Chapter : 39 Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 26 Februari 2021

Chapter : 39 Jodoh Dari Lauhul Mahfudz


Jakarta, pukul 13.00 siang.

"Maafkan aku, Randi. Sepertinya aku membatalkan kerjasama kita."


Randi terdiam menatap Fikri Azka. Rekan kerja yang sebelumnya hendak berinvestasi padanya akhirnya batal begitu saja. Saat ini, keduanya sedang berada di kantor polisi. Fikri menatap Randi yang kini memakai baju tahanan. Ditangannya, melekat borgol yang sedang terkunci.


"Tidak masalah," jawab Randi santai. "Aku paham, situasi saat ini memang tidaklah mudah. Aku harap setelah keluar dari sini, kamu masih percaya denganku."


Fikri segera berdiri dari duduknya. Tak lupa ia menepuk pelan bahu Randi. "Kamu masuk penjara karena urusan pribadi, bukan urusan pekerjaan yang berhubungan dengan perusahaan apalagi merugikannya. Aku rasa, ucapanku barusan suatu saat bisa di pertimbangkan. Jangan lupa jaga kesehatan, ya."


Setelah itu Fikri pergi. Di sisi lain, Ela mendengkus kesal. Padahal ia berniat mendatangi Randi untuk berbicara sesuatu hal yang penting. Tapi siapa sangka, malah atasannya duluan yang datang terlebih dahulu untuk menjenguknya?


"Sepertinya besok aku harus kesini lagi."


****


D'Media Corp, pukul 14.00 siang

Danish baru saja meninggalkan lokasi studio on air. Ia pun menuju lift dan kotak besi itu bergerak turun ke bawah. Dari jarak beberapa meter, Nafisah terlihat menunggunya dengan raut wajah riang bersama Diyah 


"Nafisah?"


"Mas Danish.."


Dengan tanggap Nafisah pun segera mencium punggung tangan, di ikuti bersama Diyah.


"Ayah, kata Mama, kita akan jalan-jalan di taman sore ini. Ayah ikut, kan?"


Danish tersebut lebar. "Jalan-jalan ke taman? Sepertinya menyenangkan."


"Pokoknya Diyah nggak sabar mau kesana. Disana kan, ada area taman bermain, ayunan, jungkat-jungkit. Diyah mau naik itu semua!"


Nafisah tersenyum tipis. Bahagia memang sesederhana itu. Hanya melihat senyum dan tawa keduanya, membuat Nafisah tenang sekaligus bersyukur. Tanpa di duga, ia pun langsung merangkul lengan kiri Danish, sementara Danish pun menggendong Diyah menggunakan tangan sebelahnya.


"Ngomong-ngomong, anak Ayah sudah makan?" tanya Danish pada Diyah.


"Alhamdulillah, sudah, Yah."


"Alhamdulillah." ucap Danish sembari tersenyum tipis. "Oh iya-"


Tiba-tiba beberapa kerumunan wartawan datang menghampiri mereka. Danish dan Nafisah merasa kebingungan. Salah satu wartawan wanita muda mengarahkan mike ke arah Nafisah.


"Mbak Nafisah, bisa minta waktunya sebentar?"


"Maaf ini ada apa?" tanya Danish dengan tatapan waspada.


"Mbak Nafisah, apa benar penyebab Tuan Randi masuk penjara karena percecokan diantara kalian? Bukankah dulu kalian terlibat hubungan asmara?"


"Bukankah Mbak Nafisah sudah menikah? Ada rumor yang beredar katanya Pak Danish merebut Mbak Nafisah dari Tuan Randi? Apakah semua itu benar?"


"Mbak tolong jawab dan beri klarifikasinya untuk kami."


"Mbak?!"


"Mbak Nafisah, anda belum menjawab pertanyaan kami!"


"Mbak Nafisah."


Wajah Nafisah pucat. Bibirnya diam seribu bahasa. Semua pertanyaan membuatnya terkejut sekaligus syok. Danish pun akhirnya mengambil langkah dengan menerbos beberapa reporter tersebut. Tidak menghiraukan pertanyaan para awak media. Rasanya begitu kesal. Ia baru sadar, kalau Randi adalah orang penting yang tidak lepas dari berita dan serbuan para awak media.


Disaat yang sama, hawa cemburu juga begitu menyesakkan di dada. Baru saja dalam beberapa hari Danish mencoba sabar dan menerima. Namun mengapa luka itu kembali hadir?


"Ayah, Bunda, mereka tadi banyak sekali. Diyah sampai takut" ucap Diyah lirih. Saat ini mereka memilih memakai jasa taksi online agar bisa terhindar dari para wartawan.


"Sayang, jangan khawatir ya. Mereka tidak akan menggangu kita lagi." Nafisah berusaha menenangkan Diyah.


Detik berikutnya, tidak ada yang berucap apapun. Namun raut wajah Danish, memperlihatkan kalau ia sedang benci terhadap situasi saat ini.


****


Keesokan harinya..

Randi tersenyum sinis, seperti kata tangan kanan kepercayaan pribadinya beberapa hari yang lalu. Cepat atau lambat, berita itu akan beredar luas.


Randi memang seorang pengusaha besar yang memiliki banyak pengaruh yang kuat. Sekalipun ia berada di balik jeruji besi, semua tidaklah masalah baginya untuk urusan masalah diluar sana. Pintu sel terbuka, seorang polisi datang menghampirinya.


"Ada yang ingin bertemu dengan anda."


Randi menatap polisi tersebut dengan tatapan datar. Ia pun akhirnya berdiri dalam diam. Dengan langkah malas ia keluar dari sel dan menuju sebuah ruangan tempat dimana ia akan bertemu dengan siapapun yang akan menjenguknya.


Randi menghentikan langkahnya. Seorang wanita berhijab coklat muda menatapnya dalam diam. Randi menatapnya waspada.


"Maaf mungkin kamu salah orang."


"Aku benar-benar ingin bertemu denganmu."


Randi tersenyum sinis. "Apakah kita pernah saling kenal sebelumnya? Jika tidak ada kepentingan, sebaiknya-"


"Jauhi saja Nafisah dan suaminya. Apakah bisa?" potong wanita itu cepat, hingga membuat Randi menatap wanita itu dengan tajam.


"Siapa sebenarnya dirimu? Jangan sok ikut campur!"


"Aku Ela. Aku akan menghentikan niat burukmu pada mereka!" ancam Ela balik, ia tersenyum sinis sambil bersedekap, hingga membuat Randi merasa tertantang.


****

Masya Allah Alhamdulillah, sudah chapter 39 ya, hhe. Maaf, telat terus buat up :(


Doakan bisa Rajin, serajin dulu ya buat update. Syukron~~


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

1 komentar: