Chapter 49 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Kamis, 08 April 2021

Chapter 49 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz

 


Satu jam kemudian..


Dengan langkah lesu, Ela berjalan menuju pintu kamarnya. Dalam keheningan malam, bukannya rasa lelah menerpa tubuhnya, yang ada kini rasa bersalah terbesit di hatinya. Terutama rasa bersalahnya pada Nafisah nantinya.


Satu jam sudah berlalu. Ela pun akhirnya tiba di depan pintu kamar apartemennya. Baru saja ia hendak memasukan akses kode password pintunya, seketika Ela terdiam. Kedua matanya tanpa sengaja menatap sebuah cincin yang kini melingkar di jari manisnya.


"Bahkan beberapa jam sebelumnya, jari manisku hanya polos. Sekarang, ada cincin pernikahan disana."


Dan lagi, rasa bersalah itu semakin besar. Kebodohan yang ia lakukan dua hari yang lalu malah semakin membuatnya menyesal. Takdir sudah menyatakan bahwa ia dan Danish kini sepasang suami istri meskipun hanya melakukan pernikahan siri.


Dengan lesu Ela melanjutkan niatnya yang sempat tertunda untuk memasuki apartemennya. Setelah berhasil masuk, tidak ada yang bisa Ela lakukan selain menangis di keheningan malam. Akhirnya, air mata yang ia tahan sejak tadi, meluruh di pipinya.


"Semoga besok semuanya berjalan dengan baik, walaupun tidak mudah."


****


Keesokan harinya..


Apa yang di harapkan Ela memang tidak sesuai keinginannya. Rupanya pagi ini lagi-lagi ia mendapat cibiran dan tatapan tidak menyenangkan oleh sesama rekan kerja wanita.


"Pelakor!"


"Nggak tahu diri banget, istri orang lagi sakit, malah cari kesempatan."


"Perusak kebahagian wanita lain. Padahal dia kan wanita ya? Seharusnya bisa sama-sama ngerti sih."


Tiga ucapan itu, tanpa sengaja terdengar di pendengarannya. Jika saja pergi dengan seenaknya keluar perusahaan itu mudah, tentu saja ia akan melakukannya saat ini juga.


Dengan langkah cepat Ela menuju lift. Ia harus cepat sampai ke ruangannya sendiri. Seketika Ela terdiam, sesampainya disana, ada Danish yang baru saja masuk. Ela menghentikan langkahnya. Haruskah ia masuk? Untuk apa ia takut? Bukankah sekarang Danish adalah mahramnya?


Ting! Pintu lift akhirnya tertutup rapat. Ela hanya terdiam melihatnya. Begitupun Danish yang juga tidak berkata apapun. Untuk saat ini, hati Danish masih merasa marah pada Ela. Semua perbuatan wanita itu beberapa hari yang lalu, memang benar-benar mengacaukan semuanya.


Danish menghela napasnya. Dengan mood yang rusak ia pun segera menuju ruang wardrobe. Sesampainya disana, lagi-lagi Danish mengerutkan dahinya. Kemana pakaian formal yang akan ia kenakan nantinya? Apakah belum di persiapkan? Bahkan 30 menit lagi ia harus on air.


"Danish?"


Danish menoleh ke belakang, seorang pria bagian hairstylist dan make up profesional menatapnya bingung.


"Ya?"


"Belum ganti pakaian?"


"Aku tidak tahu dimana pakaiannya."


"On air mu 30 menit lagi." ucap pria itu sambil menunjuk ke arah jam tangannya. "Kita tidak memiliki waktu yang banyak."


"Maaf, aku telat."


Tiba-tiba Ela datang, napasnya terlihat tersengal-sengal. Pria di samping Danish menatapnya heran.


"Kamu masih kerja disini, Mbak Ela?"


Ela mengangguk. "Iya, kenapa?"


"Bukankah peraturan di perusahaan ini tidak memperbolehkan pasangan suami istri bekerja dalam perusahaan yang sama? Salah satu kalian harus ada yang resign."


"Tolong siapkan pakaianku." sela Danish tiba-tiba. Ucapannya di tujukan pada Ela. Sejujurnya ia tidak suka berada di perbincangan yang tidak terlalu penting saat ini. Danish sudah berlalu membelakangi keduanya dan melepaskan jaketnya.


"Kalau begitu, aku tunggu diruang make up, ya, Danish."


"Oke."


Setelah kepergian pria tadi, kini, ruangan tersebut hanya menyisakan keduanya. Ela sendiri tidak berani berani berbicara pada Danish. Ia masih takut pada pria itu akibat kejadian akad nikah dadakan semalam. Ela berusaha untuk fokus, ia mulai memilah-milah kemeja yang tepat beserta jas formal. Tak hanya itu, dengan gerak gerik terburu-buru ia juga mulai mencari dasi.


Bruk!


Tanpa sengaja Ela tersandung hingga jatuh ke lantai. Pipinya terasa perih. Apalagi saat terjatuh, bagian wajahnya mengenai lantai. Ela meringis kesakitan, rupanya alas flatshoes yang ia kenakan begitu licin sampai membuatnya terpeleset di lantai yang licin dan bersih.


"Kalau kerja hati-hati." Ucap Danish tiba-tiba.


Ela mendengarnya, berusaha untuk bangun, tapi pinggul yang mengenai lantai begitu nyeri. Ela berusaha untuk bangun, tapi sulit. Pakaian formal dan perlengkapan Danish lainnya sampai berserakan di lantai.


Tanpa diduga, dengan perlahan Danish membantunya berdiri. Ela meringis kesakitan, hingga akhirnya membuat Danish menggendongnya secara bride style. Danish mendudukkan Ela dengan perlahan diatas sofa yang empuk. Ini kedua kalinya ia melakukan kontak fisik dengan Ela setelah semalam yang pertama kalinya ketika memegang tangan wanita itu saat pemasangan cincin nikah.


"Maaf, izin buka kaus kakimu." sela Danish lagi. Ela tidak bisa berbuat apapun selain diam. Rupanya kakinya memar. Dengan cekatan Danish menuju kotak P3K, mengeluarkan obat oles untuk kaki yang sedang sakit. Setelah menyelesaikan semuanya, Danish kembali memasang kaus kaki Ela, hingga tanpa sadar, rasa bersalah itu kembali hadir di hatinya.


"Nafisah, maafkan aku. Aku menyentuh kulit tubuhnya. Hatiku terluka, tapi, sekarang dia mahramku."


"Terima kasih, Mas Danish."


Danish hanya diam dan mengangguk. Dengan langkah terburu-buru, ia mengambil pakaian yang sempat berserakan di lantai kemudian menuju ruang ganti. Danish sudah tidak memiliki banyak waktu lagi. Setelah semuanya selesai, ia langsung ke ruang make up dan menghentikan langkahnya. Ia menatap Fikri Azka, CEO D'Media Corp yang kini juga menatapnya. Seketika Danish gugup.


"Pak Danish, silahkan ikut saya keruangan."


****


Beberapa menit kemudian..


"Saya dengar, katanya kalian sudah menikah. Apakah itu benar?"


Danish menatap Fikri Azka yang kini sedang berada di hadapannya. Saat ini, Danish sudah berada di ruangan Fikri Azka dengan perasaan gugup dan cemas.


"Iya, Pak. Kami, baru saja menikah."


"Alhamdulillah kalau begitu. Anda tahu kan, peraturan disini kalau pasangan suami istri tidak di perbolehkan bekerja di perusahaan yang sama?"


Pintu terketuk pelan. Asisten pribadi Fikri masuk dengan sopan.


"Assalamualaikum, Pak Fikri. Maaf menganggu, ada Bu Ela yang ingin bertemu dengan anda."


"Wa'alaikumussalam. Kalau begitu, suruh dia masuk."


Asisten pribadi Fikri pun hanya mengangguk kemudian mempersilahkan Ela masuk. Ketika memasuki ruangan tersebut, Ela masih terlihat tertatih saat berjalan akibat insiden sebelumnya saat terjatuh.


"Ada apa dengan kaki anda, Bu Ela? Semuanya baik-baik saja?"


Ela pun akhirnya duduk di hadapan atasannya. Bersebelahan dengan Danish. Ia memaksakan senyumnya.


"Maafkan saya Pak, tadi saya tidak sengaja terpeleset di ruangan kemudian terjatuh. Mas Danish, em, maksud saya Pak Danish langsung menolong saya sehingga membuat pekerjaan beliau tertunda. Semua salah saya. Jika berkenan, lebih baik saya saja yang resign. Saya yang akan membayar semua dendanya sesuai tertera di surat kontrak pekerjaan."


"Ela-" Danish menoleh ke arah Danish. "Kenapa kamu-"


"Tidak apa-apa," Tanpa diduga, Ela menggenggam punggung tangannya. Hingga membuat Danish terdiam. Dan lagi, rasa bersalahnya pada Nafisah kembali menyentuh hatinya. Padahal ia dan Ela sudah sah. Tapi tetap saja, sampai saat ini Nafisah belum mengetahui semuanya.


"Baiklah kalau begitu." jawab Fikri seadanya, tatapannya beralih ke arah asistennya. "Hubungi pihak HRD, aku ingin data lengkap Bu Ela. Semua sudah menjadi hak dan keputusannya."


"Baik, Pak. Permisi. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Detik berikutnya, dengan perlahan Danish menjauhkan genggaman tangan Ela dari punggung tangannya. Ela hanya bisa diam dan tidak berkata apapun. Tapi tidak dengan isi hatinya.


"Ya, aku ngerti. Kamu tidak menginginkanku apalagi suka denganku."


****


Masya Allah, Alhamdulillah. Akhirnya update lagi.. Tetap stay ya sama cerita ini. Jangan kapok-kapok dengan alur yang nyesek, hhe 🤧


Jazzakallah Khairan sudah baca. 

With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii.








1 komentar: