Chapter 63 : Mencintaimu Dalam Diam - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 17 Januari 2020

Chapter 63 : Mencintaimu Dalam Diam


Leni membawa motor besarnnya dengan kecepatan tinggi. Sambil mencengkram stang motornya dengan kuat, selama itulah Leni berusaha menahan amarahnya yang menggebu-gebu. 
Sejak kemarin dan Nona mudanya terabaikan seperti tidak pernah dianggap layaknya istri pada umumnya. Leni sudah berhenti tepat dihalaman parkiran kampus.
Tanpa melepas sarung tangan hitamnya, Leni memilih melepas helmnya kemudian segera menuju ruangan Dosen Arvino. Leni menelusuri koridor kampus yang sudah sangat sepi mengingat berakhirnya kuliah malam tepat pada pukul 21.00 tadi. Dari jarak beberapa meter ia melihat partner kerjanya bernama Randi sedang menghisap sebatang rokok. 
"Randi!!!"
Randi menoleh ke sumber suara, sedikit terkejut tapi tetap berusaha memasang raut wajahnya yang datar. Ia pun membuang putung rokoknya lalu menginjaknya di lantai.
"Ada apa?"
"Kamu benar-benar keterlaluan!" Leni sudah berdiri di hadapan Randi dan menatapnya marah.
"Apa kamu berniat sama seperti Tuan Arvino dan tidak mengabari Nona Aiza sama sekali hingga sekarang?!"
"Untuk apa? Ini permintaan dari Tuan Arvino. Dia tidak ingin di usik oleh istrinya."
"Dan kamu menuruti keinginannya sementara Aiza memerlukannya?"
Randi bersedekap. "Semarah apapun kamu denganku itu tidak akan merubah apapun. Ini perintah!"
Dengan kesal Leni mengeluarkan pistol di balik jaketnya dan mengarahkan tepat didepannya. "Mencoba menutupi sesuatu denganku atau kamu akan mati sekarang-"
Randi begitu cepat. Ia tidak menunggu kelanjutan ucapan amarah Leni ketika pria itu menendang pergelangan tangan Leni yang memegang pistol hingga pistol tersebut jatuh begitu saja di lantai. Leni hendak meraih namun Randi menendang pistol tersebut hingga menjauh. Leni terlalu waspada, ia menghindar saat Randi hendak menendang lagi kearah wajahnya yang sedang tertunduk hanya untuk meraih pistol tersebut.
Randi tersungkur lalu Leni pun tak ingin membuang waktu dengan mengunci pergelangan tangan Randi kemudian memberi sebuah kejutan daya listrik memggunakan stund gun yang memiliki daya 5000 volt dan Leni bernapas lega begitu Randi pingsan begitu saja.
Leni kembali berdiri. Ia hendak melanjutkan langkahnya untuk mengetuk pintu ruang Dosen Arvino ketika tanpa diduga tuan mudanya itu sedang mentapnya santai sambil bersedekap dengan bersandar di dinding apartemen.
"Pertunjukan yang bagus."
Leni berusaha tenang. "Tuan. Maaf saya lancang. Anda harus pulang. Istri anda begitu memperihatinkan."
Arvino hanya diam. Tanpa ekspresi kemudian tersenyum sinis. "Aku tahu. Aku hanya sedang sibuk."
Leni tahu Arvino sedang berbohong. Semalam ini untuk seorang Dosen seperti Arvino kesibukkan apa yang sedang dilakukannya di kampus?
"Tapi-"
"Kamu pergi saja dari sini. Jaga Aiza dirumah."
"Apa?"
Arvino melenggang pergi dan Leni menghadang jalannya. " Saya tahu tugas saya. Tapi Tuan Istri anda benar-benar butuh anda sebagai suaminya! Dia terus menangis dan menolak makan. Kehamilan di trimester pertama membuatnya tidak terbiasa dengan kondisinya sehingga membuatnya sakit."
"Oke terima kasih infonya."
"Tuan-"
Arvino mengabaikan Leni  "Aku tutup pintunya Asalamualaikum."
Arvino menatap Leni dengan datar dan itu benar-benar membuat Leni muak hingga wanita itu mengepalkan kedua tangannya. Arvino sadar akan hal itu. Tapi Arvino tidak perduli. Dan akhirnya Arvino menutup pintunya.
Suara derap langkah kaki yang sedikit tergesa-gesa membuat Leni menoleh ke asal suara. Leni terkejut bahwa sosok itu adalah Aiza. Dan leni baru sadar kalau tanpa diduga Aiza membuntutinya.
"Mas! Mas Vin. Aku mohon buka pintunya!" Aiza terus menggedor-gedor pintu ruangan Dosen Arvino.
"Nona.. Nona muda!" Leni mendekati Aiza. Dan merengkuh bahunya. "Sebaiknya kita pulang. Anda harus istrirahat dan jangan sampai lelah."
Aiza menggeleng. "Tidak Aunty. Aku butuh dia. Aku butuh dia berada disampingku saat ini juga."
"Tapi-"
"Tolong jangan halangi aku." Dan air mata mengalir di pipi Aiza. Ia mengabaikan Leni dan kembali menggedor pintunya.
"Mas Vin.. buka pintunya. Aku mohon.. aku-"
Aiza menghapus air mata yang kesekian kalinya di pipinya. Ia tidak akan pernah lelah berhenti menangis untuk seseorang yang teramat ia cintai.
"Aku janji.. aku tidak akan lama. Aku.." Aiza menarik napasnya. Berusaha melonggarkan dadanya yang begitu sesak. "Kalau boleh jujur.. aku.. aku sedang mengidam. Aku, aku mengidam ingin memeluk Mas." 
"Aku kangen sama Mas, Tolong buka pintunya. Sejak kemarin Mas mendiamkan diriku. Sebenarnya ada apa Mas? Kenapa Mas selalu saja menghindariku. Kita satu atap tapi bagaikan orang asing. Bukankah tadi aku sudah meminta izin untuk mendatangi Mas?"
"Aku janji.. hanya sebentar saja.."
Dan akhirnya pintu ruang dosen pun terbuka dengan raut wajah Arvino yang sangat datar dan ilfeel pada Aiza.

****
Minta di tabok Arvino itu ya. 😒😒
Bener gak?
Maaf ya update malam ini terlalu larut. Aktivitas Author begitu banyak di puasa pertama hari ini.
Makasih buat kalian yang sudah baca. Sehat terus buat kalian ya. Lancar puasanya. Jangan lupa perbanyak amal ibadah dibulan puasa ini. Semoga Allah mengampuni dosa kita yang sebanyak buih lautan. Aaminn 🤗🤗
Kalau ada yang mau ditanyakan secara langsung ke author khususnya tentang Arvino dan kapan update dll, kalian bisa chat melalui instagram lia_rezaa_vahlefii ya.
Terima kasih. 
With Love
LiaRezaVahlefi

LANJUT CHAPTER 64, KLIK LINK NYA :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar