Chapter 29 : POV Raihan - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Minggu, 09 Mei 2021

Chapter 29 : POV Raihan



*Marah Yang Kesekian Kalinya*


๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ


Aku melepaskan helmku di motor begitu kami tiba disebuah halaman parkiran mesjid Islamic Center Samarinda. Aku mengecek jam di pergelangan tanganku. Saat ini jam sudah menunjukan pukul 14.00 siang.


Setelah usai jam pelajaran disekolah, kami melanjutkan kegiatan ekstrakurikuler fotografi. Kali ini kami mendapat kegiatan hunting outdoor di sebuah mesjid yang menjadi kebanggaan warga Kalimantan Timur lebih tepatnya kota Samarinda.


"Oke apakah semuanya sudah berkumpul?"


"Sudah kak."


"Sudah kak."


Aku memperhatikan Kak Surya yang kini menjadi pembina ekskul fotografi kami. Dia terus mengintruksikan bagaimana teknik pengambilan gambar sekaligus praktek mengambil sebuah foto siluet.


Setelah berbagai macam instruksi yang di jelaskan selama beberapa menit. Akhirnya kami pun mulai berpencar ke segala arah halaman mesjid Islamic Center.


Halaman yang begitu luas benar-benar membuat kami leluasa mencari beberapa objek untuk inspirasi. Apalagi menurut berita yang pernah aku baca di internet Mesjid Islamic Center Samarinda ini bisa menampung sebanyak 45.000 jemaah.


"Raihan!"


Aku menoleh ketika seorang cewek memanggilku. Siapa lagi kalau bukan si Lala yang juga ikut ekskul fotografi.


"Apa?"


"Fotoin aku dong."


"Minta tolong sama orang aja."


"Ish! Gak mau. Hasilnya jelek. Kamu kan pinter. Hasilnya pasti bagus."


"Aku belum lihai."


"Ayolah Rai.. ya? ya? ya?"


"Aku tidak mau."


Aku melenggang pergi meninggalkan Lala. Ck. Lala itu sebelah dua belas saja sama Raisya. Ah ngomong-ngomong soal Raisya. Ada satu hal yang membuatku heran selama beberapa hari ini.


Dia terlihat berbeda. Maksudku dia terlihat pendiam. Tidak cerewet, berisik apalagi terlihat mengejar si Bejo-Bejo itu. Bukannya aku perduli guys. Aku cuma merasa heran aja. Apakah dia sudah dapat hidayah?


Aku tersenyum sinis. Baguslah kalau begitu. Sudah aku bilang. Jika aku mengaku bahwa aku tidak salah didepan kedua orang tuaku dan Pak Ridwan saat di ruang BK mungkin si gadis nyai rombeng itu tidak akan pernah sadar dan kembali berulah.


Lihat saja sekarang? Aku berhasil kan? Ck.


"Raihan!"


"Rai!"


"Tunggu."


Dengan jengah sekaligus sebal aku menoleh kebelakang. "Ap-"


Seketika aku terdiam. Sedikit terkejut dan tidak menyangka bila saat ini Lala mengamit lengan Raisya. Wah-wah apakah ini semua adalah kebetulan? Baru saja aku memikirkan soal dirinya yang mendapat hidayah tahu-tahu sekarang dia ada didepan mataku?


"La.. sudah ya. Aku mau masuk kedalam mesjid."


"Bentar aja sya. Janji deh janji."


Aku memperhatikan Lala yang sedikit keras kepala. Lalu beralih menatap Raisya yang kini memakai sebuah syar'i dan hijab panjangnya berwarna pink muda sekaligus raut wajahnya yang tidak enak. Mungkin tidak enak denganku? Cih. Wajar saja. Karena aku tidak akan pernah memaafkanya yang sudah keterlaluan. Kalian harus ingat itu.


"La, sebentar lagi pengajian dimulai. Aku harus masuk."


"Sebentar aja kok Raisyaaaa. Eh Raihan! Fotoin kami dong. Kamera baru nih. Belum pernah buat foto-foto bareng Raisya. Gini-gini Raisya baju baru loh. Belinya di online shop budeku di Jakarta."


"La!"


Aku menatap datar keduanya. Terus apa urusannya denganku? Dasar cewek. Lebay!


"Raihan ganteng.. ayolah fotoin-"


"Sini kameranya!" sinisku dengan jutek.


Cekrek
Cekrek
Cekrek


Akhirnya dengan kesal aku memfoto mereka secara asal. Meskipun aku sempat terdiam beberapa detik hanya untuk menatap wajah Raisya yang.. em.. Cantik.


Sial.


Lalu aku mengembalikan kamera Lala dengan cepat. Masa bodoh jika hasilnya tidak bagus. Siapa suruh dia mengandalkanku. Dan hal tersial lagi adalah kenapa wajah Raisya yang cantik itu masih melekat di bayanganku?

Astaga.


๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ


Nua : "Woi malam main woi! ๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž"


Rai : "Iya."


Nua : "Jangan wacana aja Rai ๐Ÿ™„"


Raihan : "Aku gak wacana. Komputerku memang sudah tidak ada lagi di kamar. "


Nua : "Yaudah lewat ponsel aja. Oke? Anu?"


Raihan : "๐Ÿ‘"


Nua : "Eh itu calon biniku si Lala aman aja kan disana? ๐Ÿ™"


Rai : "Gak tau."


Nua : "Lah kok gitu? ๐Ÿ˜ช Titip aja deh. Awas lecet๐Ÿ˜!"


Raihan : "Aku bukan jasa titip."


Anu : "Kalian ribut apa? Gak kasihan kah sama aku yang lagi galau?๐Ÿ˜ฅ"


Nua : "Sudahlah Nu. Lili bukan jodohmu. Bang Bejo sudah boking duluan๐Ÿ˜‚ "


Raihan : "Makanya belajar kendaraain motor sana biar bisa gonceng cewek nanti kalau sudah nikah ๐Ÿคฃ"


Anu : "Males."


Nua mengetik...


Aku mengabaikan beberapa isi chat dari grup Tiga Perjaka Sejati yang terus bermunculan. Lalu memasukan ponselku. Kegiatan fotografi akhirnya selesai. Hari sudah semakin sore setelah aku melaksanakan sholat ashar di masjid ini.


Akupun segera menuju parkiran halaman motor dan memilih segera pulang kerumah.


"Raihan!"


Tanpa diduga Raisya mencegah kepergian ku. Aku mendengus kesal. Lagi-lagi ada cewek manggil aku. Kenapa hidupku selalu di kelilingi sama cewek-cewek yang menyebalkan sih? Gak Lala, gak Raisya, Jannah, Fatimah, Aisyah. Semua sama! Tapi untungnya aja hampir setengah bulan ini Fatimah Jannah dan Aisyah tidak mengangguku.


"Raihan bisa minta tolong?"


"Tidak."


"Tolong aku Raihan. Aku-"


"Aku memasukan kunci motorku lalu mengarahkannya ke On."


"Aku cuma minta tolong bisa hubungi Tante Aiza?" nada suara Raisya terlihat getir. "Aku.. aku lupa menaruh kunci mobilku. Nomor ponsel mama tidak aktip. Saat ini Papa juga lagi melakukan penerbangan ke Swiss. Kali aja Tante Aiza bisa memberitahukan hal ini kerumah Mama disebelah."


"Minta tolong sama yang lain aja."


"Tidak. Rai-"


"Atau Lala."


"Aku-"


"Faisal aja."


"Tapi aku-"


Aku menghidupkan mesin motor. Mengabaikan si biang masalah yang suka membuat orang kerepotan.


"Sebentar Rai sebentar." Raisya mencegah kepergian ku. "Tolong aku. Aku kebingungan tidak bisa pulang. Aku-"


BRAK!


Aku membanting helm yang sudah aku pakai ke tanah. Dia terkejut. Tubuhnya sedikit gemetar dan syok.


"BISA GAK JADI CEWEK ITU GAK REPOTIN ORANG?!!!"


"R-Rai.."


"SATU-SATUNYA CEWEK YANG MEMBUATKU KESAL SETIAP HARINYA ITU ADALAH KAMU!!!"


"A-aku.. aku hanya minta tolong hubungin Mami kamu." Air mata menetes di pipi Raisya. Aku melihatnya dengan jelas.


"Dan aku tidak menyuruhmu menolongku membantu mencarikan kunci mobilku di mesjid yang luas ini. I-itu aja. Apakah aku salah? Aku-"


Aku sudah tidak mendengarkan ucapan Raisya lagi karena aku sudah melenggang pergi mengendarai motorku.


๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ๐ŸŽฎ


Silahkan pilih kalau mau nabok :


Teplon dapur
Kemoceng
Pisau dapur
Kayu
Sapu lidi
Rotan pemukul kasur
Ikat pinggang


๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Makasih sudah baca. Harap sabar dengan sikap Raihan ya ๐Ÿ˜ฅ



With Love๐Ÿ’‹
LiaRezaVahlefi


Instagram
lia_rezaa_vahlefii


Next Chapter 30 :

https://www.liarezavahlefi.com/2021/05/chapter-30-pov-raisya.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar