Chapter 47 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 29 Maret 2021

Chapter 47 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz

 



Keesokan harinya..

Dengan lesu Danish memasuki ruang ICU rumah sakit dan menatap Nafisah yang kini belum sadarkan diri. Danish mendekatinya, sudah beberapa jam berlalu, tapi Nafisah tidak kunjung sadar.


"Aku merindukanmu." Danish menyentuh punggung tangan Nafisah yang dingin akibat ruang AC yang sejuk.


"Kenapa rasa cinta ini hadir, disaat kamu sedang berjuang melawan penyakit ini?"


Danish menundukkan kepalanya. "Ya Allah, berikan kesembuhan untuk istri hamba. Sekarang hamba mulai mencintainya."


Pintu ruangan terbuka. Seorang Dokter yang menangani Nafisah selama ini masuk bersama suster yang ada di sebelahnya. Danish segera berdiri, dan memberi jarak agar Dokter tersebut memberiksa semua kondisi Nafisah.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Danish pada Dokter bername tag Aulia."


"Kondisi pasien masih lemah. Belum ada tanda-tanda dia akan segera siuman. Kami akan berusaha semaksimal mungkin ya, Pak, dan berharap ada mukjizat dari Allah."


Danish hanya bisa memaksakan senyumnya. Saat ini, Allah sedang menguji iman dan kesabarannya. Tak hanya untuknya, tapi untuk semua keluarga. Akhirnya, dokter Aulia pun pamit pergi, bertepatan saat kumandang sholat ashar berbunyi di ponselnya. Sudah waktunya tiba, Allah memanggil hambaNya untuk menunaikan sholat wajib 5 waktu.


Sebelum pergi, Danish merunduk, mencium kening Nafisah. "Setiap pergi dari sini, aku selalu berharap pada Allah kalau kamu akan bangun. Cepatlah sadar, aku dan Diyah merindukanmu." bisik Danish pelan, mencoba bertahan dari hatinya yang terluka.


****


Satu jam kemudian..

"Papa, apakah Mama akan pergi dalam waktu dekat?"


"Pergi kemana maksud kamu, nak? Mama nggak kemana-mana."


"Maksud Diyah, pergi kembali pada Allah. Haruskah Diyah kembali kehilangan Mama?"


"Assalamualaikum?"


Keduanya menoleh kearah sumber suara. Ela datang di saat yang tidak tepat hingga membuat mood Danish rusak. Diyah ingin pergi, tapi Danish mencegahnya.


"Papa, Diyah mau beli es cream di sana." tunjuk Diyah, ke arah salah satu menu yang ada di kantin rumah sakit.


"Nanti saja. Habiskan dulu Snack yang kamu beli. Nanti mubazir."


"Ini sudah habis, Papa. Masa Diyah mau makan bungkusnya?"


Danish terdiam. Padahal sebenarnya itu hanyalah salah satu cara agar ia tidak duduk berhadapan dengan Ela.


"Ela mau es cream? Em, kebetulan sekali." tanpa di duga, Ela mengeluarkan es cream cone dalam tas belanjaannya yang ia bawa. Dengan senang hati Diyah menerimanya hingga membuat Danish tak bisa berbuat apapun.


Diyah sudah sibuk memakan es creamnya, sementara Ela duduk di hadapan Danish. Ia menatap Danish dengan serius meskipun sebenarnya gugup. Disisi lain, Danish memilih memegang ponselnya, berusaha mengalihkan pandangannya ke lain.


"Aku, minta maaf soal kejadian kemarin. Em, mungkin aku sudah keterlaluan. Aku akan klarifikasi di sosmed jika memang di perlukan."


Danish diam tak menjawab, yang ada ia malah berdiri sambil meraih pergelangan tangan Diyah. Diyah sampai kebingungan.


"Papa, mau kemana? Es cream Diyah belum habis."


"Kita harus ke lobby rumah sakit. Ada Nenek Latifah datang."


"Nenek kemari?" tanya Diyah dengan senang. "Tapi tunggu dulu, Pa. Es cream Diyah belum habis. Lagian nggak boleh makan sambil berjalan. Papa lupa ya?"


Danish menghela napasnya. Ya, itu memang benar. Bahkan, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Janganlah sesekali seorang diantara kalian minum sambil berdiri. Apabila dia lupa maka hendaknya dia muntahkan." ( HR. Muslim no.2026 )


Lantas bagaimana halnya dengan makan sambil berdiri?" Beliau menjawab, "Tentu itu lebih buruk dan lebih keji lagi." (HR. Muslim dan Tirmidzi).


"Baikah, tunggu es cream Diyah habis. Setelah itu kita datangin Nenek di ruangan ICU. Mungkin Nenek sama Kakek sudah ada disana."


Diyah hanya mengangguk dan melanjutkan memakan es creamnya. Sesungguhnya Danish tidak senang bila Ela berada di sekitarnya. Sangat menggangu bagi dirinya sebagai seorang pria yang menjaga pandangan dan jarak kepada yang bukan mahramnya. Sampai-sampai ia hampir saja lupa kalau makan tidak boleh berdiri apalagi sambil berjalan.


Tapi tidak dengan Ela sendiri. Biar bagaimanapun, ia masih merasa bersalah atas kejadian kemarin.


****


D'Media Corp. Pukul 10.00 Pagi.


Akibat kejadian dua hari yang lalu, ternyata apa yang di takutkan Ela menjadi kenyataan. Ntah perasaannya atau bukan, ia merasa saat ini rekan-rekan karyawan lainnya sedang membicarakannya.


"Ya Allah, aku nggak boleh seudzon. Aku nggak boleh prasangka nggak baik. Mungkin hanya perasaan aku saja, kalau saat ini teman-teman pada bicarain diriku."


Ela mencoba menyibukkan diri sambil menyiapkan wardrobe berupa dasi, kemeja navy, dan jas formal yang akan di pakai rekan lainnya ketika on air. Ntah keberanian dari mana, Ela melirik ke samping. Ya Allah, dua orang temannya kini ketangkapan basah sedang menatapnya kemudian terlihat salah tingkah dan melanjutkan pekerjaannya.


Merasa tidak enak hati, Ela mengalah. Ia memilih pergi keluar ruangan. Kedua kakinya melangkah menuju toilet wanita. Ia ingin menangis, tapi tidak. Bukankah kesalahan itu berasal dari dirinya sendiri?


"Aku kasihan sama Mbak Nafisah. Kemarin-kemarin dia rajin banget kesini bawaain bekal makan siang buat suaminya. Eh sekarang nggak ada lagi."


"Memangnya kemana? Apakah Mbak Nafisah sama Danish lagi ada masalah?"


"Bukan. Justru Mbak Nafisah lagi sakit."


"Oh ya? Sakit apa?"


"Aku juga nggak tahu. Aku dengar dari teman-teman yang lain begitu. Danish sendiri sepertinya nggak banyak bicara tentang penyakit istrinya."


"Jahat banget sih, Ela. Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ini sih bukan gosip lagi. Tapi fakta. Buktinya di kejadian itu mereka mengaku sebagai suami istri."


"Sudahlah ya, biarin saja mereka. Yang jelas, aku sih ogah kalau di madu."


"Iya, mereka poligami. Ya Allah, pasti nyesek banget perasaan Mbak Nafisah. Atau jangan-jangan selama ini dia sakit gara-gara suaminya sudah nggak setia lagi?"


Dengan langkah cepat Ela segera pergi dari sana. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini meluruh di pipinya. Sudah bisa di pastikan kalau ia akan di cap sebagai perebut suami orang dan kebahagiaan wanita lain.


Ela butuh udara segar yang bisa melonggarkan dadanya yang sesak. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi keluar perusahaan sejenak. Beberapa karyawan D'Media Corp memberinya tatapan tidak suka. Ada juga yang memang tidak perduli. Ela belum sampai ke lobby, tapi ia sudah menghentikan langkahnya. Kedua matanya tanpa sengaja menatap Danish bersama seorang wanita berusia pertengahan tahun.


"Bukankah itu si Danish dan.." Ela meneguk ludahnya dengan gugup. Apalagi tatapan wanita itu begitu menusuk terhadapnya. "Dan.. Ibunya Mbak Nafisah?"


****

Ikutin saja alurnya ya. Jgn berpikir yg tidak-tidak..


Pembaca lama aku, sudah tahu bagaimana cara aku menulis dan membuat alur seperti biasanya hhe 😆

Jazzakallah Khairan sudah baca. With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii



4 komentar:

  1. Kan, sampai mama nafisah loh ini. Hahaha aslik. Disini Danish juga salah ya!

    BalasHapus
  2. Lanjut kak ,makin panas dingin karena penasaran🤭🤭

    BalasHapus
  3. Lanjut kak, maki panas dingin karena penasaran 🤭🤭

    BalasHapus
  4. Sebenernya Danish juga salah sih, harus nya sebagai laki2 yg sudah.beristri dan katanya dia juga harus jaga sikap serta pandangan kepada wanita yg bukan muhrim harusnya bisa lebih tegas lagi sma Ela, dan jujur kalo gak nyaman sama Ela , bukan malah diam saja, Ela kan bisa jadi salah paham dengan sikap denish.

    BalasHapus