Chapter 50 ; Jodoh Dari Lauhul Mahfudz - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 09 April 2021

Chapter 50 ; Jodoh Dari Lauhul Mahfudz



Rintik hujan pun akhirnya tiba setelah seharian hujan mengguyur kota Jakarta. Danish berteduh di tempat halte. Padahal jarak apartemennya tidak terlalu jauh, namun ia tidak ingin berhujan-hujan hingga berakhir sakit. Sudah cukup ia sekali di panggil oleh CEO Fikri Azka. Jangan sampai di panggil kedua kalinya hanya karena ia tidak turun akibat sakit.


Tint! Klakson mobil berbunyi. Detik berikutnya, pintu terbuka dan Ela keluar sambil menutupi kepalanya yang terpasang khimar dengan slinbag agar terhindar dari hujan. Padahal sebenarnya kangkah kakinya masih sakit, tapi begitu melihat Danish, ia tidak bisa diam begitu saja.


"Mas Danish, ayo ikut aku."


Danish terdiam, menatap Ela yang kini menawarkan tumpangan padanya.


"Kamu duluan saja. Aku ingin berteduh sebentar."


"Tapi hujannya lebat. Sebentar lagi sholat ashar."


Danish terlihat mempertimbangkan ucapan Ela. Sampai akhirnya ia mengulurkan telapak tangannya.

"Kunci mobilmu, aku yang akan menyetir."


Ela mengangguk. Ntah kenapa hatinya senang. Keduanya segera memasuki mobil dan Danish mengemudikannya. Tidak ada yang berbicara sedikit pun, sampai akhirnya Ela menoleh ke samping.


"Mas."


"Hm."


"Bagaimana kondisi Mbak Nafisah?"


"Terakhir kulihat, belum ada perubahan."


"Diyah juga ikut neneknya pulang kampung?"


"Hm, iya."


"Tidak sekolah?"


"Dia sudah bagi rapor. Jadi saat ini sedang libur."


Ela hanya mengangguk. Ia menatap ke depan jalan. Bingung harus membahas apa agar tidak canggung. Sementara tidak sedikitpun Danish enggan membahas hal-hal lain bersamanya. Padahal komunikasi sangat penting, itu yang pernah Ela ketahui dari salah satu temannya yang sudah menikah.


Waktu terus berjalan, sampai akhirnya Danish tiba di lobby apartemennya. Danish mematikan mesin mobil dan melepaskan safety belt yang ia kenakan.


"Terima kasih." ucap Danish seadanya.


"Sama-sama, Mas."


Danish mengangguk dan keluar dari mobil. Ela terdiam, ingin mengucapkan sesuatu tapi segan. Sampai akhirnya Danish berlalu. Dan lagi, Ela menatap punggung Danish tapi ntah kenapa ia tidak bisa menahan diri. Dengan cepat Ela keluar dari mobil dan mengejar Danish.


"Mas Danish! Tunggu-" bruk!


"Aargh, Astaghfirullah.." Ela meringis. Ia pikir kakinya sudah sembuh, ternyata belum. Akhirnya Danish berjalan cepat ke arahnya.


"Kamu nggak apa-apa?"


Danish membantu Ela berdiri. Ela merasa kakinya begitu nyeri. Sepertinya ia harus hati-hati setiap melangkah.


"Kakiku sakit sekali."


"Kenapa kamu mengejarku? Jika masih ada yang perlu di bicarakan, kamu bisa saja meneleponku."


"Aku cuma ingin menawarkan apakah malam ini Mas di buatkan makan malam atau tidak. Jika iya, aku akan mengantarkannya."


"Tidak perlu repot-repot." Akhirnya Danish merengkuh pinggul Ela. Wanita itu begitu tertatih saat berjalan. "Aku akan ke apartemenmu malam ini."


"Benarkah?"


"Iya."


Hati Ela kembali senang dan bahagia. Tak hanya itu, sekarang, Danish malah kembali mengemudikan mobilnya dan mengantarkannya hingga sampai ke apartemen. Sesampainya disana, Danish terdiam. Apartemen Ela memang besar dan luas. Ia juga baru ingat, kalau Ela memang terlahir dari keluarga kaya. Keluarganya memang banyak pengusaha. Tak heran, meskipun Ela merantau di kota ini, wanita itu tidak merasa kekurangan sedikit pun.


"Dimana kamarmu?"


"Disana." tunjuk Ela ke arah sebelah kanan. Danish pun kembali merengkuh pinggul Ela dan memasuki kamarnya yang bernuansa  putih kombinasi warna salem.


Akhirnya Ela bisa lega duduk di pinggiran tempat tidur. Tak hanya itu, Danish juga membantu melepaskan kaos kaki dan flatshoes yang di kenakannya.


"Flatshoes ini tidak usah di pakai. Berbahaya sekali."


"Em, baiklah. Nanti aku akan beli yang baru."


"Biar aku saja yang beli. Aku belum memberimu uang nafkah. Minggu depan Insya Allah aku gajian."


Ela merasa speechless. Ucapan Danish memang sederhana. Tapi benar-benar ngena di hatinya. Beginikah rasanya sebagai seorang istri yang benar-benar di hargai suaminya?


"Mas Danish memang tidak menyukaiku apalagi mencintaiku, tapi kewajibannya sebagai seorang suami benar-benar di jalankannya dengan baik." sela Ela dalam hati.


Suara adzan ashar berkumandang di ponsel Danish maupun Ela. Danish segera berdiri, Ela pun tak tinggal diam.


"Mas, kalau mau sholat di mesjid, kebetulan di lemari kamar sebelah ada gamis."


"Kamu menyimpan gamis?" tanya Danish heran.


"Em, maksudnya, Abangku pernah menginap disini. Jadi, gamis itu milik Abang. Pakai saja."


Danish mengangguk. "Terima kasih."


"Kalau perlu, nanti aku belikan beberapa pakaian untuk Mas supaya Mas Danish bisa-"


"Oh iya, kamu bisa berdiri dan berwudhu?" potong Danish cepat. Sungguh, ia masih belum terpikir untuk tinggal bersama Ela di saat situasi seperti ini. Ntahlah, ia sendiri masih bingung apalagi Nafisah belum mengetahui semuanya.


"Aku.. em, ya Insya Allah aku bisa."


"Aku pergi ke mesjid dulu, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


****

Danish mengunyah makan malam yang di masak oleh Ela. Rasanya sedikit hambar, tapi ia mencoba memaklumi. Mungkin wanita itu baru belajar memasak.


Dengan memberanikan diri Ela menatap Danish. "Em, gimana rasanya Mas?"


"Lumayan."


"Lumayan hancur ya?" Ela menyengirkan bibirnya.


"Tidak juga. Hanya kurang garam."


"Maaf, aku, baru belajar memasak. Selama ini aku paling jarang ke dapur."


"Tidak apa-apa."


"Oh iya, menu makanan kesukaan Mas apa? Besok aku ingin kepasar dan belanja. Hm, bukankah besok aku sudah tidak bekerja lagi di D'Media Corp?"


"Seleraku yang penting rasanya pas. Itu saja."


"Kapan Mas Off bekerja?"


"Besok."


"Wah, kebetulan sekali. Bagaimana-"


"Maaf, besok aku harus kerumah sakit. Seharian ini aku belum menemui Nafisah."


Seketika Ela terdiam. Di balik rasa senangnya, ia harus sadar, prioritas utama Danish tentu saja Nafisah. Ntah kenapa hatinya sesak. Ela berusaha mengusir semua perasaan cemburunya.


"Baikah kalau begitu. Tunggu Mas nggak sibuk saja."


Danish hanya mengangguk dan kembali memakan santapan makan malamnya. Sesungguhnya ia sadar, kalau Ela sedang tidak nyaman hati. Tapi ia juga tidak bisa mengelak kalau ia harus bersikap adil dan wanita itu harus sadar dengan posisinya. Tidak mudah, namun mau tidak mau harus menjalaninya karena semua itu adalah takdirnya.

****

Alhamdulillah chapter 50 sudah up. Jazzakallah Khairan sudah baca. Kesel sama Ela di tahan dulu ya. Tetap stay dan jangan bosan-bosan ikutin alurnya hhe.

With Love 💋 LiaRezaVahlefi

4 komentar:

  1. Gak sabar nunggu Nafisah sadar

    BalasHapus
  2. Kasihan Nafisah...memang ga ada jalan lain selain pernikahan sementara istri sah sedang sakit. Semoga Nafisah ada yg nyulik tp bisa selamat terus hilang ingatan. Danis nya dibuat ga bisa punya anak LG jadi orang tua Ela menyuruh cerai. Terus Danis ketemu Nafisah lg dan buat Danis mengejar cinta Nafisah.

    BalasHapus
  3. Ela katanya sudah ga ada rasa lagi sama Danish dan merasa bersalah ke Nafisah krn ulahnya jd harus Danish harus menikahinya.

    Kalau memang begitu, sudah tau konsekwensinya jd bersabarlah jangan berharap pada manusia, cemburu, ingin jd prioritas. Dari awal kan tau prioritas Danish mmg kesehatan Nafisah. kalau sikap Ela yang juga menuntut nnt apa yang di ghibahin orang di luaran jd beneran dong.. istilah perusak dan memanfaat kan keadaan..

    BalasHapus
  4. Barakallah fi Umrik Kak... Semoga selalu sukses lancar trus ya Kak.. Aamiin Ya Allah..

    BalasHapus