Chapter 42 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 15 Maret 2021

Chapter 42 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz


"Kenapa Mbak berkata seperti itu? Mbak nggak cemburu?"


"Cemburu itu pasti. Tidak ada wanita yang rela di duakan apalagi di poligami."


"Terus? Kenapa Mbak menyuruh saya bersama Mas Danish?"


"Karena hidupku tidak akan lama lagi. Akan lebih baik Mas Danish bersamamu."


Ela menghempaskan dirinya di kursi ruang wardrobe. Ia menghela napasnya. Bisa-bisanya Nafisah menyuruhnya menikah dengan Danish. Ya, memang, dia pernah menyukai Danish. Tapi dulu, sebelum pria itu menikah. Sekarang? Ntahlah, ia sendiri tidak mau berada di antara pasangan yang sudah menikah. Apa kata orang nantinya?


Pintu ruangan terbuka, Danish masuk dengan ekspresi wajah lelah setelah 30 menit on air didepan kamera. Pria itu melepaskan jas formal yang ia pakai setelah selesai membawakan berita hari ini. Danish meletakkan jas nya begitu saja di kursi sofa.


Melihat hal itu, Ela juga tak banyak berkata seperti biasanya. Sadar kalau Danish selalu bersikap dingin padanya. Ela pun segera berdiri dan menjalankan tugasnya untuk mengambil alih jas formal yang di letakkan Danish di sofa tadi.


"Terima kasih."


Ela terdiam. Apakah Danish mengucapkam terima kasih padanya? Ela yakin, ia tidak salah dengar. Ela menoleh ke arah Danish. Sementara Danish menatap ke lain, semata-mata karena kewajibannya menundukkan pandangannya kepada wanita yang bukan mahramnya.


"Sama-sama. Sudah menjadi tugas saya disini." ucap Ela seperlunya sambil melipat rapi jas formal yang ada di tangannya.


"Bukan soal itu. Tapi kejadian beberapa hari yang lalu."


"Ah, itu." Ela berdeham. "Sama-sama. Semoga bisa membantu. Saya melakukannya karena hutang budi saya di masalalu yang membuat Pak Danish kecewa akibat inside kecelakaan yang menimpa Diyah."


Danish mengerutkan dahinya. Kenapa Ela menjadi bersikap formal padanya? Biasanya wanita itu memanggilnya dengan kata ' Mas? '


"Jangan merasa bersalah. Anggap saja menjadi pelajaran buatmu untuk berhati-hati dan tidak lengah bersama anak-anak. Permisi, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Danish pun pergi, meninggalkan ruangan. Ela menoleh kebelakang dan pintu sudah tertutup rapat. Ela bernapas lega. Setidaknya Danish sudah memaafkannya.


"Ya, ini lebih baik."


****


Jakarta, pukul 13.00 siang.

Randi mengepalkan kedua tangannya diatas meja dengan kuat. Wajahnya memerah karena menahan emosi yang terpendam. Rasa marahnya tentu saja tidak bisa ia lampiaskan ketika saat ini berada di ruangan khusus rekan atau keluarga yang sedang menjenguknya di penjara.


"Dia benar-benar, keterlaluan!" kesal Randi dengan suara pelan. Tatapannya sangat tajam. Sedangkan pria didepan matanya, hanya bisa mendengarkan setelah menyampaikan informasi penting pada atasannya.


"Saat ini media tengah memberitakan anda dan Ela, setelah Nafisah di hadang para wartawan dan Ela datang menolongnya dengan ucapan pembelaan."


"Tapi apa yang di katakannya itu tidak benar!"


"Bukankah ini kemauan anda, Tuan Randi? Anda ingin para wartawan memberitakan Nafisah terlibat hubungan spesial dengan anda, agar Danish semakin ilfeel dan benci pada Nafisah."


"Ya, itu benar. Tapi semua rencana itu tidak akan rusak kalau saja wanita pembawa masalah itu tidak datang!"


"Semua sudah terlanjur, Tuan."


"Apa yang sebenarnya wanita itu pikiran sampai dia rela menolong Nafisah saat para wartawan mendesaknya?"


"Apakah anda butuh saya mencari tahu?"


"Tidak." Randi menggeleng. Ia pun berdiri dari duduknya, karena sadar, jam yang di berikan petugas kepolisian untuk menemui rekan di ruangan tersebut sudah habis. Randi pun berbisik nyaris pelan.


"Kamu hanya perlu menyingkirkan wanita itu dari dunia ini secepatnya."


Detik berikutnya, Randi pergi memasuki sel nya dengan penampilan seperti biasanya, memakai baju tahanan beserta kedua tangannya yang di borgol.


****

Keesokan harinya, pukul 16.00 sore.

Jam sudah menunjukkan waktu senja. Biasanya Danish pulang tepat pukul 2 siang atau paling lama jam 3 sore. Tapi saat ini, jam sudah menunjukkan pukul 4. Bahkan sholat ashar sudah berlalu. Tapi kenapa Danish tak kunjung pulang?


Merasa khawatir, Nafisah memutuskan untuk pergi ke perusahaan. Ia menggandeng pergelangan tangan Diyah karena yakin, para wartawan tidak akan mengejarnya lagi seperti sebelumnya setelah Ela menolongnya.


"Mama, kenapa Papa telat pulang?"


"Mama juga nggak tahu, sayang. Mungkin Papa sibuk."


"Tapi, Papa baik-baik saja kan, Ma? Diyah tadi sempat hubungi Papa, tapi nggak di angkat."


Nafisah tersenyum, mencoba menenangkan putrinya. "Kalau begitu kita harus segera menuju tempat kerja Papa. Alhamdulillah jaraknya sangat dekat. Tidak masalah buat kita untuk pergi kesana, kan?"


"Hm, Mama benar. Ah, lihat!" tunjuk Diyah ke arah bangku taman pinggir jalan. "Bukankah itu Papa dan Tante Ela?"


Nafisah pun akhirnya menoleh kearah yang di maksud Diyah. Seketika hatinya pedih. Ia melihat Danish tepat berada di samping Ela yang sedang menangis. Tak hanya itu, dengan perhatiannya Danish menyerahkan sapu tangan miliknya. Sebuah sapu tangan yang pernah ia berikan pada suaminya, spesial hasil jahitan tangannya untuk orang tercinta.


Tidak biasanya Danish bersikap ramah seperti itu kepada yang bukan mahramnya. Lalu kenapa sore ini, ia melihat Danish perduli pada wanita itu?


Nafisah menggeleng kepalanya dengan cepat. Sadar kalau ia tidak boleh cemburu. Bukankah ia sudah menyuruh wanita itu bersama suaminya suatu saat?


"Mama, ayo kesana."


"Ha?"


"Ayo, Ma. Jangan melamun. Bukankah Papa telat pulang hari ini?"


"Em, baiklah."


Akhirnya Nafisah pun menyebrangi jalan raya yang sudah terlihat lenggang sambil menggandeng tangan Diyah.


"Makasih, Mas Danish."


"Sama-sama. Kamu sudah bikin aku khawatir, Ela. Kamu nggak apa-apa, kan? Ada yang terluka? Kalau terjadi sesuatu, hubungi aku secepatnya."


Detik berikutnya, kedua mata Nafisah berkaca-kaca. Rasa cemburu, akhirnya menghampiri dirinya tanpa siapapun sadari setelah ia dan Diyah mendekati mereka.

"Ya Allah, rasanya sakit."


****


Danish dan Ela, kira-kira kenapa ya?


Apakah disini ada yang ikutan terluka juga setelah baca Chapter ini? Hhe 😁


Tetap Stay di cerita ini ya. Jazzakallah Khairan sudah pada baca. Sehat selalu 🤗

With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

1 komentar: