Chapter 36 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 24 Mei 2021

Chapter 36 : Mencintaimu Dalam Doa


 

3 hari kemudian, Rumah sakit kota Surakarta, Pukul 15.00 sore.

Menjelang sholat ashar, Misha mendorong kursi roda Hamdan sambil melintasi koridor rumah sakit. Setelah kejadian Hamdan disekap penuh luka, rupanya Kakaknya itu mengalami dehidrasi bahkan sampai maag.


"Mi,"

"Ya Kak?"


Dengan perlahan Hamdan menyentuh punggung tangan Misha yang kini berada dibelakang pundaknya.

"Aku minta maaf. Sekarang aku sadar aku salah. Apalagi kepergianmu dari rumah setelah pulang dari Jakarta beberapa hari yang lalu. Kamu sengaja menghindariku karena takut, kan?"


"Iya.." lirih Misha akhirnya. "Aku takut Kakak menjebakku yang ketiga kalinya."


"Maaf, aku sudah hampir menjualmu ke pria hidung belang. Apakah waktu itu kamu baik-baik saja dan berhasil kabur?"


"Iya, Mimi berhasil kabur."


"Temanku menghubungiku dan memarahiku. Setelah aku sadar kamu kabur, aku sempat menghubungi Vita menanyakan kabarmu. Katanya dia tidak tahu. Karena semuanya gagal, aku mengembalikan semua uang itu pada temanku."


Misha hanya bisa diam tanpa berkomentar. Ia pun berdiri di lobby dan berniat menghubungi orderan taksi online.


"Bisa pinjam ponsel Kakak?"


"Untuk apa?"


"Pesan layanan taksi online. "


"Loh, ponsel kamu mana?"


"Maaf, Mimi jual untuk biaya berobat Kakak selama 3 hari disini."


Seketika Hamdan semakin bersalah dan menyesal. Ia sudah menyakiti hati adiknya selama ini. Akhirnya ia pun mengangguk dan segera memesankan layanan taksi online.


"Kak, em, atur alamat baru ya."


"Kenapa dengan alamat kita?"


Seketika Misha terdiam. Ia merubah posisi dan duduk di hadapan Hamdan sambil berjongkok dengan menumpu salah satu lututnya di lantai lobby.


"Rumah kita yang lama, sudah Mimi jual untuk mengganti semua hutang investasi Rp.150 juta itu."


Misha memaksakan senyumnya. "Maafkan Mimi, hanya itu satu-satunya cara untuk bisa menyelamatkan Kakak."


"Jadi kita tinggal dimana?" tanya Hamdan dengan lirih.


"Kita tinggal di sebuah rumah sederhana dan tidak besar. Sebagian barang-barang elektronik dan perabotan rumah sudah Mimi jual ke tetangga dan sosial media. Dari penghasilan semua itu, Mimi gunakan uangnya untuk membayar uang muka rumah sewaan kita."


Hamdan memalingkan wajahnya ke lain, ia merasa malu menatap Misha. Kakak macam apa dirinya yang sudah mendzolimi adik kandungnya sendiri sekaligus membuat semuanya menjadi rumit?


"Setelah itu, aku akan bekerja." ucap Hamdan akhirnya.


"Kakak harus istirahat dulu," sela Misha sambil berdiri dan mendorong kursi roda milik Hamdan. "Setelah itu, silahkan Kakak bekerja asalkan dengan penghasilan yang halal."


"Iya, Mi, sekali lagi maafkan aku. Aku janji setelah kondisiku pulih, aku akan bekerja dan kita sama-sama memenuhi kebutuhan dan keperluan kita dirumah."


Misha tersenyum tipis. Dalam hati ia lega, setidaknya Hamdan sudah menyesali perbuatannya akibat semua musibah ini. Biarlah hatinya terluka karena Franklin, ia akan menerima dengan ikhlas jika takdir memang tidak membuatnya bersama pria itu.


Franklin adalah Pria yang di cintai dalam doa. Pria yang di harapkan melalui untaian doa di dalam sujud selepas sholat.Pria yang mustahil akan bisa tergapai, namun hanya berpasrah diri pada Allah. Karena jodoh, adalah perkara yang wajib di minta melalui Sang Pencipta, Sang Maha membolak-balikkan perasaan hambaNya.


💘💘💘💘


Malam harinya, Apartemen solo Residen. Pukul 20.00 malam.


Jika diluar sana sebagian orang-orang akan bahagia dengan pasangan atau mungkin calon pasangan hidup, berbeda dengan Franklin sendiri yang kini termenung dalam kesendirian malam.


Sholat isya baru saja selesai ia lakukan. Dalam kesunyian malam, Franklin memutuskan keluar dari pintu kamar dan berdiri diatas balkon dengan ketinggian di lantai 10.


Franklin mendongakkan wajahnya menatap langit. Bayangan air mata Misha semakin hari semakin merasuk di pikirannya. Hatinya terasa meremuk dan pedih.


Bahkan rasa keingintahuannya semakin tinggi dan bertanya-tanya bagaimana kabar dan kondisi Misha saat ini. Ingin rasanya ia menghubungi Vita, tapi ia memilih enggan. Kembali berkomunikasi dengan Vita malah akan membuat wanita itu semakin berharap besar padanya.


"Ya Allah, hamba harus apa?"


"Perasaan ini, apakah benar yang di namakan suka dengan wanita lain?"


"Ya Allah, apakah hamba salah seandainya hamba menyukai seorang wanita jika dia berasal dari keluarga yang tidak baik?"


"Tapi bagaimana bila suatu saat hamba bertemu dengan wanita yang baik dari keturunan yang baik namun hamba tidak menyukainya?"


Franklin menundukkan wajahnya. Tiba-tiba ia teringat ucapan Aifa kemarin pagi. Untuk perkara pasangan hidup, apakah sudah saatnya ia melakukan sholat istikharah?


💘💘💘💘


Bandara Adi Soemarmo, pukul 08.00 pagi. Surakarta.


Demi menghargai Aifa beserta Kakak ipar, Franklin terpaksa menemani mereka menuju bandara pagi ini. Sejak tadi, Aifa merasa heran, kenapa Frankie, Franklin, dan Rex tidak saling bertegur sapa?


Pesawat pribadi milik Hamilton sudah ada didepan mata. Aifa berdiri dihadapan Franklin. Sementara si kembar Rafa dan Rafi sudah berlalu bersama babysitternya menaiki anak tangga pesawat.


"Dek, Aifa balik ke Jakarta, jaga diri Franklin baik-baik ya."


Franklin mengangguk. Tidak lupa ia mencium punggung tangan Kakaknya.


"Insya Allah, Kak."


"Pokoknya Aifa tunggu kabar tentang Misha. Ah sayang sekali, selama beberapa hari Aifa disini, Aifa nggak bisa ketemu sama calon adek ipar deh. Padahal kan, kangen banget. Aifa saja kangen, apalagi Franklin?"


"Mungkin dia sibuk Kak." ucap Franklin santai, padahal kata kangen ntah kenapa bisa menyentil hatinya.


"Hm iya kali ya? Yaudah, Aifa berharap semoga Misha jodohnya Franklin. Siapa tahu ada malaikat lewat dan mengaminkan doa Aifa. Iya kan?"


Franklin tersenyum tipis. Kakaknya itu ada-ada saja, setelah itu Aifa pamit dan mulai berlalu menuju anak tangga pesawat. Franklin menatap kepergian Aifa, tiba-tiba Rex dan Frankie berada di samping kanan kirinya.


"Kamu tidak perlu khawatir, Daddy tidak akan tahu masalah ini." ucap Rex pelan.


"Biar bagaimanapun, kami menghargai privasi Misha dan keluarganya yang tidak baik itu."


Setelah mengatakan itu, Franklin menatap datar kepergian Frankie dan Rex. Setidaknya ia bersyukur, untung saja ia bukan pria yang memiliki karakter mudah emosian dan pemarah apalagi sampai bermasalah sama keluarganya sendiri.


💘💘💘💘


Keesokan harinya, PT FR Food Jaya. Surakarta, Pukul 06.00 pagi.


Hari semakin berlalu, waktu juga semakin terus berjalan. Ntah kenapa Franklin merasa dirinya kurang semangat hidup.


Demi bersikap profesional, Franklin harus memaksakan diri agar tidak malas dalam bekerja. Dari jarak beberapa meter, Vita melihat Franklin berjalan memasuki lobby perusahaan. Dengan cepat Vita mendekati pria itu.


"Assalamualaikum, Pak."


Franklin menghentikan langkahnya. Ia menoleh kebelakang. Ia tidak menyangka akan bertemu Vita sepagi ini.


"Wa'alaikumussalam."


"Bisa berbicara sebentar, Pak?"


Franklin mengalihkan pandangannya ke lain. Ia memilih enggan menatap Vita yang cantik dan pipinya bersemu merah.


"2 menit untukmu."


Vita terdiam. 2 menit? Tentu saja tidak cukup. Akhirnya ia pun mengalah.


"Kenapa Bapak akhir-akhir ini menghindari saya dan sulit di hubungi?"


"Saya sengaja melakukannya."


"Kenapa?"


"Saya tidak ingin menaruh harapan padamu."


"Jadi, Bapak tidak suka sama saya?"


"Tidak."


"Saya suka sama Bapak karena Bapak baik dan sesuai kriteria saya. Apakah tidak ada kesempatan untuk mencoba memulai hubungan ini? Jika di pertengahan nanti Bapak tidak menaruh hati ke saya, saya akan ikhlas menerimanya."


Franklin terdiam. Baginya, Vita memang cantik dari segi wajah. Tubuh dan tingginya ideal dimata pria seperti dirinya. Vita juga terlahir dari keluarga dan keturunan yang baik dan jelas. Profesi orang tuanya pengusaha, Kakaknya Dokter bedah. Abangnya perawat. Dan Vita, salah satu karyawan yang baik dan disiplin di perusahaannya. Tapi sayangnya, ini tentang perasaannya terhadap wanita itu, ia tidak ingin memaksakan hatinya. Dengan bijak, Franklin tersenyum tipis dan menatap Vita untuk menghargai lawan bicaranya.


"Terima kasih atas pujian kamu terhadap saya, tapi maaf, saya tidak bisa menjalani hubungan tersebut denganmu."


"Kenapa? Apakah.. apakah Bapak ada menyukai wanita lain?" tanya Vita hati-hati.


Seketika Franklin terdiam. Ntah dorongan dari mana, tanpa sadar ia mengangguk.


"Iya, baru-baru ini dia berhasil mengukir namanya di hati saya."


"Siapa?"


"Hanya Allah dan saya yang tahu. Permisi Vita, maaf saya harus bekerja, Assalamualaikum."


Detik berikutnya Vita menatap kepergian Franklin dalam diam. Bulir air mata kekecewaan pun, menetes di pipinya.


💘💘💘💘


Ketika cinta di tolak. Hati pun remuk seperti remahan kerupuk..
🤧😩😭😭


Syukur deh, sejak dulu, karakter Franklin ini pendiam, datar, selowwww dan bukan PHP ya, wkwkw 😅


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu buat kalian 💕


Oh iya, update nya gak nentu akhir-akhir ini. Kadang siang, kadang malam, sore, hhe.
Maklum, mood ibu hamil muda ini berubah-ubah buat up 😅


With Love 💋
LiaRezaVahlefi


Instagram : lia_rezaa_vahlefii



Tidak ada komentar:

Posting Komentar