harus sakit dulu seperti aku, kan? Bahkan, orang sehat saja bisa meninggal secara dadakan." ucap Nafisah akhirnya, padahal sebenarnya ia juga takut akan pergi secepatnya karena hubungannya dengan Danish masih belum baik.


"Kita harus yakin pada suatu hal. Allah tergantung prasangka hambaNya. Jadi.. " Nafisah menyentuh cincin pernikahan yang tersemat di jari manis Danish. "Jadi, serahkan semuanya pada Allah."


Ntah dorongan dari mana, Danish mengulurkan tangannya. Ia meraba pipi Nafisah pelan. Hingga membuat Nafisah tak sanggup menahan air matanya sendiri. Danish tak banyak berkata, ia hanya menghapus air mata tersebut.


"Aku ingin kita bersama, seperti beberapa hari setelah kita menikah waktu itu dan hubungan yang baik serta berdamai pada masalalu. Apakah Mas mau memaafkan diriku dan menerima keburukan aibku di masalalu?"


Danish masih terdiam. Hatinya begitu sesak. Perasaan akan kehilangan Nafisah seperti serasa sangat dekat sebentar lagi


"Maafkan dia Danish.. maafkan dia. Biar bagaimanapun dia istrimu. Hidupnya hanya sekali. Bahagiakan lah dia walaupun hanya sesaat. Ingatlah di masalalu, apakah dirimu sadar selama ini kalau kamu terlalu di sibukkan oleh semua pekerjaan sampai akhirnya tidak memiliki waktu dengan Alina? Jangan sampai hal itu terjadi lagi dengan Nafisah." sela Danish dalam hati.


"Mas?"


Danish langsung tersadar. Ia pun hanya mengangguk. "Baiklah. Aku memaafkanmu. Maafkan diriku juga.


"Aku ingin melakukan banyak hal dengan Mas yang belum sempat terealisasikan setelah menikah. Sepertinya aku belum baik menjadi seorang istri." Nafisah langsung memeluk Danish dengan erat, bahkan merindukannya.


"Kamu sudah baik selama ini."


"Tidak. Aku merasa belum baik. Apakah aku sudah bisa pulang? Aku ingin di rumah saja istirahat."


Danish melepaskan pelukannya. "Aku akan menanyakan hal ini pada Dokter dulu. Apakah kamu bisa pulang cepat atau tidak."

"Baiklah."


Danish pun pergi untuk mendatangi Dokter. Setelah kepergiannya, tanpa sengaja tatapan Nafisah beralih ke ponselnya yang berada di atas meja  samping tempat tidurnya. Nafisah segera meraihnya.


"Sepertinya aku menginginkan beberapa hal kegiatan bersama Mas Danish dan Diyah. Ah, aku harus mencatatnya di note." ucap Nafisah sambil tersenyum tipis.


Nafisah mulai mengetik dengan fokus meskipun tubuhnya serasa lemah. Sampai akhirnya, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak berlinangan air mata.


"Ya Allah, hamba mohon jangan sekarang."


****


Masya Allah Alhamdulillah. Sudah uo Chapter 37. Nyesek, tapi beginilah alurnya. Harus siap baca dan siapkan hati 😒😊


Jazzakallah Khairan sudah pada baca. Sehat selalu ya.. ♥️


With Love πŸ’‹ LiaRezaVahlefi

Akun Instagram ; lia_rezaa_vahlefii
Wattpad : liareza15


Next, chapter 38. Langsung klik link di bawah ini 

https://www.liarezavahlefi.com/2021/02/chapter-38-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html

2 komentar:

  1. 😭😭😭😭😭

    BalasHapus
  2. Kpn up nya lgi ka..ini kurng panjang😭😭

    BalasHapus