Ada tahun-tahun di mana hidup berjalan begitu cepat, sampai kita lupa pada satu hal kecil yang dulu sangat berarti. Bagiku, hal itu adalah menulis.
Aku tidak pernah benar-benar berniat berhenti. Tidak ada keputusan dramatis, tidak ada pengumuman. Aku hanya perlahan menjauh. Hari demi hari terisi oleh hal-hal yang lebih mendesak: tubuh yang berubah, peran baru sebagai ibu, tanggung jawab yang tidak bisa ditunda. Menulis, yang dulu terasa penting, bergeser ke pinggir—bukan karena tidak dicintai, tapi karena hidup meminta prioritas lain.
Lalu tibalah 2026. Tahun yang tidak istimewa secara angka, tapi terasa berbeda di dalam dada. Tahun di mana aku bertanya pelan pada diri sendiri: apakah aku masih ingin menulis?
Jawabannya datang tanpa ragu.
****
Menulis Pernah Menjadi Rumah
Ada masa ketika menulis adalah tempat pulang. Setiap kata menjadi cara memahami diri, setiap paragraf menjadi ruang bernapas. Aku menulis untuk menyimpan cerita, untuk berdialog dengan diri sendiri, dan kadang—tanpa sadar—untuk menemani orang lain yang sedang merasa sama.
Ketika aku berhenti menulis, ada bagian diriku yang ikut terdiam. Bukan hilang, hanya menunggu. Dan seperti rumah lama yang ditinggalkan, menulis tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu pintunya dibuka kembali.
Di 2026 ini, aku membuka pintu itu.
****
Hidup Telah Mengubah Cara Pandangku
Alasan terbesarku kembali menulis bukan nostalgia. Aku tidak ingin menjadi versi diriku yang dulu. Justru sebaliknya—aku ingin menulis dari versi diriku yang sekarang.
Pengalaman menjadi ibu mengajarkanku tentang kesabaran, tentang kelelahan yang tidak selalu terlihat, dan tentang kebahagiaan kecil yang sering luput dari sorotan. Hidup tidak lagi hitam-putih. Ada banyak abu-abu yang indah, dan aku ingin menuliskannya.
Jika dulu aku menulis dengan ambisi, kini aku menulis dengan kesadaran. Jika dulu aku mengejar kecepatan, kini aku memilih kedalaman. Menulis tidak lagi tentang membuktikan diri, tapi tentang jujur pada apa yang kurasakan.
****
2026 Adalah Waktu yang Tepat
Kenapa sekarang? Kenapa tidak menunggu nanti?
Karena aku sadar satu hal: tidak ada waktu yang benar-benar sempurna. Jika aku terus menunggu kondisi ideal—waktu luang, energi penuh, ide besar—aku mungkin tidak akan pernah kembali.
2026 adalah waktu yang cukup baik. Tidak sempurna, tapi cukup. Dan “cukup” sering kali adalah titik terbaik untuk memulai.
Aku juga melihat perubahan besar dalam cara orang membaca dan mencari makna. Dunia digital semakin cepat, tapi justru di tengah kecepatan itu, banyak orang merindukan tulisan yang pelan. Tulisan yang tidak menggurui, tidak berteriak, tidak memaksa.
Aku ingin menjadi bagian kecil dari ruang itu.
****
Menulis Lagi, Pelan Tapi Konsisten
Aku tidak menetapkan target muluk. Aku tidak berjanji akan selalu produktif atau selalu sempurna. Yang kupilih hanyalah satu hal: hadir.
Satu artikel sehari, atau beberapa kali seminggu—selama itu jujur dan bernapas, itu sudah cukup. Konsistensi bagiku bukan lagi soal kuantitas, tapi keberlanjutan. Tentang kembali lagi dan lagi, meski pelan.
Aku percaya Google, seperti manusia, belajar mengenali niat. Tulisan yang dibuat dengan kesadaran dan pengalaman nyata akan menemukan jalannya sendiri. Bukan karena algoritma semata, tapi karena manusia di balik layar merasakannya.
****
Tentang Penghasilan dan Realita
Aku tidak menutup mata soal penghasilan. Blog pernah memberiku hasil nyata di masa lalu, dan aku tahu menulis bisa menjadi sumber pendapatan. Tapi kali ini, aku ingin menata ulang niatku.
Aku tidak menulis hanya untuk uang. Aku menulis agar uang bisa datang sebagai bonus dari konsistensi dan kualitas. Penghasilan yang lahir dari proses yang sehat akan terasa lebih bertahan.
AdSense bukan tujuan utama, tapi ia bisa menjadi teman perjalanan.
****
Kembali Tanpa Rasa Bersalah
Salah satu hal tersulit saat kembali menulis adalah melepaskan rasa bersalah. Bersalah karena pernah berhenti. Bersalah karena merasa tidak konsisten. Bersalah karena takut dianggap gagal.
Namun aku belajar menerima bahwa hidup bergerak dalam fase. Ada masa untuk tumbuh ke luar, ada masa untuk kembali ke dalam. Menulis akan selalu menunggu, tidak pernah menuntut.
Dan 2026 ini, aku datang tanpa meminta maaf pada masa lalu.
****
Untuk Kamu yang Membaca Ini
Jika kamu membaca tulisan ini dan merasa relate—pernah punya sesuatu yang kamu cintai, lalu meninggalkannya karena hidup—aku ingin bilang satu hal: kamu tidak sendirian.
Kembali tidak selalu berarti mengulang. Kadang kembali berarti melanjutkan dari titik yang lebih dewasa. Lebih jujur. Lebih sadar.
Tidak ada kata terlambat untuk memulai lagi.
****
Penutup
Kenapa aku kembali menulis di 2026?
Karena aku sudah cukup jauh berlari, dan kini ingin berjalan.
Karena aku ingin mendengar suaraku sendiri lagi.
Karena menulis adalah caraku memahami hidup yang terus berubah.
Aku tidak memulai dari nol.
Aku hanya melanjutkan—dengan versi diriku yang lebih utuh.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar