Chapter 41 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Kamis, 11 Maret 2021

Chapter 41 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz



D'Media Corp, Pukul 11.00 siang.

"Jadi benar, apa yang di katakan Diyah, kalau Nafisah dulu menjual diri?"


"Apa maksud, Mama?"


"Tadi malam, Mama telepon kamu, tapi nggak di angkat. Alhasil Mama telepon Diyah. Katanya kalian bertengkar."


Danish menghela napasnya. Ia tidak menyangka kalau Diyah mengetahuinya dan mendengar perselisihannya dengan Nafisah. Ia pikir semalam Diyah sudah tertidur di kamar.


"Ma, aku bisa jelasin-"


"Lain kali kalau bertengkar jangan didepan anak atau kedengaran anak, Nggak baik." ucap Latifah lagi. "Mama tanya sekali lagi, apa benar yang di katakan Diyah semalam? Jangan mencoba membohongi Mama, atau Mama akan kecewa denganmu, Danish."


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Ma."


"Tidak perlu? Apakah kamu sadar, hal itu bisa mempengaruhi pikiran Diyah. Mungkin saat ini Diyah tidak mengerti, tapi cucu Mama itu selalu penasaran dan bertanya-tanya nantinya."


"Insya Allah, aku akan berusaha tidak membuat Diyah seperti itu, Ma. Serahkan semua pada Allah, apapun yang terjadi, ini masalahku dengan istriku."


"Jadi, semua itu benar?"


"Hm, iya," Danish menatap rekan dan tim kameramen yang sudah mulai mempersiapkan proses on air 30 menit lagi. "Bukankah semua ini rencana Mama dan Papa? Ingin menjodohkanku dengan wanita sebaik Nafisah?"


"Awalnya Mama pikir dia wanita baik-baik. Ternyata Mama salah. Maafkan Mama nak, Mama akui, almarhumah Alina adalah istri yang terbaik dari sekarang."


"Terima kasih. Em, aku mau siap-siap on air dulu, Ma, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah panggilan berakhir, ucapan Mamanya barusan memang benar. Alina memang yang terbaik, meskipun saat ini Nafisah adalah Jodoh Dari Lauhul Mahfudz yang sudah di tetapkan untuknya.


****


Jakarta, pukul 14.00 siang

Dengan ragu Nafisah berdiri di loby apartemennya. Merasa bimbang apakah ia bisa melanjutkan niatnya pergi keluar rumah hanya untuk sekedar ke minimarket.


"Bagaimana jika para wartawan kembali datang untuk menemuiku?"


Nafisah menghela napasnya. "Padahal kebutuhan belanja bulanan itu sangat penting."


Nafisah tak banyak berargumen lagi dengan isi pikirannya, dengan yakin Nafisah segera melangkahkan kedua kakinya untuk menuju minimarket yang lokasinya tidak terlalu jauh.


"Mbak, Nafisah, Mbak Nafisah, tolong beri klarifikasinya."


Tiba-tiba beberapa wartawan kembali mendatanginya. Nafisah sampai syok dan tubuhnya tiba-tiba gugup.


"Mbak Nafisah, apa benar anda dulunya pernah bekerja di hiburan malam?"


"Menurut berita yang beredar, katanya Mbak Nafisah pernah menjalin kasih dengan Pak Randi? Apakah pertengkaran yang terjadi antara Danish dan Pak Randi itu terjadi karena anda?"


"Pak Randi adalah seorang pengusaha sukses dan terkenal dari kalangan pembisnis. Beliau termasuk golongan orang penting. Apakah bagi Mbak, Pak Randi bukan tipe, Mbak? Padahal dia tampan dan kaya raya."


"Itu semua tidak benar!" Tiba-tiba Ela datang dengan sendirinya. Semua mata menatap kearahnya. Tak hanya itu, para wartawan mulai mengarahkan kamera ke arah Ela.


"Jangan mencari informasi tentang Pak Randi sama Mbak Nafisah lagi. Mbak Nafisah tidak ada hubungannya dengan semua ini."


Nafisah terkejut. Kenapa tiba-tiba Ela berkata seperti itu?


"Dulu, Mbak Nafisah dan Pak Randi memang saling kenal satu sama lain. Tapi mereka tidak ada hubungan serius. Pertengkaran antara Mas Danish dan Pak Randi murni kesalahan yang di sebabkan oleh Pak Randi sehingga membuat suami Mbak Nafisah itu marah."


"Memangnya kesalahan apa, yang di lakukan oleh Pak Randi sampai akhirnya beliau menculik Mbak Nafisah dan berakhir di penjara?" tanya salah satu wartawan yang kini mengarahkan mike kearahnya. Sekarang, yang ada Ela mulai kebingungan.


"Itu karena.."


Nafisah menatap Ela yang terdiam sesaat. Sesungguhnya ia juga merasa was-was.


"Dulu, saya dan Randi adalah calon pasangan yang hendak menikah. Pak Randi menculik Nafisah karena beliau cemburu ketika Mas Danish terlihat dekat dengan saya di perusahaan. Padahal, sesungguhnya, kami tidak dekat. Kami hanya rekan kerja di bagian studio 3. Posisi saya saat ini sebagai tim wardrobe. Saat itu, Pak Randi salah paham dan cemburu sehingga beliau memberi pelajaran dengan menculik Mbak Nafisah."


Berbagai pertanyaan di lontarkan oleh para wartawan, hingga membuat Nafisah sendiri tidak menyangka dengan semua yang ada didepan matanya. Detik berikutnya, mereka pun akhirnya pergi setelah mendapatkan informasi yang jelas. Ela bernapas lega. Ia pun tersenyum tipis dan mendekati Nafisah yang masih kebingungan.


"Ela..."


"Mbak, baik-baik saja?"


"Kenapa kamu menolongku bahkan membelaku?" tanya Nafisah langsung pada intinya hingga raut senyuman di wajah Ela memudar.


"Dan, kenapa kamu tahu kalau di masalalu Randi dan aku terlibat oleh suatu kejadian yang tidak menyenangkan?"


"Em, aku.." Ela menarik napasnya sejenak. Ia pun menghembuskan nafas nya secara perlahan. "Karena aku ikhlas dalam membantu Mbak. Dulu aku pernah merasa bersalah."


"Merasa bersalah? Dalam hal apa?"


"Akulah yang menyebabkan Diyah pernah kecelakaan hingga nyaris kehilangan nyawanya."


Kedua mata Nafisah terbelalak tak percaya. Seketika ia teringat kejadian itu. Saat dimana Diyah pernah dirawat di rumah sakit dan pada akhirnya ia dan Danish menikah demi kebaikan Diyah.


"Jadi, kamu penyebabnya?"


"Maafkan aku, Mbak Nafisah. Aku terlalu takut untuk mengakuinya sampai akhirnya Mas Danish membenciku. Aku merasa bersalah selama dia tidak memaafkanku dan dingin padaku. Jadi, akulah yang mencari tahu tentang Randi yang berniat jahat sama Mbak. Aku lah yang pertama kali melaporkan semuanya kalau Mbak di culik sama Randi. Bahkan beberapa hari yang lalu, aku mendatanginya ke penjara dan mengancamnya agar tidak menganggu hubungan Mbak dan Danish. Setidaknya, Mas Danish bisa menilai saat ini kalau aku ingin membantu kalian dari orang ketiga."


"Kalau kamu menjadi orang ketiga di antara kami, apakah kamu siap?"


Kini, Ela yang mengerutkan dahinya. Ia yakin saat ini tidak salah dengar. Dan Nafisah memperlihatkan wajah serius


"Apa maksud, Mbak?"


"Aku ingin kamu dan Danish menikah." ucap Nafisah akhirnya, ntah kenapa hatinya tersayat begitu mengatakan hal itu.


Ela terkejut. "Apa? Tapi Mbak-"


"Bukankah dulu kamu mengejarnya dan mencintainya? Bahkan mendekati Diyah demi mendapatkan hatinya?"


****

Masya Allah Alhamdulillah, sudah up Chapter 41♥️

Kira-kira, apakah Ela masih suka sama Danish?🤔

Tetap stay di Cerita ini ya.. mudahan bs segera tamat sebelum bulan Ramadhan. Author udh kangen bikin cerita baru soalnya hehehe 😜


 With Love 💋 LiaRezaVahlefi
Akun Instagram lia_rezaa_vahlefii


4 komentar:

  1. Ditunggu kelanjutannya ka, bikin penasaran😭 tapi jangan sampe nikah sama Ela ya ka

    BalasHapus
  2. Ela sama Randi aja tpi bikin Randi tuabat dulu please jangan ada poligamii di antara nafisah dan danis

    BalasHapus
  3. Kak,, jangan buat Danish dan Ela nikah ya kak,,
    Kasihan diyah nya ,,

    Penasaran banget,,
    Jangan lama² ya kak up nya

    BalasHapus
  4. Kak part selanjutnya mana? Aku kepoooo ni hihi :)

    BalasHapus