Chapter 37 : Because I Love You - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Minggu, 09 Mei 2021

Chapter 37 : Because I Love You




Fay menatap istrinya yang baru saja tertidur pulas. Fay memastikan bila Aulia baik-baik saja. Pria tampan itu menjaga kondisi Aulia agar tetap stabil di usia kehamilannya yang terbilang masih rawan. Saat ini mereka berada didalam pesawat pribadi Fay.


Fay di buat bingung. Mengapa tiba-tiba Aulia bersikeras ingin ikut? Padahal ia bisa saja menolak. Tapi begitu melihat pancaran kedua mata istrinya yang menyimpan rasa Kekhawatiran besar membuatnya mengalah untuk akhirnya membawa Aulia.


Fay mengelus pipi Aulia dengan lembut. Wajah yang cantik meskipun sudah melahirkan 3 jagoan kecil untuknya. Seorang istri yang tak pernah ia sangka akan menjadi jodohnya dimasalalu meskipun dulunya mereka berbeda keyakinan.


Lalu Fay menghela napas panjang. "Apa yang sebenarnya kamu khawatirkan saat ini?"


"Pak Fayezza?"


Pintu terketuk pelan. Fay beralih menatap pintunya. Salah satu pria yang menjadi sekretaris pribadinya di kantor memanggilnya. Kemudian Fay pun kembali menatap Aulia.


"Mas keluar dulu." bisik Fay. "Tidurlah dengan nyaman." Lalu Fay mengusap pelan dengan sayang perut istrinya yang masih rata. "Papa menyayangimu sayang." Fay pun mencium kening Aulia lalu segera beranjak dari sana.


"Ya Richard ada apa?"




Ray menatap kopernya yang sudah siap untuk kembali bepergian hari ini. Tinggal menunggu waktu maka semuanya akan berakhir.


Ray memegang ponselnya erat. Ada beberapa foto yang ia simpan ketika tanpa Aifa sadari Ray memotretnya menggunakan ponsel.


Bertahun-tahun Ray memendam rasa cinta. Bertahun-tahun ia menyimpan perasaan mendalamnya pada Aifa. Lalu hanya 3 foto yang berhasil ia simpan selama beberapa hari.


Wajah yang cantik. Wajah yang manis. Senyum yang ceria dan mengembang ketika kebahagiaan menghampirinya. Hanya sesaat. Tidak sepenuhnya. Karena Ray sadar diri dia bukan pengisi hati Aifa yang sebenarnya.


Ray bagaikan obat. Penyembuh luka untuk Aifa yang sedang mengalami masa pemulihan dari kesakitannya. Bila Aifa sembuh, maka Aifa akan berhenti tidak memakai obat itu lagi.


Dan sekarang saatnya. Ray menatap lagi 3 foto itu. Sedikit tersenyum miris. Hati yang terluka. Lebih pedih dari luka yang menimbulkan darah saat di permukaan kulit.


Lalu Ray menghapus ke 3 foto Aifa. Ray mundur secara perlahan dalam diam. Mengalah demi kebaikan semuanya. Meninggalkan luka di hatinya yang tidak akan tahu kapan bisa pulih. Luka cinta yang tak pernah bisa raih.


Ray membuka aplikasi sosial medianya. Mulai memblokir seluruh akun Aifa. Mencoba melupakan meskipun sulit. Berusaha memaksakan diri untuk tidak ingin melihat Aifa lagi.


Ray beralih menghubungi Aifa. Hingga sambungan ke sekian kalinya baru di terima oleh Aifa.


"Asalamualaikum kak."


"Wa'alaikumussalam. Iya Ray? Mau berangkat sekarang?"


Ray terdiam. Ia mendengar suara Aifa sedikit serak. Seperti habis menangis.


"Kak, apakah kakak baik-baik saja?"


"Em ya. Aifa baik-baik saja."


"Kakak ada dimana?"


"Lagi didalam mobil. Bersama Franklin. Dia sedang mengemudikan mobilnya."


"Kita ketemuan di bandara sekarang kak. Em asisten ku sudah menunggu disana. 1 jam lagi."


"Oke. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Panggilan berakhir. Sebuah panggilan yang menjadi akhir dari segalanya. Ray berusaha menahan diri untuk tidak bersedih. Mencintai tapi tidak di cintai.


