Chapter 26 : POV Raisya - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Minggu, 09 Mei 2021

Chapter 26 : POV Raisya

 



*Harapan Yang Sirna*


❣️❣️❣️❣️


Suasana begitu ramai sekarang. Dikanan kiriku semua siswa menikmati semangkok bakso cabang restoran milik Bang Afnan.


Tapi aku tidak bisa menepis jika saat ini aku dan Raihan menjadi buah bibir di sekolah karena kesalahanpahaman bodoh itu. Aku berusaha mengabaikannya. Aku menatap salah satu siswa yang menatapku aneh. Lalu dia salah tingkah dan berpura-pura menatap kelain.


Ck. Sebenarnya itu menggangguku. Tapi aku masih bertahan untuk mengabaikannya.


Lalu aku beralih menatap Lili yang tetap tenang menyuapkan sesendok bakso kedalam mulutnya. Aku juga menatap Lala yang sibuk memainkan ponselnya sambil makan.


Di kedua tanganku ada sendok dan garpu. Siap menyuapkan mie dan bakso kedalam mulutku. Sebenarnya aku lapar. Tapi akibat hatiku sedang tidak enak, makan semangkok bakso ini terlihat hambar. Padalah Lili sedang mentraktir hari ini.


Tiba-tiba aku memikirkan Raihan. Tiba-tiba hatiku sesak. Bukan karena sakit sesak napas. Tapi.. aku sendiri bingung. Akhir-akhir ini aku di bayangin rasa bersalah sama Raihan.


Aku sudah mencoba meminta maaf padanya. Tapi dia menolakku. Dia mengabaikan ku. Dia dingin kepadaku. Aku harus apa?

 
Imbasnya adalah Mama dan Papa juga mendiamkanku. Mereka berbicara seperlunya. Tapi sebagai anak. Tentu saja aku sedih.


"Kenapa sya?"


Aku menoleh kearah Lala. "Tidak apa-apa."


"Kok gak dimakan?Biasa juga habis 2 mangkok." kekeh Lala kearahku.


"Aku senang tidak mood."


"Karena Raihan cuek sama kamu?"


"Atau tiba-tiba kamu merasa tidak enak hati? Wah-wah sejak kapan nih mulai memikirkan rasa bersalah?


Aku terdiam. Benarkah karena itu semua? Biasanya aku tidak peduli. Tapi kenapa tiba-tiba peduli akan hal itu? Aku menghela napas. Lalu meletakan sendok dan garpu di mangkok bakso. Aku berdiri dengan lunglai.


Lili melihat kearahku. "Mau kemana?"


"Aku mau pergi-"


"Hai gadis-gadis!"


Tiba-tiba Malik datang. Ah maksudku Nua. Nua Nama panggilan akrab sahabat Raihan dalam geng Tiga Perjaka Sejati katanya.


Malik langsung mengambil tempatku setelah aku beridiri. Dia bertopang dagu sambil menatap Lala.


"Hai cantik. Masya Allah. Nikmat Tuhan yang patut di syukuri. Melihat kaum hawa sepertimu yang cantik."


Lala menatap tajam ke arah Malik "Ngapain kesini? Sana-sana! Ganggu orang makan aja."


"Aku gak ganggu cantik. Aku cuma lihat kamu makan."


"Iya tetap aja! Sana-sana Hush!"


Malik tertawa. Lalu menatap Lala dengan tatapan raut wajah smirknya. "Jangan ngusir. Ada cowok seganteng aku kok di usir sih?"


"Malik! Kamu itu ya-"


"Aku suka sama kamu."


Aku tertegun. Lala yang tadinya sibuk makan tiba-tiba berhenti dengan kunyahan bakso didalam mulutnya. Apalagi Lili saat ini.


"Dasar gila! Aneh. Menyebalkan!"


Dan Lala pergi. Lili hanya melongo. Lalu mengambil alih bakso milik Lala dan memakannya. Lili memang gitu, suka mengambil alih sisa makanan Lala ataupun diriku. Katanya mubazir. Hanya kami. Tidak sisa makanan orang lain.


"Eh! Eh! Sayang, jangan pergi. Aduhai kaum hawa yang manis!"


"Bodo!"


Aku menghela napas. Dasar mereka. Aneh. Aku mengabaikan hal itu. Lalu melihat Kak Bejo dari kejauhan dan beralih menatap Lili..


"Li. Aku duluan ya."


"Iya."


"Tidak apa-apa kan aku tinggal."


"Oke."


"Aku mau datangi kak Bejo."


Tiba-tiba Lili menatapku. Aku merasa dari tatapannya tiba-tiba terlihat tidak suka. Benarkah? Ya Allah. Kenapa sejak tadi aku suka menerkan-nerka? Ah tidak mungkin. Aku tidak boleh seudzon sama sahabatku sendiri.


"Iya. Aku tidak apa-apa sendiri."


"Baiklah. Aku pergi dulu."


❣️❣️❣️❣️


"Kak Bejo!"


"Raisya? Hai."


"Hai." Aku tersenyum kearah Kak Bejo. "Kakak sibuk?"


"Tidak juga. Aku mau belajar. Sebentar lagi ada ulangan harian."


"Oh." Aku berusaha memaksakan senyumanku. Kak Bejo meraih salah satu buku. Ntah itu buku apa. Saat ini situsnya kami sedang di perpustakaan.


"Kak.."


"Hm?"


"Maaf soal waktu itu."


"Yang mana?"


Kek Bejo terlihat mengecek buku yang sudah ia pegang. Membuka halaman demi halaman. Aku masih berdiri disampingnya. Tapi rasanya tidak enak bila mengajak dia berbicara sementara dia terlihat sibuk.


"Kejadian di toilet."


"Itu.. tidak seperti yang kakak pikirkan. Aku.. aku dan Raihan tidak ada hal apapun. Percayalah."


Bejo menutup bukunya. Lalu menatapku.


"Oh itu." Bejo tersenyum tipis. "Apapun yang terjadi diantara kalian itu bukan urusan kakak sya. Kakak tidak boleh ikut campur."


"Ta-tapi kak. Aku.. aku hanya tidak enak sama kakak."


"Santai saja." Kak Bejo tertawa kecil kearahku. "Kakak bukan siapa-siapa kamu dek. Gak ada yang perlu dikhawatirkan. Sudah ya. Kakak mau belajar dulu."


"Kak."


Aku menghadang jalan kak Bejo begitu dia mau keluar perpustakaan. Aku tidak bisa membendung perasaan ini.


"Ya?"


"Aku.."


"Kenapa sya?"


Aku ragu. Aku takut. Tapi aku tidak bisa memendam lama-lama perasaan ini didalam hatiku.


"Kenapa sya?"


"Aku.."


"Ya?"


"Aku.. aku suka sama kakak."


Untuk sesaat semua waktu seolah-olah terjeda. Kami saling bertatapan dalam diam. Aku tahu dia terlihat syok.


"Sudah lama aku suka sama kakak. Aku harap kakak tidak terkejut. Itu alasan kenapa aku ingin menjelaskan semuanya. Disisilain aku butuh seseorang untuk menjadi teman curhatku-"


"Raisya.."


Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Aku melihat Lili dari jarak beberapa meter.


"Lili? Ada apa?"


"Kamu jangan suka sama Kak Bejo."


Aku mengerutkan dahiku. Kenapa dia begitu? Lili melangkahkan ke arah kami.


"Ma-maksudmu?"


"Aku juga suka sama dia."


"Suka?"


"Kalau kamu butuh teman curhat. Kamu bisa curhat sama aku atau Lala. Tolong Jangan di jadikan alasan hal tadi dan berharap dengan kak Bejo."


Lili menggenggam punggung tanganku. Jari-jari tangannya terasa dingin. Apakah dia gugup?


"Aku suka sudah lama. Sejak masih kecil. Keluarga kami saling dekat. Begitu tahu kamu suka sama dia saat kita sekolah disini aku bisa apa?"


"Lili.. i-ini.. kamu sedang tidak bercanda kan?"


"Tidak Sya." Lili menggeleng lemah. "Aku gak bisa mengalah sama kamu. Kamu cantik dan memiliki banyak kelebihan dariku. Sedangkan aku?"


"Tapi aku juga suka sama dia Li." Berusaha menahan sabar aku melepaskan genggaman tangannya pada tangaku. "Kalau kamu suka sama dia sejak dulu kenapa tidak bilang? Jadi itu alasan kamu selama ini kenapa kamu sering pergi tanpa sebab meninggalkan aku dan Lala? Jadi itu alasan kamu akhir-akhir ini sering memegang ponsel karena Kak Bejo?"


Lili mengangguk lemah. "Maafin aku sya. Aku.. aku cuma takut kamu marah. Ikhlaskan Kak Bejo sama aku. Kami sudah di jodohkan."


Tanpa diduga Lili memperlihatkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. Aku baru sadar dan baru melihatnya sekarang. Lalu aku berlalih menatap jari manis Kak Bejo. Sebuah cincin yang sama seperti Lili tersemat disana.


"Aku tidak mau kita bertengkar Sya. Kita sudah sahabat sejak kecil. Sekolah bareng-bareng meskipun aku.." Lili memundurkan langkahnya. Air mata menetes di pipinya.


"Maafin aku. Aku.. aku takut kita bertengkar hanya karena masalah cowok."


Aku menoleh kearah Kak Bejo. Si pria hitam manis yang biasa-biasa saja tapi kesolehannya itu yang membuatku kagum. Aku menatapnya sesaat. Apalah arti kebaikannya selama ini? Apalah arti kebaikan dari uminya yang pernah welcome denganku?


Aku tersenyum miris. Tapi seperti yang aku pikirkan saat ini. Aku harus bersikap baik-baik saja. Aku tidak boleh egois dan berkahir dengan merepotkan banyak orang lagi. Apalagi menyakiti hati Lili. Si gadis lugu pendiam yang secara tidak langsung menyakiti hatiku juga.


"Maafin aku Li. Akan lebih baik jika dari awal kamu bilang sama aku sebelum aku menyukai Kak Bejo. Menyukai dia memang mudah. Tapi saat melepaskannya.. itu adalah hal yang tersulit."


Aku menoleh kearah Kak Bejo. Dia terlihat diam. Mungkin dia bingung harus bersikap seperti apa saat ini. Tapi aku tidak menyalahkan dia. Yang salah aku. Bukan dia. Karena aku sendiri yang kebaperan sama dia.


Kak Bejo tidak pernah memberi harapan sama aku. Tapi malah aku yang berharap dirinya menyukaiku. Aku salah. Aku sudah berharap dengan manusia yang menjadi patah hati yang sebenarnya.


❣️❣️❣️❣️


Sepanjang nulis alur ini yang paling nyesek waktu Lili memperlihatkan cincin yang melingkari di jari manisnya.


💔💔💔


Makasih sudah baca. Maaf udah bikin kalian nyesek ya. Tapi mau gimana lagi. Emang gini alurnya hhe 😂


Sehat selalu buat kalian.
With Love 💋
LiaRezaVahlefi


Instagram
lia_rezaa_vahlefii


Next Chapter 27 

https://www.liarezavahlefi.com/2021/05/chapter-27-pov-raihan.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar