Chapter 43 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Selasa, 16 Maret 2021

Chapter 43 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz




Jakarta, pukul 07.00 pagi.


Merasa tidak percaya dengan apa yang di lihat tadi sore, ntah kenapa rasa sesak dan cemburu masih saja terasa di hati Nafisah. Tanpa Nafisah sadari, Danish berdiri di belakangnya sambil bersedekap.


"Aku tahu, ini memang sakit, tapi bukankah mereka akan bersama?" gumam Nafisah dengan sendirinya.


"Siapa yang akan bersama?"


Seketika Nafisah menoleh kebelakang. Rupanya tanpa ia sadari ada Danish yang mendengar ucapannya. Nafisah meneguk ludahnya dengan gugup.


"Em, aku-"


"Jangan pernah berpikir kalau aku menyukainya apalagi hidup bersamanya. Sudah cukup dirimu."


Danish mendekati Nafisah. Kemudian meraih pergelangan tangannya. Ia tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang Nafisah rindukan.


"Sekarang aku sudah menerima dirimu apa adanya. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."


"Tapi-"


Danish menyentuh bibir Nafisah dengan ujung jarinya sambil menggeleng pelan.


"Aku tidak butuh penjelasan apapun lagi. Apalagi membuatmu kepikiran. Aku khawatir kamu-" Danish syok, darah segar mengalir di hidung Nafisah.


"Astaghfirullah. Nafisah, kamu mimisan lagi." dengan cepat Danish meraih tisu dan membantu Nafisah membersihkan darah yang mengalir di lubang hidungnya.


"Kapan kita kontrol ke Dokter lagi?"


"Minggu depan."


"Nggak, aku nggak mau nunggu Minggu depan. Sekarang saja."


"Tapi, Mas." cegah Nafisah. "Dokter Lara baru bisa di temui Minggu depan. Untuk saat ini tidak ada."


"Nafisah-"


"Aku hanya butuh istirahat dan menenangkan pikiran. Itu sudah cukup buatku."


Detik berikutnya, Nafisah langsung memeluk Danish dengan erat. Seolah-olah tidak ingin kehilangan dirinya dan sangat membutuhkannya. Danish hanya bisa pasrah, yang ia lakukan saat ini hanya menurut dan membalas pelukan Nafisah, meskipun darah mimisan di hidungnya sedikit mengenai kaos yang ia pakai.


****

D'Media Corp, pukul 11.00 siang.

Ela memutuskan untuk menghubungi Nafisah setelah kejadian kemarin sore yang telah menimpanya. Tidak menunggu waktu yang lama, akhirnya panggilan pun tersambung.


"Halo, Assalamualaikum, iya Ela?"


"Wa'alaikumussalam. Em, Mbak Nafisah sibuk?"


"Tidak. Kebetulan baru selesai makan. Ada apa?"


"Aku, hanya ingin minta maaf soal kejadian kemarin sore. Kuharap, Mbak tidak salah paham."


"Iya, aku ngerti kok."


"Kemarin saat Mas Danish menyeberang jalan, tanpa sengaja aku melihat dompetnya terjatuh. Aku mengejarnya hanya untuk mengambil dompetnya dan menyerahkannya sampai akhirnya, sebuah mobil yang melintas begitu cepat, nyaris saja menabrakku."


Nafisah sampai syok. "Astaghfirullah, tapi, kamu nggak apa-apa kan, La?"


"Iya, Mbak. Alhamdulillah nggak apa-apa. Karena kemarin salah satu Ibu paruh baya langsung reflek nolong aku. Bahkan setelah itu, Mas Danish merasa bersalah."


"Alhamdulillah, kamu nggak apa-apa. Lain kali hati-hati, ya, La."


"Iya, Mbak. Em, aku mau kerja dulu ya Mbak. Sekali lagi terima kasih. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Panggilan berakhir. Ela bernapas lega. Setidaknya ia sudah tidak merasa bersalah lagi akibat kejadian kemarin. Bertepatan saat itu, Danish masuk ruangan wardobe. Ela segera menjalankan tugasnya.


"Ini, jas formal dan dasinya buat hari ini, Pak Danish."


"Oke. Terima kasih."


Seperti biasanya, Danish tidak melihat kearahnya. Ela sadar akan hal itu. Ela menilai, Danish sangatlah sopan dan menjaga pandangannya kepada yang bukan mahramnya.


Danish membalikkan badannya dan menuju ke ruang ganti. Tapi sebelum mencapai sana, tiba-tiba Danish menghentikan langkahnya.


"Kamu baik-baik saja, setelah kejadian kemarin?"


Ela terdiam. Ini adalah kejadian yang di luar dugaan. Tidak pernah sekalipun Danish bertanya tentang hal-hal spele seperti ini.


"Alhamdulillah, saya baik-baik saja Pak."


"Alhamdulillah. Jangan lupa, untuk melaksanakan sholat Zuhur nanti di mushola perusahaan, permisi."


Tidak ada ucapan apapun yang Ela lontarkan setelah mendengar pesan Danish barusan. Bibirnya tidak berbicara, tapi kenapa hatinya tiba-tiba deg-degan?


Ela memegang debaran jantungnya yang tidak biasa. Bahkan, pipinya serasa bersemu merah. Ela menggeleng kepalanya dengan cepat.


"Tidak, jangan sampai, jangan sampai. Ingat Ela, ingat. Dia pria yang sudah beristri."


****


Nah, loh 😳

Ada apa dengan Ela? Tetap Stay ya, nantikan lanjutan Chapternya. Jazzakallah Khairan sudah pada baca πŸ€—

With Love πŸ’‹ LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

4 komentar:

  1. Semoga kedepannya Ela makin seleb deh😘

    BalasHapus
  2. Jangan dong sama ela. Kasian bgt nafisah :'(
    Takut bgt kalau dia meninggal dan danish beneran sm ela 😭

    BalasHapus
  3. Danish juga jd baik dan perhatian ke ela ya hm. Nafisah tokoh plg tersakiti sih haha. Masalalunya dibahas trs, dibandingkan sm mantan istri danish. Sad bgtt 😭

    BalasHapus
  4. Kok Danish sekarang baik dan perhatian sama ela? Apa karna masa lalu nafisah jadi Danish baik sama Nafisah juga karna Nafisah sakit, padahal dalam hati masih ada rasa marah/jijik gitu, trus sekarang bisa jadi Danish ada rasa sama Ela.
    Ya Allah sedih banget jadi Nafisah πŸ₯Ί

    BalasHapus