Hanya seminggu dan ia berhasil membuat Aifa kembali tersenyum. Sesedihnya Aifa setelah kepergian dirinya, Ray yakin bahwa itu semua hanyalah sesaat. Karena ia tahu, sosok Rex lah yang akan menjadi bagian dari hidup Aifa sesungguhnya.





Jakarta, Indonesia.


Ronald menatap Luna yang kini sedang diam melihat pemandangan kota yang indah di malam hari. Dibelakangnya ada sebuah ponsel yang sejak tadi berdering namun Luna mengabaikannya.


Ronald memasuki kamar mereka. Lalu melirik ke arah ponsel yang menampilkan layar panggilan masuk dari Rex.


"Kamu tidak ingin menerima panggilan ini?"


Luna menoleh ke belakang. Ronald berdiri sambil memegang ponselnya.


"Biarkan saja dia."


"Tapi setidaknya kamu angkat. Ini sudah seminggu kamu mengabaikannya. Jangan buat Rex tambah kepikiran."


"Itu salah dia karena sudah bertindak bodoh."


"Luna-"


"Aku akan memaafkan si pengecut itu setelah dia benar-benar meminta maaf pada Aifa atau Aisyah."


Dan Ronald mengalah. Luna memang sangat keras kepala kalau sudah marah sehingga membuatnya menyerah untuk tidak memaksanya lagi.


Ronald memutuskan untuk mendekati Luna. Tanpa ragu ia memeluk istrinya dengan lembut sampai suara isakan lirih terdengar.


"Dia sama pengecutnya seperti mendiang Ray di masalalu."


"Setelah membaca surat dari Ray sebelum dia meninggal dan menitipkannya pada Farrel, Rex sama bodohnya dengan daddynya. Hanya situasi yang berbeda saja membuat keduanya hampir serupa."


"Lupakan saja. Itu masalalu."


"Sayangnya aku tidak bisa lupa Ron." Ronald semakin memeluk Luna Dengan erat. "Bagaimana kamu bisa lupa jika sebenarnya yang membunuh adik mu itu mendiang suamiku sendiri? Bukan dari komplotan ayahku?"


"Ray benar-benar bodoh tidak mengakuinya sehingga menyebabkan kita saling salah paham. Sampai akhirnya aku membencimu lalu keluargamu membenciku."


"Ayo kita tidur." ucap Ronald berusaha mengalihkan dan membawa Luna keatas tempat tidur.


Lalu Ronald memeluk tubuh Luna dari belakang.


"Barusan Ray bilang dia akan berangkat ke Indonesia sebentar lagi. Tadi dia menelponku."


"Dia putra yang kuat." lirih Luna pelan. "Dia putra yang sabar sejak kecil. Kamu ingat dulu aku pernah meninggalkannya? Rasanya sangat sakit berpisah dengan putraku sendiri di masalalu."


"Aku tidak pernah melupakan hal itu."


"Sekarang itu kembali terjadi. Dia sedang berusaha keras meninggalkan seorang wanita yang dia cintai. Dan rasanya sangat sakit."




Aifa menatap Ray dari kejauhan. Pria itu sedang berbicara dengan beberapa pria berjas hitam yang menjadi asistennya sejak dulu. Saat ini ia sudah berada di bandara untuk mengantar kepergian Ray.


Lalu pandangan mereka bertemu. Aifa memaksakan senyumannya. Dengan langkah berat, Aifa berusaha menahan air matanya untuk kepergian Ray dalam hitungan detik.


Aifa harus bisa melepaskan rasa nyaman itu secara perlahan. Lalu akhirnya mereka pun berdiri saling berhadapan.


"Kak."


"I-iya Ray?"


"Aku.. em.. aku pergi sekarang."


Aifa mengangguk. "Hati-hati dijalan Ray. Terima kasih atas semuanya."


Ray menatap Aifa yang ia tahu bahwa wanita itu sedang sedih. "Aku minta maaf. Sudah menorehkan luka untuk kakak."


"Luka apa?" tanya Aifa bingung.


"Perasaan nyaman diantara kita selama disini." ucap Ray serius. "Aku tidak bisa menepis bahwa aku bahagia denganmu Aifa. Tapi aku sadar, aku bukan pria sesungguhnya yang harus berada didekatmu."


Aifa menundukan wajahnya. Ia tidak bisa berkata apapun lagi. Ray benar. Ia dan Ray sama-sama nyaman saat bersama.


"Maaf sudah mengecewakanmu Aifa. Aku sudah membuatmu mungkin.. em, berharap lebih untuk hubungan ini."


Aifa menatap Ray. Ia berusaha tegar. "Ray sama sekali tidak mengecewakan Aifa. Justru Ray yang malah membuat Aifa bahagia."


"Lagian, Aifa tidak berharap kita bisa bersama. Rasanya itu mustahil. Aifa sudah tidak-"


Ray mengerutkan dahinya. "Tidak apa kak?"


Aifa tergagap. Ia berdeham. Hampir saja dia keceplosan kalau sebenarnya dia sudah tidak suci lagi. "Em, lupakan. M-maksud Aifa.. Aifa-"


"Tuan Ray?"


Ray dan Aifa menoleh keasal suara. Aifa bernapas lega. Salah satu asisten Ray memberi isyarat bahwa pesawat akan berangkat sebentar lagi. Ray mengangguk lalu asisten tersebut pamit undur diri.


"Aku harus berangkat sekarang kak."


Aifa mengangguk. "Hati-hati dijalan Ray. Terima kasih atas semuanya Ray yang baik hati dan tidak sombong. Aifa sayang sama Ray."


Ray terkekeh. "Jaga diri kakak. Kakak pantas bahagia dengan pria yang kakak inginkan selama ini."


"Terima kasih sudah mencintai Aifa."


Ray hanya tersenyum tipis. Lalu membalikan badannya sampai akhirnya Aifa menatap kepergian Ray yang mulai menaiki anak tangga pesawat.


Ray sudah memasuki pesawatnya. Aifa masih menatap Ray yang sudah hilang didepan mata meskipun beberapa pria berjas hitam masih terlihat di sekitar tangga pesawat.


Lalu Aifa menggengam selembar foto di saku gamisnya. Sebuah foto yang baru saja ia terima dari pihak rumah sakit setelah memeriksakan kondisi dirinya.



Sebuah foto hasil USG di kehamilannya yang baru berusia jalan 4 Minggu. Air mata menetes di pipinya.


"Apakah tidak ada satupun pria yang bisa menerima kekuranganku saat ini?"


Aifa mengusap perut dengan lembut. Ia memaksakan senyumnya. "Calon janin ini tidak salah. Yang salah Aifa karena terlalu bodoh keluar rumah sendirian."


"Aifa harus merawatnya meskipun ini menyakitkan hati Aifa. Tidak ada yang boleh tahu sekalipun Franklin saat ini. Aifa tidak mau membuat keluarga Aifa menanggung malu karena Aifa sendiri tidak tahu siapa ayah dari bayi ini."


"Apakah salah satu pria yang menolong Aifa waktu itu yang melakukannya?"


"Tapi Aifa tidak bisa mendatangi pria itu. Aifa lupa alamat pria muda yang nolong Aifa waktu itu." lirih Aifa.


Aifa mengantongi foto hasil USGnya. Mencoba menutup sebuah rahasia besar dalam hidupnya agar Franklin yang kini sedang menunggunya didalam mobil tidak mengetahuinya.


Namun.


Langkah Aifa terhenti begitu dari kejauhan Aifa terkejut melihat Rex yang kini menatapnya dari kejauhan.
Tubuh Aifa gemetar ketakutan. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing.


"Tidak.." Aifa berkata lirih. Air mata mengalir dengan deras di pipinya.
"Kenapa Rex ada disini?"


"Mungkin Rex sedang bulan madu sama Aisyah."


"Rex tidak boleh tahu."


"Rex tidak boleh tahu Aifa hamil. Rex sudah menikah. Nanti Aifa bisa berharap perasaan lagi."




Kalau sudah begini, Ya Allah bagaimana nasib Aifa


Siapa yang menghamili Aifa sebenarnya?


______


With Love
LiaRezaVahlefi


Instagram
lia_rezaa_vahlefii


Next, info Chapter selanjutnya :

https://www.liarezavahlefi.com/2021/05/spoiler-chapter-selanjutnya-novel.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar