Chapter 44 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Kamis, 18 Maret 2021

Chapter 44 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz



 

Dengan teliti Danish memakai kaus kaki hitam sambil duduk setelah menyelesaikan sholat Zuhur di mushola perusahaan. Ia memperhatikan jam di pergelangan tangannya. Pantas saja perutnya lapar, ternyata sudah saatnya jam makan siang.


Hari ini Danish memberi pesan pada Nafisah agar tidak perlu mengantarkan bekal makan siang seperti biasanya karena ia tidak ingin istrinya itu kelelahan. Setelah ia memakai kaus kaki dan sepatu pantofelnya, Danish segera menuju kantin perusahaan.


Sesampainya disana, Danish pun memesan makan siang seporsi ayam lalapan dan es teh. Namun sayang, perut yang lapar kali ini sedikit membuatnya kecewa karena tempat duduk yang ia lihat ramai di tempati para karyawan.


"Pak Danish?!"


Danish menoleh ke sumber suara yang sedikit nyaring. Rupanya Ela memanggilnya dari jarak sedikit jauh. Sempat terlihat wajahnya dalam tiga detik, saat itu juga Danish segera mengalihkan pandangannya ke lain. Terutama ke arah si Ibu paruh baya yang menyiapkan makan siangnya.


"Ya Allah, cobaan mata. Tak bisa di pungkiri Ela memang cantik. Astaghfirullah, Astaghfirullah." sela Danish dalam hati.


"Mas, pesan sama Es teh nya, juga?"


"Ha?"


"Sampean pesan sama Es teh?"


"Oh, iya, Bu. Tapi di bungkus ya,"


"Nggak makan disini?"


"Nggak, mau saya bawa pulang."


Sesuai pesanannya, akhirnya Danish memutuskan untuk minta di bungkusan saja makan siangnya. Baginya, itu lebih baik, ketimbang ia duduk bersama Ela dan makan siang bersamanya. Danish pun akhirnya pergi, setelah membayar pesanannya. Hingga membuat Ela mengerutkan dahinya.


"Loh, dia kemana? Padahal di depanku tempat duduknya kosong."


Saat itu juga, Ela terdiam. Ia menggeleng cepat. "Ya ampun, kok aku berharap dia makan siang bareng aku, sih?"


Tapi ntah kenapa, rasa kecewa seketika menghampiri perasaannya tanpa bisa di bohongi ketika melihat Danish pergi.


****


Rasa pusing begitu menyiksa bagi Nafisah. Hanya untuk pergi ke dapur saja, rasanya begitu berat. Dengan hati-hati, Nafisah memungut pecahan gelas kaca yang pecah di lantai. Melihat hal itu, Diyah merasa kasian.


"Mama?"


Nafisah menoleh ke arah Diyah. "Sayang, sudah makan?"


"Em, sudah. Mama hati-hati, sini Diyah bantu."


"Jangan, nanti tanganmu bisa terluka, mama saja, ya."


Rupanya Diyah tidak perduli, ia tetap saja bersikeras membantu Mamanya mengumpulkan pecahan gelas kaca yang berserakan di lantai. Ntah kenapa, air mata mengalir di pipi mungilnya.


"Ma.."


"Hm?"


"Apakah Mama akan pergi meninggalkan Diyah seperti Mama Alina dulu?"


"Sayang, kok bicara begitu?"


"Kan, Mama sakit. Kata dokter, penyakit Mama sudah parah."


Nafisah tersenyum di balik raut wajahnya yang pucat. Setelah membereskan semuanya, ia mengajak Diyah mencuci tangan dan menuju ruang tamu.


"Umur seseorang adalah rahasia Allah. Sekalipun penyakit Mama parah, Allah bisa saja memberi Mama umur yang panjang."


"Tapi, Diyah takut."


Nafisah memeluk Diyah. "Jangan takut. Diyah tidak sendirian. Ada Papa, Mama, dan.." Nafisah terdiam, seketika hatinya cemburu.


"Dan siapa, Ma?"


"Dan Tante Ela."


"Kok Tante Ela sih?"


"Mama kamu lagi ngaco, nak."


Keduanya menoleh ke arah pintu. Danish datang sembari membawa kantong plastik berisi makanan. Ia melekatkan bawaannya itu ke atas meja.


"Assalamualaikum, Mas." Nafisah langsung mencium punggung tangan Danish di ikuti dengan Diyah.


"Wa'alaikumussalam. Kamu sama Diyah, sudah makan?"


"Em, belum. Tapi Diyah sudah."


"Ini, makanlah."


Nafisah menoleh ke arah kantongan plastik yang berisi ayam lalapan. Nafisah mengerutkan dahinya.


"Ini ada satu porsi. Mas sudah makan?"


"Sudah." Danish tersenyum tipis. Padahal ia belum makan. Tapi melihat istrinya belum makan, sungguh ia tidak tega. Danish juga sadar, akhir-akhir ini Nafisah mudah lelah dan tidak bisa masak.


"Mas nggak bohong, kan?"


"Ayo makan. Nanti keburu dingin."


"Mas, jangan coba mengalihkan."


Bukannya menjawab, Danish mengambil alih tas plastik yang di pegang Nafisah. Lalu mengeluarkan semua makanannya. Sementara Diyah sudah pergi berlalu untuk menggambar di meja belajar. Danish pun akhirnya pergi ke westafel untuk mencuci tangan kemudian kembali mendatangi istrinya.


"Aku nggak mengalihkan."


"Tapi-"


"Aaaaaaaaa."


Seketika Nafisah terdiam. Suapan pertama berhasil memasuki mulutnya. Akhirnya Nafisah mengunyah nasi dan suwiran ayam lalapan yang begitu lezat di mulutnya. Nafisah hanya bisa diam, ia menatap Danish yang semakin membuatnya jatuh cinta.


"Jangan berkata seperti tadi didepan Diyah. Aku nggak suka."


"Yang mana?"


"Tentang Ela." jawab Danish dengan serius. "Dan jangan pernah memaksaku untuk bersamanya sampai maut memisahkan kita."


"Dia, suka sama Mas."


"Aku tahu."


"Tapi, bukankah kata Dokter umurku sudah tidak lama lagi? Bagaimana nasib Diyah dan-"


Detik berikutnya, Danish mencium ujung hidung Nafisah dalam sekali kecupan. Nafisah terkejut dan mengerjapkan kedua matanya sementara jantungnya berdebar-debar.


"Tidak perduli dengan usiamu yang lama atau sebentar, sekali cinta, aku akan tetap cinta dan tidak akan berpaling."


****


Kita santai-santai dulu yaa sama Chapter ini hhe 😆😆

Jazzakallah Khairan sudah baca. Sehat selalu 😘

With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

4 komentar:

  1. Datang kerumah bilang nafisah jangan bahas ela. Tapi kalau liat si ela muji cantik hm. Makin membagongkan

    BalasHapus
  2. kalo smpai nafisah tiada..kyak gk adil bgt rasanya..., kasihan.

    BalasHapus
  3. Ketemu ela muji klo ela sebenernya cantik, laki2 memang begitu, gampang bilang cinta , gampang bilang juga berpaling. Padahal dulu kan Danish benci banget sma ela , sekarang kenpa jadi baik banget? Karna kebaikan Danish ke ela itu yg mungkin bikin Nafisah berpikir yg tidak2.

    BalasHapus