Chapter 38 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 12 Februari 2021

Chapter 38 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz




Kecupan lembut membuat Danish terbangun di pagi hari. Sayup-sayup ia membuka kedua matanya, kemudian tatapannya beralih ke arah jam dinding. Pukul 03.30 pagi.


"Nafisah, ini terlalu pagi."


"Aku tahu, tapi, aku membangunkan Mas untuk sholat tahajjud."


Danish kembali menutup matanya. Kemudian memilih posisi untuk berbaring menyamping. Melihat hal itu, Nafisah tersenyum tipis. Ia tahu, kalau Danish masih mengantuk.


"Sholat tahajjud itu sunah di sepertiga malam. Ketika mengerjakan, salah satu pahala yang kita peroleh adalah mampu untuk masuk kedalam surga. Itu penjelasan dari hadis riwayat Ibnu Majah. Bahkan Rasulullah bersabda "Hai sekalian manusia! Sebarkanlah salam dan bagikanlah makanan serta sambunglah silaturahmi dan tegaklah sholat malam saat manusia yang lai sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.”


"Hm, ya aku tahu." jawab Danish pelan dengan rasa yang masih mengantuk.


"Tahajjud itu memang berat. Tapi pahalanya besar."


Danish merasa kalau Nafisah sedang menumpukan dagunya pada lengannya.


"Sayang, ayo bangun."


"Bangunlah Danish. Ini pertama kalinya Nafisah membangunkanmu sholat tahajjud. Apakah kamu tidak ingin menyesalinya bila ia sudah tiada? Kapan lagi seorang istri yang baik membangunkan suaminya tahajjud?"


Seketika Danish membuka kedua matanya. Bisikan hati kembali menghampirinya. Dengan perlahan akhirnya ia pun memilih bangun sehingga membuat Nafisah sedikit menggeser tubuhnya.


"Nah, gitu dong. Ini baru sayangku." puji Nafisah pelan, ia pun langsung beranjak membuka pintu lemari. Danish memperhatikan Nafisah yang mulai menghamparkan sajjadah beserta tasbih dan menyerahkan peci dan gamis putih ke arahnya.


"Mas sholat dulu. Yang khusyuk ya. Aku tunggu di dapur. Em, Mas ingin dibuatkan minuman apa?"


Danish berpikir sejenak. "Aku ingin teh panas."


"Mau roti bakar? Pancake? Atau roti tawar selai?"


"Terserah saja. Makanan apapun yang kamu buat, aku akan menyukainya."


Nafisah mengangguk patuh. Dengan senyuman tipis ia berlalu keluar kamar. Danish menatap kepergian Nafisah dalam diam. Untuk hari ini, kekesalan dan ilfeel yang biasa ia rasakan pada Nafisah dalam sebulanan ini akhirnya perlahan sirna.


Tanpa banyak bicara lagi, Danish pun segera mengambil air wudhu dan menjalankan sholat Sunnah tahajjud.


****


Danish melangkah kakinya menuju dapur untuk mendatangi Nafisah. Sesampainya disana, Danish terdiam. Ia menatap Nafisah dari belakang. Diam-diam Danish memperhatikannya yang ternyata sedang melantunkan lagu sholawat Nabi Ya Salam Alaika dengan merdu. Tanpa sadar, ntah kenapa Danish menarik kedua sudut bibirnya secara perlahan.


"Ya Nabi Salam ’Alaika Ya Rasul Salam ’AlaikaYa Habib Salam ’AlaikaSholawatullah ’Alaika


Asyroqol Badru ’Alaina Fakhtafat Minhul BuduruuMitsla Husnik Maa Ro’ainaKhottu Ya Wajha Sururii


Ya Nabi Salam ’Alaika Ya Rasul Salam ’AlaikaYa Habib Salam ’AlaikaSholawatullah ’Alaika


Anta Syamsun Anta Badrun Anta Nuurun Fauqo NuuriAnta Iksiru Wagholi Anta Misbahus Shuduri


Ya Nabi Salam ’AlaikaYa Rasul Salam ’AlaikaYa Habib Salam ’AlaikaSholawatullah ’Alaika


Ya Habibi Ya MuhammadYa ’Arusal KhofiqoiniYa Muayyad Ya MumajaadYa Imamal Qiblataini


Ya Nabi Salam ’AlaikaYa Rasul Salam-


Danish mengerutkan dahinya. Tiba-tiba Nafisah menghentikan nyanyian sholawatnya. Ia menatap Nafisah yang tiba-tiba panik sambil menoleh ke kanan dan kiri, mencari sesuatu sambil menutup hidungnya hingga tanpa sengaja, Nafisah melihat kearah dirinya.


"M.. mas Danish..?"


Danish segera mendekati Nafisah. Tanpa banyak kata ia langsung melepaskan tangan Nafisah yang berada di hidungnya. Terlihat dengan jelas darah segar mengalir di kedua hidung Nafisah. Danish pun meraih selembar tisu dan membersihkan tanpa rasa ragu.


"Ya Nabi Salam ’AlaikaYa Rasul Salam ’AlaikaYa Habib Salam ’AlaikaSholawatullah ’Alaika." lanjut Danish akhirnya, melanjutkan sholawat Nafisah yang tertunda.


Nafisah terdiam. Ia ingin menghindar saja. Sesungguhnya ia merasa malu dan tidak ingin terlihat lemah didepan Danish.


"Jangan pergi." ucap Danish pelan, sadar kalau Nafisah ingin pergi. Ia memegang lengan istrinya. "Sebaliknya kamu istirahat."


"Tidak." tolak Nafisah. "Pekerjaanku belum selesai."


"Tapi Nafisah-"


"Aku, tidak apa-apa Mas." ucap Nafisah yakin, meskipun sebenarnya tubuhnya lemah. Dengan cepat ia menuju wastafel dan membersihkan darah mimisan menggunakan air keran yang mengalir deras. "Mas jangan khawatir ya."


"Aku tidak khawatir. Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan."


"Aku, baik-baik saja."


"Bagaimana kamu bisa berkata baik-baik saja sementara wajahmu pucat?"


Danish langsung mendekati Nafisah lagi. Ia pun meraih tisu dan tanpa menunggu persetujuan langsung mengelap kedua tangan Nafisah.


"Kalau kamu ingin menjalankan semua kewajibanmu sebagai istri, terutama ketika melayani semua kebutuhanku, apakah kamu sanggup dalam keadaan sakit?"


Nafisah terdiam. Tanpa diduga ia menggenggam kedua tangan Danish. Ia juga mempersempit jarak di antara mereka.


"Tentu saja aku tidak sanggup jika semua tubuhku sakit. Tapi... "


Nafisah menatap Danish dengan posisi wajah yang dekat. Ntah kenapa ia malah menjadi grogi.


"Aku akan berusaha untuk kuat. Apalagi untuk waktu dan kebersamaan kita. Terutama untuk hatiku saat ini. Aku ingin luka yang terasa di hatiku bisa sembuh."


"Apakah aku obatnya?"


Nafisah berjinjit, mengecup ujung hidung Danish. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipinya.


"Hanya Allah yang bisa menyembuhkan penyakitku. Sedangkan urusan hati, Mas dan Diyah yang akan menjadi penyemangat diriku. Kalian adalah salah satu alasan agar aku bisa sembuh."


Detik berikutnya, tidak ada kata-kata yang terucap. Yang ada jantung Danish serasa berdegup kencang. Ucapan Nafisah seolah-olah berhasil mengikis pertahanan dan ego yang selama ini kecewa dengannya.


Ntah dorongan dari mana, tiba-tiba Danish malah mendekatkan wajahnya kearah Nafisah hingga membuat keduanya saling memejamkan mata.


"Ya Allah, panjangkan umur istriku. Aamiin." sela Danish dalam hati.


****

Alhamdulillah sudah up, Chapter 38.
Niatnya emang malam kemarin. Tapi maaf banget, lagi-lagi author ketiduran 😆


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu ya..


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

Akun Wattpad : liareza15


Selanjutnya, chapter 39. Langsung klik link dibawah ini : 

https://www.liarezavahlefi.com/2021/02/chapter-39-jodoh-dari-lauhul-mahfudz.html

1 komentar:

  1. Aamiin..semoga danish bisa membuka hatinya untuk nafisah🤲🏻

    BalasHapus