Hai, Assalamu'alaikum Readers

Hai, Assalamu'alaikum Readers

Breaking

Rabu, 16 September 2020

Chapter 24 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz

September 16, 2020 1
Chapter 24 : Jodoh Dari Lauhul Mahfudz



Flashback, beberapa tahun silam..

"Fisah, kamu yakin dia orang yang baik?"

"Iya, dia baik kok. Memangnya kenapa?"

"Aku hanya merasa, dia bukan orang yang baik."

"Nggak boleh ah, seudzon sama teman sendiri."

"Tapi, Kan-"

"Hai, gimana kopinya? Enak?"

Tiba-tiba gadis yang menjadi teman sekolah Alina dan Nafisah pun datang dengan senyuman manis. Ia membawa nampan berisi kentang goreng dan menu makanan berat lainnya. Alina menatap gadis itu dengan pandangan curiga, ntah kenapa sejak tadi perasaannya tidak enak.

"Alhamdulillah enak kok." sahut Nafisah senang. "Oh iya, jadi, cafe ini punya Kakak kamu?"

"Hm, iya, itu Kakak aku. Dia jadi barista disana."

Maka Nafisah dan Alina pun menoleh kearah seorang pria muda kisaran umur 22 tahun tengah sibuk membuat coffe dengan ciri khas memakai afron berlabel tempat usaha kafe yang ia geluti saat ini. Tiba-tiba suara ponsel  berdering yang berasal dari ponsel gadis tersebut terdengar. Ia pun akhirnya berdiri dari duduknya.

"Em, sebentar ya, aku terima panggilan ini. Kalian nikmati saja coffe dan makanannya. Nggak usah khawatir soal harga, aku yang traktir deh."

Nafisah pun mengangguk. " Sekali lagi terima kasih, ya,"

"Sama-sama."

Gadis itu pun pergi. Setelah menjauh dan situasi aman, ia segera menerima panggilan tersebut. Suara seorang pria yang sudah ia kenal terdengar berucap sesuatu di pendengarannya. Dan lagi, gadis itu menatap Nafisah dari kejauhan, ia tersenyum licik.

"Iya, saya mengerti, tunggu waktu yang tepat."
****

Nafisah berinisiatif mengunjungi tempat kerja Danish siang ini setelah sepulang dari menjemput Diyah. Ia berjalan santai sambil menggenggam pergelangan tangan mungil putrinya.

"Mama, apakah disini tempat kerja Papa yang baru?"

"Iya sayang, benar."

"Wah, besar banget." puji Diyah dengan takjub, kedua matanya menatap ke atas, memperhatikan ke sekitaran situasi gedung D'media Corp yang besar dan luas.

"Masya Allah, ini salah satu bukti kalau Allah Maha Baik dan memberi rezeki untuk kita. Contohnya, Papa, Alhamdulillah sekarang Papa punya pekerjaan tetap."

"Alhamdulillah, ya, Ma. Diyah juga ikut senang. Dulu, sewaktu Papa jadi wartawan berita koran harian, Papa jarang pulang. Sekali pulang, malah sibuk didepan komputer yang ada di kamar Papa. Mama Alina sampai sedih melihatnya."

"Oh, ya?"

"Iya, Ma. Kata Mama, Papa begitu karena Papa sibuk mencari uang buat kami."

Nafisah tersenyum tipis. Mendengar nama Alina di sebut-sebut, ia malah merindukan almarhumah sahabatnya itu.

"Tapi sekarang, Diyah harus bersyukur, karena Papa ada waktu buat kita." jelas Nafisah lagi.

"Iya, Ma, Diyah bersyukur. Kata nenek, kalau Papa sama Mama bersama, suatu saat Diyah akan punya adik."

Nafisah pun terbungkam. Ucapan polos Diyah menyentil hatinya. Adik? Apakah saat ini Diyah menginginkan adanya seorang adik?

Dari jarak kejauhan, tanpa sadar seorang pria tak di kenal menatap Nafisah dengan tatapan terkejut. Sudah puluhan tahun lamanya, akhirnya ia kembali bertemu dengan wanita itu.

Dengan santai di tambah berbagai macam pikiran dan rencana mulai memenuhi isi kepalanya. Pria itu tersenyum smirk, sambil memasukkan salah satu tangannya kedalam saku celana kainnya.

"Akhirnya, kita bertemu lagi. Aku yakin, kamu tidak akan pernah melupakanku walaupun hanya seujung kuku jari saja, Nafisah. Kamu milikku."

****

Danish baru saja selesai membawakan berita. Ia pun segera berjalan ke bagian belakang kamera, melepaskan mic clip sebagai pengeras suara yang terpasang di dekat kancing  kemejanya.

"Kerja yang bagus, Mas Danish. Terima kasih, ya." puji salah satu kameramen yang juga bertugas bersama Danish.

"Sama-sama Pak. Saya ke ruang wardrobe dulu, ya. Permisi."

Danish segera berlalu dan keluar ruangan. Seorang pria terlihat sedang mencari sesuatu sambil menatap ke lantai bawah. Danish pun akhirnya terdorong untuk mendatanginya.

"Ada apa Pak?

Pria itu menoleh kearah Danish. Ia tersenyum kikuk. "Ah ini, saya sedang mencari kunci mobil saya. Tiba-tiba tidak ada di dalam saku celana kain saya. Kunci mobil saya hilang."

"Mungkin terjatuh. Apakah tadi Bapak melewati tempat ini?"

"Ya, tadi saya buru-buru."

"Biar saya bantu, Pak." tawar Danish ramah. Ia pun segera fokus membantu pria yang ada didepan matanya itu. Butuh waktu kurang lebih 10 menit, tanpa sengaja Danish menemukannya di sudut samping hiasan pot besar dekat kursi tunggu.

"Apakah ini milik Bapak?"

"Ah iya, akhirnya."

Pria itu pun tersenyum tipis. Wajahnya terlihat lega. Ia pun menatap Danish dengan raut wajah ramah.

"Terima kasih sudah membantu saya. Maaf merepotkan."

"Sama-sama, Pak. Kebetulan saya tidak merasa seperti itu."

"Oh iya, ini.." pria itu mengeluarkan dompetnya, lalu mencari sebuah kartu nama.

"Ini kartu nama dan nomor ponsel saya. Bagaimana kalau malam ini kita ngopi bersama di cafe dekat persimpangan D'media Corp?"

Danish pun menerima kartu nama tersebut. Tertera nama Randi Wijayanto Kusuma dengan profesi seorang Presdir ternama di perusahaan penyiaran kota Jakarta.

"Terima kasih, Pak, tapi saya ikhlas menolong Bapak."

"Jangan sungkan-sungkan. Anggap saja sebagai rasa ucapan terima kasih saya buat kamu. Oh iya, kabari saya kalau nanti malam kamu sudah tiba disana, ya. Itu nomor ponsel saya. Maaf, sepertinya saya sedang buru-buru karena ada urusan pekerjaan."

"Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih atas tawarannya. Insya Allah kalau sudah sampai, saya akan hubungi Bapak nanti malam."

Pria tersebut tersenyum ramah, setelah sempat berjabat tangan dengan Danish, pria itu pun segera pergi meninggalkan Danish. Danish menatap kepergian pria itu tanpa berkedip.

"Bukankah dia adalah pria yang aku temui tadi pagi di lift yang katanya pernah ke kota Bontang dan meninggalkan seorang wanita di salah satu kamar hotel disana?"

Ntah kenapa Danish merasa ada sesuatu terhadap pria itu. Seperti teka-teki yang sedang menanti. Tapi, apakah pantas ia berpikir seperti itu kepada pria yang tidak pernah ia kenali sebelumnya?

"Papa!"

Danish menoleh ke belakang, disaat yang sama, ia terkejut sekaligus senang karena tidak menyangka kalau putrinya datang menjemputnya.

"Assalamualaikum, sayangnya Papa?"

"Wa'alaikumussalam, Papa. Apakah Papa sudah selesai bekerja?"

"Alhamdulillah sudah."

Dengan tanggap Nafisah segera meraih tangan Danish kemudian mencium punggung tangan suaminya.

"Maaf, Mas, sebelumnya kami kesini tanpa memberitahu Mas."

"Tidak apa-apa. Mungkin maksud Diyah, dia ingin memberi kejutan buat Papanya dengan datang kemari."

"Kok Papa tahu? Papa hebat! Papa memang kesayangan Diyah, dan Diyah kesayangan Papa. Mama juga kesayangan Papa, kan?"

Seketika Danish dan Nafisah pun terdiam. Pertanyaan polos yang keluar dari bibir Diyah secara tidak langsung membuat kedua orang itu terbungkam. Nafisah sampai tidak berani menatap Danish, begitu Danish yang rasanya malu hanya untuk menatap Nafisah.

"Papa, Diyah benar, kan?"

"Em, sayang, kita semua kan satu keluarga, tentu saja saling menyayangi." sela Nafisah tiba-tiba, menyelamatkan situasi karena sadar, Danish tidak akan bisa menjawab apalagi membohongi putrinya.

"Alhamdulillah, deh, oh iya, Diyah lapar. Bukankah hari ini Papa janji mau ajak makan siang bersama? Diyah mau ayam goreng."

"Ah iya, Papa ingat. Ayo kita kesana."

Nafisah tersenyum tipis. Ia segera menarik pergelangan tangan putrinya, sementara Danish juga memegang pergelangan tangan Diyah. Nafisah dan Diyah sudah sibuk saling berinteraksi dan mengobrol banyak hal terutama tentang sekolah TK.

Tapi tidak dengan Danish. Pikirannya menerawang ke lain. Dengan memberanikan diri, ia menatap Nafisah dari samping.

"Ntah perasaanku saja atau bukan, kenapa Pak Randi seperti pernah bertemu dengan Nafisah di masalalu?"

"Aku masih bingung, kenapa tiba-tiba nama Nafisah terlintas begitu saja di pikiranku dan berkaitan dengan pria yang bernama Randi tadi?"

"Ya Allah, jauhkanlah hamba dari pikiran buruk, Aamiin." sela Danish dalam hati

****

Alhamdulillah, sudah up ya.

Tetap stay di cerita ini. Sehat selalu buat kalian ya sambil menanti  Danish dan Nafisah kembali update bagaimana kedepannya hubungan mereka 😘

JazzakallahKhairan sudah baca. With Love 💋 LiaRezaVahlefi

Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii

Next Chapter 25. Langsung aja klik link dibawah ini :