Chapter 40 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Sabtu, 06 Maret 2021

Chapter 40 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz

 



"Dasar pria menyebalkan! Sudah menjadi perusak rumah tangga orang, sekarang malah nantang!" kesal Ela setelah ia keluar dari kantor polisi. Ia pun segera pergi menuju rumahnya.


Berbeda dengan Randi sendiri. Setelah ia memasuki ruang sel nya, ia kembali terdiam. Ia menyenderkan kepalanya pada dinding yang ada di belakangnya.


"Siapa wanita tadi? Kenapa begitu serius hanya untuk ikut campur urusanku?"


"Ini tidak bisa di biarkan. Tidak ada yang bisa menggalangi semua rencanaku."


***


"Aku sudah berusaha melupakannya, bahkan aku sudah berusaha menerimamu. Tapi kenapa sulit sekali?"


"Maafkan aku, tolong jangan terpengaruh, Mas. Aku tahu, waktu di masalalu aku memiliki banyak kekurangan."


"Bahkan Randi pun sudah menyetubuhimu terlebih dahulu. Andai keluargaku tahu, kamu pernah menjual diri, bisa saja mereka tidak mau menerimamu."


"Aku hanya korban. Harus berapa kali aku katakan semuanya pada Mas?"


Diyah menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal. Kepalanya terasa pusing di sela-sela seengukkan. Sungguh hatinya begitu sedih ketika melihat kedua orangtuanya bertengkar di dalam kamar. Sepulang dari perusahaan Papanya, awalnya ia memang tidak mengerti apapun. Namun siapa sangka, tanpa sengaja ia mendengarkan semuanya?


Ponsel Diyah berdering. Diyah membuka selimutnya dan menatap ponselnya di atas meja belajar. Dengan lesu Diyah meraihnya dan menatap nama Nenek di layar ponselnya.


"Assalamualaikum, Nenek?"


"Wa'alaikumussalam. Sayang, apa kabar? Apakah cucu nenek tersayang ini sehat?"


"Alhamdulillah sehat, nek. Apakah Nenek juga sehat? Kakek gimana?"


"Alhamdulillah kami sekeluarga sehat, sayang. Oh iya, Papa kamu ada dirumah? Kenapa nggak angkat panggilan telpon dari nenek?"


"Ada, lagi sama Mama di kamar. Apa perlu Diyah panggil?"


"Sebentar nak, mungkin Papa sedang sibuk." ucap Latifah, nenek Diyah sekaligus Ibu kandung Danish. Padahal Diyah hendak beranjak, namun kembali duduk.


"Papa dan Mama lagi nggak sibuk kok. Tapi sedang marah-marahan."


"Apa?" Latifah sedikit terkejut. "Marah-marah kenapa?


"Diyah juga nggak tahu, nek, tapi kata Papa, Mama pernah menjual dirinya. Memangnya dulu Mama menjual apa?"


Hening sesaat. Tidak ada sahutan atau komentar dari Latifah. Ibu paruh baya itu pasti saat ini sedang syok.


"Nenek?"


"Ah, iya, Diyah?"


"Kok Nenek diam?"


"Em, nanti Nenek telpon Diyah lagi ya. Ini sudah malam. Waktunya Diyah bobo."


"Hm, baiklah, Nek. Diyah juga ngantuk. Assalamualaikum, Nek."


"Wa'alaikumussalam. Sayang."


Latifah sendiri sudah mengakhiri panggilannya. Ia terdiam, namun pikirannya di landa kebingungan sekaligus tak percaya.


"Apa maksud ucapan Diyah tadi? Mama nya menjual diri?"


****


Nafisah berusaha berpikir kalau semuanya baik-baik saja. Sekarang Diyah sedikit demi sedikit mengetahui masalalunya. Padahal gadis itu masih terlalu kecil untuk memahami semuanya.


Nafisah segera membuka lemari, dan meraih selimut tebal. Padahal tubuhnya sudah terasa lelah semuanya. Lelah terhadap situasi, sekaligus melawan penyakit sendiri.


"Astaghfirullah!" Nafisah terkejut sambil memegang dadanya. Ia pun menghela napas lega setelah melihat Dansih di belakangnya.


"Maaf, aku terkejut. Ku pikir tadi siapa."


Danish menatap Nafisah dengan lekat. Raut wajahnya sangat pucat. Beberapa helai rambut terlihat rontok di pundaknya. Bukannya menjawab, tanpa diduga ia mendekati Nafisah kemudian memeluknya. Nafisah merasa heran.


"Mas?"


"Ngapain bawa selimut?"


"Em, a..aku mau tidur diruang tamu."


"Kenapa?"


"Bukankah, Mas tadi marah padaku dan.." Nafisah berusaha mengontrol nada suaranya yang lirih. "Dan biasanya Mas akan jijik padaku setelah membahas hal tadi-"


Bukannya menjawab, Danish malah menarik pergelangan tangannya kemudian memeluknya. Danish memejamkan kedua matanya sejenak. Nafisah sendiri saat ini sedang merasa kebingungan melihat sikap Danish.


"Maafkan aku, sekarang, aku ingin mencoba mencintaimu seperti yang aku katakan dan kita harapkan. Jangan pernah pergi dalam hidupku."


Nafisah tak banyak berkata lagi. Ia memejamkan kedua matanya. Merasakan pelukan hangat dari Danish.


"Tentu saja aku juga mencintaimu, Mas. Tapi, aku tidak janji apakah akan pergi dengan cepat atau tidak dari dunia ini.." sela Nafisah dalam hati..


****

Alhamdulillah, chapter 40 udh up, ya.

Sad ending atau happy ending nih?

Jazzakallah Khairan sudah pada baca. Sehat selalu yaa ~


With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

1 komentar:

  1. Happy Ending ya mbak... Nafisah sembuh, mereka pindah dan jauh2 dari Randi. Randi nya taubat atau dapat balasan atas semua perbuatannya ya..

    BalasHapus